
Krystal segera membuka amplop surat tersebut, dia penasaran apa yang tertulis di dalam suratnya. Di sana tertulis bahwasanya ada pemberitahuan dari akademi kalau ujian kelulusan akan diadakan tiga hari lagi. Mereka meminta Krystal untuk hadir di dalam ujian tersebut dan bersiap untuk pergi ke asrama lusa harinya. Mendapat pemberitahuan dari akademi membuat Krystal berdecak kesal, sebab ia mengingat jelas bagaimana si pemilik tubuh dirundung oleh gadis-gadis bangsawan.
“Lusa? Apa kakak akan pergi ke asrama akademi?” tanya Cleon.
“Tidak, aku akan ke asramanya nanti saja di hari ujian dilaksanakan,” jawab Krystal.
Krystal memutuskan untuk melanggar pemberitahuan akademi, dia tidak ingin ke asrama terlalu cepat.
“Yang Mulia, Anda akan pergi ke akademi?” Austin dan Lucio menyerobot masuk ke dalam kamar Krystal begitu mereka mendengar kalau Krystal akan pergi ke akademi untuk melaksanakan ujian kelulusan.
“Jangan pergi, Yang Mulia. Apa Anda akan meninggalkan saya di sini?”
“Tidak bisakah Anda tidak melaksanakan ujian kelulusan?”
Austin dan Lucio memohon sambil bersimpuh di bawah kaki Krystal, mereka memelas supaya Krystal tidak pergi ke akademi. Mereka berdua seperti seorang anak kecil yang memohon agar Ibunya tidak jauh-jauh darinya.
“Aku akan pergi selama satu bulan saja, lagian selama aku di sana kita masih bisa bertemu. Kalian tinggal di sini dan amati pergerakan mencurigakan dari Kaisar atau pun Permaisuri. Aku memberikan tugas penting ini kepada kalian karena aku hanya mempercayai kalian saja. Aku tidak akan meninggalkan kalian terlalu lama,” ujar Krystal membujuk keduanya seraya mengusap kepala mereka.
“Cih seperti anak kecil saja kalian, padahal kemarin aku yang dikatakan bocah, ternyata kalian yang lebih bocah,” sindir Cleon.
Austin dan Lucio serentak menghadap Cleon, mereka tersinggung dengan celetukan Cleon. Setelah mengatakan itu, Cleon memalingkan pandangannya pada objek lain, dia pura-pura tidak tahu dengan tatapan jengkel yang tertuju padanya.
“Diam saja kau bocah tengil! Keberadaanmu sungguh menggangguku.” Austin membalas sindiran Cleon dengan ketus.
__ADS_1
“Bocah tengil? Aku bukan bocah! Buktinya aku tidak seperti kalian memohon-mohon untuk tidak ditinggal oleh kakakku. Lagian kakak kan cuma pergi selama satu bulan saja dan bukannya bertahun-tahun. Dasar lebay!”
Seusai mengatakan kalimat tersebut, Cleon langsung kabur ke luar sebelum diamuk oleh Austin. Melihat Cleon yang kabur, Austin segera bangkit dan mengejar Cleon, sedangkan Lucio tetap berada di kamar bersama Krystal. Lucio menganggap perkataan Cleon seperti angin lalu saja, dia lebih mementingkan Krystal dibanding ucapan Cleon.
“Yang Mulia, bolehkah saya nanti sering-sering menemui Anda nanti ketika di asrama akademi?” tanya Lucio.
“Boleh, datang kapan saja. Aku akan membukakan pintu untukmu, aku harus menyelesaikan satu persatu orang-orang yang mengganggu terlebih dahulu. Jadi, bisakah kau bersabar sementara waktu?” tanya Krystal balik.
“Baiklah, saya akan bersabar. Asal saya terus bersama Anda, saya akan menunggu dengan sabar,” jawab Lucio seraya merebahkan kepalanya ke atas paha Krystal.
“Bagus. Aku akan menyelesaikannya secepat mungkin.”
...***...
Tiga hari berlalu, hari ini Krystal akan berangkat ke akademi, dia sudah bersiap-siap sejak tadi pagi. Tidak ada pelayan yang mengurusnya, jadi dia melakukan segalanya sendirian, dari mandi hingga berpakaian atau pun berdandan. Kala ini, Krystal tengah berdiri di depan cermin mengamati dirinya mengenakan seragam akademi berwarna biru gelap. Krystal menyesuaikan rok pendek kotak-kotaknya yang sedikit miring.
