Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 24 – Tunggangan


__ADS_3

Mendengar pertanyaan dari Leinn itu, Aura masih tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap pemuda di depannya itu sambil menyembunyikan sebagian wajahnya dengan tangannya.


“Fiuh... Di hutan ini mereka seharusnya bisa ditemukan di dalam koloni Slime”


Aura menghela nafas, berhasil menenangkan hatinya dan menghilangkan senyumannya.


“Koloni?” kata baru itu mencuri perhatian Leinn.


“Ya, Slime dengan Rank rendah sering hidup berkelompok. Coreless Slime biasanya tinggal bersama dengan Rank D Slime, mereka seharusnya tinggal di gua gelap dan lembab di hutan ini”


”Huh, dimana itu?” tanya Leinn sambil melihat ke sekitarnya.


Aura terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepalanya.


“Aku... tidak tahu” jawabnya lemah.


Aura menyadari bahwa dirinya tidak mengetahui geografis pasti hutan ini. Semangatnya langsung menghilang. Sepertinya pikiran negatifnya mulai muncul dan memenuhi kepalanya lagi.


Melihat itu, Leinn tersenyum dan mengulurkan tangannya menyentuh kepala Aura...


“HUE!” jerit Aura keras.


Dan mengacak rambutnya sekuat tenaga.


Setelah tiga detik yang terasa sangat panjang itu, Leinn baru menghentikan perbuatannya.


Aura memegang kepala dan rambutnya yang berantakan, menatap Leinn dengan ekspresi terkejut dan bingung.


“Eh? Kenapa? Eh?” dia tidak mengerti alasan dirinya mendapatkan hal itu.


“Hahaha!” Leinn menjawab dengan tertawa lepas.


Dia hanya berbalik dan berjalan ke Gorilla Beast yang sudah tertidur itu.


Aura masih dalam keadaan syok sambil memegang kepalanya. Setelah berhasil menenangkan dirinya, dia menyadari perasaan negatifnya sudah hilang karena perasaan kaget dan bingungnya.


Dia menoleh ke arah pemuda yang sedang berjalan menjauh itu.


“Hm...”


Leinn akhirnya sampai di depan wajah yang tertidur pulas itu dan melihatnya selama beberapa saat. Dia lalu menarik mundur tangannya dan menampar dahi Gorilla Beast itu dengan cukup keras.


“Bangunlah! Aku perlu bantuan!”


“HOH!?”


Melompat bangun karena rasa sakit di dahinya, Gorilla Beast itu mulai mencari sumber serangan itu dalam keadaan setengah sadar. Dia menemukan Leinn yang sedang berdiri di depannya dengan kedua tangannya di pinggangnya.


“Hoh...?”


Gorilla Beast ini menatap manusia di depannya sambil mengelus dahinya dengan eksprsei bingung.

__ADS_1


“Apa kau pernah melihat gua yang dipenuhi air hidup?”


“Hoh?”


Aura melihat punggung Leinn yang sedang menunggu jawaban dari Gorilla besar yang sedang menggaruk kepalanya dengan ekspresi bingung itu. Dia tidak menyangka Leinn akan menanyakan hal sedetil itu pada Gorilla Beast yang tidak terhubung dengannya oleh Contract.


Sebelum Aura bisa mengatakan apa-apa, Gorilla Beast itu berhenti menggaruk kepalanya dan mulai memeriksa daerah sekitarnya.


“Hoh!” dia menunjuk satu arah.


Aura terkejut oleh hasil ini. Ternyata Gorilla Beast ini memang mengetahui tempat yang mungkin adalah gua koloni Slime itu.


Arah yang dia berikan berada di bagian hutan lebih dalam dari posisi mereka saat ini.


Leinn mulai bersemangat setelah menemukan tujuan selanjutnya, dia lalu menoleh ke belakang dan menemukan Aura sedang menatapnya dengan ekspresi kagum.


Dia hanya tersenyum kecil dan mulai bersiap untuk melanjutkan perjalanan mereka.


“Baiklah ayo kita...” kalimatnya berhenti dengan aneh di tengah ucapannya saat dia melihat Gorilla Beast di depannya sekali lagi.


Dia baru mengambil satu langkah maju sebelum berdiri diam sambil memerhatikan Beast besar itu.


“Hm...” Leinn mengganggukkan kepalanya sekali.


