Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Ketakutan Si Pemilik Tubuh


__ADS_3

Krystal sontak kaget karena pendeta tersebut mengetahui nama aslinya, di waktu bersamaan tangan Krystal gemetar hebat dan rasa takut menelan dalam-dalam hatinya. Krystal menarik napas untuk meredamkan ketakutan tanpa alasan itu, meski dia terlihat kesulitan untuk mengatur irama napas yang terasa berat.


‘Aneh sekali, sepertinya pemilik tubuh asli takut dengan pendeta ini. Apa yang terjadi sebenarnya? Aku tidak punya ingatan Krystal pernah bertemu pendeta ini, sedikit pun tidak ada ingatan tersisa.’


Krystal terdiam bersama kebingungan pikirannya, sementara itu Pendeta Agung masih menunggu respon dari Krystal.


“Hei! Apa kau tidak mendengarku?” tegur Pixies, sang Pendeta Agung dengan nada tinggi.


Krystal spontan mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk, dia nyaris melupakan keberadaan Pixies.


“Apa yang kau katakan pak tua? Aku siapa? Krystalia? Iblis pembunuh dewa? Kau ini sinting kah? Jelas-jelas aku ini Krystal Albertine, aku bukan Krystalia. Tolong perbaiki mata dan terlingamu biar tidak salah mendengar tentangku lagi,” jawab Krystal.


Pixies seketika menggeram kesal oleh ulah Krystal, dia merasa terhina dan direndahkan, bahkan selama ini semua orang menghormati dirinya. Kaisar sendiri hormat padanya, tapi gadis di hadapannya saat ini memperlakukan dia lebih buruk.


“Apa kau mau mencoba mengelak? Aku tahu semua tentangmu, aku tidak mengerti bagaimana cara kau masuk ke tubuh itu tapi kau—”


“Ahh sudahlah, terserah kau saja. Aku lelah menghadapi orang-orang tidak jelas seperti kau ini, aku mau lanjut jalan-jalan lagi. Jangan sok tahu masalah hidupku, sebaiknya kau berdiam diri mengurus gadis jal*ng si Emilia. Bukannya dia saintess kebanggaanmu? Jaga dia baik-baik sebelum aku berhasil memenggal kepalanya nanti.”


Krystal melewati Pixies seraya memberi gertakan halus, jauh di lubuk hatinya terdalam ada banyak hal yang dia pertanyakan, termasuk tentang Pixies yang mengetahui tentang nama aslinya.

__ADS_1


“Tunggu dulu! Aku belum selesai berbicara denganmu. Aku hanya memperingatkanmu bahwa tidak ada tempat untukmu lari dari dunia ini. Iblis sepertimu tidak bisa dibiarkan hidup terlalu lama, itulah mengapa mereka mengejarmu ke mana pun kau pergi. Jangan terlalu santai, hidupmu selalu berada di ambang kematian. Membunuh para dewa bukan masalah sepele,” ujar Pixies menyeringai tipis.


Krystal menghentikan langkahnya, dia memutar tubuh, serta menatap tajam ke arah Pixies.


“Aku tidak peduli.” Krystal mengacungkan jari tengahnya, “Aku bukan iblis, aku ini dewi jadi aku berhak menghukum siapa pun yang berani mengusikku, termasuk kau sendiri. Dan satu hal yang perlu kau tahu, aku tidak pernah membunuh dewa. Aku tidak tahu siapa yang memberitahumu, tapi yang pasti itu semua adalah berita bohong,” lanjut Krystal berucap.


Krystal berlalu pergi meninggalkan Pixies sendirian, hatinya panas dan seakan meledak saat Krystal mencoba mengelak.


‘Gadis itu benar-benar tidak bisa dibiarkan tinggal lebih lama lagi di dunia ini, keberadaannya adalah ancaman besar. Beliau memerintahkanku untuk mengawasi gadis itu, sifatnya seperti iblis karena sudah banyak dewa yang mati di tangannya. Aku tidak boleh lengah, aku tidak tahu kapan gadis itu akan mengamuk lagi. Aku baru pertama kali bertemu langsung dengannya, namun aku merasakan bahwa keberadaannya sungguh mengerikan.’


