Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Protes Para Bangsawan


__ADS_3

“Yang Mulia, mau sampai kapan Anda akan seperti itu?”


Saat ini Krystal sedang asik menatap gambar pria tampan nan seksi di setiap halaman majalah. Di sana terpampang jelas potret pria-pria bertubuh kekar sehingga membuat gairah Krystal seketika mendidih. Cherry dan Bleas menggeleng-geleng pelan melihat tingkah laku Krystal, sedari tadi mereka mencoba menegur Krystal untuk berhenti tersenyum pada gambar-gambar pria tersebut, namun Krystal tidak menggubrisnya.


“Pria tampan berotot adalah yang terbaik! Kyaaaa aku sangat menyukainya!” Krystal berguling-guling di atas tempat tidur seraya menjerit kesenangan menatap halaman-halaman majalah itu.


“Padahal Anda memiliki pria seperti itu di harem Anda, mengapa Anda masih suka melihat majalah itu?” tanya Bleas keheranan.


“Apa kalian tahu? Pergerakanku di asrama dibatasi, aku tidak bisa melakukan apa pun yang aku mau. Mereka datang memeriksa kamarku setiap beberapa jam sekali, beruntung beberapa hari yang lalu aku bisa tidur dengan Julian tanpa ketahuan oleh pengurus asrama. Jadi, aku memutuskan untuk tidur dengan mereka lagi setelah urusanku di akademi selesai.”


“Apakah mereka tahu kalau Anda tergila-gila dengan pria tampan berotot? Tampaknya mereka tidak tahu itu,” ucap Cherry.


“Tidak, aku masih berusaha menahan diri, meskipun sebenarnya aku nyaris tidak dapat menahannya. Tapi, aku masih memikirkan tentang apa yang kalian katakan selama, kenapa mereka bertiga memiliki energi dewa? Aku masih sangat bingung. Mau berapa kali pun aku memikirkannya, aku tidak bisa menemukan jawabannya.” Krystal menutup majalahnya lalu kembali ke dalam topik masalah yang tidak bisa ia pecahkan.


Cherry dan Bleas pun begitu, mereka tidak menemukan jawaban yang tepat atas pertanyaan tersebut. Keanehan ini sungguh memutar otak mereka untuk berpikir lebih keras lagi, tidak heran bila ketiga selir Krystal bisa melihat jelas Cherry dan Bleas.


“Arrhhh aku tidak menemukan jawabannya, frustasi aku lama-lama kalau memaksakan otakku untuk berpikir.” Krystal mengacak-acak rambutnya, untungnya hari ini dia libur sehingga dia bebas melakukan apa saja tanpa ada gangguan lain.


Di sela rasa frustasinya, tiba-tiba terdengar suara gaduh berasal dari luar kamar, Krystal lekas pergi memeriksa apa yang sedang terjadi. Di halaman akademi, ada orang tua dari siswa siswi yang pernah dilukai oleh Krystal selama beberapa hari ini. Mereka meributkan sesuatu yang tidak asing terdengar, terdengar sekilas mereka menyebut nama Krystal. Para penjaga dan petugas yang bekerja di akademi ini kewalahan menghadapi mereka.


“Suruh gadis bodoh itu keluar sekarang juga! Dia sudah melukai anakku.”


“Dia juga membuat anakku cedera, cepat bawa dia kemari!”

__ADS_1


“Kalau tidak, kami akan meruntuhkan akademi ini.”


Berbagai kalimat berisi ancaman keluar dari mulut mereka, sementara itu saat ini Krystal tengah bersembunyi di balik tembok bersama Cherry dan Bleas. Mereka ingin mengamati situasi terkini terlebih dahulu sebelum menerjang masuk ke kerumunan.


“Anda yang melukai anak mereka, Yang Mulia? Jumlah mereka tidak sedikit,” kata Cherry.


“Aku memang melukai mereka sebagian, tapi sebagian lagi bukan aku yang melakukan… ahh aku tahu, ini pasti Austin dan Lucio yang melakukannya.”


Kericuhan semakin tidak terkendali, Krystal pun memutuskan untuk menampakkan diri di hadapan mereka. Krystal datang mengenakan piyama tidur, dia tidak sempat mengganti pakaian sebelum keluar kamar.


