Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Tekad untuk Melindungi


__ADS_3

Shion telah pulih sepenuhnya, kedua matanya tidak lagi sakit, tapi ekspresi wajah Shion terlihat tidak baik-baik saja. Sepanjang hari dia hanya duduk muram di atas tempat tidur, dia tidak beranjak sedikit pun dari kasur. Shion tampak sedang memikirkan sesuatu, raut wajahnya sangat lesu, tak ada keceriaan tergurat dari garis-garis mukanya. Shion menghela napas berkali-kali sembari sesekali mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Suasana istana hari ini pun terdengar ramai sebab dalam waktu dua hari lagi konferensi kekaisaran akan segera diadakan.


‘Aku jadi teringat masa lalu, aku jadi ingat mengapa aku bisa bertemu dengan Tuan Putri Krystal. Di saat aku mengingatnya rasanya hatiku sakit, tapi Tuan Putri selalu membawa senyum manisnya untuk membuat hatiku menjadi lebih baik. Beliau seperti matahari, beliau mengajariku bagaimana caranya mencintai, dan beliau juga melimpahkan cintanya padaku.’


Shion tiba-tiba teringat tentang masa lalunya, sebelum bertemu Krystal, Shion adalah anak yatim piatu yang telah ditinggal meninggal oleh kedua orang tuanya sejak umur 13 tahun. Shion terkenal oleh otaknya yang pintar sehingga dia diadopsi oleh keluarga bangsawan ternama di Kerajaan Orlin. Pada awalnya semua itu berjalan mulus sampai Shion dewasa, segala kebutuhannya dipenuhi oleh keluarga angkatnya. Mulai dari kebutuhan belajar, seni bela diri, sampai koneksi masuk ke dalam istana.


Shion akhirnya diangkat menjadi penasihat istana, kinerjanya selalu dipuji oleh para bangsawan hingga rakyat biasa. Shion benar-benar mempercayakan keseluruhan hidupnya kepada Kerajaan Orlin. Sedikit pun Shion tidak menaruh curiga terhadap keluarga angkat atau pun pihak kerajaan, hingga suatu ketika terjadilah sesuatu yang tidak diinginkan, yaitu ditudingnya Shion sebagai dalang dari pemberontakan yang direncanakan oleh keluarga angkatnya.


Shion telah berupaya meyakinkan semua orang bahwa dia tidak pernah merencanakan pemberontakan. Namun, siapa sangka tak ada seorang pun yang mempercayai Shion meskipun telah banyak bukti yang menunjukkan bahwa dia bukanlah dalangnya. Akhirnya, muncullah bukti palsu yang lebih kuat dari keluarga angkatnya untuk menjebak Shion. Kemudian Raja Orlin menetapkan Shion sebagai tersangka utama pemberontakan.


Tentu saja Shion tidak menerima begitu saja keputusan dari Raja Orlin, seusai diputuskan menghukum Shion dengan hukuman mati, Shion mengamuk di Kerajaan Orlin. Pada saat itu meledaklah pertempuran besar yang melibatkan Shion dan pihak Kerajaan Orlin. Berbekal harmonika sebagai senjata andalannya, Shion berhasil melenyapkan Kerajaan Orlin.


Selepas itu, Shion bertemu dengan Krystal dalam keadaan terluka parah setelah bertempur menghancurkan Kerajaan Orlin. Semenjak dikhianati, Shion jadi tidak mudah mempercayai orang lain. Walaupun matanya dapat digunakan sebagai pendeteksi aura, kala itu dia masih belum bisa menggunakannya secara maksimal. Semenjak bertemu Krystal ia bisa menggunakan mata aura tanpa kendala apa pun.


‘Tuan Putri adalah orang yang tidak mengambil untung dariku, beliau memiliki hati yang tulus. Jadi, bagaimanapun caranya aku harus mampu melindungi beliau dari kejaran musuh, setidaknya aku ingin berguna dengan mempersembahkan diriku sepenuhnya kepada Tuan Putri.’

__ADS_1


Sementara itu, pada waktu yang bersamaan, Austin tengah sibuk latihan pedang di lapangan berpedang. Fokusnya sedikit terganggu beberapa waktu belakangan ini karena dia memikirkan nasib dunia ke depannya serta nasib Krystal yang seakan berada di ujung tanduk. Tidak hanya Austin, bahkan para selir yang lain pun juga merasakan hal yang sama.


