Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 119 - Kedekatan


__ADS_3

Pertanyaan dari Adeline itu membuat Aura bingung selama beberapa saat.


“Apa...Ah!”


Aura tiba-tiba tersadar dan meraih Linker yang ada di sisi lain mejanya dan menemukan ternyata dirinya telah membaca buku sampai hampir ke tengah hari, dimana kelas pagi baru saja selesai.


Aura lalu menyadari bahwa Adeline sudah memakai seragamnya, kemudian melihat dirinya yang masih memakai pakaian tidur.


“T-tunggu sebentar!”


Aura langsung bangun dari kursinya dan langsung melakukan semua persiapannya dan sudah mengenakan seragamnya juga.


Adeline hanya duduk sambil memerhatikan Aura yang sedang panik itu.


“A-ayo!”


Adeline lalu menghela nafas pendek dan menarik Aura lalu mendudukkannya kembali ke kursi. Kemudian tangannya meraih sisir yang tersangkut di rambut merah muda gadis itu dan mulai merapikannya.


Aura pertama terlihat ingin menghentikannya tapi akhirnya membiarkan gadis itu menyisir rambutnya.


Suasana tenang terbentuk di antara mereka, tetapi itu pun tidak bertahan terlalu lama.


...bam Bam-Bam!


Suara langkah kaki yang luar biasa keras dapat terdengar semakin keras dan dekat, lalu tiba-tiba hilang ketika mencapai di depan pintu masuk ruangan itu.


Bham!


“Aura! Adeline! Kalian sudah siap?!”


Pintu terbuka dengan kuat dan wujud pendatang itu dapat terlihat, seorang gadis berambut putih panjang dengan senyuman lebar di wajahnya.


Lalu gadis itu, Hinata menyadari bahwa Adeline dan Aura sudah terlihat siap dan langsung meraih lengan mereka berdua.


“A-ah!”


“Hey!”


Aura hanya memiliki waktu sesaat untuk mengunci kamarnya dengan Linkernya sebelum Hinata mulai menarik dirinya dan Adeline keluar dari asrama.


“Sudah lama aku tidak melihat Leinn mengajari orang lain, ini pasti akan menarik!”


Hinata menarik dua gadis itu sambil berjalan santai saja, tetapi kecepatannya itu masih membuat Aura dan Adeline harus setengah berlari untuk mengikutinya.


“Kubilang lepaskan!’


Adeline menggoyang-goyang lengannya yang sedang digenggam itu, dan membutuhkan beberapa saat sebelum Hinata menyadari itu dan melepaskan genggamannya.


Aura juga dilepaskan dan mendapatkan kebebasannya lagi.


“Kalau kita tidak cepat, nanti mereka berdua akan mulai duluan!”


Hinata terlihat cemberut setelah menyadari dua gadis di depannya tidak membagi perasaan semangat yang sama dengannya.


Ya, mereka bertiga sudah membuat rencana untuk tidak ikut kelas siang setelah Roland memberitahu Adeline kalau dia ada urusan dengan Leinn di siang itu dan akan ada di Lapangan Latihan terbuka sepanjang hari.


Yang berikutnya adalah mereka mendengar murid-murid lain menceritakan apa yang terjadi di siang sebelumnya, dimana dua pemuda telah mendapatkan instruksi dari Leinn di lapangan latihan terbuka.


Jadi rencana bersama Leinn di siang hari, di lapangan latihan terbuka.

__ADS_1


“Jika memang terlambat, ya sudah! Mereka juga akan disana sampai malam!”


Adeline mulai melipat tangannya dan menatap Hinata dengan ekspresi kesal.


“T-tapi...”


“Jika kau memang ingin melihat dengan cepat, pergi saja sendiri duluan! Kami tetap akan sampai juga disana sebentar lagi!”


Hinata langsung terlihat sangat sedih dan mundukkan kepalanya, lalu memainkan jari tangannya.


“...tapi aku ingin kesana bersama kalian...”


“Uhk..!”


Adeline langsung mengambil satu langkah mundur setelah mendengar itu, dan ekspresi bersalah langsung terlihat di wajahnya.


Mereka bertiga sudah menjadi saling kenal setelah bertemu di lapangan latihan terbuka enam hari yang lalu, lalu menjadi lebih sering bertemu lagi di berbagai jenis kelas yang mereka ambil.


Ternyata Hinata juga melakuan hal yang sama seperti Leinn dan mencobai semua kelas yang terlihat menarik, tetapi bedanya adalah dia tidak bosan dan tetap melakukannya sampai pagi tadi.


Ekspresi yang jujur dan senyuman lebar yang hampir selalu ada di wajahnya membuatnya menjadi seseorang yang sangat sulit untuk tidak disukai, bahkan oleh Adeline yang biasanya selalu ketus dengan orang-orang yang baru dia temui dan belum dekat dengannya.


