Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Menciptakan Skenario


__ADS_3

Krystal menyeringai, ia turun pelan dari atas tempat tidur, “Kau sudah semakin gila ya, Arsen,” ucap Krystal.


Arsen datang sembari menyeret pedangnya, mata panda yang melingkar di kedua mata Arsen secara tidak langsung menjelaskan bahwa beberapa hari ini Arsen tidak mendapat kenyenyakan tidur.


“Aku tahu kalau kau yang membuatku seperti ini, jangan pura-pura tidak tahu!” Arsen menodongkan pedangnya pada Krystal, netra Arsen tampak membara marah.


Krystal santai menghadapi amarah Arsen, dia melipat kedua tangan di dada sambil membalas tatapan berapi-api milik Arsen. Krystal menurunkan pedang Arsen yang nyaris menyentuh leher, namun Arsen menolak untuk menurunkan pedang.


“Apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti sama sekali,” ujar Krystal.


“Kau kan yang membawa arwah wanita-wanita murahan itu?! Jangan mengelak lagi, Krystal! Karena kau aku tidak bisa tertidur, mereka terus menerus menggangguku. Padahal kalau mati, ya mati saja! Jangan muncul lagi di hadapanku.”


“Mereka tidak pernah meninggalkan istanamu, mereka selalu mengawasimu setiap saat. Asal kau tahu, para wanita yang kau bunuh itu tidak akan pergi sebelum kau dipastikan mati. Mengerti kan maksudku? Kalau kau mau tenang, kau harus mati lebih dulu.”


“BOHONG!” sergah Arsen, “Mati? Aku tidak akan mati! Aku tidak salah sama sekali. Mereka yang salah karena tidak bisa memuaskanku, mereka pantas mendapatkannya! Aku Putra Mahkota yang terhormat, jadi tidak ada seorang pun yang bisa membantah perkataanku.”


Raut wajah Krystal berubah dingin, sorot mata violet itu seakan menerkam dan melahap Arsen. Aura mengerikan menyelimuti ruangan seketika, Arsen merinding begitu merasakan aura milik Krystal perlahan menenggelamkan dirinya ke alam ketakutan. Ujung pedang Arsen bergetar karena tangan yang ia gunakan untuk menggenggam pedang itu gemetar hebat.


“Kau tidak salah? Jangan terlalu membanggakan statusmu sebagai Putra Mahkota. Aku bisa saja menjatuhkanmu ke neraka saat ini juga, tapi para roh wanita itu memintaku tidak ikut campur. Mereka ingin menghabisi nyawamu dengan tangan mereka sendiri, harusnya kau lebih sadar diri lagi baj*ngan.”


Arsen beringsut mundur dan menurunkan pedangnya, dada Arsen kembang kempis menahan sesaknya kamar Krystal saat ini. Krystal melangkah maju untuk memojokkan Arsen, dia tidak tahan lagi dengan sifat sombong Arsen. Dia menganggap enteng nyawa manusia, menganggap nyawa manusia hanyalah segelintir remah-remah tak berguna.

__ADS_1


“Apa yang akan kau lakukan? Apa kau mau membunuhku? Kau jangan macam-macam denganku. Kaisar tidak akan memaafkanmu kalau kau berani melukai Putra Mahkota,” kata Arsen dengan suara gemetar.


“Aku tidak peduli kau Putra Mahkota atau bukan, aku hanya ingin memastikanmu membusuk di neraka. Manusia sepertimu tidak patut disebut sebagai manusia, sifatmu yang sombong dan selalu berlindung di bawah status Putra Mahkota itu membuatku jijik.”


Arsen menembakkan beberapa sihir ke arah Krystal, tapi semuanya berhasil dihindari dan ditangkal oleh Krystal dalam sekejap. Arsen kehilangan akal untuk melawan Krystal, dia tidak punya tenaga lebih, tubuhnya melemah beberapa hari ini sebab selalu diganggu oleh para roh.


“Jangan mendekat! Aku belum mau mati! Apa kau tidak takut akan dihukum mati nantinya?”


Krystal tanpa sengaja mendengar ada suara para penjaga berjalan di halaman istananya, seringai licik pun terbit di bibirnya. Krystal merebut paksa pedang Arsen, kemudian dia merobek lengan piyama maroon yang dia kenakan lalu membuat kusut piyama serta rambutnya. Pedang tajam milik Arsen ia goreskan ke telapak serta ke lengan tangannya. Darah segar mulai menetes menodai lantai yang putih bersih, Arsen terdiam melihat tingkah Krystal tiba-tiba menjadi aneh.