“Aku tidak boleh mati … aku harus menjadi lebih kuat agar bisa melindungi Tuan Putri. Semenjak aku kabur dari klan pedang beracun, aku telah hidup sendirian tanpa seorang pun teman. Sekarang Tuan Putri memberiku rumah untuk berteduh, teman untuk berbicara, dan memberikanku kasih sayang yang luar biasa besarnya. Meskipun ada tujuh selir di sini, namun beliau mampu berlaku adil kepada kami,” gumam Austin.


Austin adalah tipe pria yang gampang cemburu saat melihat wanita yang dia cintai dekat dengan pria selain dirinya. Akan tetapi, Austin selalu berupaya menurunkan egonya supaya Krystal tidak risih dengan sifatnya tersebut.


‘Aku jadi ingat masa lalu, klan pedang beracun tak satu pun menerima keberadaanku, baik itu Ayah atau Ibuku karena darahku yang mengandung racun. Telah banyak di antara klan pedang beracun yang mati akibat tanpa sengaja tersentuh darahku sehingga mereka memilih untuk mengabaikanku dan menjauhkan keberadaanku dari dunia luar. Tetapi, aku berhasil keluar dari sana dan tiba di Albertine seperti saat ini.’


Austin menghentikan latihannya sejenak, ia mendongakkan kepala ke atas langit untuk menikmati teriknya sinar mentari. Austin berpikir bahwa langit pada hari itu sangatlah indah, berkencan dengan Krystal adalah hal terbaik yang dapat dilakukan kala itu.


Ketika itu pula, segerombolan ksatria datang menghampiri Austin, seluruh ksatria tersebut adalah ksatria yang telah merundung Austin dulunya. Sekarang mereka datang ingin memancing kemarahan Austin, ekspresi Austin pun segera berubah dingin begitu melihat mereka berdatangan mengepung dirinya.


“Hei, rakyat jelata, apa yang kau lakukan di sini? Apa kau sedang berlatih?” ucap seorang ksatria disertai suara gelak tawa dari temannya yang lain.


“Jangan memanggilnya rakyat jelata lagi, sekarang dia sudah resmi menjadi selir dari Tuan Putri Krystal.”

__ADS_1


“Astaga, aku melupakan hal itu, namun apa bagusnya menjadi selir dari seorang Tuan Putri yang terlahir dari seorang wanita malam? Tidak ada yang berubah dari statusnya.”


Mereka terus menerus melayangkan kata-kata mengejek kepada Austin dan juga Krystal, suara tawa mereka membuat Austin jengkel. Lalu Austin menatap balik mereka satu persatu, sorot mata nan menusuk milik Austin membuat mereka terdiam.


“Apa kalian baru saja menghina Tuan Putri Krystal? Nampaknya kalian sangat kuat sampai berani menghina anggota kekaisaran, apalagi wanita yang kalian hina itu adalah wanita yang aku cintai. Kalian mau bertemu neraka lebih cepat?” gertak Austin.


Mereka mematung saat mendengar perkataan Austin yang dingin dan menusuk hingga ke tulang. Rasanya arwah mereka akan meninggalkan tubuh detik itu juga, Austin tidak melepaskan pandangannya sedikit pun dari mereka.


“Kenapa kalian hanya diam saja? Jangan-jangan kalian sungguh ingin mati di tanganku? Hei, mari berbicara dengan pedang! Aku akan menunjukkan kepada kalian bagaimana bentuk neraka sesungguhnya.”


Austin mengarahkan pedangnya ke arah mereka satu persatu, ia menantang seluruh ksatria tersebut untuk menyerangnya menggunakan pedang.


“Kau baru saja menantang kami? Baiklah, jangan menyesal karena sudah berani menantang ksatria istana.”


Mereka menarik sarung pedang dan menyerang Austin satu persatu, tapi tak ada serangan dari mereka yang dapat mengalahkan pedang Austin. Mereka melakukannya berulang kali hingga akhirnya Austin melakukan serangan pembalasan. Dalam sekejap Austin bergerak menebas tubuh mereka menggunakan pedangnya, mereka pun tumbang akibat serangan dari Austin.

__ADS_1


“Dasar lemah! Aku takkan pernah membiarkan orang yang menghina Tuan Putri lolos dari pandanganku. Anggap saja ini sebuah peringatan dariku sebelum kalian benar-benar menemukan ajal kalian di tanganku.”


__ADS_2