
“Jadi, apa yang kalian berdua lakukan disini?”
Boom!
Leinn sudah berjalan ke depan kedua gadis yang sudah berdiri juga sambil menepuk-nepuk pundaknya dengan tombak kayu di tangannya.
“...ya, bukankah kalian memiliki Kelas Siang?”
Boom!
Roland juga sampai dan berdiri di samping Leinn sambil menatap dua gadis itu.
“Um...”
“Aah...”
Aura dan Adeline juga baru sadar bahwa mereka tidak memiliki alasan yang jelas, selain ingin melihat dua pemuda itu mengajar teknik bertarung.
Boo-Crack!
“Aaaah...!”
Tangisan keras tiba-tiba terdengar, membuat Leinn dan Roland menoleh ke belakang.
Disana mereka bisa melihat Hinata, berlutut dengan tombak yang sudah terbelah dua di tangannya.
Sepertinya nyawa tombak itu sudah habis setelah diayunkan beberapa kali oleh gadis itu.
“Huh”
“Yap”
Dua pemuda itu sudah menduga itu akan terjadi, senjata dengan kualitas tinggi saja belum tentu bisa menahan kekuatan Hinata, apalagi senjata kayu seperti itu.
Aura dan Adeline di belakang mereka juga bisa melihat Hinata yang sedang berjalan mendekati mereka dengan dua potongan tombak kayu itu, dengan wajah yang sudah dibasahi air mata.
“Hiks... Roland... senjatanya...”
“Apa yang kau harapkan... jelas saja ini akan patah jika kau tidak berhati-hati”
Dari semua ledakan udara yang dihasilkan ayunan tombak itu sebelumnya, Leinn dan Roland tahu kalau Hinata tanpa sadar sudah menggunakan lebih dari 30 persen kekuatannya.
Itu cukup untuk mematahkan senjata besi biasa yang diayunkannya tanpa perlu membentur apapun.
“Ya sudah ini, gunakan dengan lebih hati-hati”
Leinn akhirnya menyela itu dan mengoper tombak di tangannya pada Hinata, yang langsung tersenyum seperti sudah lupa dengan tombak yang baru saja dipatahkannya.
“Yay...!”
Dia lalu mulai mengambil jarak dari mereka dan mulai mengayunkan tombaknya lagi secara canggung, dan kali ini tidak menghasilkan ledakan udara keras.
Whoosh! Whoosh!
...tetapi suara udara yang terpotong itu masih bisa terdengar dan itu cukup mengerikan.
“Ya sudah! Apa kalian sudah melihat dengan jelas apa yang kami tunjukkan tadi? Terutama kau, Setanta”
__ADS_1
Leinn tiba-tiba menoleh ke arah dua pemuda yang masih duduk di lantai dan terlihat cukup canggung.
Uther dan Setanta sudah terpana ketika melihat pertarungan antara Leinn dan Roland, tetapi setelah itu terlalu banyak hal yang terjadi dan itu membuat mereka tidak memiliki kesempatan untuk berbicara.
Jadi mereka akhirnya memilih tidak bergerak sama sekali dan hanya menunggu sampai mereka dipanggil.
“”Ya!””
Dua pemuda itu meloncat berdiri dengan cepat dan menjawab dengan tegas juga.
Mereka berdua telah berlatih ringan di pagi hari untuk persiapan latihan berat berikutnya di siang hari, tetapi mereka malah hanya duduk dan menonton pertukaran Leinn dan Roland.
Mereka sudah mendengar rumor bahwa pertarungan final sebelumya benar-benar melukai dan melemahkan tubuh mereka berdua, tetapi gerakan yang ditunjukkan mereka bukanlah sesuatu yang seharusnya bisa dilakukan seseorang yang terluka.
Ditambah lagi mereka berdua menemukan bahwa dua pemuda jenius itu juga mahir menggunakan senjata tombak, yang bukan merupakan senjata utama mereka.
“...benarkah?”
Leinn melipat tangannya sambil mengangkat satu alisnya, lalu mulai berpikir sejenak.
Roland yang berdiri di sampingnya tidak menunjukkan ekspresi apapun dan hanya menatap dua pemuda itu, membuat mereka merasakan tekanan yang tidak nyata.
Aura dan Adeline hanya melihat pertukaran itu dan menyadari Leinn akan melanjutkan pelatihannya.
“Baiklah, tarik senjata kalian”
Menyadari cara mudah untuk menguji jawaban mereka, Leinn melangkah maju perlahan.
