
Seketika tidak terdengar lagi suara raungan dari Krystal, kedua tangannya pun tidak menunjukkan perlawanan, kepalanya tertekuk menghadap tanah. Namun, aura sekitar menjadi mencekam, sedangkan Lucio berupaya mematahkan sihir penghalang yang mengitari lingkaran sihir. Lucio bertambah cemas dan kehilangan kendali saat suara Krystal tidak mencapai pendengarannya. Suara tawa dari orang-orang berjubah putih tersebut terhenti, entah mengapa mereka merasakan getaran yang mengancam jiwa.
“Kenapa aku merasakan nyawaku terancam melayang? Apa yang akan terjadi?” tanya seorang pria berjubah putih itu.
Mereka mengamati dalam-dalam keadaan sekeliling, tapi sudah dipastikan saat itu tidak ada orang lain yang akan mengancam nyawa mereka. Pada saat itu pula, kalung permata yang dikenakan Krystal menunjukkan reaksi yang berbeda. Sebuah sinar berwarna hijau emerald memancar keluar dengan tajam, sinar tersebut melaju cepat menebas satu persatu kepala orang-orang yang sudah menyakiti Krystal.
“Apa itu? Sinar macam apa yang bisa membunuh orang dalam sekejap?”
Tidak ada yang bisa mereka lakukan, sinar itu tidak menghilang sekali pun mereka melakukan perlawanan. Semakin mereka lawan, kecepatan sinar itu bertambah, mereka langsung berlari berhamburan demi menyelamatkan diri sendiri. Akan tetapi, rupanya di sepanjang jalan keluar hutan itu terpasang dinding sihir berwarna hitam, tidak ada yang tahu siapa yang sudah memasang dinding sihir tersebut.
Konon kata orang, membuat dinding sihir memerlukan 100 kekuatan dari penyihir, tapi tidak ada penyihir di sana kala itu. Dinding sihir digunakan untuk mengepung musuh, pertahanannya lebih kuat dibanding sihir penghalang atau sihir pelindung biasa. Bahkan dinding sihir yang terpasang saat ini mempunyai kekuatan 2 kali lipat dibanding dinding sihir biasa.
“Kenapa ada dinding sihir di sini? Kekuatanku tidak dapat menghancurkan dindingnya.”
“Aku tidak tahu kenapa, tapi sinar itu bukan hal yang dapat kita lawan. Kita harus memikirkan cara untuk keluar dari tempat ini!”
Belum sempat mereka memikirkan caranya keluar, sinar itu lebih dulu menghampiri mereka dan menebas kepala mereka hingga mati. Dinding sihir yang menghalangi pun sesaat menghilang, begitu pula dengan sinar hijau tadi juga ikut menghilang bersamaan dinding sihir. Lucio segera menghampiri Krystal yang terjatuh tidak sadarkan diri.
“Yang Mulia, sadarlah!” Lucio khawatir setengah mati, dia menepuk pelan pipi Krystal untuk mengembalikan kesadarannya.
Cherry, Bleas, dan Olin juga mendekat, Cherry langsung mengecek kondisi Krystal dan untungnya tidak ada luka yang parah. Tepat pada saat itu juga, Austin, Julian, dan Ash tiba di lokasi, mereka terkejut melihat mayat yang bergelimpangan dengan jumlah yang tidak sedikit. Ash sangat peka terhadap sihir, sehingga waktu itu dia terperanjat kaget merasakan sisa-sisa sihir yang besar sekali di sana. Namun, dia mengesampingkan hal itu terlebih dahulu karena kondisi Krystal lebih penting dibanding memikirkan jejak sihir yang tersisa.
“Apa yang terjadi di sini? Kenapa Yang Mulia bisa tidak sadarkan diri?” tanya Austin panik.
“Komplotan berjubah putih itu melakukan sesuatu kepada Yang Mulia, aku terlambat menyelamatkannya, tapi untungnya tidak ada luka yang serius. Hanya saja Yang Mulia masih belum sadarkan diri, sebenarnya lingkaran sihir apa yang digunakan oleh orang-orang itu kepada Yang Mulia?” jelas Lucio.
__ADS_1
“Jadi, karena lingkaran sihir? Tapi, kenapa Yang Mulia tidak dapat melarikan diri dari lingkaran sihir itu? Berarti orang-orang biad*b ini telah memasukkan formula sihir yang cukup aneh ke dalam lingkaran sihirnya,” tutur Julian.
“Nanti saja kita pikirkan hal itu, syukurlah Yang Mulia baik-baik saja,” ucap Austin bernapas lega.
“Cherry, tidakkah kau merasakan hal yang aneh dari kalung yang dikenakan Yang Mulia?” tanya Bleas tiba-tiba kepada Cherry.