“AARRRGHHHH! TOLONGGG!!” teriak Krystal menjatuhkan badan ke lantai, tidak lupa dia mengeluarkan air mata palsunya.


Saat ini Krystal membuat skenario bahwa Arsen lah yang mencoba mencelakai dirinya, mendengar teriakan Krystal, para penjaga pun berlarian ke kamar. Mereka terkejut menemukan Krystal terluka parah lalu Arsen yang menyandar ke dinding. Teriakan Krystal juga sampai ke telinga para selir, mereka bergegas menuju kamar Krystal untuk memeriksa situasi.


“Kakak tiba-tiba menggila dan datang ke kamarku, dia melukaiku dengan pedang dan nyaris memperkosaku. Padahal tadi aku sedang tertidur lelap,” jawab Krystal dengan muka penuh keyakinan dan berpura-pura gemetar takut.


Seluruh penjaga mempercayai perkataan Krystal, mereka tidak tega melihat Krystal yang terluka akibat ulah Arsen.


“TIDAK! DIA BOHONG! DIA YANG BERUSAHA MEMBUNUHKU!” sanggah Arsen meninggikan nada bicaranya.


Seluruh selir Krystal menyelip masuk ke dalam kamar, Julian langsung mendekap Krystal lalu Vicenzo membalut luka Krystal menggunakan sapu tangannya. Para penjaga tampak lebih mempercayai Krystal dibanding Arsen, sebab mereka mengetahui kondisi mental Arsen tengah terganggu dan berada di posisi tidak waras.

__ADS_1


“Yang Mulia, mari kita pergi. Kami akan melaporkan masalah ini kepada Yang Mulia Kaisar. Mohon maaf atas kekacauan ini, kami permisi dulu, Yang Mulia.” Mereka berpamitan pada Krystal sembari menyeret paksa Arsen untuk keluar dari kamar.


“Pfftt hahaha.” Krystal tertawa kencang di tengah kekhawatiran para selir.


“Berhentilah membahayakan diri Anda seperti ini, Yang Mulia,” ujar Lucio cemberut.


“Maaf, aku tidak bermaksud membuat kalian khawatir. Hanya saja aku ingin membuat Arsen semakin hancur, mungkin besok akan datang rumor aneh tentang Arsen. Aku akan menyaksikan kehancurkan Arsen segera.”


Tepat seperti prediksi Krystal, esok harinya rumor buruk tentang Arsen menyebar dengan cepat ke penjuru kekaisaran. Krystal berhasil membuat skenario untuk memfitnah Arsen, kini seluruh istana geger oleh kabar tersebut. Mereka tidak menaruh curiga sedikit pun pada Krystal, kegilaan Arsen beberapa hari membuat orang-orang yakin kalau Arsen memang benar melakukan hal tidak senonoh terhadap saudarinya sendiri.


“DASAR ANAK TIDAK BERGUNA!”


Fred sebagai Kaisar sekaligus Ayah dari Arsen, tidak menerima keberadaan rumor itu, nama baiknya sedang dipertaruhkan di sini. Kini Fred berada di ruang kerjanya, dia menggebu-gebu marah dan mengacak-acak dokumen di atas mejanya.


“Padahal aku sudah memanjakan dan mengabulkan segala keinginannya selama ini, tapi mengapa dia malah membuat nama baik Albertine di ambang keterpurukan? Sial! Seharusnya sejak awal aku tidak pernah memanjakan anak biad*p itu!”


Isabelle dan Emilia tidak bisa berkata apa-apa, mereka tak kuasa menatap mata Fred bila dia sedang di perasaan kalut dan dikuasai amarah. Keduanya masih syok seusai mendapat laporan mengenai apa yang dilakukan putranya terhadap Krystal.


“Yang Mulia, mungkin di sini ada yang salah. Tidak mungkin kan Arsen melakukan itu, bisa saja dia difitnah oleh Krystal.” Akhirnya Isabelle membuka suara.


“Difitnah kau bilang? Bukankah sejak awal sifat putramu memang seperti itu? Sudah banyak wanita yang menjadi korban karena kelainan se*ksual miliknya. Apa kau pikir itu cuma fitnah? Ini salahmu! Kalau kau mengajari anakmu dengan baik, aku percaya hal ini tidak akan terjadi.” Fred mengarahkan kemarahannya kepada Isabelle.

__ADS_1


“Coba Anda selidiki terlebih dahulu! Tidak mungkin Arsen melakukan itu kepada Krystal!” Isabelle tanpa sengaja meninggikan suaranya, Fred menatap tajam mendengar suara Isabelle yang terkesan membentak.


“Lancang sekali kau meninggikan suaramu padaku.”


__ADS_2