Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 76 – Rencana Sempurna?


__ADS_3

Udara keluar dengan paksa dari celah bibir pemuda berambut pirang itu karena keterkejutan bukan mainnya itu. Konsentrasinya pecah dan petir di pedangnya meledak ke sekitarnya setelah mendengar suara bisikan itu.


Dia langsung menoleh ke arah podium di luar arena itu dan melihat pemuda berambut hitam melambaikan tangan ke arahnya.


“Leinn...!”


Suara geram mengguncang stadium itu, mengejutkan penonton di sana.


Pemuda yang menjadi sasaran kemarahan itu terlihat tidak peduli dan hanya tersenyum ke arahnya.


Membutuhkan beberapa detik untuk Roland bisa menstabilkan emosinya dan menyadari situasi itu.


Dia langsung mengembalikan perhatianya pada lawannya, dan pemandangan yang dilihatnya langsung meningkatkan kewaspadaanya.


Aura terlihat memutar tongkat dan tubuhnya seperti sedang menari, pemandangan yang tidak asing bagi penonton di hari sebelumnya.


Hanya saja kali ini gadis itu terlihat jauh lebih serius, keringat mengucur deras melewati kedua matanya yang terpejam.


Roland menyadari dirinya terlambat satu langkah dan mulai merendahkan kuda-kudanya, berniat memendekkan jarak diantara mereka.


Gerakannya terhenti sekali lagi ketika melihat Aura membuka matanya dan membenturkan ujung tongkatnya ke lantai arena.


“Aaah...!”


Mana biru muda mulai berputar dengan cepat seperti terisap ke dalam tubuh gadis itu, membuat tubuhnya bersinar dengan terang.


Ini adalah salah satu teknik yang dimiliki oleh Aura, tetapi dia tidak bisa menggunakannya sebelumnya karena dirinya akan masuk ke dalam posisi lemah selama beberapa detik saat melakukannya.


Garis-garis merah panjang mulai keluar dari ujung tongkat itu dan menghiasi arena batu di bawahnya.


Satu, dua, lima, sepuluh...


[Flame Domain]


Sihir tingkat menengah-tinggi yang mengubah Mana di sekitar penggunanya menjadi Mana Api, mempermudah Magic User Api menggunakan sihir mereka disini.


Sihir ini sangat mirip dengan sihir yang digunakan oleh Adeline di hari sebelumnya, hanya saja skala perubahannya tidak sama dan sihir ini tidak memiliki kemampuan serangan sedikitpun.


Tetapi sihir ini memiliki satu kelebihan...


[Fire Storm, Fourfold]


Lingkaran sihir muncul di bawah kaki Roland dan pusaran api yang jauh lebih besar dari hari sebelumnya muncul dari lingkaran itu. Aura sudah mulai berlari ke sampingnya sambil merapalkan mantera lanjutan.


“Seratus delapan bola api, segel dan telan...”


[Thousand Birds]


Suara itu dapat terdengar sesaat, sebelum ditelan oleh suara teriakan petir yang mengoyak pusaran api itu bersama dengan lantai batu di bawahnya.


Gelombang petir itu terus berjalan dan melewati tempat Aura berdiri sebelumnya, mengoyak hampir separuh garis merah di lantai batu dan melenyapkannya.


Roland menyadari bahwa Aura sudah memperkirakan gerakannya dan berhasil bergerak sebelum dia mengeluarkan serangannya itu.


“...musnahkan kejahatan dunia!”


Pusaran api yang hampir musnah itu langsung berhenti di tempat dan terisap ke dalam lingkaran sihir besar yang muncul di langit.


[108-fold Evil Suppressing Fire!]


Sepuluh bola api putih langsung muncul dan memberikan tekanan besar pada pemuda pirang itu, memaksanya menurunkan pedangnya.


Bola api itu bertambah dengan cepat di sekitar Roland dan memberikan tekanan yang semakin bertambah besar.


Aura berhenti berlari dan memejamkan matanya, merapalkan sihir berikutnya.


Satu persatu lingkaran sihir muncul di atas lantai merah itu.

