
“A-aah... aku kalah lagi”
Hinata mengucapkan itu dengan kesal di lantai batu lapangan itu, yang terdengar aneh ketika melihat senyuman lebar di wajahnya.
Garis merah panjang dapat terlihat di kedua lengan dan lehernya, yang sudah berhenti mengeluarkan darah setelah dua detik saja.
Sepertinya hanya kulitnya saja yang terpotong.
“Apanya lagi, kau hanya menggunakan sepuluh persen kekuatanmu...”
Leinn mengucapkan itu sambil meletakkan pedang kayunya yang sudah retak di lantai dan duduk di samping tempat Hinata berbaring, sambil melihat telapak tangan kirinya yang berlumuran darah.
“Jadi ini tidak bisa dihitung seperti pertarungan benar”
Roland duduk di sisi lain gadis itu sambil meletakkan pedangnya di sampingnya juga, berusaha menstabilkan petir di tubuhnya yang sedang mengamuk.
“Berisik, berisik! Kalian sudah menang masih ingin berusaha menghiburku! Itu tidak akan berhasil!”
Aura dan Adeline akhirnya sampai di depan tiga orang di lantai itu dan melihat pemandangan seorang gadis yang sedang menggoyangkan kedua tangan dan kakinya ke udara, seperti sedang menunjukkan perasaan kesalnya.
“...sekali lagi...”
Dua tangan dan kaki itu tiba-tiba berhenti, lalu Hinata bangun ke posisi duduk dalam satu gerakan lancar.
“Sekali lagi! Kali ini aku akan menggunakan dua puluh persen kekuatanku!”
Leinn dan Roland hanya tersenyum tipis pada permintaan itu, lalu bangun berdiri.
Hinata langsung tersenyum lebar, menyangka dua pemuda itu langsung menerima permintaan tanding ulangnya. Senyumannya itu langsung menjadi kaku ketika dia melihat punggung dua pemuda itu, yang mulai berjalan menjauh.
“Hei!”
Leinn dan Roland berjalan dengan cepat meninggalkan Hinata tanpa membalikkan badan mereka, bahkan meninggalkan pedang kayu mereka disana. Mereka berdua berjalan dan mengiring Aura dan Adeline menjauh dari gadis yang mulai menggoyang tinjunya di udara itu.
“Baiklah!”
Clap!
__ADS_1
Suara keras dan satu tepukan tangan dari Profesor Nobel itu menyadarkan semua murid disana bahwa mereka sedang ada di dalam Kelas Bertarung, membuat mereka kembali mengingat topik hari itu.
Kelas lalu kembali berjalan dengan lancar setelah pertarungan tiga orang itu, bahkan beberapa orang menjadi mampu melihat ‘Bentuk’ Sihir Penguat Tubuh setelah melihat tiga gerakan berbeda dari tiga orang itu.
Mereka bisa melakukan itu karena mereka menyadari bahwa Body Enchant ini memang seperti otot yang belum pernah mereka pakai, karena itu sudah ada di dalam tubuh mereka.
Setelah memberanikan diri untuk bertanya pada kelompok paling elit itu, mereka berhasil mendapatkan dua tips yang bagus, dari tiga orang yang memberikannya.
Aura terlalu gugup dan tidak bisa memberikan penjelasan yang jelas, sedangkan Adeline memberikan tatapan ketus pada orang yang berani mendekatinya.
Jadi hanya Leinn, Roland dan Hinata yang memberikan pengalaman mereka ketika menggunakannya dengan sempurna untuk pertama kalinya, setidaknya dua bisa.
Leinn mengalaminya ketika berusaha menghindari serangan-serangan yang sangat cepat dan mematikan dari berbagai jenis Beast di hutan rimba.
Roland menyadarinya secara tidak sengaja ketika sedang bermeditasi sendirian, berusaha mengedalikan amukan petirnya.
Sedangkan Hinata tidak mengingat jelas tentang pengalamannya karena sepanjang yang bisa diingatnya, dirinya sudah bisa melakukannya.
