Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 15 – Permusuhan


__ADS_3

Merasa bersalah dan malu karena dia menghabiskan sekantung penuh daging kering itu, Aura tidak bisa mengangkat kepalanya dan hanya menjawab Leinn dengan bisikan kecil.


“Oh... tenang saja aku masih punya banyak makanan cadangan lain” Leinn mengeluarkan beberapa kantung daging lain dari dalam tas besarnya.


Aura hanya bisa berdiri dan mengembalikan kantung kosong itu pada Leinn. Menerima ini, dia memasukkannya ke dalam tas besarnya bersama kantung-kantung daging lainnya.


Setelah beberapa saat, Aura menyadari Leinn belum mulai berjalan, dia sedang menunggunya.


Jadi dia mengangkat wajahnya dan melihat Leinn yang menatapnya kembali.


“A-ayo!” ucap Aura dengan kuat.


Aura mulai berjalan mengikuti jejak yang ditinggalkan Wolf Beast itu lagi, dan Leinn mengikutinya dari belakang.


Setelah berjalan beberapa saat, Aura menoleh ke belakang dan menemukan Leinn hanya mengikutinya tanpa berkata apa-apa.


Dia juga menyadari Leinn sedang memakan sesuatu, tetapi dia tidak melihat kantung daging apapun di kedua tangannya.


...


Mereka berdua sudah berjalan cukup lama dan jejak yang mereka ikuti sudah tidak terlihat adanya darah lagi.


Kemampuan penyembuhan alami Rank B Beast memang luar biasa.


Menyadari mereka sudah semakin mendekati Beast itu, Aura menjadi semakin penasaran tentang urusan Leinn dengan serigala itu.


“J-jadi kenapa kita mengikuti jejak Wolf Beast ini?” ucap Aura pada Leinn yang berjalan di belakangnya.


“Hm? Dia terlihat cukup kuat, jadi aku ingin mencoba bertarung dengannya” jawab Leinn dengan santai.


“Jadi kau ingin membuat Contract dengan Wolf Beast ini?’ Aura menoleh ke arah Leinn, berpikir itu bukan ide yang buruk mengingat kemampuan yang dimilikinya.


”Contract...? Oh, aku belum tahu” Leinn terlihat bingung sesaat, lalu menyadari apa yang dimaksud Aura.


Mendengar itu, Aura berhenti berjalan lalu membalikkan badannya menghadap Leinn.


Leinn juga menghentikan langkahnya melihat gadis yang menatapnya itu.


“Kalau kau tidak berencana membuat Contract dengannya, mengapa kau ingin melawannya?” tanya Aura sekali lagi.


“Karena... dia terlihat cukup kuat?” jawab Leinn, sekali lagi.


Mereka berdua memasang ekspresi yang sama, tidak mengerti apa maksud perkataan orang di depan mereka masing-masing.


“Eh?” “Eh?”


Percakapan mereka yang aneh itu tiba-tiba berubah ketika Leinn menoleh ke arah belakangnya dengan cepat.

__ADS_1


Aura langsung menyadari dari gerakan Leinn itu bahwa ada yang sedang mendekati mereka dari arah yang sama dengan tempat mereka datang.


Sepertinya kelompok ini juga sedang mengikuti jejak yang ditinggalkan Wolf Beast itu.


Aura menoleh ke arah Leinn dan menyadari pemuda itu berniat untuk menunggu pendatang baru itu disini.


Beberapa menit berlalu dan akhirnya empat bayangan terlihat berjalan mendekati mereka dari kejauhan.


Ternyata salah satu dari mereka adalah wajah yang tidak asing untuk Leinn, dan orang itu juga menghentikan langkahnya setelah melihat Leinn hanya berdiri sambil menatap mereka.


“Huh? Kenapa gelandangan sepertimu ada di bagian hutan sedalam ini?”


Leinn melihat empat orang berdiri sejauh sepuluh meter darinya.


Orang yang terlihat seperti pemimpin kelompok yang memanggilnya itu tidak lain dari pria besar yang berbicara dengannya sebelum tes ini dimulai.


Tidak menghiraukan panggilan menghina yang diucapkan pria besar itu, Leinn hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya.


“Oh hai, aneh juga kita bertemu lagi di tempat seperti ini” ucapnya dengan ramah.


Melihat reaksi itu, senyum mengejek di wajahnya pria besar itu langsung berubah menjadi ekspresi marah.


Tiga orang di belakangnya juga melangkah maju dan berdiri di samping pria besar ini dengan ekspresi yang sama.


“L-leinn..” ucap Aura dengan sangat gugup setelah melihat kelompok di depannya yang tidak terlihat ramah itu.


