
Dua pemuda itu hanya duduk di sana sambil menyentuh pundak mereka sendiri.
Leinn tersenyum pada mereka lalu mengembalikan perhatiannya pada Kurt.
“Lalu? Apa lagi?”
Kurt melanjutkan ceritanya itu.
Setelah mereka bertemu kembali, akhirnya Kurt kembali ke posisi pengawasnya dan mereka berempat kembali mengelilingi hutan mencari Beast dan akhirnya menemukan kelompok Raccoon Beasts. Melihat langit yang sudah gelap, mereka berencana kembali ke perkemahan pagi berikutnya.
Dalam percakapan mereka di malam itu, mereka mendapat ide untuk kembali ke dalam sarang Giant Tarantula, tepatnya di sarang utamanya untuk mencari telur yang belum menetas.
“Huh”
Leinn menyadari mereka berlima membawa kain di pundak mereka yang mengikat sesuatu yang berbentuk bulat.
Kurt meneruskan, keesokan paginya mereka bereempat memanggil pengawas yang kebetulan masih dirinya sendiri. Mereka menjelaskan rencana mereka dan melihat potensi harta di dalam sarang itu, akhirnya Kurt menemani mereka.
Dia mengirim Gnome untuk memeriksa situasi dan menemukan tempat itu sudah kosong, sepertinya hampir semua Giant Tarantula sudah terbunuh di hari sebelumnya.
“Jadi kami berjalan masuk ke dalam sarang itu begitu saja dan menemukan ini”
Kurt melepaskan kantung kain di pundaknya dan memperlihatkan isinya, sebuah telur putih bulat berukuran sedang.
Empat remaja dibelakangnya juga menunjukkan isi kantung mereka, empat telur dengan ukuran lebih kecil.
Telur di tangan Kurt setidaknya memiliki diameter 30 sentimeter, empat yang lain hanya berdiameter 12 sentimeter.
“Kelihatannya kelompok Giant Tarantula itu sudah mencapai jumlah maksimal mereka. Broodmother itu hanya mengeluarkan telur penjaga elit dan penerusnya saja”
Mereka hanya menemukan lima telur di bagian terdalam sarang itu, yang tidak lain dari telur Giant Tarantula Broodmother dan empat telur Elite Giant Tarantula.
Mengetahui betapa berharganya telur itu, empat remaja itu langsung menyerahkan telur Gaint Tarantula Broodmother itu pada Pengawas Kurt.
Kurt hanya menerima pemberian itu dengan sebuah senyuman dan mereka mulai berjalan keluar dari hutan.
“I-ini!”
Bersamaan dengan cerita yang selesai itu, mereka berempat mengulurkan empat telur itu pada Leinn.
Dia hanya melihat empat telur di depannya sesaat lalu kembali menatap mereka.
“Aku tidak pernah memakan telur laba-laba”
Tangan yang diulurkan itu terlihat sedikit bergetar.
Kurt berjalan ke sampingnya dan menjelaskan nilai telur itu.
“Ini adalah telur Elite Giant Tarantula, Beast yang pasti mencapai Rank B tanpa bantuan bahan berharga apa-apa! Kau orang pertama yang kutemui yang ingin memakan telur seberharga ini!”
Ternyata seperti itu. Jika Leinn menerima empat telur itu, dia bisa membuat Contract dengan 4 bayi Elite Giant Tarantula dan tidak lama setelah itu dia akan memilki 4 Rank B Beasts sebagai Contracted Beast-nya.
Memahami ini, dia mulai menganggukkan kepalanya.
“Aku menolak”
“Eh?!”
Leinn mengerutkan dahinya.
__ADS_1
Melihat ekspresi itu, mereka berempat menarik kembali tangan mereka dengan cepat.
“Kalian mendapat kesempatan untuk menjadi kuat, jangan buang itu begitu saja”
“T-tapi...”
Leinn menghela nafasnya setelah melihat ekspresi tidak puas di wajah mereka berempat.
“Jadilah lebih kuat. Cukup kuat untuk membantuku ketika aku membutuhkan kalian”
Leinn berbalik dan berjalan kembali ke tendanya bersama Basalt.
“Sampai nanti Kurt”
“O-oke!”
Mereka berempat menatap telur di tangan mereka, kesempatan untuk menjadi kuat. Ketika mereka mengangkat wajah mereka dan melihat punggung pemuda seumuran mereka yang terlihat sangat besar itu semakin menjauh, hasrat untuk bertambah kuat telah menyala di mata mereka.
Kurt menyadari apa yang telah Leinn lakukan dan tersenyum. Sepertinya rencananya untuk memberikan telur Broodmother padanya juga tidak akan berhasil.
“Huh?”
Senyumannya hilang ketika dia menyadari tujuan langkah Leinn, dua tenda di tengah padang rumput. Dia mengetahui identitas tenda itu, Runed Gear yang seharusnya menjadi hadiah untuk calon siswa yang berhasil membuat Contract dengan Rank B Beast.
Dan dia melihat dua tenda berdiri di sana, membuatnya teringat tentang Aura Flameheart.
“M-mereka berdua, dua Rank B Beast...?”
...
Waktu berlalu dengan cepat dan akhirnya sudah tengah malam. Leinn baru menyelesaikan latihannya dan Basalt terlihat sedang melakukan push-up tidak jauh darinya.
