Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Ancaman Krystal


__ADS_3

Wanita itu adalah Duchess Salvatore, sedari tadi dia berada di tengah-tengah kerumunan bangsawan menyaksikan bagaimana perlakuan Isabelle terhadap Krystal. Duchess Salvatore tidak bisa membiarkan Isabelle menyiksa Krystal lebih lama lagi, dia maju menyelamatkan Krystal, sebab Krystal orang paling berjasa menemukan penyebab calon menantunya menghilang selama beberapa waktu ini.


“Saya tidak akan membiarkan Anda menyiksa Tuan Putri Krystal lagi, kali ini Anda sudah keterlaluan. Bagaimana Anda bisa menyalahkan kematian Putra Mahkota kepada seseorang yang tidak terlibat? Anda ini Permaisuri, jadi tolong bijaklah sedikit!”


Isabelle terdiam, para bangsawan semakin memandang rendah dirinya. Perkataan Duchess Salvatore seperti sebuah sentilan tajam untuk Isabelle. Emilia yang tak terima Isabelle dipermalukan, ia dengan kasar menarik tangan Krystal lalu mendorongnya hingga Krystal terjerembab ke atas lantai.


“Arghhh.” Krystal meringis sakit di bagian telapak tangan dan lututnya, “Kenapa kau mendorongku, Emilia?” tanya Krystal sok polos tak berdosa.


“Ini semua karena kau! Seharusnya kau yang mati dan bukan kakakku! Sekarang kau malah membuat Ibuku malu di hadapan banyak orang. Dasar kau jal*ng! Mati kau!” Emilia memaki-maki Krystal dan menyalahkan Krystal atas semua ini, ia kini berniat memukul kepala Krystal menggunakan bilah kayu yang tergeletak di bawah kakinya.


Namun, niat Emilia ditahan oleh Cleon, bilah kayu yang ada di tangan Emilia dipatahkan oleh Cleon. Olin pun lekas membantu Krystal bangkit, amarah Cleon menggebu-gebu menatap Emilia.


“Anak haram! Kenapa kau malah menghentikanku dan melindungi si jal*ng itu? Sebaiknya kau tidak usah ikut campur dalam masalah ini,” cerca Emilia.


“Aku tidak akan memaafkanmu kalau kau berani menyakiti kakakku. Apa kau tidak puas selama ini menyiksanya? Kau sebagai saintess pemilik kekuatan suci seharusnya kau bisa membedakan perbuatan baik dan buruk. Jangan mengotori posisimu sebagai saintess!”


Emilia geram, garis-garis amarah di mukanya terlihat jelas, urat leher Emilia menegang menekan emosi yang dia rasakan kini.


“Benar juga yang dikatakan Pangeran Cleon, Tuan Putri Emilia tidak sepatutnya bersikap semena-mena terhadap saudarinya sendiri. Apalagi Tuan Putri Krystal adalah adiknya sendiri.”


“Saintess harus menjaga sikap, jangan sampai mencemari nama dewa dengan sikapnya yang tidak mencerminkan kesucian.”

__ADS_1


“Keterlaluan sekali Permaisuri dan Tuan Putri Emilia, selama ini mereka membuat Tuan Putri Krystal dalam kesulitan dan sekarang malah menyalahkan hingga berniat membunuhnya. Apa yang mereka pikirkan?”


Sindiran-sindiran halus sampai hinaan cacian terdengar ke pendengaran Emilia dan Isabelle. Terpaksa mereka meredamkan amarah sesaat hingga pemakaman diselesaikan hari ini. Fred yang mendengar keributan di antara mereka, akhirnya terpaksa turun tangan.


“Ada apa lagi ini? Isabelle! Emilia! Kalian ini tidak ada habis-habisnya ya. Aku sudah mengatakan kepada kalian untuk memperlakukan Krystal dengan baik, tapi sekarang kalian malah berbalik menyalahkannya atas kematian Arsen,” omel Fred.


Isabelle dan Emilia tertunduk tanpa perlawanan akibat dimarahi oleh Fred, Krystal pun menyeringai penuh kemenangan menikmati penderitaan dua orang yang paling dia benci.


“Maaf, Yang Mulia, tapi wanita ini benar-benar sudah membunuh Arsen!” tuding Isabelle seraya menunjuki Krystal.


“Sudah Isabelle! Hentikan sekarang tuduhan tak berdasarmu itu! Jangan membuatku lebih marah lagi!” bentak Fred membuat Isabelle terhening kembali.


