
Morgan mendekati Regan, senyum kejam merekah di sudut bibirnya. Dia bersiap-siap untuk segera menebas kepala Regan. Kematian Regan telah ia dambakan sejak lama. Lalu hari ini dia bisa mewujudkan kematian Regan di tangannya.
"Aku akan menuntunmu ke jalan kematian, Regan! Nikmatilah detik-detik terakhir hidupmu. Aku tidak akan membatalkan ayunan pedangku sebelum kau benar-benar mati," tekan Morgan.
Morgan menarik pedangnya lalu ia ayunkan ke arah leher Regan. Namun, niatnya dipatahkan seketika oleh sebuah cambuk yang mementalkan pedangnya.
"Apakah Anda baik-baik saja, Yang Mulia?"
Tanpa disangka, Heros sudah berdiri di hadapan Regan. Dia adalah orang yang telah menghentikan niat membunuh Morgan.
Regan tersenyum miring. "Tampaknya seluruh selir putriku sudah terbangun," gumamnya. "Ya, aku baik-baik saja," lanjut Regan berucap.
Kala itu ketujuh selir Krystalia telah sadar. Sekarang mereka bergerak membantu Regan keluar dari situasi yang menyesakkan tersebut. Meski terasa sulit, tetapi mereka mencoba yang terbaik sampai Krystalia datang mengambil alih pertarungannya dengan Morgan.
Kemudian Vicenzo datang membuat badai pasir yang sangat besar hingga menyapu bersih seluruh kawasan tempat mereka berdiri.
"Kita harus mengulur waktu sampai Yang Mulia Krystalia datang!" seru Austin menarik pedang dari sarungnya.
Para dewa yang berada di bawah perintah Morgan pun mulai bergerak. Austin, Lucio, Julian, Ash, Shion, Heros, dan Vicenzo berpencar mengatasi lawan mereka masing-masing.
Stamina serta kekuatan mereka meningkat secara drastis karena metode penyembuhan yang dilakukan Bleas dan Cherry. Kini merek bertarung dengan sangat bebas sampai mendatangkan kerusakan sekaligus kekacauan di tempat tersebut.
'Tidak ada habisnya mereka membuatku terkejut. Kali ini mereka bisa lolos dari kematian. Tampaknya Regan dan Iris telah mempertimbangkan akan terjadi masalah seperti ini di kemudian hari,' batin Morgan.
Pertarungan berlangsung sengit, ketujuh selir Krystalia berhasil menumbangkan beberapa orang dewa di tangan mereka. Hingga sampailah ketika Morgan tak lagi kuasa menahan diri karena melihat bayangan kekalahan di matanya.
"Tidak bisa dibiarkan! Aku harus melenyapkan mereka bagaimana pun caranya."
Morgan pun mengambil posisi aman, dia merapalkan mantra yang sangat rumit. Kemudian ia mengangkat tinggi tangannya menghadap langit. Sebuah bola cahaya berwarna merah gelap yang sangat besar muncul dari telapak tangannya.
"Matilah kalian!"
Morgan melemparkan bola cahaya tersebut, tetapi tiba-tiba serangannya dipatahkan oleh sekelebat angin kencang. Morgan melirik ke arah datangnya angin itu. Rupanya Krystalia bersama Iris telah kembali.
"Jangan harap kau bisa membunuh mereka menggunakan serangan murahanmu itu!" tekan Krystalia dibubuhi amarah.
Morgan menggertakkan giginya, dia dapat merasakan aliran kekuatan yang sangat hebat di tubuh Krystalia. Sekarang wanita yang sebelumnya sempat dia kalahkan berubah menjadi seseorang yang berbeda.
"Ibu, tolong bawa Ayah pergi menjauh dari sini," ucap Krystalia.
"Baiklah.Tolong berhati-hati dan aku akan membantumu menyingkirkan para dewa sialan itu."
Lekas Iris membawa Regan menjauh dari Krystalia. Gadis itu memberi sorot mata tajam terhadap Morgan. Sungguh, emosi yang memanas di hatinya nyaris meledak keluar.
"Apa yang telah kau lakukan? Mengapa sepertinya kau terlihat berbeda?" tanya Morgan.
"Apa kau ingin tahu?"
Krystalia memperlihatkan secara jelas berlian kepemimpinan yang telah melebur di tubuhnya. Wujud berlian tersebut menyatu di inti kekuatan Krystalia. Pemandangan itu membuat Morgan terkejut bukan main.
"Bagaimana bisa? Bagaimana bisa berlian kepemimpinan itu menyatu denganmu?!" Morgan membentak Krystalia karena dia tampak tidak terima.
Krystalia menyunggingkan sudut bibirnya. "Tentu saja bisa sebab berlian kepemimpinan memang ditakdirkan untuk menjadi salah satu kekuatan terbesarku."
