
“Cotton”
“Caw!”
Roland langsung membebaskan kedua tangannya dan mempersiapkan dirinya setelah mendengar suara auman yang muncul dari dalam gunung batu di depannya, tepatnya setelah merasakan kekuatan di dalam suara itu.
Groaar...!
Auman kedua tiba-tiba terdengar, mengubah getaran sebelumnya menjadi gempa yang mengguncang seluruh gunung dan area sekitarnya. Bebatuan mulai berjatuhan dari dinding batu bersama dengan retakan-retakan besar yang mulai muncul di tanah di sekitarnya.
“Hah...”
Uap putih yang dipenuhi petir keluar dari mulut Roland yang merentangkan kedua tangannya selebar mungkin, seperti ingin memeluk gunung di depannya. Diikuti dengan lima pedang di belakangnya yang mulai melayang dengan petir-petir yang mulai menyambar ke semua arah dari seluruh tubuh mereka, mengoyak dan membakar batu di sekitar mereka.
Burung emas yang hanya berdiri dari tadi juga langsung terbang dan mendarat di belakang Roland, kemudian langsung membuka lebar kedua sayapnya dan mulai bersinar semakin terang.
“Caaaw...!”
Crackle!
Petir yang menyambar-nyambar keluar dari tubuh Roland dan lima pedang di belakang nya mulai berbelok dan terisap ke dalam dua sayap besar di belakangnya, menyisakan petir tenang yang berdengung secara stabil di dalam lima pedang itu.
Woong...!
Roland mengambil satu langkah kanan mundur dan berdiri dengan posisi menyamping tanpa melepaskan pandangannya dari depan, sambil mengambil posisi seperti ingin melempar tombak dengan tangan kanannya.
Lima pedang yang sebelumnya melayang pelan langsung bergerak dan melayang sejajar sambil menunjuk ke gunung batu di depannya, dengan empat pedang yang membentuk empat sisi persegi dan satu yang tersisa mulai berputar pelan di antara mereka.
Rumble...!
Crackle!
Petir tenang mulai meloncat keluar dari empat pedang yang diam di udara ke dalam satu pedang yang mulai berputar dengan kencang, membuatnya berubah menjadi sebuah tombak emas.
Burung emas di belakangnya juga menundukkan kepalanya dan membuka paruhnya di belakang tombak itu.
“Cahaya!”
Dan disaat itu juga, seorang pemuda muncul sambil berteriak dari dalam lorong gelap yang sudah hampir runtuh itu dengan seekor serigala putih kecil di pundaknya.
Pemuda itu, Leinn langsung melihat posisi Roland dan bertukar tatapan dengannya sekejap-
“Hup!”
Dia langsung melempar Rufus yang ada di pundaknya ke arah samping, menjauh dari Roland dan burung emas itu. Tanpa menoleh dia juga langsung menedang tanah dan melompat tinggi...
Tap
Dan mendarat tepat di samping Roland, memunggunginya.
“Siap”
__ADS_1
Kedua matanya langsung menyala dengan sinar ungu terang dan mengeluarkan kabut ungu yang sangat pekat, berbeda dengan mata pemuda di sampingnya yang sudah bersinar emas dan mengeluarkan percikan petir.
Tangan kanan Leinn yang sudah terulur membentuk sebuah pistol dan menunjuk ke arah gunung batu di depan mereka dan mulai bergerak perlahan-lahan, seperti mengikuti sebuah gerakan.
Tangan kiri Roland yang ada di sampingnya mengikuti gerakan itu dengan sempurna, seperti sebuah pantulan di danau yang jernih.
“Itu”
[Thunder Incarnated]
Crackle...!
Empat pedang yang diam sudah hampir tidak mengeluarkan petir, karena semua energi itu sudah terkumpul di dalam tombak emas diantara mereka. Diikuti dengan petir yang mulai keluar dari paruh burung emas di belakangnya yang mulai membentuk sebuah bola emas.
Leinn sudah melakukan satu lompatan depan yang sangat kuat dari Roland yang mulai memutar pundaknya dengan kuat. Dan dengan satu ayunan tangan yang kuat-
Groa-!
[Gungnir, Incomplete]
Dzing!
