
Suara sorakan menggemparkan seluruh stadium itu, dari semua penonton yang melihat pedang pemuda ketakutan itu berhasil menghentikan pedang Leinn yang hampir menyentuh lehernya.
Pemuda ketakutan itu melihat pedangnya yang sedikit bersinar itu, lalu pada pemuda berambut hitam di depannya.
Leinn menarik kembali pedangnya dan mengambil satu langkah mundur.
“Huh?”
Pemuda itu menatap pedang di tangannya yang sudah berhenti bersinar dengan bingung, tidak mengerti apa yang baru saja terjadi.
Dia menatap Leinn yang sedang tersenyum padanya, lalu menyadari getaran di tubuhnya yang sudah hilang itu.
“Ah...”
Pemuda itu menyadari perubahan dalam dirinya.
Dia tidak bertambah kuat atau cepat selama pertarungan itu, Leinn tidak memiliki kemampuan ajaib seperti itu.
Tebasannya itu semakin cepat dan tepat karena dia tidak ditahan oleh rasa takutnya lagi.
“Selamat...”
Leinn terlihat menyarungkan kembali pedangnya dan senyuman di wajahnya menghilang begitu saja, digantikan oleh tatapan sedih.
Pandangannya berhenti pada pedang di tangan pemuda itu.
“...dan maaf”
Crack...
Bersamaan dengan itu, pedang itu terpecah berkeping-keping dan serpihannya itu jatuh ke lantai batu dibawahnya.
Sepertinya ratusan pertukaran pedang sebelumnya telah menghabiskan ketahanan pedang itu.
“Ah...”
Ekspresi pemuda itu menunjukkan betapa terpukul dirinya melihat pecahan pedang di depanyna itu.
Leinn melihat itu dan membalikkan badannya, melihat hasil pertarungan sudah selesai ketika lawannya kehilangan senjatanya itu.
Langkahnya menjadi sedikit berat ketika dia mengingat saat dia menyadari keadaan pedangnya itu.
Dia baru menyadari kondisi pedang itu di tengah pertukaran mereka dan disaat itu, dia sudah terlambat.
Jadi dia memilih untuk meneruskan pertukaran itu, membiarkan pemiliknya melampaui batasannya bersamanya.
Tetapi itu tidak mengurangi perasaan bersalah Leinn-
“Terima kasih!”
Langkahnya berhenti ketika mendengar kalimat itu.
Leinn berbalik dan menemukan pemuda itu sedang menundukkan kepalanya sangat dalam dengan pecahan pedangnya di pelukannya.
Pemandangan itu membuatnya terdiam sesaat, lalu...
“Simpanlah pecahan pedangmu”
Pemuda itu terkejut dan mengangkat kepalanya setelah mendengar itu, tetapi hanya melihat Leinn yang berjalan semakin menjauh.
Dia mulai memegang gagang pedang dan pecahan pedangnya dengan erat.
“Pemenang pertama, Leinn!”
Suara Isaac menyadarkan seluruh penonton dan enam orang lain yang masih di atas arena mereka masing-masing.
Menjadikan pengumuman itu sebagai tanda, mereka mulai melanjutkan pertarungan mereka lagi.
Gerakan mereka sedikit terganggu karena satu pikiran yang sama diantara mereka, dan hal yang sama juga dipikirkan oleh orang-orang yang masih menunggu giliran bertarung mereka juga.
‘Apakah aku akan bertarung melawan monster itu?’
__ADS_1
Mereka tidak mengetahui alasan kenapa Leinn melakukan apa yang dia lakukan, tetapi mereka tidak bisa berhenti mengingat tebasan itu.
Melihat ratusan kali tebasan yang sama, tebasan yang tidak pernah meleset dari sasarannya.
Bagaimana jika pemuda itu memutuskan untuk benar-benar menebas leher mereka?
“Hahaha...”
Pemuda yang dibicarakan itu hanya tertawa sambil meloncat turun dari arena itu sambil membawa Contracted Beast-nya.
Semua orang disekitarnya tidak bisa melepaskan pandangan mereka dari pedang di pinggangnya, yang terlihat lebih mengerikan dari sebelumnya.
...
“...Roland!”
Pemuda berambut pirang itu menoleh setelah mendengar namanya dipanggil, menemukan gadis berambut biru yang menantapnya dengan ekspresi kesal.
“Ada apa, Adeline?”
Roland tersenyum pada gadis di depannya, tidak mengerti alasannya terlihat marah seperti itu.
“K-kau...!”
Wajah Adeline terlihat sedikit merona saat melihat senyuman Roland itu, lalu berjalan melewatinya agar pemuda itu tidak bisa melihat wajahnya itu.
Perasaan kesalnya masih belum berkurang, sebaliknya dia lebih marah dibandingkan sebelumnya.
“Hmph!”
Tidak ada yang mengetahui betapa sulitnya untuk membuat Roland tersenyum lebih dari dirinya sendiri.
Bahkan dirinya saja hanya bisa membuat pemuda di depannya itu menunjukkan ekspresi seperti itu dengan berbicara jujur, sesuatu yang Adeline sangat tidak ingin lakukan.
