
Emilia segera bersiap-siap untuk berangkat ke gereja, dia pergi didampingi oleh beberapa orang ksatria pribadi. Kedatangan Emilia saat ini dinanti-nanti oleh pihak Kekaisaran Ottavio, rumor mengatakan bahwa Putra Mahkota Kekaisaran Ottavio mengidap penyakit cukup serius akhir-akhir ini, sehingga tidak ada pilihan lain untuk meminta bantuan Emilia yang dikenal sebagai saintess. Letak Kekaisaran Ottovio cukup jauh dari Albertine, butuh waktu sekitar hampir lima belas hari menempuh perjalanan ke Ottovio.
Setibanya di gereja, Emilia bergegas untuk memeriksa keadaan Alby – Putra Mahkota Kekaisaran Ottavio, dia ternyata datang bersama dengan sekretaris pribadinya. Kala itu kondisi Alby terbilang sangat menyedihkan, dia tidak bisa bernapas dengan benar bahkan napasnya nyaris tidak berderu keluar. Sekujur badan Alby didera rasa sakit dan gemetar hebat, dan lagi Alby merasakan sesak serta rasa dingin luar biasa.
“Tolong kami, saintess. Tolong sembuhkan Putra Mahkota,” mohon laki-laki yang merupakan sekretarisnya dan senantiasa setia mendampingi Alby.
Emilia mengamati kondisi Alby yang terbaring tak berdaya di atas tempat tidur, sesekali dia melirik wajah tampan Alby. Jujur saja, Emilia saat itu tertarik oleh ketampanan Alby, dia juga sudah menyiapkan imbalan yang tepat setelah ini, yang dia inginkan hanyalah tidur dengan Alby. Pikiran kotor Emilia semakin lama semakin menjadi, dia bersemangat membayangkan sensasi bila ia tidur dengan Alby nanti.
“Baiklah, jangan khawatir. Aku akan menyembuhkannya,” ujar Emilia seraya menyunggingkan senyumnya.
Emilia memulai penyembuhan penyakit Alby, dia mendudukkan diri di sisi kanan ranjang kemudian kedua tangannya ditaruh di dada Alby. Emilia memicingkan matanya serta mengambil konsentrasi penuh, cahaya kekuatan suci perlahan masuk ke tubuh Alby. Secara pelan tapi pasti kekuatan tersebut menjalar ke setiap titik tubuh Alby. Tidak berselang lama, penyembuhannya pun selesai, Emilia bernapas lega seusai memastikan kekuatannya telah sampai ke tubuh Alby.
Akan tetapi, sesuatu yang buruk terjadi kepada Alby, bukannya membaik, kondisinya malah bertambah parah. Alby muntah darah, dia berteriak kesakitan sebab bagian dalam tubuhnya serasa terbakar. Semua orang yang berada di ruangan tersebut ikut panik dan cemas, Emilia tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya, dia tidak merasakan ada kejanggalan dari kejadian itu. Semakin lama Alby makin menunjukkan reaksi yang parah, dia meronta-ronta meraung sakit, sehingga orang-orang terpaksa turun tangan untuk menenangkannya.
“APA YANG ANDA LAKUKAN SEBENARNYA? APA ANDA BERNIAT MEMBUNUH PUTRA MAHKOTA?” teriak Jasper – sekretaris Alby.
Emilia panik bukan main, dia beringsut mundur ke belakang, “Aku tidak m-melakukan apa-apa, aku hanya menyembuhkannya,” jawab Emilia, keringat dingin mengucur deras di keningnya.
Seisi ruangan mulai menaruh curiga kepada Emilia, dia dinilai sengaja mencelakai Alby. Segala bentuk tatapan mengarah kepada Emilia, padahal sebelumnya kondisi Alby tidak seburuk itu, tapi setelah mendapat penyembuhan dari Emilia, kondisinya bertambah parah. Sejak tadi Alby tidak berhenti muntah darah, Emilia pun kehilangan akal akibat masalah itu.
__ADS_1
“Aku tidak salah… aku tidak melakukan apa pun… AKU TIDAK SALAH!!” pekik Emilia frustasi dan langsung berlari keluar dari ruangan.
Orang-orang memilih untuk mengabaikan Emilia sejenak, fokus mereka terpusat kepada Alby yang meronta kesakitan. Pada akhirnya, tidak ada pilihan lain selain memberi suntik penenang, beberapa orang dokter berdatangan untuk memberi suntik serta mengecek kondisi tubuh Alby. Alangkah terkejutnya dokter yang memeriksa Alby tersebut, dia menemukan bahwa organ dalam tubuh Alby nyaris hancur. Betapa murkanya Jasper ketika itu, ia menyalahkan Emilia atas hal buruk yang menimpa Alby.
