
Perbaikan besar-besaran sedang terjadi di seluruh kota, semua penduduk dapat terlihat memperbaiki jendela dan jalan yang retak dengan beberapa bagian kota yang sudah tua juga diperbaharui lagi.
Ledakan dan guncangan besar di beberapa waktu sebelumnya sempat membuat seisi kota menjadi panik, tetapi pengumuman setelahnya berhasil menenangkan mereka.
Tidak hanya itu, sekarang suasana di seluruh kota sedang terasa seperti sebuah festival meriah.
Karena pengumuman itu menjelaskan bahwa alasan semua guncangan besar itu tidak lain dari dua pemuda yang terlalu bersemangat dalam pertarungan mereka.
Dua jenius besar yang muncul bersamaan, diikuti beberapa orang yang memiliki kemampuan luar biasa juga, itu adalah sebuah berita luar biasa untuk kota ini.
Orang-orang akhirnya menganggap kerusakan kali ini sebagai kesempatan memperbaiki seluruh kota dan melakukan itu dengan senyuman di wajah mereka, seperti untuk merayakan dua bintang besar yang datang bersamaan itu.
Pangeran Petir yang terkenal dan Pemuda misterius yang mereka dengar sudah saling kenal satu sama lain sebelum masuk ke dalam Akademi itu.
Dan dua pemuda yang sedang dibicarakan seluruh kota itu...
“Aaaah... aku tidak bisa bergerak...”
Seluruh kepala yang terbalut oleh perban sampai hanya menunjukkan mata kirinya, dengan rambut hitamnya terlihat keluar dari celah-celah perban itu.
Dengan kedua tangan dan kakinya dilapisi oleh perban tebal, dia mengeluarkan suara seperti sedang sangat kesakitan.
“...”
Di sebelahnya adalah pemuda berambut pirang yang hanya duduk diam, dalam wujud yang sama.
Mata kanannya yang terlihat hanya menatap ke depan tanpa menanggapi reaksi pemuda di sampingnya itu, dengan kedua tangan dan kakinya juga terbalut perban tebal sampai terlihat tidak bisa bergerak.
Dua pemuda itu dibawa oleh Contracted Beast mereka ke dalam aula besar di bangunan yang dikunci sebelumnya, bersama murid-murid baru lainnya. Mereka lalu duduk di barisan paling depan dan berhasil mengambil perhatian semua orang disana.
Guru-guru yang sedang menyelamati mereka dari podium besar di depan mereka juga terlihat gugup ketika bertemu tatapan dengan dua pemuda di depan mereka itu.
“Aaah...” pemuda berambut hitam itu mengeluarkan suara lemah lagi.
“Leinn...”
Aura yang duduk di belakangnya melihat kelakuan pemuda itu dengan ekspresi aneh, bersama Adeline yang duduk di sampingnya yang juga melihat dua pemuda itu dengan ekspresi yang sama.
Sudah tujuh hari sejak pertarungan itu dan empat hari setelah mereka kembali sadarkan diri, itu masih belum aneh...
Tetapi mereka berdua tiba-tiba meminta semua usaha untuk mempercepat penyembuhan mereka dihentikan dan hanya meminta untuk membalut seluruh tubuh mereka dengan perban.
Dibalik seragam akademi dua pemuda itu juga adalah tubuh yang sudah seperti mumi.
Dua hari pertama setelah mereka meminta ini, dua gadis itu masih khawatir.
Tetapi setelah mengingat kemampuan dua pemuda ini dan kemampuan penyembuhan alami mereka, mereka hanya merasa aneh melihat dua orang yang berpura-pura tidak bisa bergerak itu.
“...dan juga mari kita berikan salam yang meriah untuk dua bintang kita yang memaksakan hadir walaupun masih belum bisa bergerak bebas...!”
Sorakan dan tepuk tangan meriah keras meledak disana, sepertinya tidak ada satupun murid dan guru disini yang menyadari keanehan mereka berdua.
Hanya tim penyembuh dan dua gadis itu yang menyadari bahwa kondisi mereka berdua sudah stabil.
Jadi acara penyambutan murid baru ini terus berjalan tanpa masalah.
Aula yang bisa mengisi beberapa ratus orang tanpa masalah itu sekarang hanya diisi oleh murid baru, guru-guru dan beberapa murid pengawas saja, tidak membiarkan murid senior atau orang luar untuk masuk.
Bangunan ini berada di bagian akademi yang cukup dalam dan hanya bisa diakses ketika ada acara seperti ini.
Lingkaran sihir membuat dinding dan jendela bangunan ini jauh lebih kokoh dibandingkan bangunan lainnya, ditambah pengawas di berbagai sisi bangunan berhasil menjadikan Aula ini sebagai tempat yang sangat aman.
