Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 73 – Tiga Anak di Bawah Pohon Persik


__ADS_3

Angin malam yang sama, bulan merah penuh yang sama, dan mereka berdua yang bersama.


Dua anak kecil dapat terlihat sedang duduk di bawah pohon bunga persik yang ada di atas bukit rumpun besar dengan ekspresi berbeda di wajah mereka.


“Kenapa kita masih menunggu disini? Dia pasti sudah lupa dengan janji itu!”


Anak berambut hitam meloncat berdiri dan mengepalkan tinjunya dengan ekspresi kesal, terlihat berniat meninggalkan tempat itu.


“T-tunggulah sebentar lagi, m-mungkin saja dia hanya terlambat...”


Suara kecil dari anak berambut pirang di sampingnya berhasil menghentikannya dan mereka berdua kembali duduk diam di bawah pohon itu.


Setengah jam berlalu sampai akhirnya anak berambut hitam itu meloncat berdiri sekali lagi.


“Sudahlah! Aku ingin kembali tidur, cari aku-“


Kalimatnya terpotong ketika dia menyadari seseorang yang sedang berlari ke arah mereka.


Anak berambut pirang disampingnya juga bangun ketika melihat itu dan senyuman kecil muncul di wajahnya.


Orang itu berhasil berlari dari bawah bukit dan mencapai mereka kurang dari lima detik, membawa angin keras yang menerbangkan dedaunan di sekitar mereka.


Daun-daun merah muda mulai melayang di antara mereka, menjadikan sebuah pemandangan dimana tiga anak kecil di atas bukit yang dikelilingi ratusan helai daun persik.


“Shishishi, aku berhasil mendapatkannya!”


Anak baru itu menunjukkan kantung kulit di tangannya sambil tertawa, rambut putih pendeknya terlihat bergoyang mengikuti tiupan angin malam.


Anak berambut hitam terlihat tidak senang dan perasaannya memburuk ketika dia melihat anak berambut pirang tersenyum ke arahnya sambil menunjuk anak baru itu.


Anak berambut putih itu terlihat tidak menyadari interaksi mereka berdua dan sudah mulai duduk di rumput, diikuti oleh dua anak di depannya.


Dia mulai membuka kantung kulit di tangannya dan menarik keluar botol arak besar dan tiga gelas kecil.


Anak berambut putih itu mengangkat botol arak dan gelas kecil di kedua tangannya.


Diikuti oleh anak berambut pirang yang mengangkat gelas kecil itu juga.


Anak berambut hitam di depan mereka menghela nafasnya dan mengangkat gelas yang tersisa itu.


Dua anak itu melihat anak berambut putih itu menuangkan separuh botol untuk mengisi tiga gelas kecil di tangan mereka, menumpahkan sebagian besar isinya dan membasahi rumput di bawah mereka.


Mereka bertiga berdiri dan mengangkat gelas penuh itu setinggi mungkin dan mulai menatap bulan merah di langit malam di atas mereka.


“Walaupun tidak memiliki hubungan keluarga, kami bertiga bersumpah untuk membantu satu sama lain. Berjalan dalam kesulitan dan kesenangan bersama-sama”

__ADS_1


Anak berambut putih mulai mengatakan kalimat yang disiapkannya dengan senyuman lebar di wajahnya.


“K-kami bersumpah untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Menjadi suara bagi yang tidak bersuara”


Anak berambut pirang berhasil menyampaikan bagiannya dengan hampir sempurna, membuat senyuman kecil muncul di wajahnya.


“Kami mungkin lahir di hari yang berbeda, tetapi kami memilih untuk mati di hari yang sama. Tidak membiarkan kejahatan datang dan pergi tanpa pembalasan”


Anak berambut hitam tersenyum saat menyelesaikan bagiannya dan mengangkat gelasnya juga.


Mereka bertiga mengulurkan dan menyentuhkan tiga gelas mereka.


“””Langit di atas, Bumi di bawah dan Pohon Persik ini akan menjadi saksi sumpah kami!”””


