Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 55 – Guntur di Siang Bolong


__ADS_3

“Hoamz...”


Pertarungan sengit sedang ditunjukkan oleh pasangan-pasangan yang berada di atas empat arena batu itu. Senjata bertemu senjata, Beast melawan Beast, pemandangan yang sangat panas antar manusia dan Contracted Beast mereka yang bertarung sekuat tenaga.


Penonton yang melihat itu bisa merasakan diri mereka menjadi ikut bersemangat, terpengaruhi oleh semangat bertarung semua murid baru itu.


Tetapi ada satu orang yang tidak merasakan hal yang sama ketika berada disana.


“Hoaaamz...”


Pemuda itu menguap untuk kesekian kalinya sambil bersandar di tempat duduknya, dia tidak lain adalah Leinn yang terlihat berusaha menahan kantuknya.


Setelah pertarungan pertamanya selesai dan dia turun dari arena, sudah hampir dua jam berlalu.


Dia terlihat duduk di kursi panjang dengan Clear di sampingnya, sendirian.


“Hah...”


Sebuah pemandangan yang aneh ketika melihat 20 orang lebih berdiri dan pergi ketika melihatnya berjalan mendekati kursi panjang itu.


Setelah kejadian itu, Leinn hanya duduk dan melihat petarung demi petarung naik dan turun setiap lima menit di keempat arena itu.


“Zzz...”


Dia sudah menyadari adanya perbedaan kekuatan diantara kelompoknya dan kelompok Roland.


Sebagian besar dari kelompok 40 orang yang bertemu dengan kelompok 100 orang berakhir kalah. Kekompakan yang baru dibangun selama beberapa hari tidak cukup untuk mengalahkan mereka yang telah memiliki Contracted Beast jauh lebih lama.


“Zzz-“


“Hah!”


Boom


Tentu saja pengecualian juga ada.


Leinn membuka matanya sekali lagi dan melihat pria besar yang berada di salah satu arena di depannya itu, sebuah wajah yang tidak asing.


Brick yang telah mengayunkan kapaknya dan berhasil mengenai Beast lawannya, membuat lawannya mengaku kalah ketika melihat Beastnya terluka parah dan memberikan kemenangan pada Brick.


“Hm...”


Dia melompat turun dan menoleh ke arahnya, lalu pandangan mereka bertemu sesaat sampai ketika Brick mengalihkan perhatiannya ke tempat lain.


Leinn mengembalikan perhatiannya dan mengingat beberapa wajah yang dikenalnya, yang telah bertarung selama dua jam itu.


Tiga pengikut Brick juga menunjukkan penampilan yang tidak biasa juga, dan berhasil memenangkan pertarungan mereka tanpa bantuan Contracted Beast mereka.


Leinn meletakkan tangannya diatas Clear di sampingnya.

__ADS_1


“Cepatlah bangun...”


Dia juga mengingat kelompok yang terjebak di sarang Giant Tarantula sebelumnya itu bertarung.


Mereka semua bertemu lawan dari kelompok 100 orang dan berakhir dengan kekalahan., tetapi lawan mereka perlu membuat mereka tidak sadarkan diri setelah melihat mereka tidak menyerah sampai akhir.


Empat pertarungan yang menarik.


Setelah itu tidak ada lagi pertarungan yang menarik dan dia semakin bosan menunggu, ditambah dengan siang yang cerah dan tidak berawan itu tidak membantunya untuk menahan kesadaran-


Crackle- Boom...!


Suara guntur yang diikuti ledakan besar dapat terdengar, berasal dari luar stadium itu.


Semua orang disana merasakan getaran keras dari tempat duduk mereka dan menjadi sangat terkejut.


Mereka cukup yakin ledakan itu berasal dari dalam akademi ini.


Di tengah orang-orang yang panik itu, Leinn terlihat melihat ke atas langit untuk memastikan cuaca yang cerah itu.


Dia mengenali suara itu.


