
Krystal menghembuskan napas berat, dengan langkah malas ia berjalan mendekat ke arah komplotan berjubah putih tersebut. Namun, Lucio merentangkan sebelah tangannya ke samping untuk menghalangi langkah Krystal. Tatapan mata Lucio penuh kewaspadaan, seolah saat ini dia akan menerkam orang-orang itu. Rahang Lucio menegang, urat lehernya terlihat jelas, entah mengapa firasat Lucio benar-benar buruk.
“Lemaskan rahangmu, Lucio. Jangan sampai kau terbawa emosi sebelum terjadinya adegan pertarungan,” ujar Krystal.
“Tapi, Yang Mulia, saya merasakan bahaya besar dari mereka,” kata Lucio khawatir.
Kemudian Cherry dan Bleas bergegas ke hadapan Krystal, mereka menunjukkan respon yang sama seperti Lucio.
“Yang Mulia, kami juga merasakan hawa bahaya, sebaiknya Anda menyerahkan masalah ini kepada kami. Kita tidak tahu apa yang sudah mereka siapkan,” ucap Bleas diangguki Cherry.
Krystal bisa melihat mereka tengah berapi-api sekarang, sementara itu Olin masih bersantai sambil mengunyah beberapa roti yang sempat dia bawa keluar dari kereta. Krystal menghela napas sembari menepuk pelan keningnya, dia berharap perjalanannya menuju Archer akan baik-baik saja tanpa masalah, namun harapannya terlalu jauh dari kenyataan.
Selepas itu, sebuah anak panah melajang cepat ke arah Krystal lagi, tapi Olin dengan sigap menangkap anak panah tersebut. Di ujung anak panah itu sudah dibubuhi dengan racun mematikan, untungnya racun itu tidak mengenai kulit Krystal. Akan tetapi, yang lebih mengejutkan, Olin memiliki kemampuan yang cukup bagus dalam hal ketangkasan. Ini pertama kalinya Olin menunjukkan kemampuannya di hadapan Krystal.
“Yang Mulia, sepertinya jumlah mereka tidaklah sedikit.” Olin melihat ada banyak pembunuh berjubah hitam tengah mengelilingi tempat mereka saat ini.
Pada waktu yang bersamaan, para pembunuh itu mulai berkeluaran dari tempat persembunyian mereka. Jumlah mereka sangat banyak hingga mampu mengepung mereka kala itu, mereka terus berdatangan keluar dari balik semak belukar serta pohon-pohon yang rimbun.
“Gadis iblis! Sebaiknya, kau menyerah saja dan ikutlah bersama kami, dengan jumlah kami saat ini kalian tidak akan menang melawan kami,” ujar salah satu pria berjubah putih.
“Ikut dengan kalian? Apa untungnya aku pergi bersama kalian? Aku tidak peduli berapa pun jumlah kalian saat ini, tapi yang jelas kami tidak akan kalah dengan jumlah pecundang yang beraninya bermain belakang dan keroyokan!” tekan Krystal.
__ADS_1
“Kalau begitu kami juga tidak akan menunjukkan rasa kasihan!”
Mereka maju bersama melayangkan satu persatu serangan kepada Krystal, tapi serangan mereka dipatahkan dengan mudah oleh Lucio. Bleas secara brutal memainkan apinya dan membakar orang-orang itu dengan mudah, lalu Cherry menenggelamkan mereka ke dalam genangan air yang sudah ia beri sedikit tekanan yang mampu menghancurkan badan-badan pembunuh itu. Olin juga memiliki kemampuan bela diri yang luar biasa, sehingga kala ini Krystal benar-benar tidak melakukan apa pun.
Lucio melenyapkan sebagian dari mereka hanya dengan tangan kosong, Krystal tahu bahwa serangan tangan Lucio seperti sebuah baja yang akan menghancur leburkan musuhnya saat dia sentuh. Cengkraman tangan, ketajaman jemari Lucio bak sebuah pedang yang dengan mudahnya menebas kepala orang. Ketika Krystal tengah menyaksikan pertarungan mereka, sebuah belati melaju ke arah Krystal. Namun, Lucio langsung membawa Krystal ke pelukannya, belati tajam itu membuat tangan kanan Lucio terputus.
Krystal terkejut bukan main, darah merah segar menetes deras di tangan Lucio, “T-tanganmu! Tanganmu, Lucio!” kata Krystal syok sekaligus khawatir.