Roland mempercepat langkahnya untuk menyusul Adeline, meninggalkan petir kecil di tanah yang dipijaknya.
“Ada masalah apa...?” ucap Roland dengan nada khawatir.
Melihat senyuman yang hilang dari wajah Roland itu, perasaan Adeline berubah menjadi campur aduk.
Sejak awal kemarahannya itu tidak tertuju pada Roland yang merasa senang, melainkan pemuda yang menyebabkan perasaan senang itu.
“Aku baik-baik saja!” ucap Adeline sambil tersenyum lebar.
“...”
Roland menatap gadis itu tanpa berkata apa-apa, memilih untuk tidak melanjutkan pertanyaannya setelah melihat senyuman itu.
“Psssht...!”
Twig menyusul mereka berdua setelah teralihkan oleh serangga berwarna dan tertinggal cukup jauh.
Dia sudah lama tidak berada di ukuran lebih kecil itu, yang membuat gerakannya jauh lebih lambat dari sebelumnya.
“Twig...”
Roland mengelus ular sepanjang empat meter di sampingnya sambil tersenyum.
Telapak tangannya tiba-tiba mengeluarkan petir kecil, yang membuat sisik ular itu bereaksi dan mengeluarkan petir kecilnya juga.
“Haha...”
Roland tersadar setelah melihat petir yang meloncat-loncat itu dan kembali menunjukkan ekspresi datar, membuat tangannya yang mengelus ular itu berhenti mengeluarkan petir.
“Ah...”
Adeline mengeluarkan suara lemah setelah melihat senyuman itu hilang sekali lagi.
Mereka bertiga akhirnya sampai di tempat tujuan Roland, lapangan latihan terbuka.
“Fiuh...”
__ADS_1
Crackle...
Adeline berjalan ke satu sisi lapangan itu dan melihat Roland yang mulai diselimuti petir dari kejauhan, dengan Twig yang sedang berputar-putar di sebelahnya.
Dia bisa merakan emosi yang dipancarkan Roland setiap kali dia berlatih di dua minggu terakhir, tidak lain dari semangat bertarung yang pekat.
Roland hanya berdiri sambil memejamkan matanya di tengah lapangan itu dan meningkatkan intensitas petir yang menyelimutinya secara bertahap lalu menurunkannya perlahan-lahan, berulang secara terus-menerus.
“Hm...?”
Belum lama waktu berlalu sejak Roland memulai latihannya dan dia sudah membuka kembali matanya, lalu melihat tiga pendatang baru di lapangan latihan itu.
“H-halo lagi!”
Aura mengucapkan itu setelah meloncat turun dari Rufus dan mendarat di samping Basalt, terlihat sangat gugup ketika menerima tatapan dari Roland di depannya itu.
Petir terakhir hilang dari tubuh Roland yang mulai berjalan mendekati gadis berambut merah muda itu.
“Ada apa, Nona Flameheart?”
“A-a... u-um...”
Tatapan tanpa emosi dari Roland itu ditambahkan ucapan dengan nada datar itu membangkitkan perasaan yang tidak asing dari dalam diri Aura, membuatnya bertambah panik.
Sebelum Roland bisa bertanya lagi, Gorilla besar di samping Aura sudah melangkah maju dan menengahi mereka.
“Hoh...!”
Bam!
Kontraksi otot Basalt meledakkan udara di sekitarnya, menunjukkan niatnya untuk menghentikan Roland untuk mendekati Aura.
Roland melihat ekspresi Basalt itu, lalu ekspresi Aura di belakangnya.
Dia hanya menatap mereka berdua sesaat, lalu berbalik tanpa mengubah ekspresi datarnya.
Adeline yang sudah berlari dari tadi akhirnya sampai di depan Aura.
“Apa kau baik-baik saja, Nona Aura?”
Adeline hanya menoleh ke arah Roland sekilas, lalu memusatkan perhatiannya pada Aura.
“Ah... Nona Adeline...”
Emosi Aura mulai stabil setelah melihat ekspresi khawatir gadis di depannya itu, lalu kembali tenang setelah beberapa tarikan nafas panjang.
“Um... Alasanku datang kesini... Basalt...”
Aura mulai menjelaskan tujuannya mengejar mereka berdua.
Sesaat setelah meninggalkan stadium, Aura berencana untuk pergi ke perpustakaan untuk melanjutkan salah satu buku yang belum selesai dibacanya dan di tengah perjalanannya itu, Basalt yang ada bersamanya tiba-tiba menghentikannya.
Basalt menyampaikan keinginanya untuk bertemu dengan Roland lagi, lalu ingin mengejarnya.
Setelah beberapa saat mempertanyakan bagaimana dirinya bisa mengerti dengan apa yang Basalt bicarakan, Aura memilih untuk menemaninya mencari Roland.
“Hoh!”
“...apa kau yakin?”
Kembali ke sekarang, Roland yang sedang berdiri berhadapan dengan Gorilla putih besar tanpa menunjukkan emosi apapun.
Adeline, Aura, Rufus dan Twig berada cukup jauh dari mereka berdua, melihat suasana yang semakin tegang antara dua makhluk itu.
“Hoh!”
“Baiklah...”
Crackle...!
__ADS_1