
“Baiklah”
Jawaban cepat seperti tanpa pikir sedikitpun keluar dari mulut Leinn, mengejutkan Aura yang masih berdiri di tempat.
Leinn sendiri langsung bangun dari posisi duduknya dan mulai merenggangkan badannya.
“A-apa kau yakin...?”
“Yap”
Leinn menunjukkan senyuman lebarnya yang terlihat jauh lebih terang dibandingkan sebelumnya. Aura tidak mungkin mengetahuinya, tetapi sebenarnya Leinn juga ingin membuat Party bersamanya, hanya saja dia juga mengetahui bahwa Aura memiliki urusannya sendiri seperti tugas yang diterimanya dari Kelas Teori Sihir sebelumnya.
Hal ini membuat dirinya hanya bisa menahan diri saja, tetapi secara mengejutkan malah gadis itu yang mengajaknya.
“Kita bisa mengajak yang lain juga besok”
Jadi dia tidak memiliki alasan untuk merasa ragu.
“...ah! Ya, besok!”
Leinn menunjukkan satu senyuman lagi sebelum berjalan melewati Aura sambil menarik keluar sebuah kunci besar dari sakunya, kemudian memutar-mutar kunci itu di jari telunjuknya.
Aura juga mulai menyusul Leinn dengan langkah yang jauh lebih ringan dari sebelumnya dan bersama-sama, mereka meninggalkan Taman Atap Asrama ini.
...
Kafeteria akademi, siang hari.
“Apa kau bilang?”
Roland mengangkat satu alisnya sambil meletakkan sendoknya kembali ke mangkok supnya, melihat pemuda di seberang mejanya yang sedang melahap tumpukan makanan di depannya dengan kecepatan tinggi.
“Ya, ayo buat Party”
Adeline yang duduk di samping Roland menaikkan pandangannya dari buku tipis di depannya.
“Apa yang membuatmu berpikir kami akan ikut...”
“Ini ide Aura”
“Oh, kalau begitu tidak masalah”
Adeline kembali membaca buku di tangannya, tidak menyadari gadis yang sedang duduk di sampingnya dan melihat perubahan sikapnya dengan ekspresi tidak percaya.
“Jadi, apa tim kita ini punya nama?”
Kali ini gadis berambut putih yang sedang membaringkan kepala dan kedua tangannya di meja menoleh ke sampingnya lalu bertanya, pada Aura yang sedikit terkejut dengan pertanyaan itu.
“Aku... belum berpikir sampai disana”
Inilah pemandangan yang sedang menjadi pusat perhatian semua murid yang sedang ada di kafeteria saat ini dan secara kebetulan, bukan karena lima orang yang paling terkenal di akademi saat ini sedang berkumpul di satu tempat bersamaan.
__ADS_1
Mereka menjadi bahan perhatian karena pemandangan Leinn yang sedang melahap tumpukan makanan yang sampai memenuhi kedua sisinya juga, memaksa empat yang lain untuk duduk di sisi lain meja itu dan berhenti mengomentari nafsu makan pemuda itu.
Roland dan Adeline juga sudah merasa sedikit aneh melihat Leinn tiba-tiba mengajak mereka sarapan di kafeteria, sesuatu yang jarang dia lakukan belakangan ini.
“nom... kita bisa-nom... memikirkannya nanti...nom...”
Leinn tiba-tiba meningkat kecepatan makanannya ketika melihat Roland hampir menghabiskan supnya, dan dia juga sudah menyadari alasannya mengumpulkan mereka sudah terpenuhi.
Yang berikutnya perlu mereka lakukan adalah mendaftarkan Party mereka, sesuatu yang bisa mereka lakukan di Pusat Misi yang sama dengan yang mereka kunjungi sehari sebelumnya.
Aura dan Adeline menggeser gelas di depan mereka sebelum mulai berdiri, melihat Leinn sudah di piring terakhirnya dan Roland sudah mulai berjalan meninggalkannya.
Hinata terlihat masih duduk sambil menepuk-nepuk meja untuk menyemangati Leinn yang terlihat memasukkan potongan daging besar terakhir ke mulutnya.
“Nom-nom... glup...! Ayo!”
Leinn menyeka mulutnya dengan cepat dan mulai berjalan menyusul kelompok tiga orang itu bersama Hinata.
...
“Supernova?”
“Ya! Keren bukan!”
