Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 37 - Pemenang


__ADS_3

Seluruh tubuh Bartolomeo bergetar hebat, entah dari amarah atau rasa takut. Dia sudah melihat anak buahnya jatuh tanpa bisa memberikan perlawanan sedikitpun, jadi dia mengayunkan tangannya dengan kuat sekali lagi.


“PERGI!”


Tiga orang disampingnya juga mengayunkan tangan mereka, membuat empat Contracted Beast mereka berlari secara bersamaan.


Empat **** hutan besar.


Dilihat dari ukuran dan kecepatan lari mereka, tiga **** dengan panjang dua meter itu adalah Rank C Beast sedangkan **** yang memiliki bulu lebih gelap dengan panjang lebih dari tiga meter itu adalah Rank B Beast.


Sepertinya mereka berempat adalah calon siswa baru dan pengikut lainnya hanyalah pengawal biasa.


“Oink...!”


“Oke...”


Leinn menjatuhkan tubuhnya ke tanah, lalu dengan satu tangan sebagai tumpuan dia memberikan tendangan menyapu keras ke arah empat Beast yang hampir mencapainya itu.


Whosh!


Gelombang angin kuat menyapu kaki mereka, membuat tiga Beast itu kehilangan satu langkah kaki mereka dan terjatuh meluncur di tanah.


Beast paling besar itu terus berlari tanpa memedulikan serangan itu dan berhasil mencapai Leinn.


“Oink!”


Sesaat sebelum dia berhasil menabrak manusia di depannya, pandangannya tertutup oleh rumput hijau. Seluruh momentum yang dia miliki hilang dalam sekejap dan dia menyadari dirinya terbaring terbalik di tanah.


“Oin-!“


“Tenanglah”


Amukannya terhenti oleh sentuhan jari telunjuk Leinn di lehernya, yang membuatnya merasakan ilusi seperti sebuah mata pedang yang sedang menyentuh lehernya itu dan siap memotongnya jika dia berani bergerak.


“Apakah kau menyerah?”


“Oink...”


Melihat perbedaan kekuatan yang jelas itu, dia hanya bisa berbaring di rumput dan tidak bergerak lagi.


Tiga Boar Beast lain yang sudah bangun itu kembali berbaring di tanah setelah melihat tatapan mata Leinn yang buas.


“Lima belas”


Tidak ada satupun orang yang menonton pertarungan ini bisa melihat dengan jelas gerakan terakhirnya itu.


Mereka hanya melihat Leinn berhasil menyentuh wajah **** yang hampir menabraknya dengan telapak tangan kanannya, diikuti dengan pemandangan **** raksasa yang sudah berbaring terbalik di tanah.


Hanya Aura yang menyadari lubang yang muncul di tempat Leinn injak saat menahan tabrakan itu.


“A-apa, b-bagaimana bisa”


Yang tersisa hanyalah tiga pemanah, empat Beast Trainer, dan 2 pemakai pisau.


Dua pemakai pisau itu hanya bisa melihat satu sama lain dengan canggung, mereka seharusnya menyerang pria di depan mereka disaat kesempatan muncul, tetapi kelompok mereka tidak bisa bertahan cukup lama untuk celah itu bisa terlihat.


Bartolomeo semakin panik setelah merasakan perasaan takut yang disalurkan Contracted Beastnya, membuatnya mendorong salah satu pemakai pisau di sampingnya untuk menyerang Leinn.


“S-serang dia!”


Mendengar perintah tidak masuk akal dan setelah melihat situasi itu, mereka hanya bisa meraih dua pisau di pinggang mereka dan mulai berlari ke arah Leinn.


Tiga pemanah itu juga berusaha melindungi mereka dengan tembakan bantuan dari belakang, dan kali ini anak panah itu datang secara terus menerus dalam jumlah tiga setiap kalinya.


Leinn berjalan mendekati mereka sambil menghindari panah yang datang dengan gerakan minimal.


“Hmph!”


Gerakan bersamaan dari dua pemakai pisau itu, memberikan tusukan sangat rendah menuju kedua lutut kakinya dan tiga panah ke perut, dada dan wajahnya.


Leinn menghentikan langkah kakinya dan menendang tanah dengan keras, mulai berlari kencang.


Melihat perubahan kecepatan mendadak itu, kedua pemakai pisau ini tidak bisa bereaksi dan gagal menghindari telapak tangan yang menangkap wajah mereka.


