
Akhirnya malam itu berakhir tanpa ada hal menarik yang terjadi.
Aura menjadi mengetahui bahwa Leinn akan menghabiskan besok paginya di lapangan latihan bersama Roland, sedangkan dirinya dan Adeline sudah berjanji akan mengikuti Kelas Sihir di waktu yang sama.
Sebenarnya Aura juga berencana mengunjungi Adeline sebelum kembali ke kamarnya untuk beristirahat, tetapi Leinn menghentikannya.
“Dia akan lebih senang jika kau tidak mengunjunginya saat ini”
Leinn meninggalkan kalimat itu bersama senyumannya dan menghilang di lorong menuju kamarnya sendiri.
Aura berpikir sejenak lalu akhirnya memilih untuk langsung kembali ke kamarnya, menyadari Leinn mengetahui sesuatu yang tidak diketahuinya.
“Oh, Rufus”
Yang pertama dia lihat saat membuka pintunya adalah Contracted Beastnya, Rufus yang sedang berbaring di lantai sambil memejamkan matanya.
Rufus membuka matanya sesaat untuk melihat Aura yang sedang menutup pintu kamarnya sebelum kembali menutup matanya, kali ini benar-benar untuk tidur.
“Haha...”
Setelah melakukan beberapa hal dan mengganti pakainnya, Aura akhirnya berbaring di bawah selimutnya dan memejamkan matanya.
Memililki beberapa saat tenang sebelum sampai ke alam tidur, Aura tanpa sadar mulai memikirkan apa yang dimaksud dengan ucapan terakhir Leinn itu.
Rantai logika mulai terbentuk di kepalanya yang sudah setengah tertidur itu.
Jika Aura mengunjungi Adeline sekarang, dia tidak akan senang.
Adeline tidak akan senang jika Aura mengunjunginya, berarti ada sesuatu yang akan terganggu jika ada yang mendatanginya.
Berarti Adeline sedang melakukan sesuatu yang hanya bisa dilakukan jika Aura tidak ada disana.
Dan terakhir kalinya Aura berada di kamar itu adalah Adeline yang sedang menutupi kepalanya dengan selimut di kasurnya.
Satu-satunya hal yang berubah dengan waktu Aura meninggalkan kamar Adeline adalah-
“-Ah”
...
Slash! Slash! Slash...!”
Suara udara yang terpotong dapat terdengar jelas, yang dihasilkah oleh ayunan pedang beruntun dari pemuda berambut hitam yang sedang ada di tengah lapangan latihan terbuka, yang seperti tidak menyadari belasan pasang mata yang sedang melihatnya berlatih.
Cahaya matahari pagi dapat terlihat memantul di kulitnya yang sudah dibasahi oleh keringatnya sendiri, hasil dari latihannya sejak beberapa jam yang lalu tanpa henti.
Kaus hitamnya juga menjadi basah dan menempel di kulitnya, menunjukkan otot tubuhnya yang sebelumnya hampir tidak terlihat karena pakaiannya.
Slash...! Slash...
Dia tiba-tiba menghentikan ayunan pedangnya dan melihat ke satu arah, mengejutkan semua penontonnya. Mereka langsung meraih alat latihan terdekat dan berpura-pura berkonsentrasi dalam latihan mereka sendiri.
__ADS_1
“Akhirnya kau datang juga, apa yang- hm?”
Dan ternyata pemuda itu sedang melihat ke arah seorang pemuda berambut pirang yang sedang berjalan ke arahnya.
Pemuda berambut hitam, Leinn itu tiba-tiba berhenti berbicara dan mengangkat satu alisnya, langsung menyadari sesuatu.
“Kau... tidak tidur?”
Pemuda berambut pirang, Roland akhirnya sampai ke depannya dan terlihat sedikit terkejut setelah mendengar itu. Dia tidak menyangka pemuda di depanya bisa menyadari hal itu dengan mudah.
Leinn sendiri hanya bisa menyadari itu bukan karena kelelahan atau kantung gelap, mengingat Roland dan dirinya memiliki tubuh yang sudah terlatih untuk bisa bergerak tanpa tidur selama beberapa hari.
Dia menyadari itu karena... Perasaan yang sedang dilihatnya.
“Huh...”
Setelah menatap Roland selama beberapa saat, Leinn terlihat kehilangan minatnya dan kembali mengayunkan pedang kayu di tangannya.
Roland hanya menatap pemuda di depannya itu sesaat sebelum mengambil satu pedang kayu yang lebih besar dibandingkan milik Leinn dan mulai mengayunkannya di sampingnya.
