Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Ketahuan


__ADS_3

Krystal baru terbangun dari tidur nyenyaknya lalu menemukan surat yang ditinggalkan oleh Julian di atas mejanya.


“Maaf, saya harus pergi dan jangan cari saya untuk sementara waktu.”


Secarik kertas berisikan sepenggal kalimat itu membuat Krystal syok, debaran firasat buruk menghampiri perasaannya. Terlintas sekilas bayangan bahwa saat ini Julian berada di kondisi yang menyakitkan, ia lekas beranjak keluar dari kamar untuk memberitakan kaburnya Julian. Suara langkah kaki Krystal yang berlari di sepanjang lorong membuat penghuni Istana Primrose terbangun, terutama para selir yang sejak tadi malam belum tidur sedikit pun demi menyusun rencana.


“Yang Mulia, apa yang terjadi? Mau ke mana Anda mengenakan piyama itu?” tanya Ash berlari menghampiri Krystal.


“Astaga, kenapa kalian bisa berada di ruang yang sama? Ahh itu tidak penting! Aku mau bertanya, apa kalian tahu ke mana Julian pergi? Dia meninggalkan surat ini di kamarku,” ujar Krystal panik dan memberikan suratnya kepada Ash.


Mereka bersama-sama membaca surat dari Julian, memang sejak kemarin mereka merasa ada yang aneh dari gelagat Julian. Bahkan Krystal pun juga merasakan hal yang sama, selama beberapa hari terakhir tingkah aneh Julian semakin terlihat jelas oleh mata. Krystal dan para selir sempat menanyakannya kepada Julian, tapi ia selalu menjawab bahwa dia baik-baik saja. Namun, dari surat ini, Krystal kian yakin kalau memang ada sesuatu yang buruk terjadi kepada Julian.


“Aku akan pergi mencari Julian.” Tanpa berpikir panjang, Krystal melangkahkan kakinya untuk pergi mencari tempat Julian berada. Akan tetapi, Lucio menghadang jalan Krystal agar tidak melangkah lebih jauh lagi.


“Anda jangan gegabah, Yang Mulia, kita harus mencari tahu di mana tempat pasti Julian berada. Kita tidak tahu bahaya macam apa yang akan menghambat, jadi tolong tenangkan pikiran Anda dan kita cari solusinya bersama-sama,” ucap Lucio.


“Musuh Anda ada di mana-mana, seharusnya Anda paling tahu soal itu, kami tidak ingin Anda terluka atau terjebak di dalam perangkap musuh,” imbuh Austin.


“Anda harus sering mengandalkan kami dan jangan buat diri Anda bertindak sendirian, akan sangat berbahaya bila Anda pergi sendirian. Bila sesuatu yang buruk terjadi kepada Anda, kami tidak akan bisa berbuat apa-apa,” timpal Ash.


Krystal melemaskan sejenak pikirannya yang berkecamuk, apa yang dikatakan oleh mereka bertiga memang benar. Saat ini di luar istana, ada ratusan musuh yang menanti Krystal, tidak ada yang tahu musuh seperti apa yang akan menghalangi jalannya nanti. Hampir saja dirinya tenggelam di dalam kecerobohan, untungnya para selir ada untuk membantu menjernihkan pikirannya.

__ADS_1


“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Kepalaku penuh dan tidak bisa diajak untuk berpikir.” Tergambar jelas jejak kekhawatiran di wajah Krystal, mimiknya yang redup mengisyaratkan bahwa saat ini dia sedang berada di titik paling lelah akan semua masalah hidup yang tidak kunjung menemukan ending yang sempurna.


“Yang Mulia, kendurkan sejenak urat pikiran Anda, kami di sini ada untuk membantu Anda melewati segala permasalahan yang ada. Tolong bergantunglah pada kami, jadi mari kita pikirkan bersama-sama,” kata Shion merangkul pundak Krystal.


Krystal menghela napas panjang, mereka pun bersegera untuk mengadakan pertemuan bersama membahas masalah Julian. Di ujung meja Krystal berdiri dengan wajah sangat serius, Vicenzo di depan pintu melirik kiri kanan memastikan tidak ada para pengkhianat yang berkeliaran di sana. Heros memasang sihir kedap suara dan pengaman cukup kuat untuk ruangan tempat mereka berada, dia tidak ingin pembicaraan mereka bocor keluar.


“Cleon mana? Seharusnya kita ajak saja dia,” ujar Krystal tiba-tiba.


“Tidak usah, Cleon sepertinya agak sibuk akhir-akhir ini, lebih baik kita saja yang menangani masalah ini,” dalih Heros.


“Oh oke, baiklah.”