“HAH!”


Leinn memutar tubuhnya dan melempar dua manusia ditangannya ke arah tujuh orang di depannya itu. Dia juga berlari menyusul misil manusia itu.


Bam bam bham...!


Dua misil manusia menabrak dua pemanah dengan keras, sedangkan satu pemanah yang cukup gesit untuk menghindari misil itu menerima pukulan di perut dan jatuh juga.


Bersamaan dengan tubuh yang jatuh itu, Leinn menendang tanah sekali lagi dan langsung meluncurkan pukulan ke arah Bartolomeo.

__ADS_1


Bang!


“Hm?”


Tinjunya membentur perisai besi di tangan kiri Bartolomeo, yang langsung kehilangan keseimbangan dan terdorong jatuh ke tanah.


Tiga Beast Trainer lainnya meloncat melindungi Bartolomeo yang tidak berada dalam posisi yang bisa menahan serangan lanjutan.


“Dua puluh”


Bartolomeo mulai bangun dan mengambil posisi bertarung sekali lagi dengan tubuhnya yang masih bergetar hebat.


Mereka berempat memiliki senjata yang sama, sebuah palu besar di tangan kanan dan perisai di tangan kiri.


Hanya palu Bartolomeo yang berwarna emas dibandingkan palu milik bawahannya yang terlihat berwarna perak.


Melihat senjata mereka itu, Leinn mengubah gaya bertarungnya.


“Ayo”


Leinn memosisikan telapak tangan tangan kirinya di depan dengan tinjunya yang menggenggam di belakang.


Salah satu Beast Trainer itu melompat tinggi dan mengayunkan palunya yang sudah dikelilingi Mana ke kepala Leinn.


“Leinn!”


Aura berteriak panik ketika melihat palu yang dipenuhi Mana itu, dia tidak yakin Leinn bisa bertahan tanpa terluka jika dia menerima serangan itu tanpa menggunakan senjata atau pelindung tubuh.


Palu itu hampir mencapai kepalanya dalam sekejap, membuat Leinn bereaksi dengan mengulurkan telapak tangan kirinya.


Thump


Suara kecil yang hampir tidak terdengar muncul ketika palu itu menyentuh telapak tangannya, tidak menghasilkan gelombang apapun.


Melihat serangannya gagal, bahkan Mana di palunya juga hilang membuat pengikut Bartolomeo itu menjadi sangat bingung.


[Counter Vibration]


Whoong...


Suara keras dan panjang dapat terdengar dari tinju kanan Leinn.


“A-aaa...!” jerit pengikut itu setelah merasakan bahaya yang kuat dari tinju itu.


Tidak ada angin atau gelombang ledakan yang dihasilkan...


Ngiiing...!


Hanya suara mendenging keras yang muncul dari tinju itu, yang menggetarkan seluruh tubuh mereka. Bahkan penonton yang berdiri 100 meter di belakang mereka dan orang-orang di perkemahan juga mulai merasa sedikit kesemutan karena mendengar suara itu.


Empat orang yang berada di depan sumber suara itu hanya bisa menerima kekuatan penuh serangan itu dan terjatuh ke tanah.


“Fiuh...”


Kedua telapak tangannya terasa sedikit kesemutan setelah mengeluarkan teknik ini, tetapi Leinn hanya tersenyum ketika melihat Gorilla Beast belum berhasil mengalahkan lawan terakhirnya.


“Dua puluh em- Huh?” mata Leinn terbuka lebar melihat pemandangan di depannya.


Bartolomeo mengangkat tubuhnya dan menatap Leinn dengan tatapan yang belum stabil, kesadaran dirinya terlihat sedang datang dan pergi.


“B-beraninya k-kau... a-aku t-tidak a-akan m-memaafkanmu...ah”


Kalimatnya berhenti di tengah ucapannya, melihat sebuah tinju yang mulai memenuhi pandanganya.


“Hoooh...!”


Boom!


Angin kencang menerpa wajah Bartolomeo, yang kemudian membuka matanya dan melihat tinju yang berhenti tepat di depan hidungnya. Kakinya kehilangan tenaga dan dia terjatuh, tidak sadarkan diri.


Leinn menarik kembali tinjunya dan melihat Gorilla Beast yang sedang merayakan kemenangannya itu, lalu menggaruk kepalanya dan menunjukkan ekspresi kecewa. Dia tidak menyangka Bartolomeo bisa bertahan dari serangannya, membiarkan Gorila itu mengakhiri lawan terakhirnya.