“Ada apa ini? Kenapa aku mendengar kalian menyebut-nyebut namaku? Apa kalian punya masalah khusus denganku?”


Sorot mata tajam dari para bangsawan langsung membanjiri Krystal, mereka mengarahkan kemarahannya kepada Krystal. Masing-masing di samping mereka, ada anak mereka yang tengah terluka baik itu perempuan mau pun laki-laki.


Krystal menyeringai lalu menjawab, “Aku merasa bersalah? Tidak. Sama sekali aku tidak merasa bersalah, untuk apa aku harus merasa bersalah jika yang salah adalah anak kalian sendiri? Ingatlah! Aku tidak akan murka bila kalian mendidik anak kalian dengan baik, itu masih pelajaran ringan yang aku berikan kepada anak kalian. Kalau tidak mau anak kalian terluka, katakan kepada mereka untuk jangan pernah mengusik hidupku!”


Krystal menekan mereka dengan kekuatannya, dada mereka sesak sesaat menatap kemarahan Krystal.


“Omong kosong! Kau sudah melukai anak-anak kami dan sekarang kau malah membalikkan kesalahakan itu dengan mengatakan bahwa kami telah gagal mendidik mereka.”


“Tidak perlu diherankan dengan sikapnya, sejak kecil dia tidak pernah diajarkan oleh Ibunya. Upss aku lupa, Ibumu kan hanya pelac*r, jadi mana mungkin dia tahu tentang etika kekaisaran ditambah kau tidak pernah bertemu dengannya kan?”


“Dasar memalukan! Menjijikkan jika Albertine terus menampungmu di sini!”

__ADS_1


Krystal menunduk dalam, dia mengepalkan kedua tangan pertanda ia sangat marah saat ini, namun ia menahan diri untuk tidak meledak.


Byurrrr


Seseorang menyiramkan air ke arah Krystal, namun Julian menjadikan dirinya sebagai tameng melindungi Krystal dari guyuran air tersebut. Austin dan Lucio juga berada di sana, mereka datang setelah mendengar kehebohan di akademi.


“Yang Mulia, apa Anda baik-baik saja?” tanya Julian cemas.


“Aku tidak apa-apa, tapi tubuhmu basah.”


“Ini bukan apa-apa bagi saya, tapi mereka keterlaluan sekali.”


Para bangsawan mencari masalah dengan orang yang salah, ketiga singa jantan siap mengamuk karena mereka berani berani melukai hati Krystal. Saat ini Austin, Lucio, dan Julian menghadap mereka memasang wajah murka.


“Kalian, berani sekali menyakiti hati Yang Mulia. Sedari dulu kalian menghinanya sesuka hati, menyebutnya sebagai aib Kekaisaran Albertine! Sebenarnya apa kalian sadar telah membuatnya menderita selama ini?!” murka Austin.


“Kalian juga mengatakan kalau anak kalian terluka lalu menuding Yang Mulia Putri telah melakukan hal yang salah, apa kalian sadar kalau anak kalian yang mulai lebih dulu? Selama ini Yang Mulia telah bertahan di dalam perundungan yang anak kalian ciptakan sendiri dan sekarang mau bersikap seperti korban? Dasar orang gila!” imbuh Julian menggebu-gebu.


“Asal kalian tahu, sebagian dari anak kalian yang kurang ajar itu, kami yang melukainya. Kami tidak akan tinggal diam saat ada seseorang yang menghina Yang Mulia. Memang sejak awal aku bunuh saja kalian biar tidak membuat Yang Mulia sakit hati lagi,” gertak Lucio.


Krystal merasa terharu dan tersentuh melihat ketiga selirnya membela dia mati-matian di tengah ocehan serta kemarahan para bangsawan. Krystal tidak ingin hal ini berlangsung lebih lama lagi, kini ia maju untuk berhadapan dengan amukan para bangsawan.


“Sudah. Sekarang kalian diam saja, biar aku yang menghadapi mereka.” Krystal menarik mundur ketiganya, ia tidak mau melibatkan para selirnya di dalam perseteruan tidak berguna seperti ini.

__ADS_1


“Kalian sudah mendengarnya kan? Yang salah itu anak kalian sendiri, merundungku hingga mencaci maki diriku setiap hari di akademi. Apabila hal itu ada di posisi anak kalian, kira-kira apa yang akan kalian lakukan?”


__ADS_2