“Hahahaha!”


Beberapa orang langsung menoleh ke arah pemuda yang tiba-tiba tertawa itu dengan bingung.


Beberapa guru juga terlihat mencari informasi tentang situasi itu.


Melihat alarm darurat tidak menyala, seharusnya tidak ada makhluk asing yang memaksa masuk ke dalam akademi.


Leinn terlihat kehilangan kantuknya dan hanya duduk disana dengan senyuman di wajahnya.


...


Delapan orang berdiri berpasangan di atas empat arena, dengan berbagai jenis Contracted Beast di samping mereka. Suasana tegang dapat terasa dari mereka semua, dan juga suasana aneh.


Enam dari mereka bahkan tidak memberikan perhatian pada lawan mereka, tetapi hanya menoleh dan melihat ke arah satu arena di samping mereka, tepatnya ke seorang pemuda.


“Empat pertarungan pertama gelombang kedua akan dimulai beberapa saat lagi, semua petarung persiapkan diri kalian”


Lawan dari pemuda itu terlihat hampir menangis.


Dia tidak menyangka akan berhadapan dengan monster di depannya itu seawal ini.


Ekspresi yang berlawanan dengannya dapat terlihat dari salah beberapa orang yang berada di kursi tunggu di luar arena itu, tiga orang lain yang memenangkan empat pertarungan di awal turnamen itu seperti Leinn.


Orang yang seharusnya menjadi lawan Leinn di pertarungan itu jika urutan pertarungan tidak diacak sekali lagi.


“Bersiap...”

__ADS_1


Ketika pasangan terakhir dari gelombang pertama menyelesaikan pertarungan mereka, urutan petarung langsung diacak, menghasilkan pasangan yang berbeda dan tidak membiarkan mereka menyiapkan diri.


Dan secara kebetulan, pemuda berambut hitam itu ada di dalam empat pertarungan pertama gelombang kedua itu.


Dan secara kebetulan lagi ternyata pemuda itu berada di depannya, dan dia hanya bisa menggenggam senjatanya dengan kuat dan menyiapan diri.


“Mulai!”


Semua orang disana mulai duduk di ujung kursi mereka dan tidak melepaskan pandangan mereka dari satu arena itu, enam petarung lainnya terlihat mencapai kesepakatan dan juga memerhatikan arena itu.


“A-ampun...”


Leinn menyipitkan matanya melihat pemuda di depannya dan menarik kain di pundaknya, mengetatkan Clear yang terikat di punggungnya.


Pemuda itu mulai melangkah maju secara perlahan dengan pedang di tangannya yang terlihat sedikit lebih pendek dibandingkan pedang biasa.


“B-biarkan aku memberikan serangan pertama!”


Penonton di stadium itu menunjukkan ekspresi aneh melihat usahanya itu, lalu menjadi lebih aneh lagi ketika lawannya menganggukkan kepalanya.


“Oke, majulah”


“B-baiklah”


Leinn sudah hampir masuk ke dalam jangkauan serangan lawannya, tetapi masih terlihat santai.


Dia hanya berdiri dengan tangan kanannya masih di pinggangnya, tidak berniat menarik pedang di tangan kirinya.


Pemuda itu akhirnya berhenti dua meter di depannya.


“A-aku datang!”


Pemuda itu menendang lantai batu itu dengan kuat dan mengayunkan pedang pendek di tangan kirinya.


Leinn menyambut itu dengan mengulurkan tangan kanannya ke belakangnya.


Clang


Pedang pendeknya berhenti beberapa sentimeter dari wajah pemuda berambut hitam itu, seperti menabrak dinding yang tidak terlihat.


Perhatian penonton disekitarnya terbagi dari pedang yang gagal mencapai sasarannya dan makhluk yang terperangkap di genggaman pemuda berambut hitam itu.


“Psssht...!”


“Haha, bersemangat sekali”


 


 

__ADS_1


__ADS_2