Ketika Krystal keluar dari kamar, ia menemukan Austin bersama Lucio dan Cleon sedang berdiri di depan pintu menunggu Krystal keluar. Mereka terperangah melihat rok Krystal yang terlalu pendek memampangkan paha mulusnya secara jelas dan nyata. Krystal sengaja berdandan seperti ini, sebab sejak dulu dia tidak pernah menyukai pakaian yang menutupi kakinya menyeluruh. Seragam Krystal sebelumnya sangat culun, jadi dia mengubah sedikit tampilan seragamnya agar lebih seperti seragam gadis bangsawan pada umumnya.
Rambut Krystal bak bunga sakura terurai menutupi pinggulnya, dia menurunkan poni untuk menutupi keningnya, tidak lupa dia juga memoleskan sedikit gincu merah muda supaya bibirnya terlihat lebih segar. Austin dan Lucio merasa kalau Krystal seperti pergi memamerkan kecantikannya di akademi, tentu saja mereka tidak menginginkan hal itu terjadi.
“Apakah Anda akan pergi ke akademi dengan tampilan seperti ini?” tanya Lucio.
“Iya, apakah aneh? Semua gadis bangsawan bernampilan sepertiku ini. Aku hanya mengikut arus akademi,” ucap Krystal.
__ADS_1
“Bukan aneh, tapi tidakkah penampilan Anda terlalu seksi? Saya merasa semua pria akan menyukai Anda nanti,” ujar Lucio.
“Aku rasa itu tidak mungkin.”
Krystal memutar-mutar tubuhnya hingga rok pendeknya tanpa senga tersibak ke atas, Cleon lekas menarik rok sang kakak agar tidak naik lebih tinggi lagi. Austin dan Lucio menampar lembut kening mereka, Krystal tidak menyadari betapa bahayanya bila ia berpenampilan seperti sekarang ini.
“Yang Mulia, rasanya Anda akan mengundang singa jantan masuk ke dalam kandang Anda,” kata Austin.
“Kalau singa jantannya macam-macam, tinggal aku gorok saja lehernya. Tapi, jika singa jantannya baik, maka aku akan memberikannya izin untuk menetap di kandangku.”
Perkataan Krystal berarti apabila dia menemukan pria yang sesuai dengannya, maka dia akan memasukkannya ke istana harem miliknya. Austin dan Lucio seketika termangu mendengarnya, sejujurnya mereka tidak ingin ada selir lain lagi, tapi mereka tidak punya kuasa untuk melarang Krystal.
“Sudah ya, aku berangkat sekarang.” Krystal pamit dan tidak lupa memberikan kecupan singkat di bibir Austin serta Lucio. Krystal paham bahwa keduanya tidak menginginkan adanya selir lain lagi, namun ia butuh lebih banyak kekuatan dari orang lain guna membantunya dalam pembalasan dendam ini.
Raut muka muram keduanya berubah seketika Krystal memberi mereka kecupan, mereka menata kembali pikiran masing-masing dengan tetap berprasangka baik terhadap Krystal.
“Laporkan langsung kepadaku jika ada gerak-gerik mencurigakan di istana,” pesan Krystal.
“Oke kak.”
“Baiklah, Yang Mulia.”
Krystal menghilang di depan pandangan mereka pada saat yang bersamaan, ia berteleportasi ke akademi untuk menghemat waktu. Akademi Parthevia yang diketahui oleh Krystal merupakan akademi paling bergengsi, banyak anak-anak dari kekaisaran lain pergi belajar ke akademi tersebut. Selain kualitas mengajarnya yang bagus, di sana juga tersedia fasilitas lengkap yang dapat digunakan oleh semua siswa.
__ADS_1
Penampakan akademi dari depan memang luar biasa bagusnya, bangunan akademi sangat megah. Krystal sempat kagum melihat bangunannya, bahkan di sana juga banyak bunga-bunga langka yang ditanam. Krystal memijakkan kakinya di halaman depan akademi lalu masuk lebih dalam lagi menuju kelasnya. Di sepanjang koridor akademi, Krystal tidak henti-hentinya mendapat berbagai macam pandangan, mulai dari pandangan suka, kagum, hingga benci. Dia tidak peduli mengenai tatapan orang-orang kepadanya, tujuannya datang ke sini hanyalah untuk memberi pelajaran kepada mereka yang pernah merundung dan merisak Krystal dulunya.
“Hei kau! Berhenti di sana! Beraninya kau baru masuk ke akademi hari ini. Tidak bisakah kau membaca yang tertera di surat bahwa seharusnya kemarin kau sudah mesti berada di asrama?”