Uther dan Setanta langsung meraih senjata kayu yang terletak di samping mereka dan mengambil kuda-kuda bertarung, kemudian baru tersadar telah melakukan itu setelahnya. Senyuman buas dari Leinn saat ini membuat insting bertahan hidup mereka memaksa mereka untuk bersiap bertarung.
“Ayo”
Lalu Uther mengayunkan pedang kayunya sekuat tenaga ke arah leher Setanta.
“Uoooh?!”
Setanta terkejut sekejap, dan sekejap berikutnya langsung tersadar dan meluncurkan tusukan lurus ke depannya.
Tang!
“Haha!”
Tusukan tangan Leinn tertepis oleh pedang kayu Uther yang menghantamnya dari samping dan mata tombak kayu Setanta meluncur melewati pipinya, hampir melukainya.
Dan dengan itu, pertukaran mereka dimulai dengan tiga orang lain hanya berdiri menonton dari samping, melihat itu berlangsung.
Setelah serangan pertama yang tertahan, serangan Leinn berubah menjadi lebih cepat dan mampu memaksa mundur dua pemuda itu. Lalu setelah melakukan pertukaran beberapa waktu, Uther dan Setanta akhirnya mulai terbiasa dengan kecepatan itu...
“Heh”
Diikuti dengan Leinn yang meningkatkan kecepatannya sekali lagi.
“Hieh?!”
“Uoh!”
Uther menggunakan seluruh kekuatannya untuk menepis serangan yang datang bersama dengan Setanta yang menyerang di sela-sela itu untuk menghentikan gerakan Leinn sesaat, mengurangi bebannya juga.
__ADS_1
Tetapi setiap kali mereka menjadi terbiasa dengan kecepatannya, Leinn akan meningkatkan kecepatannya lagi, membuat dua pemuda itu menjadi sangat kewalahan.
“Um... Roland?”
“Hm?”
Roland menoleh dan menemukan Aura yang memanggilnya dengan ekspresi bingung sambil memperhatikan pertukaran tiga orang itu.
“Kenapa Leinn... tidak menggunakan senjata?”
Pertama Aura mengira Leinn melakukan itu untuk memberikan handikap, tetapi dia teringat bahwa Leinn bisa melakukan hal itu walaupun menggunakan senjata juga.
Kemudian Aura tidak bisa mengerti kenapa Leinn menunjukkan pertarungan dengan tombak, lalu bertarung dengan dua pemuda itu dengan tangan kosong.
Dia tidak bisa menemukan hubungan antara dua hal itu.
“Hm...”
Roland terlihat merenung sejenak, lalu menoleh ke arah Leinn.
“Baiklah, apa kau yakin itu tangan kosong?”
“Huh?”
Aura menoleh ke Roland karena tidak mengerti apa yang dia maksud, lalu kembali ke pertukaran itu.
Syuut!
Suara udara yang terpotong dapat terdengar, disebabkan oleh tusukan tombak Leinn yang hampir mengenai leher Setanta.
“Huh?!”
Aura menjadi sangat terkejut saat melihat itu dan mulai menggosok matanya, lalu melihat sekali lagi.
Syuut... syuut!
Dua tusukan lanjutan datang mengejar Setanta yang melangkah mundur, dan memotong langkah Uther yang berniat menghentikannya.
Tetapi Aura bisa melihat dengan jelas bahwa itu adalah tangan kanan Leinn.
“B-bagaimana...?”
“Menggunakan teknik senjata dengan tangan kosong bukanlah hal yang sulit bagi kami”
Adeline yang berdiri di samping Aura mulai menoleh perlahan setelah mendengar jawaban biasa dari Roland itu, sepertinya dia juga pertama kali mendengar tentang hal itu.
“Tetapi untuk menjawab pertanyaanmu...”
Roland mengalihkan perhatiannya dari pertukaran itu ke Aura, yang menatapnya dengan tidak percaya.
“Kemungkinan terbesarnya adalah, dia malas”
Mendapat semua informasi dan kemungkinan itu, sebuah skenario muncul di kepala Aura. Dan untuk memastikannya, Aura memerhatikan pertukaran itu dengan serius.
Setelah melihat itu dan mengulang apa yang dilihatnya dalam pertukarannya dengan Roland sebelumnya, Aura menemukan bukti bahwa deduksinya itu memang benar.
Leinn memang sedang melakukan gerakan yang sama dengan yang digunakannya ketika bertarung dengan Roland, dan dia menggunakan lengan kanannya seperti sebuah tombak.
__ADS_1