
“Apa kau masih hidup, Roland?”
“Sebagian besar, Leinn”
“Malam yang cerah bukan?”
“Yup”
“Apa kau sudah bisa bergerak?”
“Belum, kau?”
“Belum juga”
“Heeey... berhenti mengabaikanku...”
Dua pemuda dapat terlihat sedang berbaring bersebelahan di lapangan rumput sambil melihat langit malam yang sudah tidak memiliki satu awan pun. Mereka berdua terbaring disana dengan tubuh yang sudah dipenuhi luka dan terlihat tidak memedulikan satu gadis yang juga terbaring tidak jauh dari mereka, yang sedang menghadap tanah.
“...aaah lapar!”
Leinn terlihat berusaha mengangkat tangan kanannya untuk meraih tas besar yang terbaring di dekatnya sebelum akhirnya menyerah, melihat hanya jari telunjuknya saja yang bisa bergerak saat ini.
“Hah...”
Roland sebenarnya juga sedang merasakan hal yang sama, tetapi dia sudah menyadari keadaan tubuhnya dan sudah menerima kenyataan. Jadi dia hanya menunggu bantuan yang seharusnya akan menemukan mereka tidak lama lagi.
“Leinn... hiks... Roland...”
Hinata yang tidak bisa menggerakan tubuhnya telah dipaksa menatap tanah selama beberapa menit terakhir, hal itu ditambah dengan panggilannya yang tidak dipedulikan, akhirnya membuatnya mulai menangis?
“...”
“...”
Tetapi Leinn dan Roland terlihat tidak bergeming, karena situasi saat ini memang disebabkan oleh gadis yang tidak tahu batasan sama sekali itu. Mereka berdua tidak menyangka semua sisa kekuatan mereka akan mereka gunakan untuk melindungi diri mereka dari serangan teman tim mereka sendiri.
“Hey...”
Mereka sudah mengetahui gelombang yang akan dihasilkan dari serangan Hinata itu tidak akan kecil, tetapi mereka tidak menyangka gadis itu akan menggunakan seluruh kekuatannya yang sudah jauh berbeda dengan terakhir kali mereka melihatnya tanpa ragu-ragu.
Jadi serangan yang cukup kuat untuk membinasakan makhluk setingkat diatasnya menghantam Disaster Beast itu dengan telak, membinasakannya.
Lalu diikuti dengan gelombang pukulan yang melayang ke langit, melenyapkan sebagian besar gunung api di depan mereka bersama dengan semua awan di langit.
Kemudian menghasilkan gelombang yang menghantam tubuh gadis itu sendiri dan dua pemuda di belakangnya, memaksa mereka bertiga untuk melayang sangat jauh sambil melindungi diri dari semua serpihan batu dan angin tajam yang menghantam mereka.
“Pergantian bulan sudah dekat ya?”
__ADS_1
“Ya, kau ada rencana untuk melihatnya?”
“Mungkin, di tempat biasa”
“Hey... hey...”
Leinn berhasil menangkap tas besarnya yang secara kebetulan juga melayang ke arah yang sama dengan mereka bertiga, dengan bantuan Roland yang mengingat ada beberapa benda berharga di dalam tas itu, meninggalkan Hinata yang sudah terlindungi dari benturan pertama gelombang ledakan dari serangannya sendiri itu melayang bebas di udara.
Energi mereka juga kebetulan habis ketika mereka berhasil keluar dari dalam gelombang angin yang menyeret mereka, membuat mereka jatuh lemas di tanah.
Jadi inilah situasi saat ini, dua pemuda yang menatap langit dan satu gadis yang menatap tanah, di tengah padang rumput yang sama sekali tidak memiliki makhluk hidup lain.
Leinn terlihat memejamkan matanya dan mengerutkan dahinya bersama Roland yang terlihat sangat terganggu juga, karena mereka semakin sulit tidak menghiraukan isakan gadis di dekat mereka.
“...apa yang ingin kau bicarakan” ucap Leinn tanpa membuka matanya.
“Hah...” hela Roland sambil melihat langit malam.
Akhirnya mereka berdua mengaku kalah juga.
“...yay! Apa kalian melihat seranganku tadi? Aku juga melihat perubahan kalian tadi! Kalian sudah jauh lebih kuat dibandingkan terakhir kali aku melihat kalian! Aku yakin nanti kita akan bisa mengalahkan...”
Hinata mulai meluapkan semua yang ingin dia bicarakan sekaligus, tidak menyadari ekspresi dua pemuda di depannya yang sudah berubah.
“Kau...”