Jadi sekarang di lapangan latihan terbuka itu dapat terlihat murid-murid sudah terbagi menjadi dua kelompok besar, antara beberapa orang membentuk satu lingkaran dan duduk bermeditasi atau berlatih tanding dengan satu sisi menghindar dan yang lain menyerang.
Adeline terlihat tidak terlalu tertarik dengan usaha orang-orang disekitarnya itu dan hanya mendengus kesal sambil melipat tangannya. Sihir penguat tubuh yang hanya meningkatkan tubuh sejauh satu tingkat itu sebenarnya tidak terlalu berguna untuk seorang Magic User sepertinya. Ini bukan berarti dia tidak bisa melakukannya.
Di waktu senggangnya setelah menyadari kondisi tubuh Roland yang sudah membaik, Adeline sudah mencoba menggunakannya dan langsung berhasil setelah beberapa kali percobaan.
“...”
Yang ditemukannya adalah peningkatan fisik yang dihasilkan dari ini tidak melebihi beberapa sihir yang diketahuinya dan ketika dia mencoba apa yang Aura lakukan di pertarungannya melawan Roland sebelumnya, tubuhnya langsung berteriak kesakitan.
Adeline bertambah salut kepada temannya itu ketika dia menyadari Aura sama sekali tidak menunjukkan ekspresi kesakitan selama dan setelah pertarungan itu, melihat sihir penguat yang digunakannya jauh diatas apa yang terakhir dicobanya.
Dan sekarang gadis berambut merah muda itu sedang duduk di samping pemuda berambut hitam yang sedang terbaring di lantai...
“Zzz...”
...tertidur.
Setelah menerima api putih Aura di telapak tangan kirinya, dia langsung jatuh tertidur di lantai.
__ADS_1
Pertama Adeline hanya mengerutkan dahinya saat melihat itu, lalu dia menyadari Roland yang sekarang sedang duduk di sampingnya telah memejamkan matanya sejak tadi seperti bermeditasi.
Itu membuatnya menyadari bahwa dua pemuda itu telah mendorong batas tubuh mereka saat ini untuk bisa bertarung melawan sepuluh persen dari kemampuan Hinata.
Lalu gadis yang membuat kondisi dua pemuda itu sekarang seperti itu sedang...
“Hahaha...!”
“Hoooh...”
Terlihat sedang bermain dengan Beast di taman di luar lapangan latihan tempat kelas sedang berlangsung, dengan seekor ular raksasa dan serigala besar yang tergelatak begitu saja, tidak bergerak.
Twig adalah yang pertama jatuh, karena dia langsung berpura-pura mati ketika dia melihat Hinata berjalan mendekati mereka dengan senyuman buasnya. Dan itu bisa berhasil karena Hinata langsung berlari mengejar Rufus yang salah memilih gerakan, yang langsung berlari dan memicu insting buas dari gadis itu.
Sekarang yang menjadi korban adalah gorila putih besar yang mencoba melawan serangan itu dengan kekuatan fisiknya, yang berakhir dengan pemandangan gorila yang sedang melayang-layang di udara saat ini.
Elsa sedang duduk di atas Clear dan mereka berdua hanya melihat gadis yang sedang menangkap lalu melempar gorila dengan ukuran lebih berkali-kali lipat dari tubuhnya itu berulang kali dengan mudah.
“...hahaha!”
Boom!
Dan dengan satu tangkapan terakhirnya Hinata mengembalikan Basalt ke tanah, membiarkan gorila itu jatuh lemas dengan pandangan yang sudah berputar-putar.
Adeline sekarang bisa melihat gadis itu mulai berjalan mendekati gumpalan transparan tidak jauh darinya secara perlahan. Dia lalu melihat pemuda di sampingnya, lalu pemuda yang tertidur tidak jauh darinya.
“Hah...”
Lalu sebuah helaan nafas lelah keluar begitu saja.
...
“Ini membosankan”
__ADS_1