Krystal memutuskan untuk tidak melanjutkan kembali jalan-jalannya, dia merasa sesak setelah bertemu Pixies. Terpaksa Krystal memutar balik langkah kakinya, dia memilih jalan yang berbeda agar tidak berpapasan dengan Pixies lagi.


Krystal berhenti di depan sebuah cermin besar, dia mengamati bayangannya yang terpantul dari cermin tersebut.


‘Aku tidak tahu sampai kapan aku akan bertahan, tapi aku akan menyelesaikan dendam Krystal terlebih dahulu. Pria bringsk itu pasti memberi perintah Pixies untuk mengawasiku, aku tidak ingin tertangkap lagi seperti dulu. Iblis pembunuh dewa? Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku mendengar julukan itu. Aahh sial! Mengingat masa itu membuatku frustasi.’


...***...


“Yang Mulia, apa Anda tidak tidur sejak tadi malam?” tanya Olin.

__ADS_1


Krystal sedari kemarin tidak tidur, dia larut di dalam pikiran rumit tak berujung, berbagai pikiran di luar batasnya menghantui otak Krystal. Lalu saat ini dia tengah termenung di meja riasnya seraya menatap dirinya di pantulan cermin.


“Ada banyak hal yang mesti aku pikirkan, makanya aku tidak sempat untuk tidur. Berbagai pikiran buruk mulai menguasaiku, rasanya aku akan mati jika terus menerus seperti ini.”


Tok tok tok


Seseorang mengetuk pintu kamar Krystal, dengan lekas Olin membukakan pintu untuk melihat siapa gerangan yang datang berkunjung. Ternyata yang datang ialah seorang pelayan pria, dia membawakan buket bunga mawar merah untuk Krystal. Pelayan pria itu tidak menyebutkan bunga dari siapa itu, dia memberikannya kepada Olin dan kabur begitu saja setelahnya. Kemudian Olin memberikan buket bunga mawarnya kepada Krystal, tidak lupa sebelum itu ia membaca sepucuk surat yang diberikan bersamaan buket mawar tersebut.


Kening Krystal berkerut ketika membaca surat itu, rupanya pengirim bunganya adalah Leonard. Di dalam suratnya, dia mengatakan bahwa dia ingin mengajak Krystal pergi makan siang hari ini.


“Haha makan siang katanya? Baiklah, aku akan menerima ajakan pria baj*ngan itu, tapi jangan salahkan aku bila aku membuatnya kesal nanti.” Krystal meremuk kertas surat itu dan melemparnya ke tempat sampah beserta buket bunganya.


Selepas itu, Krystal segera bersiap-siap, dia mengenakan dress pendek berwarna biru gelap. Kaki jenjangnya terpampang jelas, rambutnya ia geraikan hingga menutupi pinggul, tidak lupa ia memakai parfum dengan wangi memikat. Riasan tipis di muka membuat siapa saja terpikat oleh daya tarik Krystal. Setelah selesai, Krystal langsung melaju pergi bersama Olin, sebab semua selirnya tidak ada di istana hari ini, termasuk Julian yang diajak pergi oleh Austin tadi subuh.


Leonard mengajak Krystal makan siang di sebuah restoran yang terkenal di tengah kota, restorannya selalu ramai didatangi oleh para bangsawasan tingkat atas. Sebelum masuk, Krystal menghela napas dan mengelus dada supaya emosinya tidak terpancing keluar. Lalu Krystal segera melenggang masuk ke dalam, ramai mata yang menatap dirinya sejak tadi, tapi tidak terlalu ia hiraukan. Begitu sampai di dalam, Krystal menemukan Leonard tengah melambaikan tangan padanya, wajah Leonard teramat bahagia melihat Krystal menerima undangannya.


“Silakan duduk, Yang Mulia.” Leonard menarik kursi dan mempersilakan Krystal untuk duduk.


“Yang Mulia? Tumben sekali kau memanggilku Yang Mulia, biasanya juga kau berbicara non formal padaku. Ada apa ini? Apa ada yang kau inginkan dariku?”

__ADS_1


__ADS_2