Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 116 – Latihan dari Leinn


__ADS_3

“Oh ya, aku tidak bisa menjadi guru kalian”


Leinn mengucapkan itu secara tiba-tiba tanpa mengangkat wajahnya dari deretan senjata kayu di depannya, mengejutkan dua pemuda yang sedang memilih senjata kayu di sampingnya.


“A-apa...”


“Kenapa...?”


Leinn lalu mengangkat wajahnya dan menoleh ke kiri dan kanannya.


“Aku baru teringat bahwa aku tidak bisa mengambil murid sembarangan, tetapi aku tidak melihat masalah memberi kalian beberapa trik bertarung. Jadi berhenti memanggilku guru, karena aku tidak akan mengangkat kalian sebagai murid sekarang”


Leinn meraih salah satu pedang kayu dan memeriksa kualitasnya, tidak memedulikan dua pemuda yang kehilangan semangat yang meluap-luap dari beberapa detik yang lalu.


Lalu api kembali muncul di mata mereka berdua, dan mereka meraih senjata kayu mereka maasing-masing.


“Baiklah, pertama biar kulihat kemampuan kalian sekarang dibandingkan terakhir kali kita bertarung”


Leinn menendang lantai dengan ringan dan melayang mundur sejauh sepuluh meter dan ini berulang beberapa kali sampai dirinya mendarat di tengah lapangan itu, menjadi perhatian semua orang disana.


Uther dan Setanta bertukar pandangan sesaat lalu langsung tersadar, Leinn di depan mereka itu berencana untuk melawan mereka berdua sekaligus.


“”Mohon bimbingannya...!””


Uther menggenggam dengan erat pedang panjang di tangan kanannya sambil mengulurkan tangan kirinya sepenuhnya, seperti berusaha meraih sesuatu.


Setanta menggenggam tombak kayu di tangannya dengan kedua tangannya dan mengarahkan ujung tombaknya pada pemuda berambut hitam di kejauhan itu.


Sedangkan Leinn yang menerima dua tatapan penuh semangat bertarung itu hanya tersenyum kecil, lalu meletakkan pedangnya di mulutnya.


“Huh...?”


“Ah...?”


Ekspresi bingung dapat terlihat di wajah dua pemuda itu, tetapi mereka tidak berani menurunkan kewaspadaan mereka. Lalu mereka melihat Leinn menarik kain hitam dari saku pakaiannya, yang ternyata adalah sarung tangan yang tidak asing.


Itu adalah sarung tangan yang identik dengan apa yang dipakainya saat bertarung dengan Roland dan saat ini, dia hanya mengenakan satu di tangan kirinya saja.


“Fhaiklah... Ayo”


Leinn mengambil kembali pedang dari mulutnya dan langsung menggenggamnya dengan terbalik, membuat ujung pedangnya menunjuk ke belakangnya.


Tangan kirinya yang sudah tertutupi sarung tangan berwarna hitam pekat dengan pelindung punggung berwarna emas itu terulur penuh dan menunjuk ke arah dua pemuda di depannya.


“Majulah”


Menganggap itu sebagai pemicu, dua pemuda itu menendang lantai lapangan dengan keras dan mulai berlari dengan kencang ke arah Leinn secara bersamaan.


Leinn bisa melihat mereka berdua menguasai Sihir Penguat Tubuh dengan cukup baik, terlihat mampu menggunakan Mana untuk mempercepat kecepatan lari mereka.


Kecepatan mereka berdua sepertinya hampir sama melihat mereka berdua masih berdampingan saat mendekati lawan mereka, sampai ketika Setanta tiba-tiba mengambil dua langkah pendek dan membiarkan Uther memasuki jangkauan serangan Leinn sendirian.


Uther tidak bereaksi apa-apa dan hanya memerhatikan pemuda di depannya yang masih berdiri santai dan menatapnya sambil tersenyum kecil, lalu memberikan satu tusukan dengan seluruh tenaganya ke arah dada lawannya itu.

__ADS_1


Bak!


Yang berhasil ditepis dengan kuat oleh tamparan punggung tangan kiri Leinn, yang sampai membuat Uther hampir kehilangan keseimbangannya.


Di titik terbuka itu Leinn berniat meluncurkan serangan ringan dengan pedangnya, sampai ketika dia melihat gerakan cepat di tepi pandangannya.


Leinn langsung mengangkat tangan kanannya dengan cepat.


Tang!


Pedang kayu membentur ujung tombak kayu dan menimbulkan getaran hebat yang memaksa Setanta meloncat mundur karena genggamannya yang hampir lepas, diikuti dengan perasaan ngilu yang menyebar cepat dari kedua lengannya itu.


“A-apa...?”


Setanta menjadi tidak bisa melanjutkan serangannya karena dia tahu jika dia melakukannya, senjatanya akan terlepas dari tangannya.


Bak!


