Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 126 – Situasi Menyebalkan


__ADS_3

“Roland?” ucap Leinn sambil mengangkat satu alisnya.


Dia tidak menyangka nama pemuda itu akan disebut disini, secara tiba-tiba.


“Ya, kalian berdua adalah satu-satunya Rank A Hunter di tahun ini, tidak akan ada masalah yang akan terjadi jika kalian melakukan misi Rank B+ ini bersama...?” Isla mulai tidak yakin dengan sarannya, melihat pemuda di depannya terlihat sama sekali tidak tertarik.


“Hm...”


Leinn mulai berpikir lagi, karena dia tidak terlalu yakin dia ingin pergi menyelesaikan ini bersama Roland. Bukan karena dia meragukan kemampuannya, tetapi karena ada kemungkinan misi ini akan menjadi sangat membosankan.


“Um... Hanya murid Rank B ke atas yang bisa menemani anda dalam misi ini...”


“Huh”


Sekarang Leinn menjadi semakin bingung, karena selain Rank Roland yang baru saja dia ketahui, dia tidak pernah mengetahui Rank Aura dan yang lain.


Isla terlihat menyadari ekspresi bingung itu dan teringat tentang satu hal penting.


“Anda bisa melihat Rank milik kolega anda di daftar kontak anda, jika mereka tidak menyembunyikannya”


Leinn terlihat sedikit terkejut setelah mendengar itu dan mulai mengutak-atik Linkernya lagi. Kali ini dia mulai menekan beberapa tombol dan tentu saja, sebuah huruf muncul di samping nama-nama di depannya.


“Roland... A, Aura... C, Adeline... C, Hinata... kosong?, Lilya... E, Uther... E, Setanta... C”


Dan daftar nama itu berhenti disana. Sepertinya memang hanya Roland yang bisa menjadi pilihannya.


Isla menjadi terkejut ketika mendengar deretan nama itu, tidak menyangka dirinya akan tidak sengaja mengetahui informasi seperti itu.


“Um...”


Aura Flameheart sangat terkenal tidak pernah keluar dari kediaman Klan Flame heart dan Adeline Aimer juga diketahui menghabiskan sebagian besar hidupnya tanpa keluar dari Istana Es, mereka berdua seharusnya tidak mungkin bisa menjadi seorang Hunter sebelum memasuki Akademi Red Dawn.


Mereka berdua juga menghabiskan waktu mereka di Perpustakaan atau beberapa kelas yang lain, tidak pernah mengunjungi Pusat Misi sama sekali.


Jadi dia juga mengetahui bahwa Tuan Puteri Flameheart dan Tuan Puteri Aimer masih memiliki Rank F ketika memasuki akademi, dan juga belum mengunjungi Pusat Misi selama sebulan terakhir. Itu berarti mereka berhasil mencapai Rank C hanya dengan Merit dari tugas kelas, sesuatu yang seharusnya tidak bisa dicapai oleh murid tahun pertama, apalagi di bulan pertama.


Leinn terlihat membulatkan pilihannya dan mulai mengutak-atik Linker di tangan-


“Ah...”


Lalu dia terlihat seperti mengingat sesuatu, terdiam, lalu menatap Isla yang sedang menunggunya.


“Isla, pinjamkan Linkermu padaku”


“Tentu...”


Isla baru tersadar ketika Linker miliknya sudah berada di tangan Leinn, yang sedang menekan beberapa tombol dengan cepat.


‘Eh?’


Kenapa dia memberikan Linkernya pada pemuda yang baru ditemuinya begitu saja?


“Selesai!”

__ADS_1


Leinn meletakkan kembali Linker milik Isla di atas meja dan menunjukkan senyum lebarnya.


“Dan sebagai tanda terima kasih dariku, aku memberikanmu sebuah nomor milik seorang pemuda tampan!”


Dengan satu kedipan mata perpisahan, Leinn berbalik dan berjalan meninggalkan bangunan itu.


“Kyuu!”


“Ah...”


Clear menembakkan tentakelnya dan meloncat menyusul Leinn yang sudah hampir keluar dari sana, meninggalkan resepsionis yang sejak tadi sedang mengelus tubuh transparannya.


Dan dengan seperti angin, pemuda dan Beast itu menghilang dari bangunan itu.