Dan di barisan depan itu adalah empat orang paling terkenal saat ini.
“Bagaimana kau... akan keluar dari sini nanti?”
Adeline terlihat menggerakkan kursinya ke samping Roland dan mulai bertanya setelah melihat Twig dan Clear sudah pergi setelah mengantar mereka kesini, seperti memiliki urusan lain. Tubuh kecilnya tidak mungkin memikul pemuda itu keluar dari sini nanti.
“Leinn...?”
Aura mengangkat kursinya dan duduk di samping Leinn, terlihat seperti menanyakan hal yang sama padanya. Dia juga penasaran apa alasan kelakuan aneh dua pemuda itu selama beberapa hari terakhir ini.
Dikepung oleh dua gadis yang jauh lebih kecil dari mereka, dua pemuda itu mulai memutar otak mereka.
__ADS_1
“...ah! Selamat sudah mendapatkan peringkat tiga!” ucap Leinn cepat.
“Huh? Um, terima kasih...?”
Aura sedikit terkejut dengan ucapan selamat yang datang secara tiba-tiba itu, mengingat beberapa hari sudah berlalu sejak pengumuman pemenang turnamen itu.
Dirinya dan Tenma seharusnya bertarung terlebih dulu sebelum Leinn dan Roland, tetapi setelah melihat kondisi Tenma yang tidak baik, pertarungan dijadwalkan untuk hari berikutnya.
Lalu stadium itu lenyap.
Jadi mereka berdua dinyatakan bersama-sama mendapatkan peringkat tiga.
Dan juga...
“...selamat sekali lagi untuk dua pemenang turnamen junior kita!”
Keriuhan terdengar sekali lagi setelah itu diumumkan.
Ya benar, Leinn dan Roland dinyatakan sebagai pemenang akhir.
Tidak ada yang bisa menentukan hasilnya dengan tegas dan akhirnya melihat mereka sama-sama tidak sadarkan diri, pertarungan itu dianggap seri.
Leinn dan Roland hanya tertawa kecil saat mendengar itu beberapa hari yang lalu.
Jadi hasilnya, tahun ini mereka mendapatkan dua peringkat tiga dan dua peringkat satu.
“A-a... um...”
Wajah Adeline mulai memerah setelah melihat Roland yang hanya menatapnya tanpa berkata apa-apa selama beberapa saat.
Pemuda itu hanya menatapnya gadis di depannya itu dengan sangat serius.
“...”
...dia tidak bisa menemukan jalan keluar, jadi dia hanya menatap gadis itu sambil terus mencari sebuah alasan.
Dan caranya itu ternyata jauh lebih berhasil daripada pemuda berambut hitam di sampingnya.
Guru yang dari tadi terus berbicara akhirnya berjalan pergi, digantikan oleh pria yang ternyata tidak berpakaian bergaya hari ini.
“Halo semua! Aku hanya akan menyampaikan beberapa pengumuman penting, tidak akan lama dan kalian akan terbebas dari sini!”
Tawa kecil dapat terdengar dari kelompok murid di depannya setelah mendengar itu.
“Pertama, seharusnya kalian sudah memulai tahun ajaran kalian hari ini... tetapi karena hal-hal tidak terduga dan renovasi yang sedang berjalan di seluruh kota, kalian akan memiliki satu minggu bebas!”
Kali ini berbagai reaksi berbeda dapat terdengar dari mereka. Sebagian besar dari mereka menjadi bingung dan terkejut ketika tiba-tiba menerima hari libur sebelum menerima ajaran sedikitpun.
“Tentu saja kalian bisa menggunakan fasilitas akademi ini sebagai murid Red Dawn juga, tidak perlu sungkan! Jika kalian mau, kalian juga bisa melihat-lihat dan menjalankan misi di bawah Rank D untuk mengumpulkan Merit lebih awal!”
Reaksi bersemangat keluar dari murid-murid yang mendengar itu, karena mereka sudah tidak sabar untuk mengunjungi fasilitas seperti perpusatakaan, gym, dan masih banyak yang lain yang terkenal di akademi ini.
“Kedua, semua kebutuhan sehari-hari kalian untuk bulan ini akan diantar ke ruangan kalian siang ini. Untuk bulan-bulan berikutnya, kalian harus membelinya sendiri dari Penukar Merit di Pusat Tugas!”
Isaac melihat reaksi murid-murid di depannya dan tersenyum., lalu mulai menarik nafas panjang dan membiarkan pandangannya berhenti di dua pemuda di barisan paling depan itu.
“Dan terakhir... kalian akan mendapatkan satu teman baru”
Suara hilang dari aula itu, digantikan oleh tekanan yang luar biasa besar.