Krystalia melesat secepat kilat ke arah Morgan. Dia mengambangkan kipasnya lalu menebas dada Morgan. Pria itu lengah, intimidasi kekuatan Krystalia bukan main kuatnya.
"Apa dia baru saja menebasku?"
Morgan melihat luka tebasan itu, dia merasakan sakit sekaligus panas di sekujur badannya. Sesaat Morgan didera kebingungan. Pasalnya, sebelumnya luka jenis apa pun yang dia terima bisa sembuh dengan sangat cepat. Namun, luka kali ini berbeda, sulit untuk ia sembuhkan.
"Kenapa lukanya tidak pulih? Apa yang sudah kau lakukan, jal*ng?!" teriak Morgan marah.
__ADS_1
"Tidak ada, aku hanya menambahkan sedikit bumbu di lukamu."
"Kurang ajar!"
Tanpa berpikir panjang, Morgan segera melaju cepat sembari menodongkan pedangnya pada Krystalia. Dia mengayunkan pedangnya sekuat tenaga. Akan tetapi, gadis itu berhasil menangkis serangannya.
"Arah seranganmu menjadi tidak menentu. Atur emosimu atau kau akan kalah dengan cara yang memalukan di tanganku," ujar Krystalia.
"Diam! Kau tidak berhak mengomentari apa pun soal seranganku!"
Morgan terus menerus menyerang Krystalia secara membabi buta. Namun, Krystalia selalu berhasil menghindari serangan tersebut. Akibat luka yang diterima Morgan, aliran kekuatannya menjadi kacau sehingga berdampak pada serangannya.
"Apa yang sebenarnya telah kau lakukan pada tubuhku?!"
"Aku telah menyumbat seluruh aliran kekuatanmu. Bagaimana? Apa kau bisa merasakan pedih dan panas yang menyerang tubuhmu?"
Morgan tiba-tiba saja tersungkur ke permukaan tanah. Rasa sakit yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya perlahan menggerogoti daya hidupnya.
"Beraninya kau melakukan ini kepadaku."
Dengan tubuh yang terhuyung-huyung, Morgan memaksakan dirinya untuk bangkit. Sorot matanya dipenuhi aura membunuh. Penglihatannya mengedar ke sekeliling dan menyaksikan bawahannya satu persatu mati di tangan orang tua Krystalia serta di tangan ketujuh selir.
"Aku tidak akan mengampunimu!"
Inti kekuatan Morgan mendadak mengalami keretakan. Dia mengamuk dalam kondisi tubuh yang tidak stabil. Sihirnya yang diselimuti kejahatan membara seperti api di sekitar badannya.
Kemudian tidak lama setelahnya, rantai yang sangat panjang membalut tubuh Krystalia. Rantai tersebut sama seperti rantai sebelumnya. Namun, kekuatan rantai penyegel itu melebihi kekuatan Morgan yang biasa.
"Apa kau merasakannya? Ini adalah kekuatan yang aku peroleh dari manusia! Aku menghancurkan mereka lalu membuat roh mereka menjadi sumber kekuatanku!"
Krystalia merasakan sesak luar biasa. Jeritan serta tangisan jutaan manusia bisa dia dengar dari aura rantai tersebut. Akan tetapi, Krystalia berupaya tetap bertahan dan memusatkan fokusnya terhadap situasi saat ini.
"Ya, aku merasakannya, tetapi aku rasa ini adalah yang terakhir. Akan aku bebaskan mereka dari kekangan ini lalu aku bunuh kau yang telah menyiksa mereka."
"Apa yang terjadi? Kenapa? Kenapa kekuatanku—"
"Inilah akhirmu, Morgan!"
Rantai yang membelenggu tubuh Krystalia hancur berkeping-keping. Lalu langsung saja gadis itu melesat cepat dan mencekik leher Morgan.
"K-Kau! Lepaskan a-aku! L-Lepas!"
Pergerakan Morgan terkunci sepenuhnya. Dia tidak lagi punya kekuatan lebih untuk melawan Krystalia.
"Astaga, sepertinya kau lupa terhadap apa yang telah kau lakukan. Maka dari itu, melepaskanmu sama saja dengan mendatangkan kehancuran ke sekian kalinya di alam semesta ini."
Krystalia menambah kekuatan tekanan di cengkramannya.
"Bajing*n! Aku t-takkan m-mengampunimu! Aku tidak a-akan mati," lirih Morgan.
"Benarkah itu? Sayang sekali, tetapi di sini akulah yang akan membunuhmu langsung. Jadi, selamat tinggal, Morgan. Aku mengutuk jiwamu untuk lenyap seutuhnya dari alam semesta ini."
