
“Hah? Apa kau bercanda?”
Seisi ruang terperanjat kaget akibat laporan yang baru saja dikatakan oleh ksatria tersebut. Seluruh mata melebar menunggu jawaban pasti dari ksatria yang sedang mencoba mengatur irama napasnya sebelum menjawab pertanyaan Krystal. Mereka menunggu dengan sabar sampai akhirnya sang ksatria menjelaskan lebih detail lagi.
“Saya serius, Yang Mulia. Di dalam rombongan perwakilan itu terdapat pemimpin dari masing-masing kekaisaran, dengan artian lain Kaisar serta Putra Mahkota setiap kekaisaran tewas akibat ledakan serangan yang entah datang dari mana,” jelas ksatria.
Krystal benar-benar tidak habis pikir, langsung saja ia bergerak bersama seluruh selir ke lokasi kejadian untuk memastikannya langsung. Setibanya di lokasi, Krystal seketika tak bisa berkata-kata, mereka sungguh telah mati terkena ledakan dahsyat. Tungkai kaki Krystal terasa lunglai hingga tak kuat lagi menumpu beban badan. Tubuh Krystal pun meluruh ke atas tanah, padahal di antara mereka ada sejumlah orang yang dia kenal yakni Alexius – Kaisar Archer serta Alby – Putra Mahkota Kekaisaran Ottavio.
“Kenapa semuanya menjadi seperti ini? Mengapa mereka tewas sia-sia begini?”
Dada Krystal sesak sekali, ia tak mampu bernapas dengan benar, rasa takut juga kian mencekik diri. Sekujur badan Krystal bergetar hebat, sepintas timbul rasa bersalah di hati Krystal, ia merasa bahwa kematian mereka adalah tanggung jawabnya. Krystal terdiam, kepalanya tertunduk menatap tanah.
“Siapa yang sudah melakukan semua ini? Kenapa? Apa salah mereka sebenarnya?”
Krystal frustasi, ia mengangkat wajah lalu menatap ke arah mayat-mayat yang sudah tercerai berai. Tidak ada di antara mereka yang wajahnya teridentifikasi, tubuh mereka hancur berantakan. Kemudian Krystal beranjak bangkit, dia mencoba mencari tahu asal dari ledakan yang telah merenggut nyawa manusia tak berdosa.
“Tidak salah lagi … ya, ini adalah ulah dari para dewa agung! Aku yakin itu,” gumam Krystal.
Sementara itu, Austin berdiri mematung di depan jasad seorang pria yang dia kenal dan pria tersebut adalah bagian dari klan pedang beracun. Lebih tepatnya pria itu merupakan Ayah kandungnya, rupa mereka terlihat mirip satu sama lain. Austin menggenggam erat gagang pedangnya, dia tidak sedih melainkan rasa tidak percaya kalau orang tuanya memiliki akhir yang buruk.
__ADS_1
‘Pada akhirnya kau memilih mati bukan di tanganku, betapa mengenaskannya hidupmu harus berakhir dalam keadaan memalukan tanpa melakukan perlawanan. Aku tidak menyesali kematianmu, justru aku merasa lega sebab orang yang telah menyia-nyiakan keberadaanku mendapat kematian menyedihkan seperti ini. Tetapi, aku tetap berterima kasih padamu, berkatmu aku telah bertemu dengan wanita yang menghargai keberadaanku,’ ucap Austin dalam hati.
Seluruh selir kini bergerak mengamati situasi terkini di sekitar tempat mereka berpijak, mereka semua khawatir akan terjadi penyerangan lagi. Satu persatu ksatria dari Kekaisaran Albertine berdatangan membantu mengevakuasi semua korban. Bahkan Fred pun sebagai Kaisar Albertine juga ikut turun tangan membantu. Tidak ada yang menyangka nasib buruk terjadi di hari penting yang akan diadakan esok hari.
Sedangkan kala itu Krystal berdiri termenung sambil menyandarkan punggungnya ke batang pohon. Perasaannya hari ini sangat buruk, dia gagal melindungi orang-orang dari serangan para dewa. Krystal sangat bingung, perasaan takut dan gusar pun menyakiti hatinya secara perlahan.