__ADS_1


Roland tentu saja tidak diam saja dan menggenggam gagang pedang dengan ujungnya yang sudah tertuju pada lantai batu di bawahnya dengan kedua tangannya. Seluruh tubuhnya mulai diselimuti petir yang terlihat meloncat-loncat.


Akhirnya 108 bola api putih muncul dan berhenti bertambah, hanya melayang dengan tenang di sekitar pemuda berambut pirang itu.


Tekanan dari sihir itu ditambah dengan kepalanya yang masih kesakitan sangat memperlambat kecepatannya mengumpulkan Mana untuk serangan berikutnya


“Seratus delapan api menjadi pondasi di atas bumi...”


Bola-bola api itu mulai bergerak dan membentuk sebuah formasi disekitar Roland, tali api menghubungkan satu bola api dengan lainnya. Formasi yang dibentuk itu mulai terlihat seperti sebuah lingkaran sihir.


“Tubuhku menjadi wadah penyegel...”


Bola-bola api itu mulai menyala semakin kuat dan tekanan besar menimpa Roland yang berada di tengahnya, retakan besar mulai menyebar di lantai batu di bawah kakinya.


“dan langit menjadi kunci-!”


Crackle!


Konsentrasi Aura terpecah oleh suara petir keras yang muncul secara tiba-tiba, dan dia merasakan ada sesuatu yang mulai merusak lingkaran sihir yang sedang dibuatnya itu.


Penonton di sekitar mereka dapat melihat jelas situasi di atas arena itu dan sangat terkejut.


Petir emas telah menyelimuti seluruh pedang yang digenggam Roland, dari gagang sampai ujung mata pedangnya.


Semua orang yang melihatnya terpana oleh pemandangan seorang pemuda yang menggenggam petir.


“Storm Sky Style, Finisher”


Suara bisikan yang sekeras gemuruh petir itu bergema di seluruh stadium, menggetarkan tubuh Aura dan membuatnya terlambat bereaksi.


[Falling Heaven]


Roland menusukkan petir di tangannya ke lantai batu di bawahnya dan tangannya kembali menggenggam pedang biasa, tanpa energi petir sedikitpun.


Sebelum penonton di stadium itu bisa bertanya-tanya setelah melihat tidak ada apapun yang terjadi itu, mereka tiba-tiba menyadari tempat duduk mereka semua mulai bergetar kuat.


Crackle!


Boom...!


Cahaya putih diikuti sebuah gemuruh yang menulikan muncul dan mengejutkan mereka semua, lalu suara ribuan guntur dan ledakan mengguncang seluruh stadium itu.


Banyak dari penonton bahkan jatuh dari tempat duduk mereka setelah merasakan getaran hebat itu.


Seluruh penduduk kota juga bisa merasakan sedikit getaran dan merasa bingung dengan fenomena aneh itu, sampai mereka mendengar suara guntur besar yang datang berikutnya.


Mereka melihat langit yang cerah dan semakin kebingungan.


Kabut debu tebal menutupi seluruh stadium selama beberapa saat dan semua orang di sana hanya bisa mendengar suara percikan petir yang perlahan-lahan semakin kecil.


Pemandangan yang pertama mereka lihat adalah lubang selebar 50 meter yang sampai keluar dari arena itu terlihat jelas di tengah stadium, dan di tengah lubang itu adalah Roland yang menggenggam gagang pedang yang menancap cukup dalam ke tanah.


“Haaah...”


Crackle...


Uap putih berisikan petir keluar dari helaan nafas pemuda pirang itu.


Roland mencabut pedangnya dan menyarungkan kembali di punggungnya, lalu menarik keluar pedangnya yang lain.


Dia mengangkat wajahnya dan menatap langit, senyuman kecil dapat terlihat di wajahnya.


Di saat itu penonton di stadium itu menyadari sosok Aura sama sekali tidak terlihat di atas apa yang tersisa dari arena itu, mereka mengikuti arah pandangan Roland dan mengangkat wajah mereka juga.


Siluet kecil dapat terlihat melayang jauh di atas stadium itu dan sedang mulai jatuh kembali. Itu tidak lain adalah Aura yang dikelilingi oleh pelindung Mana.


