Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 6 – Janji dan Kebaikan Hati


__ADS_3

“Wawawa- Padamkan! Padamkan api itu-” Aura meloncat berdiri dan mulai mengayunkan kedua tangannya dengan panik, berusaha memadamkan api putih di depannya tanpa berhasil.


“Tenang saja, aku tidak merasakan- oh dia padam” ucap Leinn dengan santai sambil melihat tangannya yang baru selesai terbakar itu.


Dia memeriksa tangannya dengan seksama dan tidak menemukan luka bakar sedikitpun.


“Wow, apimu benar-benar tidak melukaiku sama sekali. Keren juga” Leinn mengalihkan perhatiannya dari tangannya ke gadis di depannya.


“K-keren...? t-tapi ini tidak pernah terjadi sebelumnya...” Aura masih menatap tangan itu.


Dia masih kebingungan dengan kejadian yang baru saja terjadi.


“Ya sudah, makan saja dulu. Dagingnya sudah matang”


Leinn mengangkat satu tusuk daging besar dan memberikannya pada Aura, yang menerimanya tanpa sadar.


“...”


Melihat Leinn tidak menghiraukan tangannya yang baru saja terbakar, Aura melihat daging tusuk di tangannya, lalu duduk di atas batunya dan mulai makan malamnnya juga.


“Om nom nom...” suara mengunyah itu tiba-tiba terdengar sebelum Aura bisa mengambil satu gigitan pada daging tusuknya.


Dia mengangkat wajahnya dan menemukan Leinn menggeggam satu tusuk kosong, dengan mulutnya yang penuh dengan daging. Dia sudah menghabiskan satu tusuk dan mulai mengambil daging tusuk lainnya.


Setelah mengagumi kecepatan makan pemuda di depannya itu, Aura mulai menggigit daging tusuk di tangannya.


Aura bisa merasakan tekstur yang tidak terlalu keras, memudahkannya mengunyah daging itu. Sedikit rasa asin dan pedas muncul bersama rasa manis daging yang memenuhi mulutnya di setiap gigitan yang diambilnya.


Rasa yang tidak dia sangka akan berasal dari daging tusuk bakar biasa, membuatnya meningkatkan kecepatan makannya.


“Enak...”


...


Bulan terlihat sudah mencapai puncak langit malam, dan suara yang bisa terdengar hanyalah beberapa Beast di kejauhan.


Angin tengah malam yang sangat dingin sampai menusuk tulang mulai berhembus, tetapi api unggun di depan Lenin dan Aura masih cukup untuk menghangatkan tubuh mereka.


Mereka berdua sudah selesai makan beberapa waktu lalu, setelah Leinn mengeluarkan daging yang sama dari tas besarnya dua kali setelah itu.


Pada akhirnya Aura memakan tiga tusuk daging dan pemuda itu memakan dua puluh tusuk daging sisanya.


Perut yang kenyang dan kehangatan api unggun menciptakan suasana sunyi tanpa rasa canggung di antara mereka...


“Hm... kau sudah menceritakan begitu banyak tentang dirimu, ini terasa tidak adil...”


Dan suasana itu hilang begitu saja.


“E-eh... t-tidak apa-apa, a-aku yang memilih untuk menceritakan ini...” Aura jadi mengingat dirinya yang menceritakan masalahnya tanpa alasan pada Leinn dan mulai merasa malu lagi.


Mendengar ini, Leinn hanya menatap wajah Aura dan mendapat sebuah ide.


“Kalau begitu aku juga akan berbagi cerita! Apa yang ingin kau dengar? Aku punya banyak cerita dari masa berkelanaku, tanyakan saja!” ucap Leinn tersenyum sambil menepuk dadanya.

__ADS_1


Mendengar ini Aura hampir menolak tawarannya, tetapi menutup mulutnya dan menunduk. Setelah beberapa saat dia baru mengangkat wajahnya.


“K-kalau boleh aku ingin mendengar tentang... Janjimu...?”


Mendengar permintaan ini, senyum lebar Leinn terlihat berkurang sebagian. Dia juga terlihat memancarkan suasana yang berbeda.


“K-kau tidak perlu menceritakannya k-kalau kau tidak mau! A-aku hanya sedikit penasaran saja...” ucap Aura yang menjadi panik setelah melihat perubahan di wajah Leinn itu.


Leinn terlihat memandang api unggun didepannya dan tidak langsung menjawab, dan setelah beberapa saat berlalu,


“Ya... tidak ada masalah bagiku menceritakannya padamu, ini hanya janji masa kecil yang kubuat bersama seorang teman lamaku” senyuman kecil dapat terlihat di wajahnya.


Leinn meraih kedalam kantung bajunya dan menarik keluar kalung biru yang sama dengan sebelumnya dan mulai menatapnya.


“Disaat aku sedang berjalan tanpa arah dan tujuan, seseorang meraih tanganku dan menarikku keluar dari tempat gelap dan sepi itu. Bisa dikatakan aku bisa hidup sampai sekarang adalah hasil perbuatannya” matanya yang melihat kalung di tangannya terlihat seperti sedang melihat pemandangan yang lain.


Leinn menggenggam batu biru itu dengan erat.


“Tidak hanya aku sendiri yang tertolong, karena ada satu orang lain juga yang diselamatkan olehnya. Seorang rival, seorang teman”


Mata Leinn tiba-tiba berubah. Sebelumnya dia terlihat seperti sedang mengenang ingatan lama, tetapi sekarang dia terlihat seperti menahan kegirangan besar.


“Kami berdua mendengar dia akan masuk ke akademi ini saat dia mencapai umur 16 tahun. Jadi kami berdua berjanji akan menjadi lebih kuat agar tidak tertinggal olehnya, lalu bertemu lagi di akademi ini”


Leinn mengangkat pandangannya dan menatap Aura.