Krystal meminta Olin untuk melepaskan tangannya, dia ingin memberi beberapa tekanan khusus kepada Emilia. Krystal mendekati Emilia lalu memeluknya tiba-tiba, Emilia terperanjat kaget oleh sikap aneh Krystal.


“Jangan berpura-pura! Kau in—”


“Waktumu sudah semakin dekat, kematian akan datang menyapamu, aku akan pastikan kematian terbaik untukmu. Tidak aku lepaskan pandanganku darimu, apa pun yang kau lakukan padaku dulunya, pasti kau tuai kembali dalam bentuk derita kematian. Jadi, aku peringatkan kau saintess palsu, jangan berlagak sombong di hadapanku, karena aku akan segera merenggut apa yang sudah kau rebut dariku,” bisik Krystal berisi gertakan serta ancaman untuk Emilia.


Setelah itu, Krystal melerai pelukannya, dia menepuk pundak Emilia selayang sambil tersenyum tipis. Emilia mematung di tempat, ancaman Krystal seakan membuat nyawanya tertarik keluar dari badan.


‘Apa itu barusan? Tekanan yang dikeluarkan gadis itu membuatku gemetar tak karuan. Apakah itu artinya dia serius dengan ancamannya? Aku dibuat membeku dan suaraku tercekat. Aku belum mau mati, tidak akan aku relakan gadis itu seenak hati mengancamku!’ batin Emilia.

__ADS_1


Seusai itu, pemakaman mulai dilaksanakan, semakin sore semakin ramai orang berdatangan mengucapkan belasungkawa teruntuk Kaisar dan Permaisuri. Mata Isabelle serta Emilia bengkak karena sepanjang pemakaman berlangsung, tidak henti-hentinya air mata mengiringi penguburan Arsen. Keduanya tampak sangat terpukul, Isabelle menangis histeris sampai pingsan di tengah pemakaman.


Krystal langsung kembali ke istananya begitu pemakaman berakhir, dia cukup lelah berakting dari tadi pagi dan mengeluarkan banyak air mata palsu. Suasana Istana Primrose senyap sebab seluruh selir Krystal pergi ke luar mencari tahu tentang komplotan berjubah putih. Pada mulanya, Vicenzo tidak diizinkan pergi, namun dia memaksa untuk membantu.


“Oke, saatnya aku memulangkan para arwah ke alam akhirat.”


Krystal beranjak pergi ke istana kediaman Arsen, dia memanggil seluruh arwah wanita untuk berkumpul di depan istananya. Raut wajah mereka sumringah saat mengetahui bahwa Arsen sudah mati, kini mereka tidak punya alasan lagi untuk menetap di dunia ini.


“Aku akan memulangkan kalian ke alam akhirat, di sana kalian akan dipandu langsung masuk ke surga. Aku tidak bisa membuka pintu surga karena jumlah kalian terlalu banyak, jadi aku harap kalian bisa memakluminya,” ujar Krystal.


“Tidak apa-apa, yang penting kami bisa pergi dari dunia ini. Terima kasih telah membantu kami sejauh ini, Yang Mulia,” sahut seorang arwah.


“Ya, tidak perlu dipikirkan. Ini memang sudah tugasku membantu kalian.”


Namun, ada seorang arwah wanita berambut pirang tidak terlihat senang atas pemulangannya, dia tampak muram dan tak bersemangat. Arwah wanita itu merupakan tunangan dari anak Duke Salvatore, Krystal pun akhirnya memutuskan untuk menanyakan alasannya berekspresi seperti itu.


“Ada apa? Apa ada yang mau kau lakukan lebih dulu?” tanya Krystal.


“Yang Mulia, nama saya Brielle, Anda sudah mengetahuinya bahwa saya adalah tunangan anak Duke Salvatore. Sebelum saya pergi, bisakah Anda mempertemukan saya dengan mereka terlebih dahulu? Saya tidak tenang bila meninggalkan tunangan saya begitu saja,” pinta Brielle penuh kesungguhan.


“Baiklah, aku akan membantumu bertemu tunangan dan calon mertuamu menjelang kau pergi ke alam akhirat. Sekarang aku harus membuka pintu alam akhirat untuk mengantarkan yang lain dulu, setelah ini aku akan mengajakmu berjumpa dengan tunanganmu,” jawab Krystal.

__ADS_1


“Terima kasih, Yang Mulia. Terima kasih.”


__ADS_2