
Sebelum semua orang disana bisa mengetahui identitas anjing itu, dia sudah melompat tinggi dan bersiap meluncurkan serangan lanjutannya.
Kali ini Leinn bereaksi dengan mengayunkan tangan kirinya ke belakang tanpa melepaskan pandangan dari anjing hitam di udara itu.
“Ruff?!”
Anjing hitam lain muncul dan menunjukkan ekspresi terkejut ketika melihat telapak tangan yang menyambutnya. Dia tidak bisa bereaksi ketika tangan itu menggenggam moncongnya dan melemparnya ke langit, membentur anjing yang masih ada di udara itu.
Kedua anjing hitam itu berputar selama beberapa saat dan berhasil mendarat dengan mulus di samping tubuh Tenma.
“Keluarlah, aku sudah melihatmu” ucap Leinn sambil tersenyum ke arah salah satu anjing hitam itu.
Beberapa saat berlalu dan bayangan anjing hitam itu mulai bergerak dan berubah bentuk.
Anjing hitam ketiga muncul dan terlihat menatap pemuda berambut hitam di depan mereka dengan kaget.
Ya, tiga anjing hitam ini muncul dari dalam bayangan.
Anjing pertama muncul dari bayangan Tenma, anjing kedua muncul dari bayangan anjing pertama yang ada di belakang Leinn ketika dia melompat tinggi, dan yang ketiga menunggu waktu yang tepat untuk memberikan serangan kejutan berikutnya.
Penonton di seluruh stadium itu memulai keributan ketika melihat tiga anjing itu.
“Tiga Shadow Hound?!” teriak salah satu petinggi Guild di kursi penonton.
Shadow Hound yang mendapatkan nama mereka itu dari bulu hitam pekat dan kemampuan untuk bersembunyi di dalam bayangan milik mereka. Beast yang memiliki elemen kegelapan yang sangat langka, dan sekarang sedang ada tiga ekor di atas arena itu.
Dari ukuran dan kecepatan tiga Beast itu, sepertinya mereka baru mencapai puncak Rank C.
Kelihatannya Tenma membagi bahan perkembangannya untuk mereka bertiga, memperlambat perkembangan mereka.
“Apakah mungkin...”
Isaac meloncat berdiri dari tempat duduknya setelah menyadari sesuatu.
Berasal dari Pasukan Bayangan Pencabut Nyawa, mencapai posisi tinggi dalam kelompok itu di usia semuda itu, ditambahkan dengan Shadow Hound sebagai Contracted Beastnya. Ini semua terlalu identik dengan seseorang yang cukup terkenal di dalam Akademi mereka.
Kelihatannya dia adalah seseorang yang lebih penting dibandingkan yang mereka duga sebelumnya
“Hentikan...”
Tenma memaksa tubuhnya yang penuh rasa sakit untuk bangun berdiri dan memanggil mundur ketiga Contracted Beast-nya.
“Aku tidak bisa mengalahkanmu. Kau menang...”
Dia berhasil mengeluarkan kalimat itu dengan susah payah, menyatakan bahwa dirinya menyerah.
“Selesai!”
Semua penonton disana bersorak dan meneriakkan kedua nama pemuda itu, puas melihat petarungan yang sangat sengit itu.
Tetapi Leinn hanya berdiri dengan ekspresi serius, tidak bergerak dari tempatnya. Dia menyadari kondisi pemuda di depannya itu sedikit aneh.
“...?”
Tenma mengangkat wajahnya dan melihat pemuda di depannya sedang mengerutkan dahinya, dia juga melihat kedua matanya berubah sekejap saat menatapnya.
Sebelum dia bisa mengatakan apapun, benda kecil melayang ke arahnya dan dengan sisa tenaganya dia berhasil menangkap benda itu.
__ADS_1
“Huh?”
“Minumlah, obat itu akan mengurangi efek samping dari pil yang kau telan”
Tenma melihat botol penyembuh kualitas tinggi di tangannya dengan ekspresi terkejut, ternyata pemuda itu menyadari kondisinya yang sedang semakin memburuk karena efek samping... racun yang ditelannya.
Pil hitam, Berserker Contract yang memaksa tubuhnya menggunakan semua energi dalam tubuhnya dalam satu menit yang akan meningkatkan lalu melemahkan drastis kekuatan fisik pemakainya, diikuti oleh rasa sakit yang luar biasa.
Pil hijau, Slyph’s Essence yang membuat tubuh mampu menyerap Mana di udara dan memaksa semua Mana dalam tubuh menjadi Mana elemen angin, membuat pemakainya masuk dalam keadaan Overflow oleh Mana angin. Ini juga hanya bertahan selama satu menit, lalu pemakainya tidak akan bisa menggunakan Mana selama 12 jam.
Kedua pil ini termasuk ke dalam kategori racun karena efek samping yang tidak sebanding dengan fungsinya.
