
Suasana tegang dapat dirasakan seluruh akademi, bahkan seluruh kota itu.
Entah sadar atau tidak, penduduk kota ini bisa merasakan kekuatan yang luar biasa sedang bergejolak dari arah akademi di tengah kota itu.
Ratusan orang yang masih ada di dalam akademi itu bisa melihat dengan jelas sumber ketegangan itu, tidak lain dari stadium di depan mereka semua.
Mereka semua berdiri di berbagai tempat di akademi dan membuat area kosong sejauh 300 meter di segala arah dari stadium itu, sambil melihat dengan jelas batu-batu yang mulai berjatuhan dan retakan yang mulai menyebar di dinding stadium itu.
“Sepertinya ini... akan berakhir buruk”
Isaac berdiri di depan salah satu kelompok orang yang menunggu disana, melihat stadium yang mulai runtuh itu.
Dirinya dan orang-orang yang bertugas menjaga keamanan kelompok ini sudah meminum obat peningkat regenerasi Mana dan mendapatkan kembali sebagian Mana mereka, siap untuk bereaksi terhadap hal-hal tidak terduga.
Di belakangnya terlihat dua gadis yang ditemani dengan berbagai jenis Beast di sekitar mereka, terlihat sangat cemas.
“Roland...”
Suara lemah itu keluar dari bibir Adeline yang bergetar, dengan air mata yang hampir keluar dari matanya.
Dia merasa sangat gelisah ketika melihat ekspresi terakhir di wajah Roland yang dilihatnya sebelum meninggalkan stadium itu, ekspresi yang menunjukkan kegirangan murni.
Dia tidak bisa mengerti apa alasannya menikmati pertarungan yang sudah mencapai tahap hidup dan mati tanpa alasan itu.
“...”
Walaupun tidak berkata apa-apa, Aura juga terlihat menunjukkan ekspresi yang sama.
Dia tidak mengerti kenapa dua pemuda yang bertemu kembali setelah sekian lama akan bertarung sampai seperti itu.
Mereka berdua tidak terlihat tertarik dengan hadiah, sedangkan ketenaran mereka sudah dipastikan tanpa perlu melakukan hal itu.
Sebenarnya ada beberapa orang yang bisa menghentikan pertarungan itu sebelumnya tetapi karena beberapa alasan yang berbeda, mereka memilih untuk tidak bergerak.
Jadi akhirnya pertarungan mereka sampai di tingkat yang tidak bisa dihentikan sebelum salah satu dari mereka jatuh.
Dan dua pemuda itu sekarang masih berdiri tidak bergerak, menunjukkan ekspresi terkejut di wajah mereka.
Pandangan mereka berhenti di hal yang sama.
[...Ada apa?]
Dan yang mereka lihat menunjukkan ekspresi bingung.
“Ini... benarkah?”
Leinn terpatung sambil melihat gadis yang berdiri di sampingnya itu, dengan seluruh tubuhnya yang sudah bergetar kuat, menunjukkan dirinya yang sedang terguncang sekali itu.
“Hah?! Bagaimana kau tidak mengetahui ini?”
Roland menunjuk wajah Leinn, terlihat tidak percaya. Petir meloncat keluar dan menyambar di sekitarnya.
Kabut ungu di sekitar Leinn dan petir emas di tubuh Roland terlihat bergerak kacau seperti perasaan mereka saat ini, kebingungan.
[Ada apa....hm?]
Gadis itu akhirnya seperti tersadar ketika melihat tangannya, lalu kakinya, menyadari kulit putihnya dan pakaian di tubuhnya.
Dia mulai menyentuh wajahnya dengan tangannya dan di saat itu juga, air mata mulai mengalir dan jatuh ke tanah.
Dengan perasaan campur-aduk, Leinn mengulurkan tangan kanannya yang masih bergetar dan menyentuh wajah gadis itu.
Gadis itu membiarkan pemuda itu menyetuhnya dan meletakkan tangannya di atasnya, membiarkan air mata hangat membasahi tangan itu.
__ADS_1
[Ka-]
Air mata hangat itu berubah menjadi dingin dalam sekejap dan gadis di depannya menghilang, membuat tangan kanannya itu meluncur di udara dan melewati kabut ungu yang menggantikan tempat gadis itu.
Ekspresi panik muncul di wajah Leinn dan dia berusaha menyentuh siluet ungu di depannya tanpa berhasil, dengan kedua tangannya terayun di udara tanpa menyentuh apapun.
Dan dia berhenti.
“Leinn...”
Roland melihat air mata mengalir di wajah temannya yang hanya menatap telapak tangan kanannya tanpa berkata apa-apa, dan siluet ungu di depannya terlihat khawatir dan berusaha menyentuh pemuda itu tanpa berhasil.
Siluet ungu itu akhirnya menyerah dan bergerak ke belakang pemuda itu dan terlihat seperti memeluk lehernya di punggungnya.
Pemuda berambut pirang ini merasa ada yang aneh dengan pemandangan di depannya itu.
Siluet ungu itu terlihat khawatir, itu cukup jelas.
Tetapi Leinn...
“...”
Entah kenapa dia tidak terlihat... sedih?
“...haha...”
Dan tentu saja.
“HAHAHA...!”
