Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 81 – Leinn Springleaf


__ADS_3

Jawaban pendek itu membuat pemuda berambut hijau itu semakin bingung, melihat itu tidak menjelaskan apapun.


“Menarik...?”


“Yap”


Leinn menoleh ke arah podium di samping arena itu, dimana seorang gadis berambut merah duduk di antara seorang pemuda dan gadis lain bersama berbagai jenis Beast disekitarnya.


“Bertemu dengan orang baru itu menarik”


Punggung gadis kecil yang terlihat sangat kesepian di tengah padang rumput yang ramai.


“Membuat ikatan baru itu menarik”


Mata gadis itu yang bersinar setiap kali mendengar ceritanya.


“Memiliki seseorang yang menunggumu itu menarik”


Ekspresi gadis itu ketika melihatnya kembali setelah berhasil menyelamatkan orang-orang itu.


“...”


Tenma melihat ekspresi pemuda di depannya itu dan menjadi terdiam, karena dia tidak bisa mengerti cara hidup yang sangat berbeda darinya itu.


Leinn mengembalikan perhatiannya pada Tenma di depannya dan tersenyum.


Percakapan ini membuatnya mengingat hal-hal lain juga, berbagai kenangan-kenangan lama.


“Bertarung bersama itu menarik”


Pertarungan melawan Beast kuat yang mengancam kota.


“Tempat baru itu menarik”


Bangunan dan kendaraan yang pertama kali dia lihat.


“Perasaan menanti pertemuan kembali itu menarik”


Perpisahan dan janji diantara mereka bertiga.


Leinn memejamkan matanya dan tenggelam dalam perasaan nostalgia itu.


Tenma juga mulai merasakan suasana yang berbeda itu dan sedikit terkejut. Tubuhnya mulai dikelilingi oleh rasa hangat.


“Pertengkaran tentang hal kecil itu menarik”


Kue cokelat yang dimakannya diam-diam.


“Hal yang tidak terduga itu menarik”


Kemenangan pertama mereka melawan makhluk itu.


Kedua matanya kembali terbuka dan senyuman kecil penuh makna terlihat di wajahnya.


“Suara yang menyelamatkanmu...”


“Mereka yang menolongmu...”


Leinn berhenti bicara selama beberapa saat dan termenung, sampai akhirnya dia mengangkat tangan kanannya.


“Sendirian itu... tidak menarik”


Ingatan hari itu....


Snap!


Dan dia menjetikkan jarinya.


Whoong!

__ADS_1


Suara aneh itu muncul dan Tenma menyadari suara dari penonton di sekitarnya kembali terdengar.


Dia baru menyadari bahwa dia hanya mendengar suara Leinn selama itu tanpa gangguan suara lain.


“Silence Dome...?”


“Ya, aku tidak ingin mereka mendengar hal ini”


Leinn tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya, dan Slime yang sudah hinggap di tas besar di punggungnya terlihat bereaksi setelah mendengar itu dengan bergetar cukup kuat.


Tenma melihat ekspresi pemuda di depannya lalu menoleh ke arah podium di luar arena itu, melihat tiga orang yang menunjukkan ekspresi berbeda duduk di sana.


Dia memejamkan matanya sesaat lalu kembali menatap lawannya itu.


“Kenapa kau menceritakan semua ini padaku?”


Leinn mendengar itu dan melipat tangannya, mengangkat satu alisnya sambil menatap pemuda berambut hijau itu.


“Kau sudah tahu alasannya, bukan?”


“...baiklah”


Tenma menatap pisau di tangan kanannya dan melihat wajahnya yang terpantul di mata pisau itu.


Dia masih belum mengerti sepenuhnya dengan apa yang pemuda itu katakan, tetapi dia bisa merasakan sesuatu setelah mendengar semua itu.


Tenma menggenggam kedua pisaunya dengan erat dan menatap pemuda di depannya dengan ekspresi serius.


“Aku bisa membuat ilusi tubuhku menjadi nyata dan mengatur kekuatannya sesuai dengan Mana yang kugunakan untuk membuatnya. Dengan Mana yang cukup besar aku bisa membuat belahan tubuh dengan Status dan kemampuan bertarung yang sama denganku”


Tenma meraih ke dalam saku pakaiannya dan menarik keluar dua pil kecil berwarna hitam dan hijau, yang langsung dimasukkan ke dalam mulutnya.


“Ini adalah Gift milikku, [True False]...!”


Mana hjiau mulai merembes keluar dari tubuhnya dan otot tubuhnya terlihat membesar secara tidak wajar. Tubuhnya tiba-tiba terbelah menjadi dua, lalu menjadi empat, delapan, enam belas...


[Killing Curtain]


“““Bersiaplah...”””


Mereka yang berbicara secara bersamaan itu terlihat sangat mencekam, tanpa perbedaan sedikitpun diantara mereka semua.


“Tiga puluh satu ilusi dengan nafas dan detak jantung identik. Jumlah Mana kalian juga sama persis” Leinn melihat ke sekitarnya dengan ekspresi santai.


Tenma akhirnya mengetahui bahwa dugaannya itu memang tepat, ternyata lawannya itu memang memiliki penglihatan yang tidak biasa.


