Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 84 – Arena Khusus untuk Pertarungan Mereka


__ADS_3

Teriakan meriah tidak berhenti untuk cukup lama, padahal pertarungan masih belum dimulai. Mereka terlihat sudah sangat bersemangat walaupun hanya melihat pemandangan di atas arena di tengah stadium itu.


Dua pemuda itu terpisah sejauh 50 meter di atas arena yang terlihat sedikit berbeda, karena lantai itu sudah lebih gelap dan mengkilap dibandingkan sebelumnya.


Seorang pria berpakaian bergaya meluncur di udara dan mendarat diantara mereka.


“Selamat siang untuk kalian semua! Akhirnya kita sampai di puncak turnamen kali ini, final antara dua pemuda ini...!”


Isaac berputar di tengah arena dengan indah dan mengayunkan lengan panjangnya ke langit dengan bersemangat.


“Mungkin ini akan menjadi pertarungan tersengit dalam sejarah turnamen junior, jauh berbeda dengan pertarungan sebelumnya! Pertukaran antara dua jenius generasi ini...!”


Isaac berhenti berputar dan tersenyum lebar, dia membuka kedua lengannya dan menunjuk dua pemuda itu sekaligus.


“Tetapi seperti yang telah kita lihat selama beberapa hari ini, pertarungan mereka berdua tidak hanya akan menghancurkan arena di bawah mereka ini, tetapi juga membahayakan kalian semua! Karena itu...”


Isaac menjentikkan jarinya dan secara mendadak, lingkaran sihir raksasa di sekitar arena itu mulai menyala perlahan-lahan.


Simbol-simbol sihir satu-persatu mulai bersinar dan membentuk lingkaran penuh, mengeluarkan tekanan yang besar dan akhirnya...


Kubah transparan setinggi 100 meter mengelilingi arena itu, menyelimutinya.


“Sihir pelindung murni tingkat tinggi-puncak telah didirikan untuk melindungi kalian semua, dimodifikasi untuk menahan serangan dari luar dan dalam! Dengan bantuan lebih dari 100 orang untuk mengisi Mana ke dalam lingkaran sihir ini, mereka bisa mengamuk sebebas apapun tanpa perlu mengkhawatirkan sekitar mereka!”


Tanpa mereka sadari, Isaac sudah berdiri di atas kubah transparan itu. Ini membuktikan kubah ini hanya murni untuk menahan serangan, dan menyentuhnya secara biasa tidak menghasilkan reaksi apapun.


“Haha, tidak kusangka mereka akan menyiapkan ini hanya untuk kita. Kupikir kita perlu mencari tempat lain untuk bertarung serius”


Senyum besar dapat terlihat di wajah pemuda berambut hitam di atas arena itu, dengan pedang terlihat tersarung di pinggangnya dan tas kecil di paha kanannya. Leinn berdiri disana sambil memeriksa lingkaran sihir besar di sekitar arena itu.


Tas besar ikoniknya sudah tidak terlihat di punggungnya, digantikan oleh jaket hitam panjang yang mencolok. Jaket itu memiliki lengan panjang, tidak terkancing, dan memiliki banyak kantung kecil.


Anehnya jaket ini terlihat berkibar perlahan walaupun tidak ada angin di sekitarnya.


Hampir tersembunyi oleh lengan panjang jaket itu adalah sarung tangan hitam di kedua tangannya yang memiliki logam kuning berbentuk persegi di punggung tangannya.


“Ya, tidak akan menarik jika pertarungan dihentikan karena ada yang terluka oleh serangan kita”


Di sisi lain arena itu berdiri pemuda berambut pirang dengan pelindung di berbagai bagian tubuhnya.


Dada dan pundaknya tertutupi oleh pelindung berwarna biru tua dengan ukiran emas yang membentuk kepala naga yang terlihat hidup, dengan sepatu besi yang melindungi sampai ke lutut kakinya dan sarung tangan besi melindungi seluruh telapak dan pergelangan tangannya. Tentu saja semuanya itu berwarna biru tua dengan emas di sekitarnya.


Rantai pendek berwarna biru tua dapat terlihat di pinggang celana Roland itu, dengan 14 cincin identik tergantung disana.


Dua pemuda itu saling bertatapan tanpa mengatakan apapun.


Yang menghentikan kesunyian untuk terbentuk adalah Isaac yang berbicara dengan bersemangat jauh di atas mereka.

__ADS_1


“-karena itulah pelindung ini tidak akan hancur walaupun diserang oleh sihir dengan tingkat yang sama! Selain pelindung ini kami juga memodifikasi lantai arena menjadi lebih kokoh, dengan sihir elemen tanah dari puluhan orang...”


Isaac terlihat tenggelam disaat menjelaskan sihir pelindung itu dan mulai menjelaskan peningatan durabilitas lantai arena itu. Ini terlihat akan memakan waktu cukup lama.


“Hehehe...”


“Hahaha...”


Suara tawa keluar dari mulut dua pemuda itu hampir secara bersamaan, dan bukan karena ada sesuatu yang lucu terjadi di sekitar mereka berdua yang membuat itu terjadi.


Alasan dari tawa itu tidak lain dari kegirangan mereka, kenyataan bahwa akhirnya mereka berdua akan bertarung satu sama lain lagi setelah beberapa tahun lamanya.


