
“Jadi kau kalah?”
“Hoh...”
Pemuda berambut hitam duduk dengan gorila berbulu hitam, bersebelahan.
“Apa kau terima?”
“Hoh!”
“Leinn...”
Gadis berambut merah muda duduk di sisi lain pemuda itu dengan serigala berbulu putih, bersebelahan.
Dua pasang manusia-Beast itu duduk tanpa ada seorangpun yang berani duduk di kursi yang sama.
Pemandangan yang sama seperti sebelum pertarungan gelombang kedua itu dimulai, dengan bonus Aura, Basalt dan Rufus.
Leinn duduk di samping Basalt yang berbulu hitam, tepatnya hitam gosong.
“Hoh!”
“Ya ya, aku sudah tidak yakin kau bisa menang bertarung satu lawan satu dengannya”
“Hoh...”
Mereka bertiga sampai di stadium tepat di saat Leinn baru menyelesaikan pertarungannya, dan yang pertama dilakukannya adalah menertawakan warna baru Basalt itu.
Dia baru berhenti ketika dia melihat Basalt tidak bereaksi setelah melihat dirinya tertawa selama satu menit penuh.
“Aku sendiri tidak yakin bisa menang melawannya dalam pertarungan tangan kosong. Dua dari tiga pertarungan seperti itu akan berakhir dengan kekalahanku”
Leinn mengatakan hal itu sambil terlihat mengenang masa lalunya, pertarungannya dengan Roland.
Basalt terlihat sedikit lebih tenang ketika mendengar penjelasannya itu.
“Leinn!”
“Hm? Oh iya”
Panggilan Aura itu mengingatkannya tentang permintaannya. Leinn mulai meletakkan tangannya di lengan Basalt dan memeriksa tubuhnya. Setelah beberapa saat dia mengangkat tangannya dan menoleh ke arah Aura lagi.
“Tenang saja, lukanya akan sembuh besok. Lusa dia akan seperti tidak mengalami luka apapun, sepertinya Roland menahan kekuatan serangannya”
“...”
Aura masih menatap Leinn dengan cemas. Dia melihat Basalt terluka setelah pertarungannya dan berniat untuk menyembuhan lukanya, tetapi dihentikan oleh Basalt sendiri.
Dia sepertinya meniru Leinn dan Roland yang tidak menyembuhkan luka mereka setelah pertarungan mereka.
Aura telah meminta Leinn untuk mengubah pikiran Basalt dan membiarkan dirinya disembuhkan.
“Membiarkan luka kecil sembuh sendiri bukanlah hal yang buruk, biarkanlah dia mengingat luka dari pertarungan mereka. Kami tidak bisa memintamu menyembuhkan setiap luka yang kami dapat”
“...baiklah”
Aura terlihat belum menerima cara berpikirnya itu, tetapi dia juga tidak bisa memaksakan keinginannya itu. Dia sebenarnya tidak yakin luka dari sambaran petir yang menggosongkan seluruh bulunya itu bisa dihitung sebagai luka kecil.
__ADS_1
Mereka berdua kembali melihat orang-orang dan Beast mereka yang sedang bertarung di atas arena.
Brick dapat terlihat melakukan serangan beruntun pada lawannya bersama Contracted Beast miliknya, Blue Grizzly yang sedang bertarung dengan Beast lawannya.
Pertarungan yang terlihat sangat sengit.
“...”
Tetapi pandangan Leinn sedang tertuju pada pasangan petarung yang lain, pada dua orang dari kelompok 100 orang.
Seorang Pemuda berambut hijau terlihat sedang menghindari dua serangan dari manusia dan Beastnya. Ini adalah pertarungan dua lawan satu, dan pemuda itu terlihat terdesak.
Dua pisau milik pemuda berambut hijau itu berhasil menahan dan mengalihkan serangan lawannya yang selalu hampir mengenainya, membuatnya terlihat sedang terdesak.
Kenyataannya dia sengaja menghindari serangan-serangan itu dalam jarak minimal.
“Aah...”
Leinn terlihat kecewa ketika melihat lawan pemuda itu mulai menyiapkan sebuah serangan besar.
Pemuda berambut hijau itu tidak melewatkan kesempatan itu dan dengan menggunakan langkah cepat untuk menghindari serangan Beast di depannya, lalu mulai mendekati lawannya dengan sangat cepat.
Melihat gerakan pemuda itu, lawannya menjadi panik sesaat dan mengangkat pedangnya untuk menahan serangan itu.