“Jangan biarkan perasaan buruk itu menguasai dirimu.”
Seorang pria tua berambut putih panjang mengagetkannya, pria tua itu ialah Fergus yang tubuhnya kecil berbentuk spirit. Sedari kemarin Krystal tidak bertemu dengan Fergus, pria itu memang suka menghilang dan muncul tiba-tiba di depan matanya. Krystal pun menghela napas panjang melihat kedatangan Fergus, entah mengapa perasaannya jauh lebih tenang mendapati Fergus di dekatnya kini.
“Semua ini adalah ulah dari tujuh dewa agung, sebenarnya kenapa mereka melakukan semua ini? Mengapa mereka membunuh seluruh manusia? Apa salah manusia kepada mereka? Aku frustasi memikirkan segalanya sendirian. Aku takut … aku kecewa pada diriku yang tidak dapat melakukan apa-apa untuk melindungi manusia. Aku memang terlahir dari dewi iblis dan Kaisar Langit, tapi aku sangat lemah, aku sungguh lemah …,” lirih Krystal putus asa.
“Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Kekuatanku saat ini tidak bisa digunakan untuk membunuh dewa-dewa itu.”
Fergus berdehem, ia terbang dan berdiri sejajar dengan kepala Krystal, gadis itu telah berjuang melawan segala penderitaan selama ini.
“Kau harus mendinginkan kepalamu, akan ada jalan untukmu membunuh para dewa yang menyakiti manusia.”
Pada saat yang bersamaan, Krystal dikejutkan oleh ratusan burung yang terbang dari arah berlainan. Burung-burung itu tampak membawa kabar buruk dari masing-masing kekaisaran, namun Krystak masih belum mengetahui jenis kabar apa yang membuat mereka terbang terburu-buru.
__ADS_1
“Apa yang terjadi? Mungkinkah ada serangan baru?”
Tampak seorang penyihir berlarian ke arah Fred, terlihat dari guratan wajahnya kalau dia membawa kabar buruk untuk Fred.
“Yang Mulia, saya mohon maaf sebelumnya, tapi saya mendapatkan berita buruk dari sejumlah kekaisaran,” ujar penyihir itu.
“Berita apa?” tanya Fred.
“Sejumlah kekaisaran yang dipimpin oleh seluruh perwakilan konferensi telah lenyap akibat ledakan yang lebih besar. Tidak ada rakyat yang selamat dari ledakan tersebut, semua kekaisaran rata dengan tanah,” lapor si penyihir menjelaskan situasinya.
Hening. Suasana di sana sangat hening, setiap orang dapat mendengar jelas laporan dari penyihir tersebut. Krystal membatu di tempat, dia tidak menyadari sama sekali adanya ledakan dahsyat yang menghancurkan sejumlah kekaisaran.
“Apa? Kau … bagaimana hal ini bisa terjadi?” Tubuh Fred oleng akibat syok berlebih mendengar kabar itu.
“Maaf, Yang Mulia, saya juga tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi, tapi sepertinya pelakunya adalah orang yang mempunyai kemampuan yang sangat kuat karena dia memasang dinding sihir terkuat di sekeliling kekaisaran yang dia hancurkan sehingga bahana ledakannya tidak bisa terdengar keluar.”
Seketika garis-garis di wajah Krystal menegang, dia naik pitam dan mengarahkan kemarahannya kepada seluruh dewa. Selama ini dia sudah bersabar, namun kali ini mereka benar-benar keterlaluan. Mereka seolah sengaja memancing Krystal supaya keluar melawan mereka langsung, tampaknya ada sesuatu yang mereka rencanakan di balik semuanya.
“Anda mau ke mana, Yang Mulia?” Tangan Krystal dicekal oleh Julian, ia sedari tadi mendengar jelas ada gelombang kemarahan yang nyaris meledak di diri Krystal.
__ADS_1
“Ke mana? Tentu saja ke Kekaisaran Langit.”