“Jangan khawatir, Yang Mulia. Tangan saya akan tumbuh kembali karena saya memiliki kekuatan regenerasi.”
Benar yang dikatakan Lucio, beberapa detik kemudian tangan Lucio tumbuh kembali seperti sedia kala. Krystal baru mengetahui mengenai kemampuan Lucio yang sesungguhnya, para pembunuh yang menyaksikan hal itu juga ikut terkejut.
“Inilah alasan kenapa orang-orang menyebut saya sebagai monster, saya harap Anda tidak akan melihat saya dengan tatapan menakutkan seperti mereka,” tutur Lucio dengan wajah yang sedikit meredup.
“Apa yang kau katakan?” Krystal melepaskan pelukannya, “Justru aku beruntung mempunyai selir yang kuat layaknya dirimu. Aku tidak takut denganmu hanya karena kekuatan regerasi itu, sebab aku juga sering dikatakan sebagai iblis dan bukan sebagai dewi.”
Lucio tertegun, lalu sudut bibirnya terangkat, senyum manis merekah di bibirnya. Krystal mengeluarkan senjata andalannya yaitu kipas merah pemusnah, dia ingin membereskan masalah ini secepatnya.
“Nah, ayo kalian majulah bersama-sama,” tantang Krystal.
Para pembunuh tersebut juga terlihat sudah muak, mereka memusatkan serangan sihir mereka kepada Krystal, tapi semuanya ditepis dengan mudah menggunakan permukaan kipasnya. Krystal pun mengayunkan kipasnya satu kali, pusaran angin yang tajam tiba-tiba keluar dan membabat habis semua pembunuh itu. Tubuh mereka tercerai berai di dalam pusaran angin itu, tapi walau begitu, yang masih bertahan hingga saat ini yaitu enam orang berjubah putih yang menghadang jalan Krystal paling awal.
__ADS_1
Gerak-gerik mereka tampak mencurigakan seakan ada sesuatu yang ingin mereka lakukan. Krystal terus mengamati pergerakan mereka secara detail, salah satu dari mereka mengangkat sebelah tangan tinggi-tinggi.
“LAKUKAN!” serunya.
Tubuh Krystal tiba-tiba tertarik ke depan, tepat di bawah kaki tempatnya berpijak terdapat sebuah lingkaran sihir berwarna merah.
“YANG MULIA!” Saat Lucio dan yang lain hendak menyelamatkan Krystal, langkah mereka ditahan oleh tujuh orang berjubah putih yang baru keluar dari arah hutan. Ternyata jumlah mereka saat itu tidaklah sedikit, sebagian dari mereka bersembunyi menggunakan sihir sehingga mata Olin tidak dapat mendeteksi keberadaan mereka.
“Sialan! Apa yang akan kalian lakukan sebenarnya?” tanya Krystal, dia berniat keluar dari lingkaran sihir tersebut, tapi mendadak saja sebuah rantai membelit pergelangan tangannya.
“Kau tidak akan bisa bergerak setelah memasuki lingkaran sihir ini.”
Lingkaran sihir itu mengeluarkan cahaya merah pekat, tubuh Krystal mulai melemah karena cahaya itu. Rasa sakit perlahan menusuk ke dalam tubuhnya, Krystal tidak tahu sebenarnya lingkaran sihir jenis apa yang digunakan untuk menyakitinya waktu itu.
“AAARRRGGHHHH!!” Krystal meraung kesakitan, tubuh Krystal meluruh ke atas tanah. Teriakan Krystal menggaung ke penjuru hutan, Julian dapat mendengar jelas suara teriakan Krystal saat itu. Julian, Austin, dan Ash bergegas menuju arah suara teriakan Krystal yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka berada.
‘Lingkaran sihir apa ini? Mengapa sekujur badanku rasanya terbakar dan sangat menyakitkan? Kekuatanku seolah ditahan untuk keluar. Kalau terus begini, aku benar-benar akan mati di tangan para kep*rat ini,’ batin Krystal.
“HAHAHA BAGUS! APABILA INI TERUS BERLANJUT, MAKA GADIS INI PASTI AKAN MATI HARI INI!” Seluruh komplotan berjubah putih tersebut tertawa kencang menyaksikan Krystal nyaris kehilangan kesadarannya.
“YANG MULIA! TIDAK! YANG MULIA!” Pergerakan Lucio tidak mampu mencapai Krystal, sihir penghalang mengitari Krystal, tidak ada siapa pun yang dapat masuk membawa Krystal untuk keluar.
__ADS_1