
Bulan merah bersinar terang di langit malam, menerangi taman utama di tengah akademi.
Terlihat beberapa murid berkumpul di sana untuk melihat bulan penuh dan berbicara tentang turnamen yang sedang berlangsung, dan diantara orang-orang yang ada di sekitar taman itu adalah gadis kecil berambut merah muda yang terlihat sedang mencari sesuatu.
“Huh...?”
Gadis itu adalah Aura, yang sudah mengumpulkan cukup tenaga untuk kembali berjalan sendiri.
Dia terlihat sangat berkonsentrasi sampai tidak menyadari seseorang mendekatinya dari belakang.
“Selamat sore, Tuan Putri Flameheart”
Aura langsung berbalik badan dan menemukan seorang pemuda pirang dengan ekspresi datar berdiri di depannya.
“T-tuan Muda Azure!”
Aura menundukkan kepalanya pada Roland itu dan membalas sapaannya.
“S-selamat sore!”
Roland menunjukkan senyuman yang sangat tipis saat melihat Aura itu.
“Apa yang sedang nona lakukan disini?”
“A-aku s-sedang...”
Pemuda pirang itu menggelengkan kepalanya ketika melihat gadis di depannya yang sudah mulai bergetar gugup.
“Panggil saja aku Roland”
“H-huh?”
Beberapa orang di taman itu menyadari keberadaan Roland itu dan menoleh, tetapi langsung mengalihkan perhatian mereka.
Ini pertama kalinya mereka melihat Pangeran Petir itu tersenyum pada wanita lain selain tunangannya, sebuah pemandangan yang hanya akan mengundang masalah jika mereka ketahuan mengetahuinya.
“Kita sudah saling mengenal satu sama lain dan kau terlihat cukup dekat dengan Leinn. Cara berbicara kita berdua membuat kita seperti dua orang asing”
“U-um...”
Aura terlihat bimbang selama beberapa saat, lalu dia menganggukkan kepalanya. Udara masuk dan keluar dengan nafas panjangnya.
“K-kalau begitu k-kau bisa memanggilku Aura! Salam kenal!”
Aura menundukkan kepalanya sekali lagi tanpa alasan yang jelas.
Roland menemukan pemandangan ini menarik dan tidak menyadari senyuman nyata di wajahnya.
“Jadi, apa sedang yang kau cari di taman ini?”
Mendengar itu Aura akhirnya kembali teringat oleh alasannya berjalan ke taman ini.
“Um... Aku mencari Leinn”
“Leinn?”
Roland menaikkan salah satu alisnya ketika mendengar itu, dia mengingat Leinn memikul gadis di depannya itu keluar dari stadium siang tadi.
“Jika tidak masalah, apakah aku boleh tahu alasanmu mencarinya?”
“...ada yang ingin kusampaikan padanya, dan dia mengatakan ingin melihat bulan saat dia selesai mengantarku ke ruang istirahatku. Jadi kupikir disini...”
Suara Aura mengecil di ujung kalimatnya, itu karena dia belum bisa menemukan pemuda itu setelah mencarinya selama setengah jam.
Roland mulai menyapu pandangannya ke seluruh taman itu lalu mengembalikan perhatiannya pada gadis di depannya.
“Sepertinya aku tahu dimana dia”
“Benarkah?!”
Roland sedikit terkejut melihat Aura yang tiba-tiba bersemangat itu dan mengambil satu langkah mundur.
__ADS_1
Aura terlihat menyadari perbuatannya dan mulai menunduk malu.
“Ehehe...”
“Ehem, kebetulan aku juga sedang mencarinya. Ada pesan yang ingin kau sampaikan jika aku berhasil menemukannya?”
“...”
Aura mulai mengingat pertarungan di siang hari itu dan pesan yang dia ingat di saat-saat pentingnya. Dia mulai mengerutkan dahinya dan terlihat cemberut.
“...aku ingin berterimakasih padanya”
Roland merasa sedikit bingung ketika melihat ekspresi kesal dan kalimat yang diucapkan Aura itu terlihat tidak sesuai.
“Baiklah? Lebih baik kau kembali beristirahat, kau masih akan bertarung besok”
Aura tersentak kaget setelah mendengar itu, karena dia akhirnya teringat satu hal penting.
“Aku tidak akan mengalah”
Pemuda pirang di depannya itu adalah lawannya besok.
“A-aku juga!”
Roland menganggukkan kepalanya setelah mendengar jawaban tegas itu dan tersenyum sangat tipis.
“Selamat malam, Aura”
“Selamat malam Roland!”
Aura menundukkan kepalanya sekali lagi padanya dan mulai berjalan kembali untuk beristirahat.
Roland membalikkan badannya dan mulai berjalan pergi, sambil mengingat beberapa hal dengan pandangannya sudah tertuju pada bangunan tertinggi sekaligus simbol akademi, Menara Jam Api.
Bangunan dimana seseorang bisa melihat seluruh kota Blazing Sun tanpa halangan dan berfungsi sebagai penanda waktu di akademi itu.
Bangunan yang memiliki atap cukup besar yang hanya bisa dicapai dengan lift yang tidak bisa diakses selama masa turnamen junior.
...
“Hum~”
Seorang pemuda berambut hitam sedang bersenandung pelan di puncak bangunan tertinggi di akademi itu, terlihat seperti tuan dari atap menara yang hanya memilikinya sebagai seorang tamu itu.