Dan dengan sekali lompatan, Leinn berhasil mendarat di pundak kanan Gorila itu. Dia langsung menemukan bahwa bulu putih tebal yang menutupi pundak lebar Gorila itu cukup nyaman untuk diduduki.


“Hoh?”


Leinn melihat ke bawah dan menemukan Aura yang hanya berdiri menatapnya.


“Apa yang kau tunggu?” Leinn menepuk leher Gorila itu sambil menunjuk ke depan.


Gorilla Beast itu akhirnya mengerti dengan apa yang dia maksud dan mengulurkan tangan kanannya untuk mengangkat Aura ke pundak kirinya.


Sepertinya Leinn berencana untuk berjalan ke gua itu di pundak Beast itu.


Aura berniat menolaknya tetapi teringat dengan stamina dan kecepatan jalannya yang sangat rendah.


Jadi dia tidak bisa menemukan alasan untuk menolak tawaran itu.


“Hoh”


Gorilla Beast itu terlihat menatap Aura dengan hormat juga, entah karena dirinya sudah disembuhkan olehnya atau ketika dia melihat manusia di pundaknya berhasil dikalahkan oleh manusia kecil di depannya itu.


Aura hanya menatap telapak tangan besar yang menunggu didepannya itu, dan akhirnya memilih untuk menerimanya.


Ketika dia baru mengambil satu langkah maju, dia merasakan tarikan kuat dari punggungnya diikuti dengan hilangnya berat tubuhnya yang hilang.


”HUEEE!” Aura melihat tangan Gorila itu menjadi lebih kecil, menyadari dirinya sedang melayang sepuluh meter dari tanah.


Wolf Beast itu baru saja menggigit gaunnya dan dengan satu hentakan kepalanya melempar Aura ke udara.

__ADS_1


Gorilla Beast itu langsung mengulurkan tangannya untuk menangkap Aura yang sedang jatuh itu, tetapi dihentikan oleh Leinn yang menepuk kepalanya.


“Hoh?” jadi dia menarik kembali tangannya yang terulur itu.


“..aaa-Umph!“


Pomf


Gumpalan bulu menangkapnya, tepatnya bulu punggung serigala besar di bawahnya.


Aura masih kebingungan dengan apa yang baru saja terjadi, dan hanya bisa terdiam sambil melihat sekitarnya.


Wolf Beast itu kemudian berbalik dan berjalan ke arah yang ditunjuk oleh Gorilla Beast tadi.


“Ayo” Ucap Leinn sambil menunjuk serigala itu.


“Hoh?”


Gorilla Beast hanya menggaruk kepalanya dengan bingung, lalu berjalan mengikuti Wolf Beast itu.


Leinn mencari posisi nyaman di pundak berbulu yang dia duduki, lalu tiba menunjukkan ekspresi seperti teringat sesuatu.


Dia menoleh ke belakangnya.


“...”


Senyuman tipis muncul di wajahnya, yang terlihat sangat berbeda dengan senyuman hangat yang dia tunjukkan pada Aura dalam dua hari mereka saling mengenal.


Senyumnya kali ini terlihat sangat dingin dan berbahaya.


Sasaran senyumannya itu adalah seekor capung hijau yang hinggap di satu pohon besar yang baru saja mereka lewati. Capung itu langsung melayang ke arah berlawanan setelah menyadari pemuda itu sedang menatapnya.


“Hehe”


Tawa kecil keluar dari mulut Leinn saat dia mengembalikan perhatiannya ke depan, entah karena perasaan tidak sabarnya untuk mendapatkan Contracted Beast pertamanya, atau hal lain.


...


Dua kilometer dari pemuda berambut hitam dan gadis berambut merah muda itu terlihat seseorang dengan jubah panjang sedang berdiri di atas ranting pohon besar, menyembunyikan keberadaannya.


“Sialan...” bisikan penuh emosi kesal keluar dari balik jubah itu.


Dia dapat melihat dua Beast besar dan dua manusia yang menunggangi mereka sedang berjalan ke satu arah, dan pemuda berambut hitam itu berhasil menemukannya dengan begitu mudah.


Hal itu membuatnya menyadari bahwa pemuda itu sudah mengetahui apa yang dia lakukan, tetapi hanya membiarkannya.


Dan senyuman terakhir itu...


“Leinn Springleaf...!”


 

__ADS_1


 


__ADS_2