
Nama dua pemuda itu disorakkan oleh orang-orang disana dengan penuh semangat, terlihat seperti sedang memuja dua petarung di atas arena itu.
Orang-orang di stadium itu hanya bisa melihat pertukaran pertama mereka tanpa berkata apa-apa, tenggelam dalam suasana yang pertarungan mereka ciptakan.
Lalu semua perasaan kagum itu meluap keluar secara bersamaan menjadi sorakan besar itu.
Perasaan lain sedang dirasakan oleh orang-orang yang berjaga di lingkaran sihir raksasa di luar arena itu.
Karena posisinya yang berada di luar kubah transparan itu, Mana Petir ganas milik Roland tidak bisa merusak pondasi sihir ini secara langsung, tetapi ledakan dua jurus sebelumnya yang tidak terarah pada pelindung itu berhasil membuat gejolak besar yang terlihat jelas di dinding pelindung mereka.
Dua orang sudah digantikan dengan tim cadangan karena kehabisan Mana, sedangkan pertarungan baru saja dimulai.
“Sepertinya tadi cukup sebagai pemanasan?”
“Ya, kita bisa mulai sekarang”
Bola-bola Mana mulai berputar di sekitar dua pemuda itu secara perlahan, yang lalu tiba-tiba langsung terisap ke dalam tubuh mereka.
[[Overflow]]
Boom!
Dua pemuda itu hilang sekali lagi dari tempat berdiri mereka, kali ini meninggalkan retakan besar di lantai batu yang mereka tendang.
Boom Boom Boom...!
Mereka muncul dan hilang di berbagai bagian arena batu secara beruntun, hanya terlihat sekejap disaat senjata mereka berbenturan.
Dua aliran Mana bermunculan dan saling berbenturan di atas arena, yang membuat beberapa orang menyadari bahwa aliran Mana itu berasal dari Mana yang merembes keluar dari tubuh mereka yang berada di dalam keadaan Overflow.
Beberapa orang mulai jatuh tidak sadarkan diri di sekitar lingkaran sihir raksasa itu setiap kali benturan besar itu terjadi. Sekarang tim perawat juga bergerak dengan cepat untuk memindahkan tubuh itu yang langsung digantikan oleh tim cadangan.
“”Baiklah!””
Boom!
Suara keluar dari mulut mereka secara bersamaan dan mereka menggunakan benturan sebagai untuk meningkatkan jarak yang memisahkan mereka.
Leinn dan Roland sedikit terkejut melihat lawan mereka memikirkan hal yang sama tetapi tetap melanjutkan persiapan mereka.
Leinn sudah menyarungkan pedangnya dan meraih kantung di pinggangnya dengan tangannya yang bebas itu, bersamaan dengan Roland yang meraih ke rantai yang mengait belasan cincin di pinggangnya.
Dalam sekejap itu juga mereka menyelesaikan persiapan mereka.
Di tangan kanan Leinn adalah empat Rank B Beast Core dan di tangan kiri Roland adalah tiga cincin yang sudah mulai bersinar dengan berbagai simbol.
__ADS_1
Roland melihat Leinn melempar Beast Core itu langsung ke dalam mulutnya dan mulai mengunyahnya, mengeluarkan suara yang sangat mengganggu bagi orang yang mendenganya.
Leinn melihat Roland melempar tiga cincin yang sudah mulai berubah menjadi pedang kecil ke arahnya, tepatnya ke kiri, kanan, dan atasnya.
“Clear Sky Style...””Storm Sky Style...”
Mana mulai meledak keluar dari mulutnya dan mulai berputar ke seluruh tubuhnya dalam kecepatan yang sangat tinggi lalu terisap ke dalam mata pedang yang sudah mengintip keluar dari sarungnya. Cahaya biru tua mulai bersinar dari mata pedang itu, bersama dengan tekanan yang luar biasa.
Tiga cincin itu berubah menjadi pedang yang identik dengan pedang di tangan kanan dan kirinya yang baru ditarik keluar olehnya, yang mendarat dan menancap di sekitar arena bersamaan. Roland juga memutar genggaman pedangnya agar ujung dua pedang di tangannya itu terarah ke tanah.
“”Finisher...!””
Udara terlihat berhenti dan suara hilang dari sekitar pemuda berambut hitam, tetapi petir dari pedang di sekitarnya terlihat berniat mengoyak kesunyian itu.
Semua Mana Petir yang tersimpan di tiga pedang itu langsung keluar secara bersamaan dan membentuk persegi di antara mereka dan Roland.
[Heaven Treading Wave\, Rapid!] [Falling Heaven\, Four Direction Judgement!]