“Aku hanya memukul ujung tombakmu cukup keras, membiarkan semua gelombang seranganku menyalur ke tangan yang menggenggam senjatamu, itu bukan hal yang sulit. Dan kau...”


Leinn mengalihkan perhatiannya dari Setanta yang masih menunjukkan ekspresi tidak nyaman, ke Uther yang menunjukkan ekspresi kaget.


“Jika senjatamu tertangkap oleh musuhmu dan kau tidak bisa mengambilnya kembali dalam kurang dari setengah detik, kau sudah kalah”


Leinn menggelengkan kepalanya pada pemuda yang sedang berusaha menarik kuat pedangnya yang tersangkut di antara dua jarinya.


“Whoah...!”


Setanta juga bisa merasakan kengiluan di lengannya mulai menghilang dan menatap pemuda berambut hitam di depannya dengan penuh semangat bertarung lagi.


“Pertama, Nol. Lagi”


Leinn memutar genggamannya pedangnya dan mulai memasukkan pedang itu ke genggaman kiri di pinggangnya, seperti sedang menyarungkan pedang.


Uther dan Setanta langsung menarik satu nafas tajam, karena mereka mengenali cara berdiri itu.


Itu adalah posisi berdirinya ketika bertarung dengan mereka di turnamen sebelumnya.


“Tunggu apa lagi?”


“...Aaah!”


“Ha...!”


Mereka berdua meloncat sekuat tenaga, menyerang Leinn dari dua arah berbeda secara bersamaan.


Dan dengan itu, latihan dari Leinn dimulai.


...


Kelas siang baru saja selesai dan seorang pemuda berambut pirang dapat terlihat berjalan sendirian dengan ekspresi datar di wajahnya.


Pemuda itu tidak lain adalah Roland Azure, yang memiliki waktu sendiri karena Adeline yang bersamanya sebelumnya tiba-tiba pergi meninggalkan dirinya untuk bertemu dengan Aura di Perpustakaan.

__ADS_1


Tidak memiliki rencana apapun siang itu membuat Roland berjalan tanpa tujuan di sekitar akademi selama beberapa menit, lalu dia seperti tersadar di tengah taman utama.


Roland menarik keluar Linkernya dari saku bajunya, berencana untuk mencari hal menarik-


“Hm?”


Ternyata ada satu pesan masuk, yang diterimanya satu jam yang lalu. Kenapa dia tidak mendapat noti-, oh.


Itu dari Leinn.


“...aha”


Tawa kecil keluar dari mulutnya setelah membaca isi pesan itu, diikuti dengan langkahnya yang berubah arah.


Setelah berjalan selama beberapa menit, dia bisa melihat tempat tujuannya itu.


Bham!


“Seratus delapan puluh satu, lima. Lagi”


Dan di tengah tempat tujuan itu, di tengah Lapangan Latihan Terbuka itu adalah pemuda berambut hitam yang baru menendang pemuda berpedang dan membuatnya menabrak pemuda bertombak di belakangnya.


“Hm?”


Lalu pemuda itu, Leinn menoleh ke arah Roland yang baru melangkahkan kakinya ke lapangan itu.


Uther dan Setanta juga menyadari perubahan suasana dari Leinn itu dan ikut menoleh ke arah pandangannya, lalu menemukan pemuda berambut pirang yang sedang berjalan ke arah mereka.


““T-tuan muda Roland?!””


Jeritan kaget keluar dari mulut dua pemuda yang langsung berdiri tegap, menunjukkan ketenaran yang luar biasa besar yang dimiliki Roland.


Alasan lain dari rasa hormat itu adalah kekuatan besar yang ditunjukkan Roland di turnamen sebelumnya juga, yang sebanding dengan orang yang berusaha mereka berdua jadikan guru itu.


Leinn melihat itu sambil mengangkat satu alisnya, lalu menoleh ke arah Roland yang sudah berhenti di depannya.


“Kenapa kau ada disini?”


“Kenapa aku tidak ada disini?”


Roland lalu mengalihkan perhatiannya dari Leinn yang terlihat kesal setelah menerima pertanyaan balik darinya itu ke dua pemuda yang berdiri tegap sambil menatapnya.


Seluruh pakaian dan wajah yang kotor, membuktikan mereka sudah jatuh berulang kali saat bertarung dengan Leinn sebelum dia datang.


Dia juga bisa melihat kedua tangan pemuda bertombak itu sudah bergetar keras seperti sudah sangat kelelahan, tetapi menolak untuk melepaskan senjatanya.


Lalu pemuda berpedang di sampingnya yang menggenggam pedangnya di tangan kiri yang sudah bergetar kuat juga, dengan tangan kanan yang terlihat sudah tidak bisa mengepalkan tinjunya lagi.


“Kau ingin mengajarkan ilmu tombakku pada seseorang, lalu tidak menginginkanku disini?”


 


 

__ADS_1


__ADS_2