Sebagian besar murid-murid baru itu mengenali perasaan ini dan tentu saja, mereka menemukan sumbernya.
“Haha...”
“...”
Dua pemuda di baris depan itu mengeluarkan tekanan yang luar biasa dan kali ini, sepertinya mereka tidak sadar sedang melakukannya.
Dua gadis yang duduk di samping mereka juga menerima tekanan besar itu tetapi masih bisa bertahan dengan Mana dalam jumlah besar di dalam tubuh mereka.
“A-ada apa Leinn...?”
“Roland...?”
__ADS_1
Mereka berdua mulai khawatir setelah melihat tatapan mata dua pemuda yang terpaku di Isaac itu terlihat berbeda dengan sebelumnya.
“...melihat perban ini... tidak mungkin bukan...?”
“..tetapi... bisa saja...”
Mereka berdua terus bergumam dan terlihat tidak mendengar pertanyaan dua gadis di samping mereka.
Entah bagaimana, wajah mereka yang hampir seluruhnya tertutupi oleh perban itu terlihat sangat pucat.
“Dia baru sampai di sini pagi ini, setelah menyelesaikan misi spesial dari akademi-“
Kalimat Isaac tiba-tiba terpotong ketika dua pemuda di depannya tiba-tiba meloncat berdiri dari kursi mereka, mengingat mereka sama sekali tidak bergerak selama beberapa hari terakhir.
Menyadari ada yang salah dengan situasi ini, dia berniat bertanya pada mereka.
Sampai tiba-tiba, dari pintu masuk aula itu...
“Haia!”
Bham!
Tekanan di seluruh aula itu langsung menghilang bersama suara benturan itu dan mereka semua bisa menghembuskan nafas lega, lalu menoleh untuk melihat sumber suara aneh itu.
Di pintu besar aula yang terlihat seperti baru saja ditendang terbuka itu, berdiri seorang... perempuan?
Mengenakan seragam yang sama dengan mereka, dia berdiri dengan kedua tangannya beristirahat di pinggangnya. Dengan tinggi hampir mencapai 180 sentimeter dan rambut putih lurus yang mengalir sampai ke pinggangnya, dan kedua mata putihnya sudah menunjukkan perasaan bersemangatnya.
“Shishishi...!”
Senyuman polos di wajahnya terlihat bertolak belakang dengan tubuh dewasanya, menimbulkan perasaan aneh dari orang yang melihatnya.
Di saat orang-orang masih kebingungan itu dan bertanya-tanya, guru-guru di atas podium dan dua gadis yang duduk di paling depan itu melihat hal mengejutan lainnya.
Leinn dan Roland yang tidak bergerak selama berhari-hari itu tiba-tiba mulai berlari setelah bertukar pandangan sekejap saja.
Sebelum Aura dan Adeline bisa mengetakan apa-apa, dua pemuda itu sudah mencapai salah satu sisi aula itu, sebuah tembok dengan jendela kecil di atasnya.
Dan mereka meloncat, kuat.
Prang!
Suara kaca jendela yang pecah berkeping-keping itu mengambil perhatian semua orang di aula itu, dan juga orang-orang di luar bangunan yang tidak bisa masuk ke dalam Aula.
Beberapa puluh orang melihat dua pemuda berbalut perban di seluruh tubuh mereka berlari sekuat tenaga dengan ekspresi panik, seperti sedang lari dari sesuatu yang mengerikan.
Boom!
“LEINN! ROLAND!”
Suara keras memanggil nama dua pemuda itu tetapi bukannya melambat, mereka malah mempercepat langkah mereka.
Mereka berdua juga menoleh tanpa menghentikan larian mereka, dan mereka menemukan bangunan yang sekarang sudah memiliki lubang selebar tiga meter di dindingnya itu.
Berdiri di tengah lubang baru itu adalah gadis berambut putih yang masih sedang tersenyum lebar pada mereka.
Di kota Blazing Sun yang meriah itu, Akademi Red Dawn telah menjadi titik awal perubahan paling besar yang akan terjadi dalam sejarah umat manusia.
Generasi yang akan dibicarakan oleh para penulis sejarah di masa depan sebagai ‘Generasi Harapan’, dimana pahlawan-pahlawan bermunculan di seluruh benua secara bersamaan, seperti dipengaruhi oleh garis takdir yang tidak terlihat.
Tali-tali takdir itu sudah mulai terbentuk diantara mereka, yang akhirnya akan mempengaruhi takdir umat manusia secara keseluruhan.
Tetapi sekarang, mereka masih remaja-remaja biasa...
““Aaah...!””
...hampir biasa.
...
[Itulah Akhir Dari Awal Cerita Ini]
Arc 1: Pertemuan Takdir, Lama dan Baru.
__ADS_1