Slash Clang!
Pedang di tangannya terlepas dan besi dingin menempel di lehernya, membuatnya mengangkat kedua tangannya dan menyerah, menjadikan pemuda berambut hijau itu sebagai pemenang.
Boom!
Bersamaan dengan itu, lawan Brick mendarat di luar arenanya setelah gagal menghindari gelombang serangan dari kapak besar milik Brick.
Leinn bangun dan meninggalkan Clear di tempat duduknya.
Aura melihat itu dan menunjukkan ekspresi bingung, lalu menyadari Leinn berniat berjalan ke arena setelah pertarungan terakhir dari gelombang kedua itu baru saja selesai.
“Bagaimana kau tahu kau akan mendapat giliran pertama...?”
Leinn menoleh tanpa menghentikan langkahnya.
“Perasaanku saja”
Leinn melambaikan tangannya dan mulai berjalan.
Aura mengalihkan perhatiannya pada layar kaca dia atas arena itu. Setelah gelombang pertama selesai dan menyisakan 64 orang, lalu 32 nama yang tersisa dari gelombang kedua mulai berputar dan menyusun menjadi pasangan untuk pertarungan gelombang ketiga, 16 pasangan.
“Hah?”
Dan tentu saja Leinn berada di paling atas, satu dari empat pasangan pertama, untuk ketiga kalinya.
...
“Aku akan mengalahkanmu!”
Pengumuman jelas itu keluar dari mulut pemuda yang berdiri di sisi lain dari tempat Leinn berdiri, yang mengarahkan pedangnya pada lawannya sambil mengangkat kepalanya dengan sombong.
Leinn melihat wajah lawannya dan tidak bisa mengingatnya sama sekali, menandakan bahwa dia berasal dari kelompok Roland.
__ADS_1
Dia adalah lawan keduanya yang berasal dari kelompok itu.
“Huh?”
Dan karena itu dia menjadi bingung terhadap pengumuman kemenangannya itu.
Penonton disekitar mereka dan enam petarung lain juga bingung, dari mana kepercayaan dirinya itu berasal?
“Majulah! Aku dan pasanganku akan menghentikanmu, Monster!”
“Honk!”
Dia menendang lantai batu dibawahnya dengan kencang dan mulai berlari cepat, pedangnya berada di dalam posisi untuk memberikan tusukan.
Angsa putih dibelakangnya juga mulai mengepakkan sayapnya dan terbang mengikutinya.
Leinn melihat pedang di tangan lawannya yang semakin mendekat itu.
Panjang dan jauh lebih tipis dibanding pedang biasa, dan pelindung tangannya melebar dan melindungi seluruh tinju yang menggenggam gagangnya.
“Satu!”
Tusukan cepat ke dahi. Melihat pemuda berambut hitam di depannya hanya berdiri disana, dia yakin pedangnya akan mencapai sasarannya.
Clang
Pedangnya terangkat tinggi dan menunjuk langit, genggaman tangannya juga hampir terlepas.
“A-apa?!”
Dia mengambil satu langkah mundur dan langsung menendang lantai dengan kuat, meluncurkan tusukan lanjutan.
“Dua!”
Clang
Pedangnya terdorong keras ke samping, dia juga bisa merasakan tangannya semakin kesemutan. Setelah mengalaminya untuk kedua kalinya, dia hampir bisa melihat apa yang terjadi.
Pemuda berambut hitam di depannya itu menepis serangannya dengan pedang di tangan kirinya, tetapi dia tidak bisa melihat pedang itu tercabut sedikitpun.
Kali ini dia mengambil tiga langkah mundur.
“Tabir!”
Dia mengangkat pedangnya dan angin kencang mulai berhembus.
Ternyata Angsa putih di udara mulai mengepakkan sayapnya dengan kuat, menghasilkan hembusan angin kencang itu.
“Honk!”
Tiba-tiba, bulu putih dalam jumlah besar memenuhi sekeliling Leinn dan menutup penglihatannya dengan sempurna. Mana yang ada di setiap bulu putih itu juga akan mengganggu penglihatan yang melihat berdasarkan gerakan Mana di udara.
Pemuda itu mengambil dua langkah menyamping tanpa bersuara dan menendang lantai batu itu sekali lagi, meluncurkan tusukan dengan kekuatan dari seluruh tubuhnya pada pemuda berambut hitam yang berada di tengah kubah bulu putih itu.
“Ti-!“
[Heaven Shifting Breeze]
__ADS_1