Leinn mengangkat satu alisnya ketika melihat Adeline di depannya yang sudah meletakkan kedua tangannya di pinggangnya dan terlihat sangat bangga.
Roland di sampingnya hanya memejamkan matanya, tidak menunjukkan reaksi yang besar.
“Apa kau yakin...?” ucap Leinn dengan ragu.
“Ya, bagaimana lagi. Aura tidak menginginkan nama sebelumnya”
Mereka sudah sampai di Pusat Misi tetapi tanpa seorang pun kira, mereka sudah menghadapi masalah pertama bahkan sebelum Party mereka terbentuk.
Ternyata membuat nama Party itu tidak mudah.
“...’The Hunters’ itu tidak buruk...”
“Jadi, sekarang kita memiliki dua nama akhir”
Suara Roland keluar sekeras bisikan tanpa dipedulikan oleh Leinn yang terus melanjutkan.
Beberapa nama sudah keluar tetapi akhirnya ditolak entah karena tidak terlalu jelas hubungannya dengan mereka atau sekedar tidak bagus saja.
Secara ajaib, ternyata nama yang disarankan oleh Leinn lah yang paling sedikit menerima penolakan.
“Berarti antara ‘Aura dan Kawan-kawan’ atau ‘Supernova’”
Ketika Leinn menyarankan nama itu, Adeline tidak terlihat memiliki masalah dan Roland juga menerimanya saja mengingat Party ini adalah ide Aura, Hinata juga terlihat sangat bersemangat saat itu. Tetapi satu dari mereka terlihat sangat menolak itu, jadi mereka mulai mencari nama lain dan setelah beberapa menit, Adeline memberikan satu nama itu.
Jadi sepertinya, masalah ini akan selesai...
__ADS_1
“...kenapa sepertinya ini sulit sekali. Bagaimana yang lain melakukan ini?”
“...ya”
Perdebatan ini berlangsung selama lima menit lagi dan terlihat cukup sengit, terutama antara Leinn dan Adeline.
Roland hanya diam saja sambil sesekali membisikkan nama yang dipilihnya dengan Aura yang hanya melihat saja, Hinata juga terlihat hanya diam dan seperti berpikir keras.
Adeline memberikan pandangannya dengan singkat dan jelas, sedangkan Leinn menunjukkan sisi seriusnya yang cukup langka.
“Bagaimana dengan ‘LAHAR’?”
...yang tiba-tiba terpotong oleh saran yang datang dari Hinata, yang sekarang sedang menunjukkan senyuman lebarnya.
“Seperti dari inisial kita! L, A, H, A, dan R... LAHAR!”
Adeline membuka mulutnya sesaat sebelum menutupnya kembali, seperti mulai berpikir nama sederhana itu tidak terlalu buruk.
Leinn terlihat merenungkan sejenak sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya.
Roland membuka matanya dan juga terlihat menyukai nama itu.
Aura terlihat sangat lega, melihat namanya tidak akan ada di muka Party mereka.
“Sepertinya anda sudah menemukan nama yang cocok, sekarang silahkan isi kertas pendaftaran ini sesuai instruksinya...”
Resepsionis yang sejak tadi menunggu mereka dibalik meja, Isla menunjukkan senyumannya sambil meletakkan selembar kertas dan sebuah pena di sampingnya.
Leinn tanpa ragu langsung melangkah maju dan mengambil pena itu, lalu mengisi kertas itu dengan sangat cepat.
“Dan... selesai!”
Leinn meletakkan penanya kemudian mengangkat kertas itu dari meja, melihat hasilnya dengan nama Party mereka, ‘LAHAR’ dapat terlihat jelas di bagian paling atas kertas itu.
Akhirnya kali ini, masalah ini benar-benar selesai...
“Ada apa lagi?!”
Adeline terlihat tidak sabar setelah melihat Leinn hanya mematung saja sambil melihat kertas di tangannya.
Leinn mengangkat pandangannya dan menatap gadis yang sedang mengerutkan dahinya itu, lalu dengan ekspresi paling seriusnya,
“Kenapa inisialku yang ada di paling depan? Bagaimana dengan AHARL, atau AAHLR-“
Aura langsung merebut kertas di tangan Leinn dan meletakkannya di depan Isla yang hampir tidak bisa mempertahankan senyuman sopannya.
“Ini kertas pendaftarannya! Kami adalah Party baru, LAHAR!”
__ADS_1