Aura sudah memerkirakan apa yang akan Roland lakukan dari kuda-kudanya, berkat informasi dari Adeline.

__ADS_1


Dia sudah menyiapkan berbagai rencana untuk melawannya.


Rencana pertama adalah dia berhasil menyelesaikan sihir berlapis tahap ketiganya dan menyegel Roland secara seluruhnya, ini digagalkan oleh Roland yang berhasil meluncurkan serangannya lebih dulu.


Serangan dari Roland yang memiliki karakteristik keganasan milik Mana Elemen Petir itu dapat merusak lingkaran sihir elemen lain dengan efektif, membuatnya menjadi musuh Magic User yang sangat berbahaya.


Jadi rencana keduanya mulai berjalan, yang hampir gagal juga.


Aura sudah mengetahui teknik yang akan datang, tetapi dia salah memperkirakan kekuatannya. Sembilan dari sepuluh pelindung Mana-nya hancur dan dirinya terpental 300 meter ke udara.


“Ha....!”


Akhirnya Aura memilih untuk merubah kesalahan ini menjadi keuntungannya.


Dia jadi memiliki lebih banyak waktu di udara, berarti dia bisa merapalkan lebih banyak sihir.


Penonton di stadium itu bisa melihat lingkaran-lingkaran sihir mulai terbentuk di belakang gadis yang sedang jatuh bebas itu, dan kecepatan bertambahnya semakin meningkat seiring waktu berjalan.


Di saat dia sampai di ketinggian 50 meter dari tanah, puluhan lingkaran sihir sudah berputar di depan dan belakang tubuhnya.


[Mana Bullet, Chained]


Bola Mana selebar 50 sentimeter mulai berjatuhan dengan cepat ke arah tempat berdirinya Roland, membentuk hujan biru muda.


Boom boom boom...


Kabut debu sekali lagi menutupi arena itu dan hanya suara ledakan yang dapat terdengar. Ini berlangsung selama beberapa saat sampai akhirnya tinggal kesunyian di atas arena itu.


Roland menyadari hujan peluru ini hanyalah untuk menutupi pandangannya dan tentu saja, dia bisa merasakan Mana besar dari punggungnya. Dia menoleh dan melihat tombak api putih yang sudah hampir mencapai wajahnya.


Clang!


Pedangnya menebas tombak api itu dan mementalkannya ke samping, dia menyadari tombak api itu adalah tongkat sihir yang di selimuti Mana Api.


“...?!”


Roland secara refleks mengayunkan pedangnya ke atas dan berhasil menepis apa yang dianggapnya sebagai serangan sebenarnya.


Tak!


Tebasannya mengenai serangan kedua itu dan tidak merasakan sedikitpun kekuatan di dalamnya. Ternyata yang baru ditepisnya itu adalah sebuah tongkat hitam panjang, yang tidak terlihat lecet sedikitpun setelah menerima tebasannya.


‘Sarung pedang...?’


Tiba-tiba, di depannya terlihat bayangan yang mulai bergerak dengan sangat cepat.


Dia bisa melihat siluet pedang panjang di tangan bayangan itu.


“Leinn...?!”


Nama itu keluar tanpa disadarinya, lalu dia menyadari itu tidak mungkin terjadi.


Identitas bayangan itu tidak lain adalah Aura yang berada dalam posisi sangat rendah, dengan kedua tangannya menggenggam sebilah pedang berwarna biru tua.


Darah terlihat merembes keluar dari kedua lengan kecil Aura tanpa dia pedulikan, dia hanya mengayunkan pedang di tangannya sekuat tenaga ke arah dada lawannya.


Senyuman muncul di wajah Roland.


Setelah menahan serangan dari dua arah yang berbeda itu, tubuhnya sedang tidak berada dalam posisi yang baik.


Dia menyadari di dalam posisinya itu, dia tidak mungkin bisa menghindar atau menahan serangan lawannya itu...


“Gear One”


...dengan cara biasa.


Crackle...!

__ADS_1


 


 


__ADS_2