Leinn mengeluarkan pedangnya dan langsung meluncurkan tebasan lebar, diikuti tiga tebasan beruntun lainnya ke tiga arah lain. Gelombang pedang besar bergerak dengan cepat ke arah Roland dan tiga gelombang lain meluncur ke arah tiga pedang yang dikelilingi petir di sekitarnya.
Roland menancapkan kedua pedangnya yang dikelilingi petir ke lantai batu itu, menghubungkannya dengan tiga pedang lain lalu diikuti dengan suara guntur yang semakin keras. Sampai akhirnya ledakan petir besar keluar dari semua pedang itu dan mengoyak seluruh area disekitarnya.
Crackle... BOOM!
Sebagian besar getaran yang dihasilkan benturan serangan itu tertahan oleh sihir pelindung, tetapi hasilnya masih tetap sangat mengejutkan.
Sebagian besar orang yang jatuh di sekitar arena itu adalah mereka yang Mana-nya terkuras secara tiba-tiba untuk mempertahankan sihir pelindung yang terlihat sedikit berubah bentuk disaat ledakan itu terjadi.
Keadaan dua pemuda itu tidak dapat terlihat karena debu tebal yang menutupi seluruh kubah transparan itu, tetapi suara pertarungan mereka masih bisa terdengar dengan jelas.
Clang Clang Clang!
““Hahaha...!””
Dua suara tawa menggema bersama dengan suara benturan senjata secara beruntun adalah satu-satunya penanda mereka berdua masih baik-baik saja. Percikan dan kilat beterbangan, dan tiba-tiba cahaya emas terlihat mengintip keluar dari celah debu tebal itu.
Crackle Boom...!
Ledakan itu membuat debu tebal itu menyebar dan menunjukkan Roland yang baru saja meluncurkan serangannya di tengah arena.
Di depannya adalah Leinn yang berhasil menahan serangan dari atas itu dengan sarung pedang di tangan kirinya, lalu dia langsung mengayunkan pedang di tangan kanannya untuk menebas kaki pemuda berambut pirang di depannya itu.
Clang!
Roland menangkis itu dengan pedang di tangan kirinya dan mereka berdua terpental mundur.
__ADS_1
Sekarang penonton bisa melihat keadaan arena itu, yang sekarang sudah memiliki lubang selebar 40 meter ditengahnya.
Terlihat juga empat pedang identik tertancap di lantai itu dengan satu gagang pedang tanpa mata pedang terbaring di dekat salah satu pedang itu.
“Kau masih belum berubah...”
Roland merasakan tangannya yang terasa ngilu setelah pertukaran serangan mereka, dengan dua pedang baru sudah muncul di genggamannya yang identik dengan pedang yang dikeluarkan sebelumnya.
“Oh, kau belum tahu”
Leinn menyarungkan pedangnya kembali dan mengangkat itu ke depan wajahnya.
Tanpa diduga oleh semua orang di stadium itu, dia menggigit pedangnya yang tersarung itu dan membawanya di mulutnya.
Roland langsung bersiaga dan menyiapkan diri untuk serangan berikutnya dan tentu saja, jaket hitam panjang Leinn mulai berkibar dan dia bisa melihat apa yang ada di balik jaket itu.
Puluhan gagang pisau perak.
Kedua tangannya yang sudah terbebas itu meraih ke balik jaketnya dan menarik keluar empat pisau lempar.
“Chofalah tafhan inhi!”
Kedua tangan itu terayun dan empat peluru perak melayang ke arah Roland dengan cepat. Sebelum pisau itu mencapai sasarannya, Leinn sudah mulai berlari ke samping sambil menarik keluar dua pasang pisau lain dan melemparnya juga.
Roland langsung menyiapkan kedua pedangnya untuk menangkis dan meluncurkan serangan balasannya-
“Hm...?!”
Sampai ketika dia menyadari simbol sihir di pisau-pisau itu
Tang!
Suara benturan yang keras terdengar jelas ketika dua pedang Roland membentur empat pisau pertama itu dan memaksanya mengambil satu langkah mundur.
Sinar matanya langsung berubah dan petir mulai berkumpul di pedang di tangan kirinya.
Tang tang!
Dua tebasan dengan pedang di tangan kanannya berhasil menepis empat pisau berikutnya dan dia mulai melangkah menyamping untuk menghindari serangan berikutnya.
Yang terjadi berikutnya adalah sebuah pemandangan yang mengejutkan.
Pisau-pisau yang seharusnya akan meleset setelah Roland melangkah menghindarinya itu, secara tiba-tiba bisa berubah arah dan bergerak mengejarnya lagi.
“Sialan!”
__ADS_1