Leinn yang mengajarinya cara berlatih seperti itu dan Basalt sudah melewati hitungan 10.000 push-up tanpa terihat lelah.
“Hm...”
Angin malam bertiup menggoyang dedaunan di hutan gelap itu, mengisi kesunyian dengan suara gesekan daun.
Leinn menyarungkan kembali pedangnya dan melihat ke arah hutan itu, lalu memanggil Basalt yang masih melakukan push-up di dekatnya itu.
Gorila kecil itu berjalan ke depannya.
“Tolong berjaga sebentar. Aku ada urusan”
“Hoh!”
Basalt mengangguk kuat dan langsung duduk di rumput dan mulai memperhatikan area sekitarya, dengan tubuhnya yang mulai membesar kembali. Di saat itu juga, Clear muncul dan mendarat di kepalanya.
Setelah memastikan keadaan dua Beast yang berjaga dengan serius itu, Leinn berbalik dan berjalan ke arah hutan gelap.
Dia terus berjalan santai dan melihat jarak yang tidak dekat diantara tenda dan hutan itu, cukup waktu sudah berlalu ketika Leinn sampai di tempat tujuannya.
“Sampai kapan kau ingin bersembunyi?” Dia berhenti 10 meter dari salah satu pohon tinggi di bagian terluar hutan itu.
Setelah kesunyian beberapa saat, satu bayangan meloncat turun dan mendarat di depannya.
Pemuda dengan topeng dan jubah yang menyembunyikan seluruh tubuhnya berdiri di sana. Dia menatap Leinn degan tatapan tajam, tidak melewatkan sedikitpun gerakan kecil darinya. Setelah beberapa saat melakukan itu, dia mulai berbicara.
“...Apa tujuanmu mendekati Aura Flameheart?” suara laki-laki keluar dari balik topeng itu, terdengar sangat dingin.
__ADS_1
“Apa tujuanmu mengikutinya?” Leinn menjawab dengan pertanyaan lain.
Pria berjubah itu kembali terdiam setelah mendengar pertanyaan itu, kalung capung hijaunya terlihat mengkilap terkena sinar bulan.
Leinn sudah menyadari pemuda berjubah di depannya itu sudah memperhatikan Aura sejak sebelum tes ini dimulai.
“...aku menerima pesanmu...” ucapnya sambil menarik keluar selembar kertas lusuh.
“Oh itu? Aku bohong”
Mata di balik topeng itu terbuka lebar mendengar pengakuan itu, dia tidak menyangka pria ini sangat tidak tahu malu. Dia melihat kertas lusuh di tangan kanannya yang bertuliskan sebuah ancaman yang jelas itu.
Leinn menatap pemuda di depannya selama beberapa saat, lalu senyuman muncul di wajahnya.
“Melihat kau tidak berani mendekat, apa kau bukan seseorang yang menginginkan Aura Flameheart dalam bahaya?”
“...”
Leinn sudah melihat situasi ini selama beberapa hari. Dia bisa merasakan pria di depannya ini sudah mengalihkan perhatiannya dari Aura pada dirinya.
“Apakah Blaze Flameheart yang mengirimmu?”
“...”
Pria itu tidak menjawab pertanyaannya itu, hanya mematung disana.
Tetapi itu terlihat cukup oleh Leinn. Dia tertawa kecil sambil menatap topeng pria itu dengan senyumannya.
“Kalau begitu kita tidak punya masalah”
Sejak awal munculnya pemuda bertopeng itu, Leinn sudah berada di dalam posisi berdiri santai. Sepertinya dia percaya pertarungan tidak akan terjadi dan tidak mengambil posisi siaga sedikitpun.
Itu menyebabkan ketegangan di antara mereka menjadi tidak terlalu tinggi. Sampai...
“Apa kau tidak akan memperkenalkannya?” Leinn menunjuk ke arah kaki pemuda asing itu.
“...!”
Dia langsung melompat mundur dan berlindung ke dalam hutan, hilang dari pandangan. Dia tidak menyangka pemuda berambut hitam itu bisa menyadari keberadaan Contracted Beast-nya.
Dari dalam bayangannya mulai muncul kepala berbulu tebal, kepala seekor anjing hitam. Seharusnya dia tersembunyi dengan sempurna di dalam bayangannya.
“Hey~”
Leinn mulai berjalan masuk ke dalam hutan sambil melambaikan tangannya ke tempat persembunyian pria bertopeng itu.
Pria bertopeng itu sudah bersiap menyerangnya sampai secara tiba-tiba, dia merasakan perubahan suasana di sekitarnya. Tekanan yang hebat dan niat membunuh yang pekat memenuhi area itu.
Leinn sudah kehilangan senyumannya saat menoleh ke arah tendanya dan langsung membalikkan badannya, dan berlari kembali kesana sekuat tenaganya.
Boom!
Ekspresi dingin dapat terlihat sekilas di wajahnya sebelum dia sudah menjadi sangat kecil di kejauhan.
Pria bertopeng itu hanya berdiri di sana dengan pisau hitam di tangannya dengan perasaan campur-aduk. Dia tidak bisa memahami isi kepala pemuda berambut hitam itu.
__ADS_1