
Krystal merasakan ada seseorang yang sedari tadi menatapnya, ia spontak menoleh ke arah balkon tapi tidak ada siapa-siapa di sana selain angin yang menggoyangkan daun pohon. Krystal pun mengabaikan perasaan yang mengganggunya itu, dia melangkah masuk ke kamar mandi lalu segera merendamkan badan ke dalam bath up. Krystal merasakan kesegaran menjalar ke sekujur tubuh, setelah seharian melakukan beberapa pekerjaan, kini dia bisa bersantai ria menikmati waktu kosong sebelum berganti hari.
“Enak sekali, kapan terakhir kalinya aku menikmati waktu luang seperti ini? Aku tidak ingat.”
Bath up tersebut terisi oleh air hangat disertai gelembung-gelembung sabun menutupi tubuhnya. Krystal bersenandung seraya menggosok-gosok badan, dia tidak ingin keluar dari bath up itu dan memilih untuk berlama-lama. Pada saat bersamaan, Krystal merasakan lagi ada mata yang mengawasinya, tapi jaraknya lebih dekat daripada yang tadi dia rasakan.
“Siapa pun kau, keluarlah sekarang juga. Aku tidak akan berbaik hati bila kau bersikeras untuk tidak menampakkan dirimu,” ujar Krystal.
Krystal mengatakannya dengan tegas, tidak lama setelah itu muncul sosok pria bertopeng mengenakan jubah hitam di sudut ruang kamar mandi. Krystal mudah menyadarinya meskipun pria tersebut menggunakan sihir tak kasat mata untuk menyelinap diam-diam tanpa ketahuan. Sejak tadi rupanya pria itu tidak memalingkan wajah mengawasi gerak-gerik Krystal setiap detiknya.
“Seperti yang dikatakan oleh bawahan saya, Anda memiliki kemampuan menakjubkan bahkan sihir tak kasat mata yang saya gunakan barusan dapat Anda deteksi dengan mudah,” ucap pria itu.
Krystal menyunggingkan senyum sembari merebahkan kepala di bath up, bagi dia mendeteksi adanya sihir merupakan hal mudah untuknya.
“Ya, sudah aku duga, kau adalah pemimpin pembunuh bayaran yang terus menyerangku beberapa waktu ini kan? Pembunuh bayaran yang terkenal oleh kegesitan serta ketangkasan dalam membasmi musuh. Kalian berasal dari dunia bawah dan kelompok kalian bernama Black Scorpion.”
Pria itu melayangkan senyum khas di bibirnya, Krystal mengetahui hal paling umum yang beredar di kalangan bangsawan dan rakyat biasa. Tidak terhitung berapa jumlah misi yang dia jalankan selama ini, namun untuk misi dari Permaisuri merupakan yang paling sulit untuk ditangani. Pria itu kehilangan bawahannya dalam jumlah yang tidak sedikit hanya demi melenyapkan satu wanita saja, tapi melenceng dari ekspektasi bahkan dia mesti menerima rugi yang banyak dari misi pembunuhan kali ini.
“Anda tahu tentang kami rupanya. Benar, seperti yang Anda katakan, saya adalah pemimpin Black Scorpion. Saya datang kemari berencana untuk membunuh Anda, apa Anda tidak takut sama sekali?”
__ADS_1
Sekali lagi Krystal menyeringai, dia menegakkan kepalanya untuk menatap lebih jelas pria tersebut.
“Untuk apa aku takut? Tidak ada niat membunuh yang terpancar dari dirimu. Apakah kau yakin ingin membunuhku? Atau niat membunuh itu menghilang setelah kau melihat kecantikanku? Memang tidak bisa dipungkiri lagi, kecantikan tubuh ini mampu menyihir iblis sekali pun. Jadi, Tuan pemimpin Black Scorpion, bisakah kau tunjukkan wajahmu padaku? Aku merasa ada ketampanan tersembunyi di balik topeng itu.”
Krystal tersenyum nakal, dia mendeteksi pria tampan dengan mudah. Otaknya sudah dikendalikan oleh pria tampan berotot. Kemudian, pria itu menuruti keinginan Krystal, topeng yang melekat di wajah pria itu ditanggalkan. Kala itu, Krystal terpesona dengan wajah tampan yang ada di balik topeng. Kulit putih, mata biru terang, rambut pendek berwarna kuning cerah, serta satu anting biru menghiasi telinga sebelah kiri.