“Aku Brick Brassboulder! Dan aku tidak...“ bentar pria besar itu, sebelum dia menghentikan dirinya sendiri setelah melihat gadis kecil yang berdiri di belakang pemuda berambut hitam itu.


Brick Brassboulder ini berdiri dengan tinggi lebih dari dua meter, tidak banyak pemuda seumurannya yang bisa mencapai tinggi itu. Dengan tubuhnya yang berotot yang tampak jelas karena pakaian ketatnya dan rambut coklat tidak lebih dari satu sentimeter, dia terlihat sangat menonjol.


Matanya terbuka lebar ketika menyadari identitas gadis itu.


“Aura...? Aura Flameheart?”


Mendengar namanya dipanggil dia mengintip dari balik punggung Leinn dan menemukan pria sebesar beruang itu sedang menatapnya.


“Y-ya?” jawabnya dengan pelan.


Berhasil mengenali identitas Aura, wajah Brick itu menunjukkan ekspresi terkejut, lalu bingung.


“Apa yang dilakukan Tuan Putri Klan Flameheart dengan seseorang pria gelandangan yang tidak memiliki asal-usul yang jelas disini?” tanya Brick dengan kasar.


“A...” suara tidak bisa keluar dari mulut gadis itu.


Aura tidak bisa menjawab, karena dia tidak memiliki jawaban yang jelas untuk pertanyaan ini.


Leinn melihat ekspresi Aura itu dan kembali menghadap Brick.

__ADS_1


“Dia bersamaku karena kami berdua adalah sebuah tim!” jawab Leinn sambil tersenyum lebar.


Mendengar jawaban ini, senyum mengejek muncul kembali di wajah Brick dan jarinya sudah mulai menunjuk pada Leinn.


“HAHAHAHAHA... Kalian berdua? Apa bedanya yang bisa dihasilkan dari Putri Gagal dan gelandangan yang berusaha bersama...!?” Brick tertawa sambil melontarkan kalimat menghina itu tanpa menahan diri sedikitpun.


Tawa Brick yang keras dan kalimatnya yang mengejek itu terdengar jelas, membuat Aura menundukkan kepalanya sambil menggenggam gaunnya.


Salah satu pengikut di samping Brick terlihat panik.


“B-bos, d-dia masih adik perempuan satu-satunya Blaze Flameheart...“ ucapnya dengan gugup.


Mendengar itu Brick tersenyum mengejek.


“Lalu memangnya kenapa? Kau takut dengan perampas posisi ketua itu? Dia tidak lebih dari seorang anak yang tidak tahu diri yang mengusingkan orang tuanya sendiri-”


“KAU SALAH!” teriakan keras menyela kalimat mengejek itu.


Aura sudah berdiri satu langkah di depan Leinn, wajahnya terlihat merah dan air matanya sudah mengalir keluar membasahi wajahnya.


Brick terkejut mendengar teriakan tiba-tiba dari perempuan kecil didepannya ini, lalu perasaan itu berubah menjadi amarah.


“K-KAU-“


“Jadi apa maumu sebenarnya? Kalau tidak ada hal penting lainnya lebih baik kalian pergi saja sana” kali ini pemuda di belakang gadis itu yang menyela perkataannya.


Ekspresi Leinn menunjukkan dengan jelas betapa bosan dirinya saat ini, tetapi nada di kalimat terakhirnya dapat terdengar jelas dan menunnjukkan juga bahwa perasaannya sudah tidak sebagus sebelumnya.


Ketiga pengikut Brick sudah menarik senjata mereka dan siap untuk menyerang kapan saja.


Tetapi pemuda berambut hitam itu tidak peduli.


“Dari tadi aku mendengarmu berbicara tanpa tujuan yang jelas, apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan?” kalimat itu keluar tanpa mengandung sedikitpun emosi di dalamnya.


“Sepertinya kau perlu merasakan rasa sakit dulu sebelum kau bisa menyadari posisimu”


Brick melepaskan gelang tembaga di tangan kanannya dan mengalirkan Mana kedalamnya.


Ukiran-ukiran mulai muncul di udara dan membentuk lingkaran sihir di sekitar gelang itu, dan hanya dalam beberapa detik saja gelang itu berubah bentuk menjadi kapak besar hitam.


Dengan tinggi dua meter dan mata kapak selebar 60 sentimeter, dapat terlihat bahwa kapak besar itu memiliki kualitas yang cukup bagus.


“Sudah terlambat untuk meminta pengampunan sekarang’


 


 

__ADS_1


__ADS_2