Perasaan ini semakin meluap di detik-detik terakhir yang perlu mereka tunggu.


Leinn mencoba menenangkan dirinya dengan mengucapkan hal yang baru diingatnya.


“Berapa skor kita dulu? Aku kurang ingat”


Mendengar pertanyaan itu, Roland berhenti tertawa dan mulai merenung dan mencoba mengingat hal itu.


“Seharusnya... 124 kali menang, 124 kali kalah, dan 450 kali seri”


“Oh benar juga...”


Leinn melepas dan menggenggam sarung pedangnya dengan tangan kirinya.


“Bagaimana dengan... taruhan kita? Kalau tidak salah skorku adalah satu kali kalah dan...”


Roland menarik keluar senjatanya dan pedang itu terlihat mengkilap di tangan kanannya.


“...satu kali menang” lanjut Roland pendek.


Di atas podium di samping arena itu terlihat Aura dan Adeline yang merasakan suasana tegang antara dua pemuda itu sudah hampir mencapai puncaknya.


“Kyuu?”


Aura dikejutkan oleh Clear-kecil yang meloncat dari pangkuannya ke luar podium, lalu hilang dari pandangan mereka.


“H-hey...!”


Tiba-tiba dari tempat yang sama muncul dua tentakel transparan, lalu empat tentakel dan akhirnya tubuhnya terlihat. Tas besar yang tidak asing muncul di atas podium dengan delapan kaki transparan yang membuatnya menjadi seperti laba-laba aneh.


Berada di atas tas itu adalah Clear-kecil.


“Kyuu!”


Gumpalan transparan kecil itu merangkak ke bawah tas besar itu dan tentu saja, pemilik kaki itu adalah Clear. Dia diminta untuk membawa tas besar ini kesini dan menunggu saja.

__ADS_1


Leinn dan Roland tidak berniat membawa Contracted Beast mereka ke dalam pertarungan ini, mereka sadar lawan mereka kali ini membutuhkan konsentrasi penuh mereka.


Clear-kecil melompat ke atasnya dan bergabung kembali menjadi satu dengan Clear, yang meletakkan tas besar yang dibawanya dan mulai menyebar di atas podium, terlihat bersantai.


Di sampingnya adalah Basalt yang sudah berhenti berlatih dan berniat mempelajari pertarungan dua pemuda di arena itu. Dia telah kalah telak disaat dia menantang Roland dan dia menyadari Leinn tidak benar-benar serius saat bertarung dengannya di hutan sebelumnya.


Twig merayap dan berbaring di samping Clear dan ikut bersiap melihat tuannya bertarung juga. Dia dan Clear terlihat sudah menjadi teman dekat dalam waktu singkat sebelum ini. Dia juga terlihat lelah setelah bergerak seharian tanpa henti.


Rufus masih berada dalam posisi berbaringnya di samping Aura tapi dia terlihat tidak melepasan pandangannya dari dua pemuda di atas arena itu. Dia juga memiliki alasan sendiri untuk menjadi lebih kuat dan petarungan antara dua pemuda itu memiliki kemungkinan besar untuk membantunya.


Spirit Beast Elsa sudah mendarat di pundak Adeline dan mulai menggoyangkan kakinya, terlihat tidak sabar menonton pertarungan Roland kali ini.


Jauh di atas mereka, terlihat burung berbulu emas hinggap di atas atap terbuka stadium dan memerhatikan dua pemuda itu juga dengan serius.


Sedangkan yang merasa paling tegang saat ini adalah guru-guru dan murid-murid yang berdiri di luar lingkaran sihir sambil bersiap memasukkan Mana mereka untuk memperkuat kubah pelindung itu.


Mereka percaya bahwa dua pemuda di dalam kubah ini tidak akan mungkin bisa menembus regenarasi yang berasal dari Mana milik lebih dari seratus orang ini tetapi entah kenapa, perasaan tidak enak terus merayap di belakang kepala mereka.


“-sepertinya semua sudah selesai dan siap dipakai!”


Isaac meloncat tinggi dan melayang ke tempat duduk untuk guru yang sekarang hanya tersisa dua orang selain dirinya.


Dia mendarat dan duduk di kursinya sambil menghentakkan tongkatnya ke lantai di sampingnya.


“Bersiap!”


Dua guru di sampingnya juga terlihat menghentakkan kaki dan tongkat mereka dan lingkaran sihir itu mulai menyala semakin terang, lalu perubahan terjadi.


Kubah transparan itu menebal dengan kecepatan yang bisa terlihat setelah menerima Mana terakhir itu, menjadi jauh lebih kokoh dari sebelumnya.


Dua pemuda itu hanya bertatapan satu sama lain tanpa memasang posisi bertarung, tidak terpengaruh sama sekali oleh pengumuman itu.


“Mulai!”


Lalu, mereka berdua lenyap dari tempat berdiri mereka-


CLANG!


...dan muncul di tengah arena.


Pertemuan senjata mereka berdua menghasilkan gelombang benturan yang menyebar ke semua arah, menggetarkan kubah transparan itu.


“ROLAND!”


“LEINN!”


 

__ADS_1


 


__ADS_2