Leinn dan Roland yang menoleh ke atas tanpa bisa menggerakkan leher mereka langsung menemukan gadis yang dari tadi menatap tanah itu ternyata sudah bisa menggerakkan lehernya dan sedang berbicara sambil melihat ke arah mereka, mereka berdua juga menyadari bahwa wajah gadis itu ternyata masih bersih tanpa bekas air mata sedikit pun.
“...”
“...”
“K-kenapa kalian berdua?!”
Leinn langsung memejamkan matanya dan terdiam, sedangkan Roland juga memejamkan matanya sekaligus memanggil Twig agar menolong mereka dengan lebih cepat.
“H-hey!”
Rumble...
Dan tentu saja, seekor ular raksasa dapat terlihat sedang bergerak dengan cepat ke arah mereka di kejauhan.
...
“Bagaimana... apakah...”
“Isla, tenanglah!”
__ADS_1
Seorang gadis dapat terlihat sedang berusaha menenangkan teman di sampingnya yang terlihat sangat pucat, yang sedang berusaha mengangkat dirinya dari kursi tempat duduknya tanpa berhasil.
“Hah... hah...”
Isla terlihat tidak bisa mengumpulkan tenaga di kakinya yang sudah menjadi lemas dan juga gagal ketika berusaha mengatur nafasnya yang memburu. Ini adalah hasil dari perasaan cemasnya yang sudah meningkat sampai ke batas puncak, yang akhirnya meledak ketika berita tentang Beast Stampede baru masuk ke seluruh cabang Hunter Guild di Benua Bagian Api.
Kemungkinan terburuk yang diperkirakan telah terjadi, Beast Stampede mulai berlari ke semua arah dalam jumlah yang besar dan gelombang pertama dari kumpulan Beast itu baru saja dihentikan, dan itu setelah mereka melewati dan menghancurkan beberapa desa dan kota kecil yang menghalang mereka.
Hunter-hunter cadangan yang berjaga di kota-kota yang dihantam gelombang Beast itu akhirnya bisa memukul mundur gelombang itu. Tetapi kabar buruknya ternyata belum selesai karena walaupun Raid Party utama yang terbentuk dari begitu banyak Rank B Party itu berusaha menghalau gelombang Beast yang lari, mereka akhirnya melewatkan gelombang Beast yang kedua dengan jumlah yang jauh lebih banyak dan kuat dari sebelumnya.
Semua Rank A Party juga sedang sibuk melawan Disaster Beast yang tiba-tiba muncul dan berniat menghancurkan Kota Perdagangan Aldebaran, tempat Raid Party ini seharusnya bertahan dari Beast Stampede ini.
Disaster Beast ini bukan hanya membuat Beast Stampede bubar sangat awal, dia juga membuat semua Rank A Party menjadi sibuk melawannya.
“Ah...”
Dan laporan yang paling mengejutkan Isla adalah ketika menyadari salah satu kota yang hampir hancur di gelombang pertama Beast itu adalah kota tempat kedua orang tua dan adiknya sedang berada.
Gelombang kedua yang lebih besar akan meratakan mereka semua.
“Isla, sadarlah!”
Pergi sendiri kesana? Walaupun dia bisa secara ajaib sampai disana, dia tidak akan bisa melakukan apapun dengan kekuatannya yang sangat kecil.
Mengirimkan bantuan? Tidak ada satupun Party yang memiliki kemungkinan membalikkan keadaan tidak sudah ada disana, bertarung di garis depan.
Jalan buntu, tidak ada cara, tidak ada seorang pun yang bisa-
Ding!
Suara yang jelas tiba-tiba terdengar dari Linker Biru yang ada di sisinya, membuat gadis itu tersentak kaget dan langsung menoleh ke sana. Di layarnya dapat terlihat jelas tulisan yang tidak ada di sana sebelumnya, yang membuatnya membuka matanya dengan sangat lebar.
[Rank A Urgent Mission, Membersihkan Mountain Crawler dari sekitar Kota Tambang Adamant – Complete]
[Rank A Urgent Mission, Menstabilkan Keadaan Gunung Lucerna dan Mencari Tahu Sumber Kelainan Situasi – Complete]
Isla melihat dua deret tulisan itu dan langsung memeriksa Linker yang ada di tangannya dan tentu saja, dua nama yang sebelumnya berwarna abu-abu telah berubah menjadi hijau. Menggunakan seluruh sisa tenaganya, gadis itu menekan alat di tangannya secara terus-menerus tanpa berkedip sekalipun.
Dia perlu menyampaikan pesan ini.
...
Seorang pemuda berambut hitam terlihat sedang duduk sambil melihat alat yang baru saja ditariknya keluar dari saku bajunya. Mata hitamnya yang sedang melihat layar terang di depannya terlihat sedang mengeluarkan ketajaman yang tidak biasa.
__ADS_1