Itu juga alasannya bisa menemukannya disaat dia berdiri di tempat kosong, dan tekniknya kali ini telah memperhitungkan itu dan dia tidak mungkin bisa menemukan tubuh aslinya.


“Hahaha...”


Serangan dari semua arah dari 32 orang identik secara bersamaan, akan sangat efektif.


Leinn terlihat kagum setelah menyadari rencananya itu, karena teknik serangannya yang mencakup semua arah membutuhkan waktu persiapaan beberapa saat dan mereka tidak akan membiarkannya melakukan itu.


“Baiklah”


Dia meletakkan tangan kanannya di gagang pedangnya dan semua Tenma di sekitarnya langsung menendang lantai batu dengan keras, meloncat ke arahnya.


Melihat dirinya ada di tengah situasi berbahaya itu, Leinn tidak kehilangan senyumannya.


Dia sudah memiliki solusi untuk masalah itu, sebuah kelemahan terbesar Gift milik Tenma.


“Clear Sky Style”


Dia hanya perlu menyerang tubuh aslinya dan semua ilusinya akan ikut lenyap, walaupun menemukan tubuh asli diantara 32 tubuh identik bukanlah hal yang bisa dicapai oleh manusia biasa.


Tetapi pemuda itu adalah hal paling jauh dari ‘biasa’.


[Moving Cloud]

__ADS_1


Pedang itu keluar dari sarungnya dan langsung terayun dalam satu gerakan mulus, mengeluarkan gelombang tebasan yang mengenai satu Tenma yang berada tepat di belakangnya dan mementalkannya mundur.


Semua Tenma yang tersisa berhasil mengerumuni pemuda itu dengan pisau mereka, terlihat berhasil meluncurkan serangan mereka.


Dan penonton di stadium yang dikejutkan oleh pemandangan Leinn yang sedang tersenyum dengan belasan pisau yang hampir menyentuh seluruh tubuhnya, yang hanya terpisah beberapa sentimeter.


Lalu semua Tenma di sekitarnya mulai berubah menjadi serpihan cahaya yang melayang di udara.


“Oh ya, aku juga akan memberitahumu tentang Gift milikku”


Leinn menyarungkan kembali pedangnya sambil menatap ke arah Tenma yang terbaring di lantai batu, bersama dengan serpihan cahaya yang bertambah banyak di sekitarnya.


Dia menunjuk matanya sambil tersenyum lebar.


“Aku memiliki penglihatan yang bagus”


...


Di tengah tubuh-tubuh yang berubah menjadi serpihan cahaya itu berdiri Leinn yang tidak terluka sama sekali. Dia telah berhasil memberikan serangan ke tubuh asli Tenma dan melenyapkan semua ilusinya.


“Bagaimana cara dia menemukan tubuh aslinya itu?”


Adeline menunjukkan ekspresi penasaran setelah melihat Leinn berhasil selamat dari serangan terakhir itu, karena dia cukup yakin ilusi itu sudah sempurna setelah melihat Mana yang merembes keluar dari 32 tubuh itu.


Tetapi Leinn terlihat sangat percaya diri, melihat dia hanya menyerang satu tubuh saja, padahal dia memiliki kesempatan untuk menyerang beberapa tubuh sekaligus.


Ini adalah sesuatu yang hanya bisa dilakukannya jika dia bisa membedakan tubuh palsu dan asli yang identik itu.


“...perasaan”


Jawaban untuk pertanyaannya itu datang dari pemuda pirang yang duduk di sampingnya, dari Roland yang menunjukkan ekspresi datar sambil menatap pemuda berambut hitam di atas arena itu.


“Perasaan...?” tanya Adeline, tidak mengerti apa yang dia maskud.


Roland menoleh dan menatap Adeline.


“Itulah Gift miliknya. Dia bisa melihat ‘Perasaan’”


“Huh...?”


Adeline terlihat terkejut setelah menerima informasi baru itu, berbagai hal mulai berputar cepat di kepalanya sampai akhirnya dia menemukan jawabannya.


“Dia menyerang satu-satunya tubuh yang memiliki... Perasaan?”


Roland hanya menganggukan kepalanya, memastikan teori miliknya itu.


Ini pertama kalinya Adeline mendengar Gift seabstrak itu dan menjadi termenung.


Teori-teori mulai berputar di kepalanya.


“...”


Aura tidak menunjukkan reaksi apapun setelah mendengar informasi itu. Dia hanya meletakkan tangan kanannya di atas Clear-kecil di pangkuannya dan terus menatap Leinn yang berdiri di atas arena itu.


Ekspresinya sangat tenang.


Dan pemuda di atas arena itu akhirnya menunjuk matanya sendiri.


“Aku memiliki penglihatan yang bagus”


Leinn mulai melangkah mendekati tubuh Tenma setelah mengatakan itu.


Sebelum dia bisa berjalan cukup dekat, dia tiba-tiba mengangkat tangan kanannya ke depannya.


“Ruff?!”


Telapak tangannya menghadang bayangan kecil yang tiba-tiba muncul di depannya, seekor anjing berbulu hitam pekat setinggi 50 sentimeter. Yang sekarang sedang meloncat mundur setelah jatuh ke tanah.


Matanya terlihat berair, merasakan sakit di hidungnya yang baru membentur telapak tangan Leinn.

__ADS_1


 


 


__ADS_2