Cling!


Suara merdu dapat terdengar jelas dan angin malam menggoyang pohon persik itu dengan keras, menjatuhkan dedauannya lagi.


Tiga anak itu saling melihat satu sama lain dan tersenyum, menghabiskan gelas mereka dalam sekali teguk.


Tiga gelas kosong jatuh ke atas rumput secara bersamaan bersama botol arak yang mulai mengeluarkan isinya ke tanah.


Tiga anak itu langsung bergerak secara bersamaan dan meletakkan telapak tangan mereka pada pohon persik itu.


“””Hooooeeeek...!”””


...


“Khehehehe...”


Tawa aneh keluar dari pemuda berambut hitam itu saat melihat gelas kosong d tangannya, mengingat kenangan pertama kalinya dia meminum arak itu.


“Ahahaha!”


Pemuda pirang di sebelahnya tertawa lepas setelah meneguk habis gelas di tangannya setelah mengingat hal yang sama, kedua matanya terlihat mengeluarkan percikan-percikan petir.


Wajah kedua pemuda itu sudah sangat merona dan mereka terlihat menjadi lebih emosional.


Alasan kondisi itu adalah tiga botol arak kosong dan satu botol arak yang tersisa separuh saja di antara mereka.


“Aku masih tidak percaya kau menjadikan seekor burung besar sebagai partnermu”


Leinn mengatakan itu sambil mengisi ulang gelas mereka, dia juga terlihat sedikit mengerutkan dahinya.


“Beberapa hal terjadi dan hasilnya begitulah... Bagaimana denganmu sendiri? Kau membuat Contract dengan Slime!”

__ADS_1


Roland meneguk gelasnya dan mengatakan itu semua dalam satu tarikan nafasnya, lalu menoleh dan melihat Leinn yang sedang termenung sambil melihat gelas di tangannya.


“Beberapa hal... terjadi?”


Mereka berdua saling bertatapan setelah Leinn memberikan jawabannya.


Kesunyian muncul selama beberapa detik, lalu senyuman besar muncul di wajah mereka berdua.


“Pffft... Hahahaha...!”


“Ahahaha...!”


Leinn menemukan alasannya yang sama dengan alasan Roland itu sangat lucu, begitu juga sebaliknya.


Kemungkinan besar penyebab itu adalah jumlah alkohol yang sudah dikomsumsi mereka berdua.


Ini adalah pertama kalinya mereka berada dalam keadaan ini dan mereka menemukan berbagai hal sangat menghibur tanpa alasan yang jelas.


Mereka bahkan mentertawakan bulan yang berubah warna ketika mencapai akhir bulan di depan mereka itu.


Mereka berdua terus menertawakan berbagai hal sepele selama beberapa saat sampai ketika pandangan mereka berhenti pada gelas ketiga di antara mereka.


Senyuman kecil muncul di wajah mereka berdua yang sudah cukup merah, berbeda dengan ekspresi mereka sebelumnya.


Dua gelas di tangan mereka bergerak bersamaan dan menyentuh gelas ketiga itu.


Cling!


Suara merdu terdengar jelas dari benturan tiga gelas itu.


Leinn dan Roland akhirnya berhenti tertawa dan kembali menikmati ketenangan malam dalam kesunyian.


...


Jauh dari tempat dua pemuda mengenang masa lalu mereka itu, tepatnya di gerbang utama kota itu sedang kedatangan pendatang baru.


Dua orang yang mengenakan jubah yang menutupi seluruh tubuh mereka sedang duduk di atas kereta besar yang sedang ditarik oleh seekor burung besar.


Mereka sedang menunggu pengawal gerbang yang sedang memeriksa identitas mereka sebelum memasuki kota itu.


Salah satu dari orang berjubah itu mengalihkan perhatiannya ke arah menara tinggi dari akademi terbesar di kota itu.


Senyuman lebar dapat terlihat mengintip dari celah jubahnya.


“Shishishi...”

__ADS_1


 


 


__ADS_2