
Berdiri dengan mata terbuka diantara 16 orang yang berkumpul di depan Isaac itu adalah Leinn.
Dia terlihat menatap ke depan dengan ekspresi serius dan mulut yang tertutup rapat. Pemandangan yang membuat beberapa orang di sekitarnya menunjukkan berbagai reaksi, terutama Roland yang terlihat sedikit bergetar saat melihatnya itu.
Leinn terlihat seperti sedang mendengarkan Isaac dengan serius bagi orang yang melihat ekspresinya itu, tetapi akan lebih sempurna jika suara nafas tidurnya itu tidak terdengar.
“...”
Dan jika Isaac memang sudah mulai berbicara.
Aura yang berdiri di sampingnya dan sudah tidak berbicara dengannya sejak pagi karena masih kesal itu akhirnya terpaksa memulai percakapan.
“Leinn... hei!”
“Zzz...hah? Siapa?”
Pemuda itu mulai menggosok matanya dengan tangan kanannya sambil melihat sekitarnya, sepertinya tidak berkedip dalam waktu lama membuat bola matanya kering.
Dia akhirya tersadarkan penuh oleh pukulan kecil dari Aura yang mendarat di pinggangnya.
Aura menggelengkan kepalanya setelah melihat kelakuannya itu, dia sudah merasa aneh ketika melihat Leinn berjalan dengan cara yang aneh sejak pagi tadi sampai disaat dia berdiri di sampingnya.
Ternyata dia tidur berjalan dengan mata terbuka, tanpa ada satupun orang disekitarnya yang menyadari.
Mungkin semua orang yang menghindari dan berusaha tidak menatapnya juga berpengaruh besar.
“Oh, hey Aura”
“Selamat pagi, Leinn”
Aura akhirnya membuang perasaan kesal kecilnya itu, menyadari bahwa merasa marah pada seseorang seperti Leinn hanya menghabiskan tenaganya sendiri.
Tepat setelah Leinn tersadar penuh itu, Isaac juga mulai berbicara.
“Selamat pagi semua! Kita ada disini untuk melihat 16 murid baru terbaik yang akan masuk di dalam akademi kita tahun ini!”
Suara lantang itu berhasil mencapai semua telinga penonton yang sedang bersorak dan bertepuk tangan disana. Dengan beberapa kalimat darinya, Isaac berhasil memengaruhi seluruh penonton disana dan membuat sorakan mereka semakin mengeras sampai menggetarkan stadium itu.
Sebagian dari 16 orang yang seharusnya terbiasa oleh orang banyak itupun tidak bebas dari efek teriakan penonton di sekitar mereka itu dan mulai merasa gugup.
Tentu saja pengecualian bisa terlihat diantara mereka.
“...”
“Hoam....”
Roland yang berdiri dengan tegap tanpa terpengaruh sedikitpun dan Leinn yang hanya menggaruk kepalanya sambil menguap.
Isaac juga melihat itu dari sudut penglihatannya tanpa bereaksi apapun dan hanya melanjutkan kalimat pembukanya.
__ADS_1
“Turnamen hari ini tidak akan sama dengan kemarin, pertama-tama kalian juga pasti sudah menyadari ini”
Tempat Isaac dan 16 orang itu berdiri, arena batu yang memiliki lebar 100 meter persegi yang sama dengan arena yang berpisah menjadi empat arena lain sebelumnya.
“Kali ini kalian akan bertarung di atas arena dalam bentuk sebenarnya, dengan seluruh kemampuannya! Dan kali ini, urutan turnamen akan ditentukan sejak awal!”
Isaac mengangkat tangan kanannya dan menunjuk ke langit, tepatnya pada layar cahaya yang menunjukkan informasi baru.
Nama demi nama mulai muncul dan membentuk pasangan demi pasangan, berakhir dengan dua sisi dengan delapan nama yang akhirnya bertemu di tengah.
“Di sisi kiri adalah kelompok yang tersisa dari kemarin, sedangkan sisi kanan adalah kelompok dengan Rank B Beast yang belum bertarung!”
Leinn melihat nama yang muncul di layar cahaya itu, menemukan namanya di sisi kiri dan nama Roland ada di sisi kanan.
Roland yang berdiri tidak jauh darinya juga melakukan hal yang sama, lalu memikiran hal yang sama dengan Leinn juga.
Mereka berdua hanya bisa bertemu... di pertarungan terakhir.
“Hari ini kita akan menyaksikan semua pertarungan antara 16 orang ini sampai akhirnya tersisa 4 nama saja!”
Sebagian besar dari mereka yang berdiri di sana melihat nama mereka sendiri, lalu lawan mereka.
