Returning Humanity

Returning Humanity
Ch. 75 – Tiga Lawan Satu


__ADS_3

Adeline melihat kelakuan aneh itu dan menyadari niat pemuda itu, lalu berdiri dan menyeret dua kursi kosong di dekatnya dan mengikuti mereka berdua.


Leinn baru berhenti menyeret Aura setelah mereka terpisah sejauh sepuluh meter dengan Roland yang sedang menoleh dari kursinya.


Adeline memutar kursinya ke arah Aura dan duduk di depannya, diikuti oleh Leinn yang melakukan hal yang sama.


Sekarang Aura semakin gugup melihat dua orang yang menatap wajahnya dengan ekspresi serius di depannya, dia hanya bisa tersenyum kecil dengan keringat yang sudah membasahi wajahnya.


“Sekarang waktunya kita membuat rencana...”


“...rencana untuk mengalahkan lawanmu”


Leinn dan Adeline mengatakan itu tanpa melepaskan pandangan mereka dari gadis di depan mereka.


Aura menunjukkan ekspresi terkejut setelah mendengar perkataan mereka berdua dan tidak bisa bereaksi apa-apa.


Alis Roland yang duduk tidak jauh dari mereka terlihat bergetar ketika mendengar itu, dia tidak menyangka dua orang terdekatnya akan membantu lawannya untuk mengalahkannya.


“Tapi pertama-tama...”


Leinn menjentikkan jarinya dan semua suara dari seluruh stadium itu langsung menghilang, tidak dapat terdengar oleh mereka bertiga.


Adeline dan Aura mengenali sihir yang digunakannya, sihir elemen angin menengah-awal Silence Dome.


Sihir ini membuat suara dari dalam tidak akan bisa terdengar di luar dan begitu juga sebaliknya.


“Ada beberapa hal yang perlu kau ketahui tentang kemampuan Manusia Petir itu”


Dua gadis itu sebenarnya memiliki beberapa pertanyaan setelah melihat Leinn bisa menggunakan sihir menengah semudah itu tetapi melihat dia sudah mulai menjelaskan, mereka hanya bisa menyimpan pertanyaan-pertanyaan itu.


“Sejujurnya dengan kemampuanmu saat ini, kemungkinanmu untuk memenangkan pertarungan ini tidak lebih dari dua persen”


Adeline menoleh dan melihat pemuda itu menunjukkan ekspresi serius, dia mengatakan itu seperti menyampaikan sebuah fakta jelas.


Aura terlihat cukup terpukul setelah mendengar itu dan terlihat seperti ingin menangis.


“T-tapi a-aku akan b-berusa-“


“Perhitunganku itu bukan karena aku menganggapmu lemah”’


Leinn mengangkat tangan kanannya dan menunjuk Roland dibelakangnya dengan jempol tangannya.


“Dia saja yang sekuat itu”


Roland terlihat bereaksi ketika Leinn menunjuknya, sepertinya dia juga penasaran dengan percakapan tiga orang itu.

__ADS_1


Dia tidak bisa melihat gerakan bibir mereka karena posisi duduk mereka bertiga, dengan dua orang yang memunggunginya dan menghadang gadis yang duduk menghadapnya.


Leinn hanya menoleh ke arahnya sesaat sebelum mengembalikan perhatiannya pada gadis di depannya.


“Dan bukan hanya kau. Jika mengikuti tolak ukur yang baru kudengar baru-baru ini...”


Leinn terlihat berpikir sejenak sambil menghitung dengan jarinya.


“Ya, kau yang seorang Magic User setidaknya harus mencapai Rank S untuk bisa mengimbanginya”


Aura membuka mata dengan lebar setelah mendengar jawaban dari Leinn itu, tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


Adeline yang disampingnya terlihat menunjukkan ekspresi terkejut juga, tetapi dari alasan yang berbeda.


“Bagaimana kau...”


Leinn menoleh ke arah gadis berambut biru itu dan tersenyum kecil.


“Kami dipaksa mempelajari itu”


Pertukaran mereka terus berlanjut, dengan Leinn yang menjelaskan beberapa informasi penting bersama Adeline yang tidak ingin kalah dan memberitahukan informasi yang diketahuinya juga.