Suasana kembali menjadi seperti semula, dengan kelompok yang ada di meja itu mulai membicarakan apa yang baru saja terjadi.


“Isla... hei!”


Sophie menyentuh pundak gadis yang sedang mematung itu sambil melihat Linkernya.


“Ah...ah! Ada apa?!”


“Apa kau baik-baik saja...?”


Sophie mengeluarkan pertanyaan singkat, tetapi dia juga mengetahui apa yang sedang dipikirkan gadis di depannya itu.


Isla sendiri tidak menjawab pertanyaan itu, dia hanya meraih Linker miliknya yang terletak di depannya dan perlahan-lahan mulai mengecek daftar kontaknya dan tentu saja...


“Eh...?”


Sophie mulai mendekat perlahan dan mengintip untuk melihat layar itu...


“Pfft...!”


Suara terkejut bukan main keluar dari sela bibirnya, melihat satu nama yang ada di daftar kontak itu.


‘Roland Azure’


...


“Hm...”


“Ada apa, Roland...?”


“Tidak ada apa-apa”


Adeline menunjukkan ekspresi penasaran ketika melihat Roland yang tiba-tiba merubah posisi duduknya dan mengerutkan alisnya saat mendengar salah satu penjelasan guru di depan kelas mereka.


“Aku merasa... ada sesuatu yang menyebalkan yang akan terjadi-“


Ding!


Suara notifikasi tiba-tiba berbunyi pelan dari saku baju Roland, tanda dari pesan yang masuk.

__ADS_1


“Hm?”


Roland tidak memiliki banyak nomor terdaftar di Linkernya, selain Leinn dan Hinata yang sudah dimatikan notifikasinya, Adeline yang sedang bersamanya, dan...


“Apakah...?”


Ekspresi datar Roland menunjukkan sedikit perasaan bingung ketika melihat layar Linkernya, karena ternyata dia tidak mengenali nama yang muncul di layarnya.


“Apa isi pesan dari Aura itu?”


Adeline juga sudah menyadari bahwa hanya pesan dari Aura yang mungkin masuk dan masih bersuara saat ini, tetapi kenyataannya ternyata berbeda.


“Sepertinya...ah”


Ekspresi bingung tipis itu berubah menjadi ekspresi mengerti, yang berubah menjadi ekspresi kesal.


Crackle...


Petir kecil meloncat dari tepi mata kiri Roland yang sedang mengeluarkan senyuman yang sangat berbeda dengan yang biasanya dia tunjukkan pada Adeline beberapa minggu terakhir.


“Um... t-Tuan Muda Azure... a-apa ada yang salah dengan-“


“Maaf, saya perlu pergi, sekarang.”


“r-Roland...!”


Roland langsung meloncat berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu, diikuti oleh Adeline di belakangnya.


Tepat disaat mereka sampai di lorong di luar kelas itu, Roland langsung memejamkan matanya.


“Roland!”


Roland langsung membuka matanya dan tersenyum kecil pada Adeline yang sedang kebingungan, tetapi gadis itu bisa melihat senyuman di wajah pemuda itu saat ini tidak sedang ditujukan padanya.


“Aku perlu pergi, tidak akan lama”


“Hah...?”


Rumble...!


Bangunan tempat mereka berdiri terasa mulai bergetar, yang semakin lama semakin kuat.


“Aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan, jadi tunggulah saat aku kembali”


Roland langsung mengulurkan tangannya yang langsung disambut tanpa sadar oleh Adeline. Setelah menggenggam tangan Adeline itu dengan kedua tangannya, Roland lalu melepaskan tangannya dan langsung berbalik dan meloncat keluar dari jendela.


Rumble!


Getaran itu juga berhenti bersamaan dengan Roland yang hilang dari pandangan, diikuti dengan getaran yang jauh lebih kuat yang mengecil seiring berjalannya waktu.


Adeline yang tersadar langsung berlari ke jendela itu dan melihat keluar, lalu menemukan ular raksasa yang sudah bergerak sampai cukup jauh dalam beberapa saat itu saja. Perasaan bingung mulai berputar-putar dengan cepat, tidak bisa memahami apa yang baru saja terjadi.


“Eh...?”

__ADS_1


__ADS_2