Raut wajah Cherry berubah serius, dia merasakan yang sama dengan Bleas, kalung permata Krystal tampak bukan seperti kalung biasa. Ada aliran energi sangat besar di kalung tersebut, tapi dia tidak tahu aliran energi jenis apa yang terkandung di sana.
“Aku juga merasakannya, sinar hijau emerald hingga dinding sihir, itu semua karena kalung yang digunakan oleh Yang Mulia ini,” jawab Cherry.
“Tunggu!” Ash merasa tertarik seusai mendengar tentang dinding sihir, “Kalian bilang dinding sihir? Untuk membuat satu dinding sihir saja membutuhkan sihir dari 100 penyihir. Apa kalian yakin dinding sihir itu bersumber dari kalungnya Yang Mulia?” Ash tampak meragukan pernyataan dari Cherry.
“Itu memang benar dari kalung Yang Mulia, kalung permata itu sepertinya memang khusus dibuat demi melindungi Yang Mulia,” balas Cherry.
“Yang Mulia, akhirnya Anda sadar juga.”
Krystal menatap nanar semua orang di sana, dia pun melepaskan diri dari pangkuan Lucio, ingatan terakhir yang dimiliki oleh Krystal adalah lingkaran sihir yang seakan memakan dirinya.
“Kenapa kalian bisa berada di sini? Apakah orang-orang tadi sudah mati?” tanya Krystal kebingungan.
“Sudah, mereka semua sudah dibereskan. Bagaimana tubuh Anda? Apa ada yang sakit?” cemas Julian.
“Aku tidak apa-apa, haruskah kita melanjutkan perjalanan sekarang?” Krystal pun beranjak bangkit sembari merenggangkan otot.
Akan tetapi, Krystal tidak menemukan kuda dan kusir kereta yang dia naiki tadi, di sana hanya tersisa keretanya saja.
__ADS_1
“Sepertinya kedua kuda dan kusirnya melarikan diri ketika kita sibuk membereskan orang-orang tadi,” kata Olin.
Krystal menghela napas lelah, tenaganya terkuras habis akibat lingkaran sihir yang menjebaknya tadi. Tiba-tiba saja Lucio mengangkat tubuh Krystal, dia bermaksud menggendong Krystal menuju Archer.
“Tidak ada pilihan lain, kita terbang saja. Anda pasti lelah setelah melewati hal menegangkan seperti tadi, jadi Anda bersantai saja di pelukan saya,” ujar Lucio seraya tersenyum.
“Baiklah, terima kasih.” Krystal langsung membenamkan kepalanya di dada kekar milik Lucio.
“Seharusnya aku saja yang menggendong Yang Mulia,” rajuk Ash, Austin, dan Julian.
“Kalian kembali saja sana, Yang Mulia biar bersamaku saja,” usir Lucio segera terbang membumbung tinggi ke angkasa diikuti oleh Cherry, Bleas, dan juga Olin.
“Sepertinya kita harus menyusuri kembali seluruh hutan ini untuk mencari musuh yang tersembunyi supaya tidak terjadi lagi hal yang sama,” ucap Austin diangguki Ash dan Julian.
...***...
Di sisi lain pada waktu yang beriringan, seorang pria yang lolos dari terkaman sinar hijau tadi berlarian menyusuri hutan. Langkah kakinya super cepat, dia menahan sebelah tangannya yang nyaris putus. Pada saat timbulnya dinding sihir tadi, dia berada tepat di luar dinding tersebut sehingga memungkinkan dirinya untuk melarikan diri.
Dia pun berjalan memasuki terowongan nan gelap dan lembab, di terowongan tersebut terdapat sebuah pintu rahasia menuju ruangan tempat di mana komplotan berjubah putih itu berada selama ini. Ruangan itu hanya diterangi oleh penerangan cahaya lilin, pemuda itu langsung berlutut di hadapan seorang pria yang wajahnya ditutupi oleh tudung putih.
“Jadi, lingkaran sihir itu juga gagal menghancurkannya?” tanya pria itu dengan suara yang cukup tajam.
“Maaf, Tuan. Lingkaran sihir itu hanya menyakitinya dan tidak membuat jiwanya hancur, bahkan gadis itu memiliki sebuah kalung yang mengeluarkan sebuah sinar berwarna hijau emerald. Sinar itu membunuh semua kelompok kita dengan mudah,” jelas pria itu.
“Berarti kita harus menciptakan lingkaran sihir yang lebih kuat, gadis itu harus kita lenyapkan sebelum menggagalkan rencana kita untuk mengumpulkan energi dari roh manusia. Sedikit lagi batu sihir itu akan terisi penuh, jangan sampai kita gagal sampai saat itu terjadi. Dan juga aku telah meletakkan kloninganku di sekitar gadis itu, siapa sangka nanti jika orang yang paling dia percaya akan berkhianat padanya.”
__ADS_1