Walaupun tidak bisa menghilangkan sepenuhnya, obat penyembuh kualitas tinggi di tangannya itu akan sangat meringankan rasa sakitnya.
“Terima kasih”
“Tak perlu dipikirkan”
Leinn berbalik dan berjalan sambil melambaikan tangannya pada pemuda itu.
Di atas podium di samping arena itu dapat terlihat Adeline yang sangat kesal. Obat penyembuh itu tidak lain dari obat penyembuh yang diberikannya pada Aura, yang memberikan sebagian hadiahnya itu pada pemuda itu juga.
Sekarang dia memberikan hadiah itu pada lawannya, begitu saja.
“Aku tidak bisa percaya, dia memberikan hadiahku begitu saja. Dia benar-benar tidak-“
Adeline menoleh dan menemukan pemuda berambut pirang di sampingnya sudah hilang.
Dia mencoba mencari di sekitarnya dan menemukan Roland sedang berjalan ke arah pintu masuk stadium itu.
Suara Isaac semakin mengecil ketika dia melihat apa yang sedang dilihat oleh penonton di stadium itu.
Kedua finalis yang akan bertarung berikutnya sedang berjalan meninggalkan stadium melalui dua lorong besar menuju luar stadium.
Mereka tidak mengatakan apa-apa dan hilang dari pandangan mereka semua.
...
Stadium dipenuhi oleh orang-orang yang tidak berani meninggalkan tempat duduk mereka dan terus menunggu, karena mereka sudah tidak sabar untuk melihat petarungan berikutnya.
Setelah pengumuman pertarungan itu, Tenma menolak bantuan tim medis dan memilih untuk berjalan sendiri. Dia hanya menoleh ke arah Aura sekali sebelum menghilang di lorong besar stadium itu.
Sekarang area di sekitar arena sudah dipenuhi oleh sebagian besar guru dan murid-murid pengawas yang sedang membangun sesuatu.
Ukiran-ukiran besar melingkar di sekitar arena batu itu mulai terbentuk, ditambah dengan banyak Magic User yang sedang memperkuat arena itu sendiri dengan sihir elemen tanah.
Selain orang-orang yang sedang bekerja itu, hanya dua orang yang dapat terlihat sedang duduk tanpa melakukan apa-apa disana.
“Aku tidak percaya mereka meninggalkan kita begitu saja”
“Ya...”
Adeline mendengus kesal sambil berbicara dengan Aura yang terlihat lesu di sampingnya.
“Setidaknya mereka bisa mengajak atau apalah sebelum pergi begitu...”
“Ya...”
__ADS_1
Adeline menoleh dan melihat wajah gadis itu yang terasa seperti tidak sedang bersamanya.
“Aku menyukai daging manusia, menurutku mereka enak setelah digoreng setengah matang”
“Ya...”
“Aku sebenarnya laki-laki, aku hanya menggunakan gaun ini karena hobiku”
“Ya...”
“Aku akan membawamu menemui Ayahku sebagai temanku, kau tidak keberatan?”
“Ya...”
Wajah Adeline mulai memerah, dia mengulurkan kedua tangannya ke arah wajah gadis itu.
“Ya...Hue?!”
Aura tersentak kaget ketika menyadari dua tangan yang menjepit wajahnya dan memaksanya menatap mata gadis berambut biru di depannya itu.
“Kenapa kau menjadi seperti ini?!”
“B-hue...?!”
Adeline mulai menggoyang wajah gadis yang berada di kedua telapak tangannya itu selama beberapa saat, lalu melepaskannya. Dia kembali menghadap ke depan, mengalihkan pandangannya dari Aura.
“...apakah aku membosankanmu...?”
Aura mendengar suara yang lebih kecil dari bisikan itu dan tersentak kaget. Dia langsung meraih pundak Adeline.
“T-tentu tidak! A-aku suka bersamamu!”
“B-benarkah...?”
Adeline terlihat terkejut melihat Aura yang tiba-tiba menaikkan nada bicaranya, dan mulai merasa canggung setelah mendengarnya.
Aura terlihat menyadari apa yang telah dia sampaikan dan mulai tersipu malu juga sambil tertawa kecil.
“E-ehem! Jadi, apa yang ada di pikiranmu?”
Sebagai usaha menghilangkan suasana canggung itu, Adeline menyampaikan pertanyaan yang sudah dia simpan itu.
Aura tidak langsung menjawab pertanyaan itu dan hanya mengelus gumpalan transparan di pangkuannya. Dia menunjukkan ekspresi bimbang yang jelas di wajahnya.
“...terlalu banyak hal sedang ada di pikiranku”
Apakah dia sudah cukup baik setelah kalah melawan Roland?
Apa alasan Tenma muncul lagi di saat ini, disini?
Dan yang paling membingungankan baginya...
“Kau masih memikirkan apa yang dia katakan tadi?”
__ADS_1