Dia duduk sendirian dengan gelas arak di tangannya sambil memejamkan matanya dan menikmati angin malam yang menyentuh wajahnya, dengan sebuah botol arak setinggi 20 sentimeter dan dua gelas identik di sampingnya.
Dia menuangkan isi botol itu ke salah satu gelas itu, lalu meraihnya dengan satu gerakan mulus.
Gluk Tap
Dia menghabiskan gelas di tangannya itu dalam satu tegukkan dan meletakkannya kembali di samping botol araknya.
Dia membuka matanya dan mulai menatap bulan merah di langit malam itu.
Crackle... bham!
Suara petir tiba-tiba terdengar dari belakangnya dan disana berdiri seorang pemuda berambut pirang, dikelilingi petir kecil di tubuhnya. Ekspresi datarnya tidak memperlihatkan apa yang sedang ada di dalam pikirannya.
Dia mulai melangkah perlahan dan sampai di sisi pemuda berambut hitam yang sedang menuangkan arak di tiga gelas di sampingnya itu, lalu dia duduk tanpa berkata apa-apa di sampingnya.
Mereka berdua meraih gelas arak dan langsung meneguk habis isinya.
Dua pemuda duduk dengan botol arak diantara mereka dan gelas kosong di tangan mereka sambil menatap bulan, membentuk sebuah pemandangan yang terlihat seperti keluar dari sebuah lukisan.
“...sepertinya aku kalah”
Yang pertama memecahkan kesunyian di antara mereka adalah pemuda berambut hitam, Leinn yang mengucapkan itu sambil melihat dasar gelas kosong di tangannya.
Pemuda berambut pirang, Roland di sampingnya terlihat mengerutkan dahinya setelah mendengar itu.
“Apa...?”
__ADS_1
“Ya, kau berhasil mendapatkan apa yang kau inginkan lebih dulu dariku bukan?”
Leinn mengatakan itu sambil tersenyum kecil ke arah pemuda di sampingnya itu, dengan kedua matanya sedang menunjukkan secara jelas keseriusannya itu.
Kali ini Roland yang terdiam sesaat sambil menatap gelas di tangannya.
Ingatan-ingatan lama mulai muncul di dalam pikirannya, ingatan dari masa paling bahagianya.
“Ya, aku menang ya...”
Tetapi tidak ada ekspresi gembira di wajah Roland yang mengatakan itu, dia hanya meletakkan gelas di tangannya di lantai dan meraih ke botol arak disampingnya.
Ternyata Leinn sudah meraih botol itu terlebih dulu dan mulai mengisi kedua gelas mereka.
Mereka berdua kembali meneguk gelas itu secara perlahan.
Pemuda pirang terlihat termenung dan tidak bisa menemukan kata berikutnya, sampai tiba-tiba...
“Aku bilang ‘lebih dulu’ bukan?”
Roland langsung menoleh dan menunjukkan ekspresi terkejut setelah mendengar itu, lalu melihat Leinn yang menatapnya balik sambil tersenyum puas setelah melihat reaksinya itu.
Dia melihat senyuman itu selama beberapa saat sebelum menghela nafas kecil, dan sebuah senyuman kecil muncul di wajahnya.
“Begitukah”
Gelas ditangannya mulai bergetar, diikuti dengan gelas di tangan pemuda di sampingnya yang juga mulai bergetar.
Tubuh mereka berdua mulai bergetar juga sampai akhirnya...
“Pffft-Hahahaha...!”
“Ahahahaha...!”
Dua tawa keras memecahkan kesunyian malam, membuat beberapa orang yang ada di sekitar akademi menjadi terkejut setelah mendengar tawa keras itu tanpa bisa menemukan sumbernya.
Leinn terlihat menepuk kakinya dan Roland menutup wajahnya dengan tangannya, mereka berdua tertawa tanpa henti selama beberapa saat.
Perasaan gembira dari pertemuan kembali mereka berdua, perasaan gembira dari tujuan mereka yang tercapai, dan perasaan gembira setelah mengetahui teman mereka juga berhasil mencapai tujuan mereka.
Semua perasaan itu meledak keluar secara bersamaan.
“...Hahaha! Ini hari yang baik!”
“Hari yang baik!”
Leinn mengatakan itu lalu meneguk gelasnya, diikuti oleh Roland meneguk gelasnya juga sambil mengeluarkan petir kecil dari tubuhnya.
“Aaah... Rasa minuman ini masih aneh berapa kalipun aku mencobanya” ucap Leinn sambil mengerutkan dahinya.
“Benarkah? Aku sudah mulai terbiasa”
Roland mengangkat satu alisnya setelah mendengar itu sambil mengisi ulang gelas mereka.
Leinn hanya mengambil gelas penuhnya tanpa menjawab.
Mereka berdua kembali menikmati pemandangan langit malam sambil mengingat kenangan lama.
Ingatan-ingatan itu terus bermunculan lalu akhirnya satu ingatan muncul dengan jelas.
“”Hahaha....”””
Leinn dan Roland menoleh dan melihat satu gelas di antara mereka secara bersamaan dan menyadari mereka berdua sedang mengingat hal yang sama, membuat tawa mereka keluar sekali lagi.
“Haha...”
“Ha...”
Tawa mereka berhenti dan mereka mulai terlarut dalam kenangan itu.
__ADS_1