
Di malam yang sama, tepatnya di ruang bawah tanah gereja Kekaisaran Albertine, sang Pendeta Agung bersama beberapa pendeta lainnya mengadakan pertemuan penting. Mereka berkumpul melingkar di meja bundar, ekspresi serius tertoreh di masing-masing wajah mereka. Pixies selaku Pendeta Agung, memimpin pertemuan di malam menenangkan ini.
“Keberadaan wanita itu sudah terlalu meresahkan, kita tidak bisa membiarkannya bermain-main dengan kita lebih lama lagi,” ucap seorang pendeta, wanita yang dia maksudkan adalah Krystal.
“Apa Anda masih belum menerima perintah apa-apa dari Kekaisaran Langit?” Pertanyaan itu dilontarkan kepada Pixies.
Pixies merasakan hal yang sama dengan mereka, kegelisahan tak berujung ini dia rasakan sejak bertemu dengan Krystal. Beberapa waktu belakangan ini, dia bahkan tidak dapat memejamkan mata untuk tertidur nyenyak. Sementara itu, dia belum menerima perintah apa pun dari Kekaisaran Langit. Pixies masih menunggu sampai sekarang kepastian kapan dia bisa menyerang Krystal secara langsung.
“Aku juga merasakan hal yang sama dengan kalian, aku tanpa sengaja berpapasan dengan wanita itu saat aku pergi ke istana. Auranya menyeramkan, keberadaan dia di dunia ini terlalu mengerikan, dia pernah membunuh empat orang dewa agung, lalu mengacaukan Kekaisaran Langit. Kekuatannya memang tidak bisa diremehkan,” ujar Pixies hingga membuat para pendeta merinding membayangkannya.
“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Tidak mungkin kan kita duduk manis menunggu wanita itu menghabisi kita satu persatu.”
“Bersabarlah, aku masih menunggu perintah dari Kekaisaran Langit. Bagaimana pun tubuh yang dia tempati adalah tubuh Krystal yaitu tubuh sang saintess asli. Aku memindahkan kekuatan saintess ke tubuh Emilia atas perintah dari Kekaisaran Langit, tidak hanya itu saja aku juga merebut kekuatan Ibunya yang lain yakni kekuatan memanipulasi ingatan. Kalau kita bergerak tanpa rencana, itu sama saja dengan bunuh diri.”
Para pendeta saling bertukar pandang, mereka mengetahui di balik perampasan kekuatan saintess milik Krystal.
“Saya mengerti, menurut Anda apa gadis itu sudah mengetahui rahasia yang sebenarnya?” tanya pendeta yang duduk berdekatakan dengan Pixies.
“Mana mungkin dia tahu, aku sudah menghapus dan memanipulasi ingatannya. Rahasia itu bukan hal yang mudah untuk ia buka kuncinya,” jawab Pixies.
“Tapi bagaimana jik—”
Pada waktu yang bersamaan, muncul cahaya yang begitu menyilaukan mata, di balik kilauan cahaya itu muncullah seorang wanita bersurai pirang berjubah putih keemasan. Muka wanita itu tidak diperlihatkan dengan jelas, namun kehadiran wanita itu membuat seisi ruangan tak berkutik. Pixies yang tahu siapa dia, langsung bertekuk lutut di hadapannya, begitu pula para pendeta lain juga ikut bertekuk lutut.
“Salam kepada Yang Mulia Permaisuri Langit,” ujar Pixies memberi salam.
__ADS_1
Para pendeta terkesiap saat mengetahui identitas wanita itu, mereka segera memberi salam kepada wanita tersebut. Kemudian wanita itu membuka tudung jubahnya, mata hijau seperti safir menyala di kegelapan ruang.
“Sudah lama tidak bertemu, Pixies,” sapa wanita cantik itu menyunggingkan senyum khasnya, “Berdirilah, aku ingin berbicara dengan kalian.”
Mereka berdiri di hadapan wanita yang merupakan Permaisuri Langit itu, berdiri dengan pandangan menunduk sebab kedatangan wanita itu memberikan efek sesak kepada mereka yang notabenenya adalah manusia biasa.
“Saya benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan Yang Mulia,” tutur Pixies.
“Ya, aku kemari ingin berbicara dengan kalian. Aku yakin kalian pasti tahu aku adalah Permaisuri dari Kekaisaran Langit sekaligus istri sah Kaisar Langit. Sebagaimana yang kalian ketahui, Kaisar Langit ialah pemimpin para dewa.”