Tertawa ketika senang dan murung ketika sedih, itulah Hinata Springleaf.


“Y-ya sudah! Ayo cepat!”


Adeline langsung mempercepat langkahnya dan berjalan melewati Hinata, yang langsung menunjukkan senyuman lebar setelah melihat semangat Adeline itu.


“Yay! Ayo!”


Aura yang melihat pertukaran itu hanya tersenyum dan mulai mempercepat langkahnya juga.


Mereka bertiga menjadi cukup dekat hanya dalam waktu beberapa hari, sampai ketika Hinata mengajak Adeline untuk berkumpul dan tidur di kamar Aura di malam sebelumnya.


Jadi setelah menggunakan semalaman untuk lebih mengenal satu sama lain, hubungan mereka bertiga menjadi lebih dekat lagi.


“Oh, ternyata benar!”


Teriakan bersemangat keluar dari Hinata yang menunjuk ke tempat yang baru muncul di dalam penglihatan mereka, ke arah Lapangan Latihan Terbuka.


Atau tepatnya pada... dua pemuda.


...tang tang...!


Yang sedang bertarung dengan tombak di tangan mereka.


...


“Apa kau sudah mencapai batasmu, Leinn?!”


“Kau harap!”


Tang!


Leinn mementalkan tusukan tombak Roland dengan ayunan tombaknya sendiri, diikuti dengan tendangan lurus yang kuat ke arah perut pemuda berambut pirang itu.


Bham!


Roland meluncurkan lututnya sendiri dan menghantam telapak sepatu Leinn, menghentikan gerakan mereka berdua di tempat.

__ADS_1


Mereka berdua lalu meloncat mundur secara bersamaan, mendarat tepat di luar jangkauan serangan mereka masing-masing.


“Makan ini!”


“Kau saja!”


Tangtangtangtang...!


Tusukan demi tusukan saling berbenturan dan berhasil membentuk pemandangan seperti dua hujan lebat yang sedang bertabrakan.


Tusukan tombak Roland terlihat lebih ganas dan kuat, sedangkan tombak Leinn lebih fleksibel dan cepat.


Tangtangtangtang...!


Dan itu terus berlanjut cukup lama karena tidak ada di antara mereka berdua yang mau mengalah, membuat pemandangan yang menakjubkan itu.


Clap clap clap!


“Woohoo...!”


Tang!


Suara bersemangat yang tiba-tiba terdengar itu mengejutkan dua pemuda itu dan membuat mereka meluncurkan satu serangan kuat bersamaan yang membuat jarak diantara mereka langsung melebar cukup jauh.


Leinn dan Roland lalu menoleh ke satu arah dan menemukan Hinata yang sedang bertepuk tangan keras sambil tersenyum lebar, Aura di sampingnya yang juga bertepuk tangan tanpa mengeluarkan suara yang jelas, dan Adeline yang hanya terpana saat menatap Roland.


Tidak jauh dari tiga perempuan itu adalah dua pemuda berambut biru dan coklat yang seperti baru tersadar juga dengan kebaradaan tiga pendatang baru itu.


““Hinata...?””


“Ya! Aku Hinata!”


Mendengar jawaban polos itu, Leinn dan Roland tanpa sadar langsung terkeluar dari keadaan bertarung mereka dan sudah berdiri santai.


“Oh, hai Aura!”


“Adeline”


Leinn menyandarkan tombaknya ke pundaknya sambil tersenyum lebar, yang terlihat berbeda karena cahaya matahari yang sedang memantul di permukaan wajahnya yang sudah dibasahi keringat.


Roland sudah memutar tombaknya dan menancapkannya di lantai di sampingnya, lalu mulai menyeka dahinya yang juga dibasahi keringat, membuat rambutnya tersisir ke belakang.


“”...””


“Yay! Sekarang giliranku!”


Hinata meloncat berdiri dan berjalan meninggalkan dua gadis yang masih menatap dua pemuda itu tanpa berkata apa-apa.


Roland bisa melihat Hinata berniat mengambil tombak di sampingnya, jadi dia langsung menarik dan melemparkannya cukup kuat ke arah tempat yang sedang tidak ada murid lain.


Hinata terlihat tidak bereaksi dengan perbuatan Roland itu dan hanya terus berlari mengejar tombak itu, dan akhirnya berhasil mendapatkannya setelah tombak itu mendarat di tengah lapangan.


“Hahaha!”


Tawa bersemangat keluar dari Hinata yang mengangkat tombak kayu itu dengan penuh kepercayaan diri.


Lalu dia mulai menusukkan tombak itu ke depannya dengan canggung.


Boom!

__ADS_1


 


 


__ADS_2