Pilar emas muncul dan memotong auman yang hanya terdengar sekejap itu, menembus dinding gunung batu tanpa menimbulkan ledakan apapun. Pilar emas itu bertahan selama beberapa waktu sebelum akhirnya hanya meninggalkan satu benang emas terakhir sebelum lenyap tanpa bekas, meninggalkan lubang selebar 50 sentimeter di dinding gunung di kejauhan itu.
“Caw”
Percikan terakhir keluar dari paruh burung emas di belakangnya, yang sudah hampir kehilangan semua keemasan di bulunya.
“Leinn...?”
“Um, ya”
Leinn sudah berjalan mendekatinya lagi sambil melihat lubang hitam itu juga, lalu menganggukkan kepalanya.
“Kau tidak meleset”
Leinn langsung mengambil satu langkah maju dan meletakkan tangan kanannya di gagang pedangnya.
Groaaar...!”
Auman penuh kemarahan tiba-tiba terdengar sekali lagi, diikuti dengan guncangan yang jauh lebih kuat dibandingkan sebelumnya.
Boom!
Sampai akhirnya, sebuah bayangan besar meledak keluar dari dinding gunung itu dan langsung bergerak ke arah dua pemuda itu.
“Hah...”
Roland menedang empat pedang di sampingnya ke udara sambil mengalirkan Mananya dengan cepat, mengubah empat pedang itu menjadi cincin retak. Dia menangkap empat cincin itu dengan satu ayunan tangannya lalu meraih ke satu cincin utuh yang tersisa di rantai pinggangnya.
“Apa kau bisa menahannya?”
__ADS_1
Roland menoleh ke pemuda di sampingnya dengan ekspresi serius.
“Hah! Kau pikir siapa aku?”
Leinn langsung meloncat maju bersamaan dengan Roland yang mulai berlari ke arah Rufus yang sudah kembali ke ukuran aslinya.
Kabut debu yang menutupi bayangan itu sudah hilang dan tubuh raksasanya menjadi terlihat dengan jelas.
“Groaaar!”
Sudah jelas makhluk di depannya adalah seekor Mountain Crawler, tetapi dia sekaligus juga terlihat sangat berbeda.
Ukuran yang dimilikinya melampaui semua Mountain Crawler yang Leinn temui satu jam terakhir. Dengan panjang yang melebihi 20 meter dan lebar yang mencapai 3 meter, dengan tubuh berwarna hitam gelap dengan cairan merah terang yang keluar dari retakan dan sela-sela tubuhnya.
Pssht...!
Permukaan batu yang dilewati tubuh raksasanya itu sudah meleleh dan hanya menyisakan cairan merah yang masih membakar semua yang disentuhnya.
“Ha...”
Leinn bisa melihat apa yang cairan itu bisa lakukan dan bagian yang mengeluarkannya dengan sangat deras, tepatnya satu bagian selebar 50 sentimeter yang terlihat sepreti ditutup paksa dengan batu berwarna abu-abu kemerahan.
Akhirnya Mountain Crawler itu sampai di depan Leinn dan langsung mengangkat seluruh tubuh depannya lalu meluncur dengan sangat kuat, berniat mengoyak Leinn dengan deretan taring merah terangnya.
Boom!
Leinn tidak menunjukkan rasa takut dan langsung melakukan satu salto kuat sambil menarik keluar pedangnya.
Tang!
Dan seperti dugaan Leinn, ternyata tubuh Mountain Crawler ini memiliki kekerasan yang sangat tinggi.
“Huh?”
Yang tidak Leinn duga adalah ternyata bukan hanya cairan merah itu yang memiliki suhu tinggi, melihat pedangnya yang sudah mulai berubah warna dengan hanya satu benturan saja. Dia langsung menyarungkan pedangnya kembali sambil menendang udara dengan kuat.
“Groar-!”
Rumble...!
Dan di tempat Leinn berada sebelumnya langsung dilewati oleh sabetan ekor batu raksasa, mengguncang area di sekitar mereka juga.
“Hoh!”
Menggunakan gelombang yang dihasilkan dari serangan Mountain Crawler itu, Leinn berhasil membuat jarak diantara mereka dan memikirkan langkah berikutnya.
Psssh...!
Beberapa bagian tubuhnya juga mengeluarkan uap putih setelah menerima percikan cairan itu, menghasilkan suara yang tidak terlalu enak didengar. Tetapi Leinn tidak terlihat terlalu peduli dan hanya menepuk bagian yang berasap itu beberapa kali untuk memadamkannya.
“Baiklah”
__ADS_1