“Apakah saya setampan itu sampai Anda dibuat tidak bisa berkata-kata?”
Krystal tersentak dari lamunannya, dia mengacak-acak rambut panjang berwarna sakura itu. Lalu dia bangkit dan beranjak keluar dari bath up, dengan tubuh telanjang dia mendekati pria itu disertai senyum menggoda di bibirnya. Pria itu membeku seraya menelan saliva begitu menyaksikan tubuh Krystal terpampang nyata di hadapannya tanpa terbalut satu pun benang di badan seksinya. Jemari Krystal menyentuh dagu pria itu, tubuh nan basah dari gadis tersebut bersandar bebas di dada bidangnya. Berapa kali pun dia melihatnya, Krystal benar-benar menggugah hasratnya.
“Pria tampan, siapa namamu?” tanya Krystal dengan jarak yang sangat dekat.
“Ash, nama saya Ash,” jawab pemuda itu dengan gugup.
Krystal berhasil membuat Ash jatuh ke dalam perangkap rayuan mautnya, sorot mata nan menggoda lalu suara lembut yang terdengar tajam, Ash tidak bisa menahan diri. Krystal tak memberi celah untuk Ash bergerak, dia semakin memojokkan Ash ke permukaan dinding kamar mandi. Krystal meraih tengkuk Ash kemudian menariknya pelan, bibir merah mud aitu mendarat sempurna di bibir Ash.
Tubuh Ash mulai bereksi, panas dan dingin dirasakan sekaligus, Krystal terus menerus memainkan jemarinya menyentuh setiap bagian yang mudah menerima aksi.
‘Tubuhku bereaksi dengan mudah, aku tidak pernah merasakan hal seperti ini, bahkan selama aku hidup tidak ada wanita yang berhasil menggodaku. Tapi, kenapa? Mengapa dia berbeda? Rasanya aku dibius olehnya. Sepertinya sebentar lagi aku akan gila.’
__ADS_1
Lalu Ash menjauhkan tubuh Krystal dari tubuhnya, napas Ash tersengal-sengal sebab sejak tadi dia menahan napas karena godaan Krystal membuat ia membatu seketika.
“Yang Mulia, jangan pernah menyesali apa yang Anda mulai hari ini. Saya tidak akan memberi ampun bahkan bila Anda meminta saya untuk berhenti,” kata Ash.
“Baiklah, aku akan melayanimu sepenuh hati.”
Kemudian Ash langsung menggendong tubuh Krystal yang masih basah kuyup oleh air mandi, tapi dia mengeringkan tubuh Krystal menggunakan sihirnya. Ash membawa Krystal masuk ke kamar dan membaringkan Krystal di atas permukaan kasur.
‘Aku mendapatkannya lagi, pria tampan berotot dan kuat. Dengan begini, pembalasan dendam akan segera dimulai. Penghancuran Emilia, Arsen, Permaisuri hingga Kaisar, akan lebih menyenangkan mulai sekarang.’
...***...
Di pagi hari yang menyejukkan, Krystal masih tertidur di dalam posisi berpelukan bersama Ash. Mereka berdua sama-sama tidak mengenakan pakaian, tubuh hanya ditutupi oleh selimut berwarna putih. Namun, pada saat itu pula Austin, Lucio, dan Julian masuk ke kamar Krystal, mereka tercengang ketika menemukan Krystal tidur bersama pria lain tak dikenal. Mulut mereka tertutup rapat dan tidak bisa mengatakan apa-apa. Api kecemburuan membakar diri mereka satu persatu, rasa panas di hati terasa jelas menjalar di seluruh pikiran serta tubuh.
“Siapa dia?” bingung Lucio.
“Tidak peduli siapa pun dia, tapi aku tidak bisa menerimanya begitu saja,” geram Austin.
“Mungkinkah dia selir keempat? Tapi, ini terlalu cepat,” tutur Julian.
__ADS_1
Austin mulai kehilangan akal sehatnya, dia menjauhkan Krystal dari Ash, dia tidak rela Krystal disentuh oleh pria yang tidak dia kenal. Sentuh tangan Austin di tubuh Krystal, ternyata membuat Krystal terbangun dari tidur pulasnya.
“Apakah ini sudah pagi? Huh? Kenapa kalian semua di sini?”