Bagian tubuh Morgan satu persatu menghilang seperti debu. Pria itu berusaha meronta dan mencegah kematiannya. Semua itu percuma saja karena takdirnya berakhir di sini.
"Tidak akan aku maafkan. Aku bawa dendam ini ke kematian—"
Belum sempat Morgan menyelesaikan perkataannya, tubuhnya sudah lebih dulu hancur di tangan Krystalia. Seluruh jeratan yang menjepit alam semesta seketika lenyap. Udara segar pun menyapa dirinya.
Dia berhasil mewujudkan dendamnya. Tidak ada lagi orang yang mengacaukan kehidupannya. Sungguh rasanya melegakan sekali, mulai sekarang takkan lagi ada pertarungan yang tidak berguna.
"Akhirnya selesai."
__ADS_1
Tubuh Krystalia mendadak tumbang, untungnya Lucio dengan cepat menangkapnya supaya tidak jatuh membentur tanah.
"Kerja bagus, Yang Mulia," tutur Lucio.
Krystalia tersenyum samar, ia tidak mampu mempertahankan kesadarannya.
"Ya, aku mau istirahat sebentar. Tolong urus sisanya."
***
Beberapa waktu seusai kematian Morgan, kehidupan di alam semesta terpaksa dimulai kembali dari awal. Penciptaan manusia sampai membentuk tempat tinggal yang layak untuk pada makhluk hidup.
"Jiwa-jiwa manusia yang berhasil dibentuk, tolong segera diterbangkan ke bumi!"
"Hei, ayo cepat! Kita tidak bisa bersantai lebih lama lagi."
"Berikan laporan reinkarnasi ini kepada Yang Mulia Kaisar! Jangan sampai kau lupa memberikan penjelasannya sekaligus."
Krystalia hanya melihat dari tempat lain istana langi bagaimana seluruh spirit bekerja. Mereka baru saja diciptakan ulang oleh Krystalia dan langsung melakukan pekerjaan cukup berat.
"Krystal, apa yang kau lakukan di sini? Sebagai Kaisar Langit yang baru diangkat seharusnya kau berdiam diri saja di ruang singgasanamu," tutur Regan datang bersama Iris.
"Ayah, Ibu!" Krystalia amat sumringah, ia langsung menghambur ke pelukan orang tuanya. "Aku hanya senang memperhatikan semua orang bekerja."
"Astaga, kau sudah dewasa, tapi masih suka bersikap manja," ucap Iris.
"Karena aku sangat suka aroma Ayah dan Ibu. Lagi pula aku sudah lama tidak bertemu dengan kalian berdua."
Krystalia melepas pelukannya lalu bola matanya bergerak ke segala arah.
"Oh iya, Kakek ada di mana? Aku tidak melihatnya hari ini," lanjutnya bertanya.
"Kakekmu sedang membantu para spirit membentuk jiwa baru," jawab Regan.
"Hmm, rupanya seperti itu."
Di saat bersamaan, seorang pelayan datang menghampiri Krystalia.
"Mohon maaf mengganggu, Yang Mulia. Ketujuh dewa agung sedang menunggu Anda."
"Baiklah, aku akan segera ke sana."
Krystalia pun bergerak meninggalkan Iris dan Regan. Sekarang dia pergi menemui ketujuh selirnya yang saat ini telah menjadi tujuh dewa agung yang diberi kuasa memerintah alam semesta.
"Maafkan aku sedikit terlambat."
Kehadiran Krystalia disambut senyuman hangat. Mereka langsung berburu mendekap serta mencium Krystalia.
"Krystal, apakah sekarang kau sudah siap?" tanya Ash.
Mereka kala itu memanggil Krystalia dengan namanya saja sebab itu merupakan permintaan gadis itu.
"Siap untuk apa?" bingung Krystalia.
"Tentu saja untuk menyambut kehidupan baru di alam semesta," ujar Julian.
"Sekarang kami berhasil menata dunia manusia kembali. Aku rasa kau perlu melihatnya secara langsung," imbuh Shion.
"Baiklah, mari kita lihat kinerja kalian sebagus apa. Awas saja kalau sampai gagal," kata Krystalia.
Mereka tampak bahagia sekali saat bersama-sama. Ketujuh pria itu sangat mencintai Krystalia. Mereka bahkan tidak membiarkan gadis itu bekerja sedikit pun untuk membangun ulang tatanan alam semesta ini.
__ADS_1
Sampailah beberapa tahun seusainya, kehidupan di dunia manusia berjalan baik. Krystalia pun kini dikaruniai empat orang putra dan tiga orang putri. Anggota istana langit pun bertambah ramai.
Krystalia mendapatkan akhir yang bahagia setelah dirinya menghadapi ujian yang bertubi-tubi. Kini hidupnya sebagai Kaisar Langit membawa peradaban kehidupan makhluk hidup ke jalan yang sejahtera.