Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 71 – Api yang Membara


__ADS_3

Spirit Beast adalah satu jenis Beast yang sangat jarang dilihat, karena mereka tidak suka berinteraksi dengan manusia dan biasanya hidup di tempat yang sulit untuk ditinggali manusia.


Sebagian besar orang menganggap Spirit Beast sebagai kumpulan Mana yang memiliki kesadaran, hal itu tidak salah tetapi tidak sepenuhnya benar juga.


Mereka adalah makhluk yang tidak memiliki tubuh fisik dan mampu menggerakan Mana di udara seperti bagian tubuh mereka sendiri.


Tentu saja mereka hanya bisa menggunakan Mana yang sama dengan elemen mereka sendiri, seperti Water Spirit Beast yang tidak akan bisa menggunakan Mana Tanah.


“...!”


Wajah kecil peri es itu menunjukkan ekspresi tegang dan kedua tangan yang diulurkannya terlihat mulai membentuk bongkahan es baru. Kemampuan sihir dan wajah yang sangat ekspresif itu menunjukkan dia sudah menjadi Rank B Spirit Beast.


Di tengah arena yang dipenuhi Mana Angin seperti sebelumnya itu, Ice Spirit seperti Elsa hanya akan bisa mengeluarkan kekuatan tidak lebih dari Rank D Beast tanpa bantuan Mana dari Adeline.


Tetapi di situasi saat seperti ini, dimana mereka bertarung di tengah lautan Mana Es dari sihir Adeline itu adalah cerita lain.


Dengan jumlah Mana Es yang hanya bisa ditemukan di Gunung Eternal Winter ini, Elsa bisa mengeluarkan kekuatan yang sama dengan Rank A Beast.


Elsa mengangkat kedua tangannya dan bongkahan es setinggi sepuluh meter berhasil tercipta di atasnya. Dia mengayunkan kedua tangannya itu ke bawah dan bongkahan es itu meluncur ke arah Aura dan Rufus dengan cepat.


Crash!


Rufus menendang lantai dengan keras dan berhasil meloncat keluar dari area serangan itu.


Bongkahan es besar menabrak tempat berdiri mereka berdua sebelumnya dan pecah berkeping-keping, tanpa berhasil meninggalkan bekas di lantai arena beku itu.


Aura memutar pikirannya dengan cepat di atas Rufus yang terus menghindari serangan Elsa, yang membentuk hujan es selebar dua puluh sentimeter yang terus berjatuhan di sekitar mereka berdua.


Bertarung melawan Rank B Ice Spirit Beast di tengah lautan Mana Es dengan sihir api di tubuh Rufus yang sudah mulai kehabisan efeknya itu mulai terlihat buruk.


Jika Aura terus menunggu maka Adeline akan berhasil memulihkan tenaganya dan ikut bertarung juga.


Dengan Mana yang masih dimilikinya, Aura tidak akan bisa menang melawan dua pengguna sihir es itu.


Taktik demi taktik muncul dan hilang, pikirannya terus berputar semakin cepat.


Aura memejamkan matanya dan terus berpikir keras, keringat mulai membasahi dahinya dan setelah sepuluh detik berpikir di tengah hujan serangan itu, dia akhirnya membuka matanya.


“...’


Yang bisa terlihat di kedua matanya itu adalah perasaan putus asa.


Aura tidak berhasil menemukan cara untuk mengalahkan Spirit Beast itu dalam waktu singkat. Semua taktik yang mungkin berhasil membutuhkan waktu yang lama untuk berhasil, yang akan membiarkan Adeline memulihkan Mana-nya.

__ADS_1


Aura tidak bisa menemukan sebuah jawaban, dan disaat dia hampir menyerah... sebuah ingatan terlintas sekejap.


“Haha...”


Tawa kecil keluar tanpa sadar dari mulutnya yang membentuk senyum kecil secara tiba-tiba.


Api semangat kembali menyala di kedua mata Aura dan dia mulai menggenggam tongkat di tangannya dengar erat.


Semua taktik dan rencana berhenti muncul di kepalanya, menyisakan satu pertanyaan.


‘Apa yang Kak Blaze akan lakukan di situasi ini?’


Setelah bertahun-tahun melihat dan mendengar cerita Kakaknya itu, jawaban dari pertanyaan itu langsung muncul.


“Rufus!”


“Woof!”


Merasakan semangat dari Contractor-nya itu, Rufus mulai meloncat mundur dan meningkatkan jarak antaranya dan lawannya.


Aura sudah mulai memejamkan matanya dan merapalkan mantera singkat.


