
Matahari yang mulai terbenam menyebabkan menurunnya suhu dengan cepat dan mengambil penglihatan sebagian besar pendatang baru di hutan itu.
Suara penghuni hutan di siang hari mulai tidak terdengar dan digantikan dengan hewan-hewan malam yang mulai keluar untuk mencari makanan, menjadikan waktu ini menjadi waktu yang paling berbahaya bagi manusia yang berani bermalam di hutan ini.
“Dan selesai sudah!”
Suara bersemangat keluar dari pemuda berambut hitam yang duduk di depan sebuah tumpukan ranting pohon yang baru saja dikumpulkan olehnya.
Beberapa potong daging juga tersebar di atas daun besar di depannya, terlihat sangat segar.
“Oooh...” Aura mengeluarkan suara kagum.
Aura melihat Leinn mengeluarkan kantung transparan dengan kepingan yang terlihat seperti daging hewan dari tas besarnya.
Dia juga mengeluarkan satu botol merah kecil dan menuangkan isi botol itu ke kepingan daging di atas daun besar itu, dan kepingan daging itu langsung menyerap air merah itu dalam sekejap dan akhirnya membentuk daging segar yang ada di depannya sekarang.
“Tolong nyalakan api ini, malam di hutan akan menjadi cukup dingin” ucapnya sambil menunjuk tumpukan ranting itu.
Aura tidak menberikan jawaban selama beberapa saat, lalu menggelengkan kepalanya.
“Aku... tidak bisa melakukan itu...” ucap Aura dengan suara yang hampir tidak terdengar.
“Oke...?” Leinn mengangkat satu alisnya.
Dia terlihat bingung sesaat setelah mendengar itu, tetapi akhirnya tidak menghiraukannya dan berjalan ke tas besarnya lalu meraih ke dalamnya. Dari dalam sana dia menarik keluar batu merah dengan ukiran aneh, lalu batu hitam dengan ukiran yang berbeda samping tas itu.
Leinn kemudian berjalan samping tumpukan ranting itu sambil memukul batu merah dengan batu hitam itu, lalu melempar batu merah itu ke dalam tumpukan ranting di depannya.
Clack
Api muncul dari batu merah itu dan menyebar ke ranting-ranting pohon di sekitarnya, berhasil membentuk api unggun dalam sekejap.
Leinn menemukan dua batu yang cukup rata untuk diduduki dan menaruhnya beseberangan di tepi api unggun.
“Aku akan mulai memasak daging ini”
“...”
Aura tidak memberikan jawaban dan masih menundukkan kepalanya, berusaha tidak melihat tatapan Leinn.
Melihat ini, Leinn tidak memberikan reaksi apa-apa dan mulai menyiapkan makan malam mereka.
...
Matahari sudah terbenam cukup lama dan telah digantikan oleh bulan yang bersinar di langit gelap.
Angin malam yang sangat dingin berhembus diantara pepohonan membuat siapapun yang disentuhnya mulai menggigil, tetapi api unggun di depan Leinn dan Aura berhasil membuat mereka tidak merasa dingin sama sekali.
“...”
Aura sama sekali tidak mengatakan apa-apa sejak sore tadi, sama seperti Leinn yang juga tidak mengatakan apa-apa setelah menaruh daging tusuk di atas api unggun untuk memasaknya.
Hanya suara angin dan burung di kejauhan yang dapat terdengar, yang tidak membantu suasana dingin diantara mereka berdua itu.
“Apa kau tidak penasaran...” suara kecil tiba-tiba memecahkan kesunyian hutan itu.
__ADS_1
Mendengar ini, Leinn mengangkat pandangannya dari api unggun ke gadis di depannya itu. Dia tahu apa yang dimaksud oleh Aura, tetapi dia tidak langsung menjawab pertanyaannya.
“Kau pasti berpikir betapa anehnya seorang Magic User yang tidak bisa membuat api kan?”
Leinn bisa melihat jelas wajah Aura yang sedang menatap balik dirinya, dengan senyuman mengejek di wajah gadis itu.
“Lucu bukan? Tapi memang ini kenyata-“
“Aku tidak mengenalmu” suara dengan nada datar memotong kalimat menghina dirinya sendiri itu.
Mendengar ini, Aura langsung terdiam.
“Aku tidak mengetahui situasimu. Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, aku bukan berasal dari tempat ini”
Leinn tidak berhenti.
“Kita baru bertemu siang ini, dan tentu saja aku tahu kau seorang Magic User Api dari warna rambutmu”
Leinn meraih ranting pendek di samping kakinya, dan melemparkannya ke dalam api unggun.
“Kalau kau tidak ingin bercerita, aku mengerti. Kau tidak perlu menunjukkan ekspresi seperti itu, aku tidak akan memaksamu” dia melihat gadis di depannya sekali lagi lalu mengalihkan perhatiannya kembali ke api unggun di depannya.
Leinn mulai duduk diam sambil memerhatikan api unggun lagi, sedangkan Aura kembali menundukkan kepalanya dan tidak menjawab.
Hutan itu benar-benar sepi, suara angin dan api unggun di depan mereka menjadi terdengar cukup keras.
“Aku putri satu-satunya kepala klan Flameheart saat ini” suara lemah dapat terdengar sekali lagi.
Leinn mengangkat wajahnya dan menatap mata Aura, kali ini menemukan sebuah senyuman yang berbeda di wajah gadis itu.
“Ini bukan sebuah rahasia, hampir seluruh penghuni kota Blazing Sun mengetahui hal ini”
“Klan Flameheart kami adalah salah satu klan terbesar di kota Blazing Sun yang terkenal dengan Gift turunan keluarga utama kami, yaitu Api Jiwa. Api milik klan kami dikenal sebagai api yang tidak pernah padam, yang mampu membakar habis apapun yang menghalanginya”
“...” Leinn bisa melihat api unggun yang terpantul di mata merah gadis di depannya itu.