“Y-ya, kami tahu itu, Yang Mulia.”
“Bagus. Jadi, bagaimana perkembangan gadis itu? Beritahu aku sedetail mungkin.”
Lalu Pixies menjelaskan kepada wanita itu tentang apa saja yang sudah dilakukan oleh Krystal, wanita itu terlihat tidak menyukai Krystal sama sekali.
Wanita itu menyimpan dendam besar pada Krystalia, tergambar jelas dari cara ia berbicara dan dari tatapan matanya bahwa dia menginginkan kematian Krystalia itu terjadi.
“Mohon maaf, Yang Mulia. Bukan maksud saya menolak permintaan Anda, tapi selama ini kami bekerja di bawah perintah Kaisar Langit. Apa yang terjadi bila Kaisar Langit tahu bahwa kami mengkhianatinya?” Pixies menolak permintaan wanita dengan terpaksa karena dia tidak ingin menyebabkan kemarahan Kaisar Langit.
“Kau berani menolakku? Kalau begitu aku bunuh saja kalian sekarang,” ancam wanita itu mengeluarkan aura menyekat leher.
“T-tidak, a-ampun.”
Wanita itu pun menghentikan pengeluaran auranya, dia memandang dingin seluruh pendeta yang berada di ruang itu.
__ADS_1
“Kalian tahu tidak? Kaisar Langit sejak awal tidak pernah berniat membunuh gadis itu. Dia hanya mau membawa gadis itu kembali ke Kekaisaran Langit, itulah mengapa beliau tidak pernah mengizinkan kalian membunuhnya. Bayangkan jika kalian terbunuh di tangannya, apakah kalian pikir Kaisar Langit akan mengulurkan tangan membantu kalian?”
Pixies tersentak, dia tahu betul sifat Kaisar Langit, apa yang dibicarakan wanita itu ada benarnya juga. Kaisar Langit akan membuang siapa saja yang tidak berguna baginya, yang dia inginkan hanyalah Krystalia, dia tidak akan mengulurkan tangan kepada mereka yang tidak bisa membawa Krystalia padanya.
“Kaisar Langit terlalu bodoh, dia mencintai wanita itu hingga mencapai liang terdalam. Dia hanya memanfaatkan kalian saja, tapi apabila kalian bersamaku, sudah aku pastikan kalian aman. Aku hanya mau kematian wanita itu saja, sebab dia tidak lagi sekuat dulu. Kekuatannya berkurang drastis, jadi kalian mempunyai peluang untuk menang.” Wanita tersebut meyakinkan dan membujuk para pendeta.
Pixies menegakkan tubuh dan wajahnya, dia sudah memutuskan di bawah perintah siapa dia akan bekerja.
“Baiklah, kalau begitu kami akan bekerja di bawah perintah Anda, Yang Mulia.”
Senyum puas muncul di bibir wanita itu, dia hanya menginginkan kehancuran Krystal saja dan tidak lebih dari itu.
“Tapi, aku akan memberi peringatan pada kalian, 7 pria yang selalu bersama wanita itu jangan sampai kalian menganggap remeh mereka. Di jiwa mereka ada energi setengah dewa, aku tidak tahu darimana mereka mendapatkannya. Namun, kalian harus tetap waspada dan pasang mata serta telinga di sekitar mereka,” peringat wanita itu.
“Baiklah, Yang Mulia.”
...***...
Kembali ke masa yang sama, Krystal telah balik dari istana neraka dan Heros memutuskan tinggal di istana neraka selama beberapa waktu. Krystal menghempaskan tubuh ke atas tempat tidur seraya menghembuskan napas. Dia masih tidak menyangka kalau dia melakukan hubungan badan bersama Heros, padahal dia tidak pernah membayangkan hubungannya dengan Heros akan sampai ke tahap ini.
“Sekarang tinggal Vicenzo,” gumam Krystal menatap langit-langit kamar.
Ceklek
Suara gagang pintu terbuka, Krystal segera mendudukkan diri, dia penasaran siapa yang datang malam-malam begini mengunjungi kamarnya. Seorang pria menongolkan badan di balik sela pintu yang terbuka, mata Krystal melebar ketika melihat siapa yang datang.
__ADS_1
“Krystal, aku kemari ingin membunuhmu.”