Lingkaran sihir merah muncul dan mulai berputar di bawah kaki Rufus, tetapi Aura tidak berhenti disana dan terus mengalirkan Mana-nya sambil merapalkan mantera yang sama bersama dengan ayunan tongkatnya yang teratur.


Aura baru membuka matanya ketika seluruh Mana-nya terkuras habis dan lapisan kelima muncul di lingkaran sihir merah itu.


[Flame Booster, Fivefold]


Aura meluncur dari punggung dan ekor Rufus, lalu berhasil menginjakkan kakinya di atas lantai beku dengan mulus.


Lingkaran merah berlapis lima di bawah kaki Rufus berputar semakin cepat dan mulai bersinar terang.


Seluruh tubuh serigala besar itu mulai menyala perlahan dan akhirnya diselimuti oleh api putih membara. Bulu putih Rufus terlihat menyatu dengan api putih itu dan membuatnya terlihat seperti kobaran api berbentuk serigala raksasa.


Tanpa rencana atau persiapan untuk serangan lanjutan, ini adalah jawaban yang Aura temukan. Satu serangan dengan seluruh Mana dari Aura dan seluruh kekuatan fisik dari Rufus.


Whoong


Hujan serangan dari Elsa sudah berhenti ketika Adeline melihat tiga lingkaran berlapis di bawah kaki Rufus. Sekarang dia sudah mulai merapalkan sihirnya sendiri dengan bantuan Elsa, sebuah lingkaran sihir biru sudah berputar di lantai beku di depannya.


[Ice Wall]


Bersamaan dengan Rufus yang menendang keras lantai es itu, dinding es berwarna biru tua muncul di depan Adeline.

__ADS_1


Sihir es tingkat rendah Ice Wall adalah salah satu sihir pertahanan yang pertama dikuasai olehnya, seharusnya tidak cukup untuk menahan serangan yang akan datang itu.


Tetapi Ice Wall ini terbentuk dari Es Abadi yang sangat terkenal sebagai bahan dasarnya, walaupun belum sempurna.


Rufus yang meluncur di udara itu berubah menjadi bola api putih yang menyala terang, yang menyebabkan penonton di stadium itu berhenti menggigil ketika merasakan kehangatan yang dipancarkan api putih itu.


Dia menggunakan cakar dari dua kaki depannya sebagai mata tombak dan mulai berputar ke arah tembok es itu.


Dalam sekejap Rufus mencapai tembok es biru tua itu dan akhirnya, cakar membaranya membentur pertahanan itu.


Boom!


Spiral api putih membentur tembok es biru itu dan menghasilkan gelombang ledakan keras yang menimbulkan uap putih yang menyebar dan memenuhi stadium, menutupi pandangan penonton disana.


Mereka mulai membuat keributan karena tidak bisa melihat hasil dari pertukaran akhir itu sampai tiba-tiba, angin kencang berhembus dari arena itu dan mengangkat uap putih itu.


Akhirnya mereka bisa melihat jelas situasi di atas arena itu, yaitu...


Rufus yang terbaring kehabisan tenaga di depan dinding es yang sudah pecah berkeping-keping.


Aura juga sudah jatuh dan tidak bergerak di tengah arena, terlihat sedang berusaha menstabilkan nafasnya.


Penonton disana mulai mencari tubuh Adeline dan menemukannya di luar arena itu.


Gadis kecil itu terlihat tidak sadarkan diri di pelukan Roland, yang menangkapnya ketika dia terpental keluar arena.


“Selesai!”


Suara Isaac terdengar dan menandakan pemenang pertarungan terakhir hari itu.


Sebagian besar penonton disana langsung mulai berjalan keluar karena suhu di udara yang mulai mendingin lagi. Melihat mereka yang sudah mulai bubar itu, Isaac dan guru-guru juga mulai meninggalkan stadium bersama mereka.


Leinn sudah berjalan di atas arena itu dan mengangkat Aura yang tidak memiliki kekuatan tersisa untuk memberikan perlawanan padanya. Dengan gadis kecil itu di pundaknya itu, dia mulai berjalan ke tempat Rufus terbaring sambil menoleh ke satu arah.


Roland terlihat menoleh sesaat padanya sebelum berbalik dan mulai berjalan meninggalkan stadium itu.


Twig terlihat melambaikan ekornya lalu bergerak mengikuti pemuda pirang itu dengan bola cahaya biru yang mendarat di kepalanya.


Leinn menggelengkan kepalanya lalu mulai memikul Rufus yang sudah menyusut di pundaknya.


Dengan gadis kecil dan serigala di kedua pundaknya, dia mulai berjalan keluar sambil diikuti gumpalan air di belakangnya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2