“Tetapi aku... aku tidak memiliki api itu.... Aku bahkan tidak memiliki api biasa! Api Putri dari klan Flameheart bahkan tidak bisa membakar daun yang layu!”
Air mata mulai terkumpul di kedua mata gadis itu.
“Tiga kakakku memiliki bakat luar biasa dan api yang sangat terang, dan Kakak Pertamaku adalah yang paling berbeda. Di malam kakak pertamaku membangkitkan Api Jiwanya, langit malam kota Blazing Sun kehilangan kegelapannya.”
Senyuman muncul di wajah gadis yang terlihat hampir menangis sebelumnya itu.
“Api paling besar dan terang menyinari langit malam, merubahnya menjadi seterang pagi hari. Seluruh tubuh Kakak Pertama diselimuti api membara, membuatnya terlihat seperti sebuah api paling terang”
Aura menarik satu nafas panjang, lalu terus melanjutkan tanpa memeduliikan nafasnya yang tidak teratur.
“Disaat itu juga seluruh tetua klan tahu betapa tinggi posisi yang akan dia capai. Dia adalah seorang jenius yang tidak memiliki bandingan sepanjang sejarah klan Flameheart” suaranya terlihat semakin bersemangat setiap kata yang keluar.
Mendengar ini, mata Leinn terlihat sedikit melebar dan Aura mulai menenangkan nafasnya.
“Dia terdengar hebat” dia menjadi penasaran dengan identitas ‘Kakak Pertama’ itu.
“Tentu saja dia hebat! Di umur 10 tahun dia membangkitan Giftnya yang mengguncang kota Blazing Sun, dia juga berhasil membuat Contract dengan Burung Api Suci penghuni gunung leluhur klan Flameheart kami! Di umur 16 tahun dia berhasil mengalahkan Ayah kami dan menjadi kepala klan Flameheart termuda sepanjang sejarah!” jelas Aura sambil mengayunkan tangan kanannya di udara.
__ADS_1
Melihat senyum lebar di wajah gadis itu, Leinn bisa melihat betapa tinggi Aura memandang kakak pertamanya ini.
Lalu ekspresinya mulai kembali menjadi normal, lalu menjadi sedih lagi.
“Aku tidak mengerti alasan Kakak Pertama mengirimku untuk ikut tes ini, aku tidak yakin bagaimana aku bisa lulus. Tetapi aku tidak ingin mengecawakannya” tekad kuat dapat terdengar di akhir kalimatnya itu.
“Ya, sekarang aku ada disini kau tidak perlu takut akan gagal dalam tes pertama ini”
Perasaan tenang muncul setelah melihat senyuman Leinn dan mendengar apa yang dikatakannya. Aura akhirnya menunjukkan senyuman kecil.
Leinn menyadari bagian yang belum jelas dalam ceritanya.
“Jadi, apa maksudmu apimu tidak bisa membakar apapun? Bagaimana hal seperti itu bisa terjadi?” tanya pemuda itu tanpa menahan diri sedikitpun.
“... aku bisa memperlihatkannya padamu...” Aura berdiri lalu mengulurkan tangannya.
Dengan telapak tangannya terbuka diatas api unggun, gadis itu merapalkan sihirnya.
[Fireball]
Bola api putih sebesar kepala manusia muncul di telapak tangan Aura.
Melihat itu, Leinn langsung melompat berdiri dan memperhatikan dengan seksama bola api itu. Dia terlihat sangat tertarik dengan benda itu.
“Hoh...” Leinn mengeluarkan suara kagum.
Bola api ini berbeda dengan yang selama ini dia lihat.
Pertama, ukurannya. Fireball adalah sihir paling dasar untuk sihir serangan tipe api dan ukuran normalnya hanya sedikit lebih besar dari bola mata manusia.
Kedua, warnanya. Bola api didepannya ini memiliki warna putih, berbeda dengan Fireball oranye yang dimiliki kebanyakan Magic User api.
Dan ketiga...
“Heh...” Leinn mendekatkan wajahnya ke api itu dan menyadari apa yang Aura maksud.
Api itu sama sekali tidak panas, hanya sedikit hangat. Bahkan kehangatan itu hampir tidak terasa melihat api unggun yang ada di bawahnya.
Leinn tidak berkata apa-apa dan hanya menatap api putih ini, dan melihat sedikitnya itu reaksi membuat Aura merasa sedikit canggung.
“Sejak api pertama yang berhasil kuciptakan, dan sihir api apapun yang kugunakan setelahnya, hanya api seperti ini saja yang muncul. Api ini tidak pernah muncul dalam sejarah klan Flameheart, dan karena inilah aku dikucilkan di dalam keluargaku...” ucap Aura lemah.
Leinn tidak melepaskan matanya dari bola api putih didepannya, lalu dia mengulurkan tangannya ke dalam bola api itu.
“Kelebihan satu-satunya hanyalah api ini bisa menyembuhkan luka-luka kecil. Aku tidak mengerti bagaimana cara kerjanya, tetapi apiku akan terlihat seperti membakar luka yang disentuhnya. Selain itu...”
Aura menghentikan aliran Mana-nya, menghilangkan bola apinya.
“...api ini tidak bisa membakar apa- HUH?” suara lemahnya berubah menjadi jeritan disaat dia melihat pemandangan di depannya.
“oooh.... ini terasa aneh” ucap Leinn yang sedang merasakan sensasi baru.
Di tangan kanan Leinn, tangan yang dimasukkannya ke dalam bola api putih itu, terlihat jelas sedang menyala dengan api putih.
Seluruh telapak tangannya tertutupi oleh api putih itu.
__ADS_1