Slash...! Slash...! Slash...!
Sekarang di tengah lapangan itu adalah dua pemuda yang mengenakan kaos hitam dan putih yang sedang mengayunkan pedang kayu dengan gaya yang tetap, seperti mengikuti sebuah ritme yang tidak bisa didengar oleh semua orang lain di sekitar mereka.
Semua penonton yang ada disana kembali melihat latihan yang sangat sederhana itu, tetapi mereka tetap terpana.
Slash! Slash! Slash!
Dan mereka bisa melihat jeda antara setiap tebasan itu mulai semakin memendek...
“Huh...?”
Beberapa orang disana juga menyadari hal yang aneh dari dua pemuda itu.
Mereka sudah melihat Leinn berlatih selama beberapa jam dan kecepatan ayunannya selalu konstan dari awal sampai akhir, tidak seperti sekarang.
Sepertinya mereka berdua...
“Haha....!”
“...haha!”
Dua tawa pendek keluar dari mulut dua pemuda yang sudah tersenyum kecil itu, lalu kedua tangan mereka berubah menjadi buram dan menimbulkan angin kencang yang menyapu seluruh lapangan latihan itu.
Slaaash...!
Suara yang ditimbulkan dari ayunan pedang menjadi satu suara panjang tanpa henti dan angin yang dihasilkan membuat penonton disekitar mereka kesulitan membuka mata.
“”Hahaha...!””
...
__ADS_1
Matahari sudah bergerak semakin tinggi, menyinari dua pemuda yang terbaring di tengah lapangan latihan dengan dua gagang pedang kayu di samping mereka.
Sekarang tinggal mereka berdua di lapangan latihan itu, setelah angin yang dihasilkan pedang mereka telah mengusir semua penonton sebelumnya dari sana.
Akhirnya mereka baru berhenti melakukan itu setelah pedang kayu di tangan mereka akhirnya tidak mampu menahan kekuatan ayunan mereka dan patah secara bersamaan.
“Hah...”
“...”
Mereka berdua terbaring disana dengan keringat yang sudah membasahi seluruh tubuh mereka, tidak bisa bergerak sama sekali.
Seharusnya mereka mampu meningkatkan kecepatan kembalinya stamina mereka dengan bantuan Mana, tetapi keadaan tubuh mereka saat ini tidak memungkinkan hal itu.
Jadi mereka hanya bisa mengisi tenaga mereka secara alami.
“Hah... ini benar-benar bodoh”
“...ya”
Leinn tertawa kecil ketika menyadari apa yang baru saja mereka lakukan, sesuatu yang dulu mereka sering lakukan saat masih berlatih bersama.
Roland juga tersenyum ketika mendengar itu dan mulai mengingat hal yang sama, disaat mereka akan bersaing sampai kehabisan tenaga seperti saat ini.
Akhir yang lain adalah Hinata yang melihat kompetisi mereka dan memilih untuk ikut juga, berakhir dengan mereka berdua menjadi tidak bisa bergerak sampai keesokan harinya.
“...huh”
“...yup”
Akhirnya memiliki waktu untuk berpikir setelah tubuh mereka yang tidak bisa digerakkan itu, kedua pemuda itu langsung mengingat wajah gadis itu.
Gadis yang sekarang sudah jauh lebih kuat dibandingkan tiga tahun yang lalu, sampai di tingkat yang melebihi ekspetasi mereka.
Sebenarnya mereka sudah memiliki beberapa rencana ketika mereka bertemu dengannya lagi, tetapi itu semua terbang keluar dari jendela begitu saja disaat mereka melihat senyumannya di aula di hari itu.
Mereka langsung menyadari diri mereka bukan lawan gadis itu, dan ini bukan karena keadaan tubuh mereka saat ini.
Pencerahan itu membuat mereka merasakan perasaan yang kompleks.
“Welp, kita hanya perlu menjadi lebih kuat bukan?”
“Ya”
Leinn mengucapkan itu sambil mengangkat tangan kanannya yang kembali memiliki tenaga, walaupun masih bergetar dengan cukup kuat. Roland melakukan hal yang sama dan disaat bersamaan, mereka menggenggamkan tangan itu secara bersamaan, seperti berusaha menangkap sesuatu yang ada di luar jangkauan mereka.
“Oh!”
Leinn menurunkan tangannya dan menggerakkan kepalanya ke satu arah, menemukan dua gadis yang sedang berjalan ke arah mereka sambil membawa beberapa lembar kertas di tangan mereka.
__ADS_1