“Mendengar penjelasanmu tadi siang aku menyadari mereka berdua mungkin telah menjalankan tes yang berbeda denganku, jadi reuni kami sendikit tertunda” Dia memasukkan kembali kalung biru itu ke dalam kantung bajunya dan berdiri dari tempat duduknya.


Aura tidak tahu harus bereaksi seperti apa setelah mendapatkan informasi ini. Dia hanya melihat Leinn yang mulai berjalan ke arah tas besarnya tanpa bisa berkata apa-apa.


“Pakai ini” dia mulai berjalan mengitari api unggun dan sampai ke samping Aura.


Leinn menaruh kantung tidur di tangan Aura dan kembali ke tempat duduknya.


Aura melihat kantung tidur yang baru diterimanya itu, lalu kembali menatap Leinn.


“B-bagaimana denganmu?” dia menyadari Leinn hanya menarik keluar satu kantung tidur ini.


“Hm? Oh, kau tidak perlu menghiraukanku, aku tidak akan tidur” Leinn menjawab sambil meraih ranting kayu di sampingnya.


“E-eh...”


“Ya, aku sudah terbiasa tidak tidur di tengah pemburuan, tiga atau empat hari tanpa tidur sudah biasa bagiku” dia melempar ranting itu ke dalam api unggun di depannya.


Melihat Leinn tidak mengatakan apapun lagi setelah itu, Aura hanya bisa menerima kantung tidur ini dengan enggan hati.


“K-kalau begitu...” Aura bangun berdiri dan mulai berjalan menjauhi api unggun.


Dia meletakkan kantung tidur tersebut empat meter dari api unggun dan masuk kedalamnya. Tubuhnya memunggungi api unggun dan Leinn yang duduk di sampingnya.


Leinn mulai meraih beberapa ranting lain dan melemparnya ke dalam api unggun.


Waktu berjalan selama beberapa saat dalam kesunyian lagi, sampai tiba-tiba...

__ADS_1


“Apa kau tidak apa-apa menjalankan tes ini bersamaku...” suara bisikan muncul dari kantung tidur itu.


Mendengar suara kecil ini, Leinn mengangkat wajahnya. Dia tidak bisa melihat wajah Aura dari posisi duduknya.


“...janji yang kau miliki terdengar sangat penting... apa kau tidak takut akan gagal karena membawa beban sepertiku...” kata demi kata keluar secara perlahan dengan suara yang lebih kecil dari bisikan, seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri.


Tetapi Leinn bisa mendengar itu dengan jelas, dia juga bisa melihat getaran kecil dari kantung tidur di depannya.


“...jika seandainya kita... jatuh dalam situasi berbahaya... aku tidak akan bisa... memberikan perlawan sama sekali... apiku ini...” suaranya sudah terus terpotong oleh isakan-isakan pendeknya.


Pikiran negatif Aura itu sudah mencapai tingkat yang berbahaya, dia tidak bisa melihat dirinya sebagai sesuatu selain beban bagi orang di sekitarnya. Dan untuk gadis dengan cara berpikir seperti itu, jawaban yang diberikan oleh Leinn adalah...


“Aku pernah mendengar teori yang menarik” ucapnya dengan santai, memulai sesuatu lagi.


Dia mulai mengayunkan ranting di tangannya naik dan turun, seperti membantunya mengingat sesuatu.


“Kalau tidak salah... ’Gift adalah perwujudan dari inti jati diri makhluk hidup’, menarik bukan?” ucapnya sambil tersenyum kecil.


Dia melempar ranting di tangannya ke dalam api unggun.


“Api putihmu pasti adalah hasil dari Giftmu yang mempengaruhi properti api ciptaanmu. Api yang tidak bisa membakar apapun, dan hanya bisa menyembuhkan luka. Saat aku mendengar penjelasanmu itu, apa kau tahu apa yang pertama kali kupikirkan?”


“...” kantung tidur itu terlihat sudah berhenti bergetar.


“Kekuatan yang sangat baik hati”


Leinn mengucapkan itu sambil menatap telapak tangan kanannya.


Aura tidak menjawab memberikan jawaban atau reaksi apapun, dan Leinn tidak berhenti berbicara.


“Aku tidak pernah melihat Gift seseorang yang bisa mengubah sihir api yang sangat mengancurkan menjadi sihir penyembuh seperti milikmu selama perjalananku. Aku pikir itu sangat hebat” tangannya meraih dua ranting kecil di sampingnya.


Dia melempar dua ranting itu ke dalam api unggun di depannya.


“...”


“...Aura?” Leinn melihat kantung tidur di depannya yang tidak bergerak sama sekali selama dia berbicara.


Melihat Aura tidak bereaksi setelah beberapa waktu berlalu, dia menyadari kalau Aura sudah tertidur.


“...”


...seharusnya.


Waktu berlalu dengan cepat dan Leinn hanya duduk diam, dengan sesekali melempar ranting kedalam api unggun.


“Hm...” Leinn tiba-tiba mengalihkan perhatianya dari api unggun ke arah salah satu pohon yang berada 200 meter dari tempat duduknya.


Dia tidak melakukan apa-apa, hanya menatap salah satu dahan pohon itu dengan senyuman lebar di wajahnya. Setelah beberapa detik melakukan hal ini, sebuah bayangan tiba-tiba meloncat dari dahan itu dan mulai bergerak menjauhi Leinn yang masih mengikuti gerakannya dengan tatapannya.


Beberapa waktu berlalu dan akhirnya Leinn mengalihkan perhatiannya ke gadis dalam kantung tidur di depannya itu, yang sudah tertidur lelap.


“Kakak Jenius... ya?” dengan satu senyuman terakhir, Leinn memejamkan matanya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2