Gorilla Beast itu merasa sangat senang sampai dia tidak sengaja mengalirkan Mana ke dalam kain di lengannya.


“Aaah... Aku kalah...”


Sebagian besar penonton dari perkemahan yang belum melihat wujud asli Gorilla Beast itu menjadi sangat terkejut melihat Beast setinggi empat meter itu. Ternyata dia tidak bertarung serius selama melawan 20 orang sekaligus.


“Hoh hoh hoh...!”


“Hah~ Sudah berapa lama aku tidak merasakan ini?”


Leinn mulai berjalan ke arah Gorilla Beast yang menyadari itu dan juga berjalan... berlari ke arahnya.

__ADS_1


Setelah sampai ke depannya, dia terlihat tersenyum lebar sambil memukul dadanya.


“Hoh Hoh!”


“Ya, ya. Kau menang. Selamat”


Mereka berdua kembali berjalan ke arah Aura, yang mulai berlari ke arah mereka juga.


Kelompok Bartolomeo sudah terlupakan karena perasaan gembira dan perasaan kelam mereka berdua.


“Hoh! Hoh Hoh Hoh!”


“Aku tahu! Kau tidak perlu mengingatkanku berulang kali!”


“Leinn!”


Aura sampai ke depan Leinn dan mulai memeriksa tubuhnya untuk melihat apakah dia terluka atau tidak. Dia mulai menepuk tubuh Leinn dan menggenggam wajahnya tanpa bisa menemukan luka.


“Aku tidak terluka, hanya sedikit lelah...”


“Lelah?”


Aura terlihat sedikit bingung, sampai di saat dia melihat Rune muncul di seluruh tubuh Leinn dan terisap ke empat kain di tangan dan kakinya. Dia tersadar bahwa Leinn masih menggunakan empat Compress saat bertarung dengan kelompok Bartolomeo itu.


“K-kenapa?”


“Hm? Dia juga memakainya, masa aku tidak memakainya juga”


“Hoh?”


Leinn menunjuk Gorilla Beast yang hanya memasang wajah bingung ketika dirinya ditunjuk.


Sepertinya dia hanya lupa menonaktifkan Compressnya.


Aura memiliki kesempatan melihat Leinn berlatih mengenakan empat Compress itu dan dia menyadari kekuatan fisiknya menjadi sangat terbatas. Dia cukup yakin Status Leinn selain Magic-nya jatuh sampai tidak melebihi C class.


“Leinn...”


“Hm?”


Melihat ekspresi santai Leinn di depannya, Aura menjadi kehilangan rasa cemasnya. Dia hanya bisa menghela nafas pendek.


“Tidak apa-apa”


“Ok?”


Mereka berjalan kembali ke tenda mereka berdua.


Penonton di perkemahan terlihat cukup panik melihat tubuh berserakan yang tidak menunjukkan gerakan apapun di tengah padang rumput itu.


Beberapa pengawas mulai bergerak untuk memeriksa kondisi mereka, dan mereka menemukan tidak ada satupun yang terluka parah di kelompok yang melawan Leinn.


Sedangkan beberapa orang yang terluka paling parah saat melawan Gorilla Beast itu hanya mendapat beberapa tulang yang patah.


Melihat tidak ada yang terbunuh, masalah ini dianggap selesai begitu saja.


Bzzzt


Seekor capung hijau kecil dapat terlihat terbang dari salah satu tangkai pohon dan kembali ke dalam hutan itu tanpa disadari satu orangpun.


...


Leinn berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan Gorilla Beast besar yang duduk sambil memainkan dua jempol tangannya.


Aura kembali menyisir bulu Rufus di pangkuannya dengan Clear yang berbaring di sampingnya.


“Jadi, apa yang kau inginkan dariku?”


“Hoh...”


Suara yang sangat kecil yang keluar dari tubuh besar itu memunculkan sensasi aneh.


Perasaan gembiranya tiba-tiba menghilang ketika Leinn menanyakan permintaannya dan setelah beberapa saat, Gorilla Beast itu berhenti memainkan jarinya dan menatap balik tatapan Leinn.


“Hoh”


“...apa?”


Leinn terdiam sejenak mendengar permintaan ini.


“Kau menginginkan... sebuah nama?”


 

__ADS_1


 


__ADS_2