Mereka pun memulai pembicaraan yang sangat serius, untuk saat ini tidak ada seorang pun yang mengetahui di mana keberadaan Julian.


“Apa mungkin Julian kembali lagi ke Midland? Tapi, dia pergi tanpa pamit, berarti ada sesuatu yang terjadi kepadanya tapi dia tidak bisa memberitahukannya kepada kita,” ujar Austin.


Krystal berpikir sejenak memutar memorinya ke beberapa hari sebelumnya, “Aku merasakan ada aliran sihir yang aneh di tubuh Julian, semacam mantra terlarang, tapi aku tidak mengetahui pastinya sebenarnya mantra jenis apa itu. Namun, aku berfirasat Julian pergi karena mantra tersebut, besar kemungkinannya Julian balik lagi ke Midland,” terang Krystal.


“Mantra terlarang? Apakah ada seseorang yang memasnag mantra itu ke tubuh Julian? Apa tujuannya memasang mantra terlarang? Untuk mengekang Julian atau bagaimana?” pikir Heros bertanya-tanya.


Mata Krystal membulat sempurna, “Aku tahu! Sepertinya mantra itu dipasang oleh keluarganya sendiri.”

__ADS_1


“Apa hubungan Julian dengan keluarganya tidak baik?” tanya Vicenzo heran.


Shion menjawab, “Ya, aku pernah mendengar rumor bahwa kelahiran Pangeran ketiga membawa petaka bagi Kekaisaran Midland, karena semuanya berawal dari sana. Semenjak kelahiran Julian, Midland mengalami kemerosotan hebat, orang-orang berbakat menghilang secara misterius, dan para bangsawan mulai seenaknya kepada rakyat kecil. Kini yang hidup tentram di sana hanyalah bangsawan, sedangkan rakyat kecil hidup menderita setiap hari.”


“Besar kemungkinan orang-orang berbakat itu bukan menghilang, tapi disembunyikan karena ada pihak dalam yang tidak menyukai pemerintahan Kaisarnya sehingga mereka akan menciptakan konflik yang memicu perpecahan di wilayah kekaisaran. Salah satu caranya yaitu mengalihkan semua masalah itu kepada Julian yang baru lahir,” tambah Ash.


“Kita akan pikirkan itu nanti, jadi sekarang tujuan utamanya adalah ke Midland, kan? Kalau begitu kita mulai dari sana saja,” ucap Austin diangguki oleh yang lain.


...***...


Saat ini di tengah hutan nan rimbun, lebih tepatnya hutan yang pernah dilalui Krystal saat dia pergi ke Archer sebelumnya, Cherry dan Bleas menyelinap masuk ke dalam tempat persembunyian kelompok orang berjubah putih. Mereka kala itu tengah menjalani misi rahasia dari Ibu Krystalia dengan tujuan menghancurkan batu sihir pengumpul energi roh manusia. Dengan sangat hati-hati mereka berusaha untuk tidak ketahuan oleh orang lain.


“Cherry, kita harus cepat menyelesaikan tugas ini. Batu sihir pengumpul energi roh ini akan menjadi ancaman besar untuk Yang Mulia ke depannya, kita tidak boleh membiarkan Yang Mulia kesulitan sendirian,” bisik Bleas.


“Ya, aku tahu itu, kita harus menghancurkannya, tapi tidakkah menurutmu suasana tempat ini terlalu tenang?”


Keduanya merasakan ketenangan yang tidak wajar, tapi segera saja mereka mengabaikan hal yang tidak jelas itu. Mereka terbang pelan menuju tempat batu sihir pengumpulan energi roh itu berada, batu sihir yang awalnya jernih, kini terisi penuh oleh energi roh berwarna hitam pekat. Sebagaimana yang mereka ketahui, benda itu diguanakan untuk meningkatkan kekuatan secara tidak wajar.


“Sudah aku duga, kalian berdua sejak awal bukan berada di pihak kami, lalu sekarang kalian bermaksud menghancurkan batu sihir itu?”


Cherry dan Bleas terperanjat kaget, mereka memutar tubuh ke belakang dan menemukan Olin bersama Cleon tengah memergoki keduanya.

__ADS_1


“Kita ketahuan, tapi tidak masalah, karena kami memang bukan bekerja untuk kalian. Kami hanya berpura-pura menjadi mata-mata untuk melihat siapa musuh yang sebenarnya,” balas Bleas.


“Tidak masalah, kami sudah waspada sedari awal kalau kalian tidak benar-benar mengkhianati wanita itu. Mulai dari sini, kami tidak akan membiarkan kalian kabur begitu saja, tempat ini akan menjadi kuburan untuk kalian.”


__ADS_2