Tawa yang terbentuk dari kegembiraan murni meledak keluar dari pemuda yang berkucuran air mata itu, mengejutkan siluet ungu di punggungnya.
“Jadi, kau siap?”
Dua pedang di genggaman Roland mulai melayang di sampingnya dan dia meraih dua cincin terakhir di pinggangnya. Sinar terang mulai keluar dari dua cincin yang mulai berubah menjadi dua pedang identik itu.
Leinn menghapus air matanya dengan tangan kirinya bersamaan dengan tangan kanannya yang terulur sambil mengeluarkan kabut ungu.
Pedang ungu panjang di tanah cukup jauh darinya mulai melayang di udara dan sampai di genggamannya.
Mereka berdua sedang berada dalam keadaan yang tidak sempurna, hanya bisa bertarung dalam bentuk itu selama beberapa detik, kemudian mereka tidak akan bisa bergerak lagi.
Jika mereka tidak melakukan apapun sekalipun, mereka tidak akan memiliki lebih dari lima menit sebelum tidak bisa bergerak juga.
Jadi ini akan diselesaikan dengan serangan berikutnya.
“Luna...”
Ekspresi lembut dapat terlihat di wajah Leinn yang mengulurkan tangan kirinya ke siluet ungu yang masih terlihat bingung.
Siluet ungu itu langsung bereaksi dan melayang ke telapak tangan yang terbuka itu.
Bola api ungu terbentuk di tangan kiri itu.
“Hah...”
Uap putih dipenuhi listrik keluar dari mulut Roland dan kedua tangannya terbuka lebar dan membiarkan dua pedang di tangannya ikut melayang bersama dua pedang lain di sekitarnya.
Baju zirah petirnya mulai terlihat semakin nyata, diikuti dengan dua petir panjang yang muncul di punggungnya.
“Tiga tahun yang lalu...”
“...di bawah Pohon Persik itu”
__ADS_1
Dua pemuda itu saling bertatapan, mengingat kenangan lama yang sama.
“Aku mengalahkanmu”
Leinn tersenyum dengan tangan kirinya menggenggam mata pedang ditangan kanannya, membuat tangannya mulai mengalirkan darah segar.
Api ungu dan darahnya yang mengalir keluar menyebar di seluruh pedang itu dalam sekejap, membuat kabut ungu dan darah merah itu bergerak dan mulai membentuk sesuatu yang berbeda dengan pedang itu.
“Kau mengalahkanku”
Roland menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dan dua petir di punggungnya berubah menjadi lengan yang ditutupi baju zirah, menggenggam dua pedang yang melayang di sekitarnya.
Dua lengannya menggenggam dua pedang lainnya dan mulai mengalirkan Mana Petir dalam jumlah besar kedalamnya.
“Aku mendapatkan nama ini”
Kabut ungu-merah itu akhirnya berubah menjadi sabit besar hitam dengan mata pisau ungu dan tengkorak merah di gagang besarnya, yang terlihat seperti sedang tertawa.
“Kau menjadi penerusnya”
Keempat pedang itu akhirnya tidak bisa menampung energi petir yang ganas itu dan pecah seluruhnya, menjadi serpihan logam yang membentuk empat tombak petir pendek.
Tatapan mereka berdua bertemu.
Bukan mengingat masa lalu, tetapi melihat masa kini.
Melihat Rival mereka.
Melihat seorang Teman.
“Kau mencapai mimpi gilamu”
Kedua tangannya menggenggam sabit besar itu dengan erat. Jubah panjang ungunya berkibar dan terlihat membara seperti api neraka, siap menelan apapun yang menyentuhnya.
“Kau mendekati mimpi mustahilmu”
Keempat tangannya menggenggam tombak-tombak pendek itu. Baju zirah emasnya berhenti berkedip dan menjadi nyata, mengeluarkan suasana bangsawan yang kuat.
Whoong...!
Energi tebal meledak keluar dari dua pemuda itu.
Leinn mulai terlihat seperti menari dengan sabit besarnya dan tengkorak berwarna ungu dan merah darah mulai bermunculan di sekitarnya.
Empat tombak pendek emas Roland mulai melayang dari genggamannya dan bergerak untuk menyatu, perlahan-lahan membentuk satu tombak petir panjang,
[Tekadku untuk menolak panggilan dewa kematian...]
Suara bisikan yang mengerikan tiba-tiba dapat didengar bukan hanya oleh pemuda berambut pirang itu, tetapi semua orang yang masih berada di dalam akademi.
[Tekadku untuk menghancurkan apapun yang menghalangiku...]
Suara bisikan mengguncang seluruh akademi itu, memaksa orang yang mendengarnya untuk menutup telinga mereka yang kesakitan.
Leinn berhenti memutar sabit besarnya dan dirinya sudah dikelilingi oleh puluhan tengkorak yang melayang di sekitar mata sabitnya, tertawa.
Roland menggenggam tombak petir sepanjang empat meter di tangan kanannya, yang terus mengeluarkan suara guntur yang seperti ingin menelannya.
Mereka berdua menarik mundur senjata raksasa mereka sambil menarik satu nafas panjang, dan bersama dengan ayunan tangan mereka, sebuah teriakan keluar.
[[Tidak akan patah...!]]
Dan dunia kehilangan warnanya.
__ADS_1