“Aku rasa wanita itu memang bermaksud untuk memicu konflik dan perang antar kekaisaran. Sekarang apa yang harus aku lakukan kepada Putra Mahkota? Kepada siapa lagi aku meminta tolong? Tidak ada satu pun dokter yang mampu mengobati penyakit Putra Mahkota,” keluh Jasper yang tampak kelelahan akibat kurang istirahat.
Kemudian tiba-tiba seorang ksatria menghampiri Jasper memberikan sebuah alat sihir yang biasa digunakan untuk berkomunikasi jarak jauh. Ksatria tersebut mengatakan bahwa Alexius – Kaisar Archer menghubunginya, Jasper segera menyambungkan panggilan kepada Alexius. Alat sihir yang berbentuk kotak musik itu memampangkan wajah Alexius.
“Jasper, bagaimana keadaan Alby? Apa dia sudah mendapatkan penyembuhan?” tanya Alexius, dia berteman baik dengan Alby sejak dulu.
“Tidak, Yang Mulia, kondisi Putra Mahkota semakin parah selepas mendapat penyembuhan dari Putri Emilia. Dokter mengatakan organ dalam Putra Mahkota hampir rusak, padahal sebelum ini kondisi beliau tidak separah itu, jadi saya beranggapan bahwa hal ini berkaitan dengan penyembuhan yang diberikan oleh Putri Emilia,” jelas Jasper dengan ekspresi tertekuk.
Mimik wajah Alexius berubah khawatir akan kondisi teman baiknya itu, “Masih ada jalan untuk menyembuhkan Alby, coba sekarang kau bawa dia ke tempa Putri Krystal, dia akan menyembuhkan penyakit Alby,” saran Alexius.
“Jasper, saintess yang sebenarnya adalah Putri Krystal, bukannya Putri Emilia, aku dapat menjamin itu. Nanti aku akan menjelaskan secara detail padamu, untuk sekarang lebih baik kau bawa Alby ke istana kediaman Putri Krystal,” ujar Alexius.
Jasper masih kurang paham, namun dia tidak punya pilihan lain lagi selain mempercayai perkataan Alexius. Jasper segera menyuruh para ksatria untuk membantunya membawa Alby ke istana kediaman Krystal sebelum kondisi Alby bertambah parah.
“Aku harap Putri Krystal dapat menyembuhkan penyakit Putra Mahkota,” harap Jasper.
__ADS_1
...***...
Selepas mengetahui siapa pengkhianatnya, Vicenzo terlihat sangat gelisah, dia tidak dapat tenang dan melepaskan pandangannya dari Krystal. Tingkah aneh Vicenzo disadari oleh selir lain, sejak tadi dia tidak berhenti menanyakan apakah Krystal sudah makan atau belum, ia khawatir kalau keempat pengkhianat tersebut akan mencampurkan cairan di botol kecil yang digunakan untuk mencelakai Krystal.
“Vicenzo, apa yang terjadi padamu? Kenapa tingkahmu aneh sekali hari ini?” tanya Austin dengan tatapan penuh selidik.
“Sepertinya aku tidak bisa menyembunyikan masalah ini sendirian, ayo kita bicara sebentar,” ajak Vicenzo.
Akan tetapi, sebelum para selir beranjak untuk mendengar apa yang akan dibicarakan Vicenzo, ternyata Krystal datang untuk membawa mereka makan bersama.
“Kalian mau ke mana? Apa kalian sibuk? Kalau tidak sibuk, bagaimana kita makan bersama sekarang?” tanya Krystal dengan senyum merekah di bibirnya yang merona.
“Oke, sebaiknya kita makan bersama sekarang,” jawab Vicenzo tanpa berpikir panjang, untuk saat ini dia hanya ingin melindungi Krystal saja.
Akhirnya, mereka bersama-sama menuju ruang makan, segala jenis makanan mewah telah terhidang di atas meja. Olin yang berada di samping Krystal segera membantu Krystal untuk mengambil beberapa jenis lauk dan ditaruh ke piring Krystal. Tepat saat itu, Cleon juga datang untuk makan bersama Krystal, kedatangannya memberikan nuansa keributan di ruang makan. Vicenzo masih memperhatikan Krystal, dia harus menghentikan Krystal sebelum menyuap makanannya.
Ketika Krystal menyuap makanannya, Vicenzo hendak menghentikan Krystal, “Krystal, jang—”
“Vicenzo, apa kau mau mengganggu makan kakakku?” tegur Cleon mengalihkan perhatian Vicenzo.
__ADS_1
“Apa yang kau katakan? Aku tidak mengganggu Krystal, aku hanya meny—”
“Uhukk uhukkk.”