Diantara mereka adalah Aura yang sedang meletakkan tangannya di dadanya, merasakan detakan jantung yang kencang mulai menggetarkan seluruh tubuhnya.
Bukan rasa gugup.
Ini adalah perasaan yang berbeda, perasaan yang membuatnya tersenyum. Dia merasakan keinginan bertarung yang kuat, untuk menunjukkan kemampuannya.
Aura merasakan dia perlu membuktikan kemampuannya pada seseorang yang sedang melihatnya sekarang.
“Pertarungan pertama akan dimulai dalam sepuluh menit lagi. Semangat kalian semua!”
Dan dia tidak salah.
Jauh di belakangnya, tepatnya di lorong masuk untuk para penonton itu sedang berdiri seseorang itu.
“...”
“Jadi, kau tidak akan masuk dan menyemangatinya?”
Dua pria terlihat berdiri disana tanpa disadari satupun orang di kursi penonton.
Pria berambut hijau gelap terlihat tersenyum sambil meletakkan tangannya di pundak pria di sampingnya.
Pria itu terlihat tidak memedulikan kelakuan itu dan hanya menatap arena di tengah stadium, tepatnya pada gadis berambut merah muda itu.
Lalu pandangannya bergeser dan berhenti di pemuda berambut hitam di sampingnya.
“...sudahlah”
__ADS_1
Suara tanpa emosi keluar dari mulut pria itu di saat dia berbalik badan dan berjalan meninggalkankan stadium itu.
“Aku sudah meminta pacarmu merekam pertarungannya, kita bisa menontonnya nanti bersama-sama”
Pria berambut hijau itu berjalan setengah-melompat di sampingnya sambil tersenyum lebar.
“Hm...”
Pria tanpa ekspresi itu hanya memberikan tanggapan kecil dan terus berjalan, rambut merah membaranya terlihat menyala seperti api itu menunjukkan emosi yang tidak muncul di wajahnya.
...
Sorakan keras dapat terdengar di seluruh stadium, dari semua penonton yang ikut bersemangat melihat pertarungan sengit di atas arena itu.
Selain dari dua orang spesial dalam rekrut tahun ini, banyak orang yang menyadari kualitas bakat yang tidak biasa dari hampir semua murid baru itu.
Bukti yang paling jelas adalah tidak sedikitnya Beast yang berevolusi di tengah turnamen di hari sebelumnya, menghasilkan keadaan dimana hampir semua orang yang akan bertarung hari ini sudah memiliki Rank B Contracted Beast.
Efek dari evolusi itu juga terlihat jelas di tubuh Contractor mereka, meningkatkan seluruh kemampuan mereka juga. Menghasilkan petarungan yang lebih sengit dan keras, pertunjukan yang biasanya tidak terlihat di gelombang pertama pertarungan hari kedua seperti ini.
Tetapi itu bukanlah pusat perhatian penonton di stadium itu saat ini.
Crack...!
Bongkahan es besar terbentuk dari arena dan membekukan separuh tubuh pemuda berpedang dan Beast-nya itu.
Dengan satu putaran tongkat terakhirnya, Adeline berdiri di sana dengan tubuh tegap dan terlihat mengamati karyanya itu.
Isaac akhirnya menyatakan selesainya pertarungan itu sambil mengayunkan tongkatnya dan bongkahan es itu langsung pecah, melepaskan pemuda dan Beast yang sedang menggigil kedingingan itu.
Penonton terlihat semakin bersemangat melihat pertunjukkan sihir dari Adeline itu dan mulai bersorak. Sorakan yang bertahan sampai disaat dia turun dari arena itu, digantikan oleh pasangan petarung baru.
Dua pemuda naik ke arena itu dari dua sisi yang berseberangan, sampai di saat mereka terpisah sejauh 50 meter.
Suara sorakan itu berkurang dengan kecepatan tidak wajar dan akhirnya berakhir menjadi bisikan-bisikan kecil.
Salah satu pemuda itu menggenggam tombaknya dengan keras, merasakan keringat dingin yang membasahi kedua telapak tangannya dan wajahnya itu. Dia bahkan tidak berani mengedipkan matanya. Alasan ketegangan pemuda itu tidak lain dari lawan di depannya itu.
Hampir semua penonton di stadium bisa melihat wajah pemuda itu dengan jelas.
“Um...” pemuda bertombak itu berusaha memulai pembicaraan, tetapi tidak bisa menemuan kalimat apapun.
“...”
Pemuda berambut hitam itu menatapnya dengan ekspresi sangat serius, berbeda dengan ekspresi yang ditunjukkannya di hari sebelum itu.
__ADS_1