Alis Roland yang duduk tidak jauh dari mereka bergetar semakin keras.


Walaupun dia tidak mengetahui isi percakapan mereka itu, dia bisa melihat Aura yang duduk diam sambil mendengarkan dua orang yang menjelaskan sesuatu dengan bersemangat.


Penonton di stadium itu juga mulai membuat teori mereka sendiri setelah melihat pemandangan itu. Salah satu rumor yang beredar adalah pemuda berambut hitam itu memiliki dendam pribadi dengan Pangeran Petir dan memang mengikutinya masuk ke akademi ini, jadi tidak aneh melihat dia membantu lawannya.


Tetapi mereka tidak bisa menemukan alasan yang masuk akal saat melihat putri dari Dewa Es membantu gadis yang mengalahkannya di hari sebelumnya, yang juga lawan bertarung tunangannya hari ini.


Pertukaran di dalam kubah sunyi itu berlangsung cukup lama, dengan Aura yang akhirnya memilih untuk menerima informasi itu dengan serius setelah menyadari kemungkinan menangnya yang kecil itu.


Roland akhirnya hanya duduk sendirian dikelilingi berbagai jenis Beast yang melakukan urusan mereka sendiri.


...


“Pertarungan pertama hari ini akan segera dimulai...!”


Dua orang sedang berdiri di dua sisi berlawanan di atas arena batu itu, menatap satu sama lain.


Gadis berambut merah muda itu menunjukkan ekspresi serius sambil menggenggam tongkatnya.


“A-aku tidak akan kalah dengan mudah!”


Pemuda berambut pirang di depannya menggenggam pedang panjang di tangan kanannya sambil tersenyum kecil, walaupun wajahnya masih terlihat cukup pucat.

__ADS_1


“Aku tahu”


Dua petarung terlihat saling memandang dengan ekspresi serius, menimbulkan suasana tegang yang sangat pekat.


Aura menyadari sekali lagi betapa mengerikan lawannya kali ini.


Pemuda pirang itu hanya menatapnya dari kejauhan tapi dia bisa merasakan dirinya kesulitan untuk bernafas, melihat tekanan yang dikeluarkannya itu sangat tidak masuk akal.


Informasi dan saran yang baru diterimanya itu mulai berputar di kepalanya dan berhasil menenangkannya, melihat rencananya sudah selesai dibentuk dan dia hanya bisa berharap yang terbaik.


Alasan dirinya tidak membawa Rufus ke dalam pertarungan penting ini juga untuk memperbesar kemungkinan menangnya.


“Bersiap!”


Roland mulai mengambil posisi dengan menarik mundur pedang di tangan kanannya, seperti ingin menganyunkannya.


Pemuda itu memilih untuk tidak membawa kedua Contracted Beast-nya setelah melihat lawannya maju sendirian.


Aura mulai mendekatkan tongkatnya ke wajahnya dan membisikkan sesuatu.


“Mulai!”


“Storm Sky Style”


Roland langsung bersiap meluncurkan serangannya sekejap setelah dimulainya pertarungan itu.


Petir mulai meloncat-loncat di mata pedang yang ditarik mundur itu dan semakin bertambah kuat seiring berjalannya waktu.


Sesaat sebelum Roland selesai menyiapkan serangannya itu, dia dikejutkan oleh gerakan pertama lawannya itu.


[Wind Bullet]


Bola angin kecil meluncur dengan cepat dari tongkat yang diayunkan Aura ke arah lawannya itu.


Roland dikejutkan sesaat oleh gerakan yang tidak diduganya itu, tetapi itu tidak mengganggu konsentrasinya.


Seluruh tubuh pedangnya sudah diselimuti petir yang berteriak keras.


[Thousand-]


Kali ini dia benar-benar dikejutkan oleh kejadian di depannya. Bukan karena bola angin kecil yang tiba-tiba pecah sendiri sebelum mencapainya, melainkan...


“Apakah benar kau masih percaya dengan Santa Claus sampai di umur 12 tahun?”


“Pffft...!”

__ADS_1


 


 


__ADS_2