Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 50 – Beast Raksasa dan Seorang Kenalan


__ADS_3

Debu tebal menutupi pandangan semua orang disana, yang dihasilkan oleh ledakan dari pendaratan pendatang baru itu.


Hal ini membuat semua orang berhenti bergerak dan melihat perubahan situasi yang sangat tiba-tiba itu dengan ekspresi terkejut.


Setelah beberapa saat, kabut debu itu akhirnya mulai mereda, menunjukkan wujud asli bayangan besar itu.


“Pssht~”


Leinn dan Roland terbaring di dalam lubang besar sambil menepuk badan makhluk yang menimpa mereka, seekor ular raksasa.


Hanya kepala dan satu tangan mereka yang masih bebas, sedangkan sisa tubuh mereka terhimpit oleh tubur besar ular itu.


Ular itu terlihat menyadari tepukan dari dua manusia di bawahnya dan mulai bergerak, ,menyeret tubuh raksasanya di atas tubuh dua pemuda itu.


“Ohok-“


“Twi-“


Setelah waktu yang terasa sangat lama itu, ular itu akhirnya berhasil mengangkat tubuhnya dari mereka berdua dan mengelilingi dua pemuda itu.


Leinn mulai bangun sambil memegang pinggangnya yang kesakitan.


“PSSHT!”


“Wow!”


Ular raksasa itu menyundul perut Leinn dengan cukup kuat dan mengangkatnya ke udara.


Senyuman mulai muncul di wajahnya ketika dia mengenali ular besar itu.


Roland yang baru berhasil mengangkat tubuhnya juga melihat mereka berdua dengan senyuman di wajahnya.


“Haha! Kau menjadi lebih besar sejak terakhir kita bertemu!”


Penonton disekitar mereka hanya melihat pemandangan aneh itu dengan ekspresi bingung, suasana tegang yang dua pemuda itu keluarkan sudah hilang tanpa bekas.


Sebagian kecil dari penonton di stadium itu, tepatnya kelompok murid baru yang memiliki Contracted Beast sejak awal mengenali identitas ular itu.


Mereka sudah melihatnya saat menjalankan tes yang sama dengan pemuda berambut pirang itu.


“Twig, turunkan dia. Aku tidak ingin kau mencuri kemenanganku”

__ADS_1


“Psssht?”


“Haha...”


Leinn mendarat di tanah dengan mulus dan memuntahkan darah, membasahi lantai batu di bawahnya.


Roland mulai berjalan mendekatinya tanpa memedulikan darah yang membasahi tubuhnya. Sepertinya tulang kaki kanan dan beberapa rusuknya juga sudah retak.


Ular raksasa itu mulai menurunkan wajahnya untuk melihat kondisi Leinn di depannya.


“Psssht...”


“Haha, tenang saja. Ini hanya luka dangkal” ucap Leinn sambil tersenyum, terlihat semakin pucat.


Aura meloncati tubuh panjang itu sambil menunggangi Rufus dan sampai di dekat mereka lalu menemukan Leinn yang sedang mengelus kepala ular itu.


Basalt juga mendarat di sampingnya dengan bola Clear.


Leinn terlihat sangat gembira bertemu dengan ular itu, menunjukan ekspresi yang sama dengan yang ditunjukkannya ketika memulai pertarungannya tadi. Tetapi kali ini tanpa niat bertarung yang pekat.


Aura menyadari bahwa Leinn mengenali Beast baru itu.


Ular raksasa dengan panjang lebih dari 20 meter dan tubuh selebar tinggi pria dewasa itu sangat mencekam untuk dilihat, bersama sisik hitam keemasan di seluruh tubuhnya itu menghasilkan pemandangan keindahan yang berbahaya.


Roland melihat pendatang baru, serigala besar yang membawa seorang gadis melompati tubuh ularnya dan seekor gorilla kecil yang membawa bola kristal.


“Leinn!”


Bersamaan dengan Aura yang berlari mendekati Leinn itu, hembusan angin dingin dapat dirasakan di stadium itu.


Seorang gadis berambut biru meluncur dari es besar yang melewati tubuh panjang yang mengelilingi mereka dan mendarat di samping Roland, dia terlihat mengerutkan dahinya.


“Roland”


Senyuman Roland hilang dan wajahnya kembali datar, ekspresi yang sama seperti sebelum Leinn memanggilnya.


Sebagian besar penonton di sekitar mereka mengurangi ketegangan mereka melihat ekspresi yang tidak asing darinya dan tidak merasa aneh, selain dua orang.


Gadis kecil berambut biru yang baru datang itu menunjukkan ekspresi kaget, lalu sedih...


“Hmph!”

__ADS_1


Lalu dia menatap Leinn dengan ekspresi marah.


Leinn yang melihat ekspresi teman lamanya yang berubah mendadak itu pertama merasa aneh, lalu dia menyadari situasi ini ketika melihat beragam ekspresi gadis berambut biru di depannya itu.


“Oooh...”


“Apanya yang ‘Oooh”!”


Gadis berambut biru itu membalas Leinn dengan tajam, menunjukkan ketidaksukaannya secara jelas.


Dia tidak menyadari perubahan ekspresi dari pemuda berambut hitam di depannya itu.


Tetapi Roland menyadari ekspresi di wajah Leinn itu, ekspresi yang tidak asing.


Sebelum dia bisa berbuat sesuatu, Leinn sudah melangkah mendekatinya, tepatnya mendekati gadis di sampingnya.


Dipenuhi perasaan tidak enak, dia bergerak melindungi gadis di sampingnya.


“Eh?” gadis itu terlihat bingung dengan gerakan Roland itu.


“Leinn...” tatapan tajam dapat terlihat di mata Roland.


“Hehehe”


Gadis itu terlihat sedikit terkejut melihat Roland yang tiba-tiba bergerak ke depannya, tapi perasaan itu berubah ketika melihat pemuda berambut hitam yang sedang tersenyum padanya.


Dia bergerak ke samping dan mengarahkan tongkatnya padanya.


“A-Apa yang kau ingin-“


“Perkenalkan, aku adalah Leinn. Salam kenal, Adeline”


Gadis berambut biru, Adeline membuka matanya dengan lebar mendengar perkataan pemuda di depannya.


Pemuda yang mengenalinya.


“...eh?”


 


 

__ADS_1


__ADS_2