Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Penudingan Tak Berbukti


__ADS_3

Kala ini istana dipenuhi oleh keributan, Fred dan Isabelle kewalahan menangani masalah Arsen. Emilia tidak menemukan adanya keanehan pada Arsen, bahkan Fred sudah memanggil penyihir dan para pendeta untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi pada Arsen. Tidak satu pun dari mereka yang berhasil mendeteksi adanya keanehan dari Arsen, meskipun begitu Fred masih bersikeras agar mereka dapat menyembuhkan Arsen dari kegilaannya yang sejak tadi malam tidak berhenti meneriaki bahwa dia melihat hantu di setiap sudut istana.


Arsen terpaksa diikat di atas tempat tidurnya, sebab jika dia dibiarkan maka orang lain akan menjadi korbannya. Saat ini semakin banyak orang yang bolak balik masuk ke kamar Arsen hanya untuk memberi dia obat penenang, tapi bukannya semakin tenang, Arsen malah semakin mengamuk. Di sisi kanan ranjang, berdiri Isabelle dan Emilia tengah bersedih hati menyaksikan kondisi Arsen. Emilia merasa tak berdaya dan tak berguna begitu tahu kekuatannya tidak berguna sama sekali untuk menyembuhkan Arsen.


“Apa yang sebenarnya terjadi dengan Arsen? Kenapa dia bisa menjadi seperti ini?” Isabelle terisak menangisi putra tercintanya.


“Mengapa kalian mengatakan kalau putraku baik-baik saja? Sudah jelas dia berada di kondisi memprihatinkan. Selama ini aku telah memfasilitasi kalian, tapi menangani masalah ini saja kalian tidak mampu. Dasar tidak becus!” Fred memarahi seluruh penyihir dan pendeta yang berada di ruangan itu, dia kehilangan akal sehatnya karena Arsen.


Emilia tampak mulai menyadari suatu kejanggalan, kecurigaannya dia arahkan kepada Krystal. Emilia pun berspekulasi berbagai hal yang dilakukan oleh Krystal, menurutnya tidak ada yang lebih pantas untuk dicurigai selain Krystal. Langsung saja Emilia bergegas keluar dari kamar, dia menuju ke Istana Primrose, tempat Krystal kini berada.


Sementara itu, di waktu yang bersamaan, Krystal sedang asik bersantai bersama keempat selirnya di meja taman. Krystal tengah dipangku mesra oleh Ash, hal itu menimbulkan kecemburuan dari ketiga selir lainnya. Namun, Krystal hanya tahu kalau dia menikmati waktu itu, dia bahkan saling menyuapi cemilan dengan Ash.


“Hei, Ash! Tidak bisakah kau gantian dengan kami?” protes Austin naik pitam.


“Apa yang kalian katakan? Saat ini Yang Mulia sedang berbahagia bersamaku. Nikmati saja teh yang hampir dingin itu,” jawab Ash sedikit bernada tinggi.


“Kau bilang apa? Beraninya kau! Aku lebih dulu menjadi selir dibanding kau!” murka Austin.


“Ya aku tidak peduli sialan! Kau jangan membuatku marah! Yang Mulia lebih nyaman denganku daripada bersama kau!” Ash memarahi Austin balik, Krystal hanya menikmati pertengkaran mereka saja.


“Aku yang lebih pantas memangku Yang Mulia, kalian berdua akan membuat Yang Mulia tidak nyaman.” Lucio menekan mereka berdua menggunakan auranya, Austin dan Ash terdiam ketika melihat marahnya Lucio yang cukup mengerikan. Sedangkan Julian, melampiaskan kecemburuannya dengan melahap semua cemilan yang tersedia di atas meja.

__ADS_1


Lalu Krystal tiba-tiba merasakan kehadiran Emilia kian mendekat ke arahnya, dari arah timur taman, Emilia berjalan menuju tempat Krystal bersantai. Krystal menyeringai menyaksikan Emilia membawa amarahnya.


“Wanita jal*ng!” Emilia memanggil Krystal dalam jarak beberapa langkah, dia terdiam seketika melihat Krystal sedang berpangku mesra dengan Ash, dia juga melirik ke arah Austin, Lucio, dan Julian. Terbesit iri mendalam di hati Emilia, pasalnya dia tidak pernah mendapat pria setampan selir-selir Krystal. Rasa ingin merebut semakin melonjak naik, tapi Emilia menyingkirkan niatnya terlebih dahulu dan menyelesaikan masalah yang menimpa kakaknya.


“Ada apa? Tumben sekali kau memijakkan kakimu di istanaku,” ucap Krystal turun dari pangkuan Ash.


“Krystal! Tidak usah berpura-pura. Aku tahu, kau yang membuat kakakku menderita seperti sekarang kan?” tuding Emilia.


Krystal melipat kedua tangannya di dada seraya memandang angkuh pada Emilia, dia berhasil membuat keributan besar di kekaisaran dan yang perlu dia lakukan sekarang hanyalah meladeni amarah Emilia.


“Jadi, kakakmu tersayang sedang menderita? Aku baru mendengarnya. Pantas saja istana heboh sejak tadi pagi, rupanya ini masalah kakakmu.” Krystal berbicara santai namun terdengar tajam di telinga Emilia ditambah sorot mata Krystal terkesan meremehkan, hal itu membuat Emilia nyaris meledak di tempat.


“Rupanya kau jauh lebih bodoh dari yang aku kira.”


“Apa kau bilang?”


“Aku bilang, kau lebih bodoh dari yang aku kira. Seharusnya, kau mencari bukti lebih dulu untuk membuktikan tuduhanmu itu. Apa kau pikir orang akan mempercayai prasangka tak berdasar itu tanpa adanya bukti? Mestinya kau berpikir lebih jauh untuk menudingku.”


Emilia merasa tertohok, apa yang diucapkan Krystal memang benar adanya, walaupun dia adalah Tuan Putri yang dihormati di Albertine, tapi dia tetap harus memberi bukti valid atas tuduhannya. Apabila dia tidak dapat mempertanggung jawabkan tudingannya tanpa bukti, maka nama baiknya akan ikut tercoreng.


Emilia menatap geram Krystal, kedua belah tangannya terkepal kuat menahan emosinya agar tidak menyembur keluar dari ubun-ubunya.

__ADS_1


“Jadi, maksudmu aku harus mencari bukti atas kejahatanmu ini? Kau tahu bukan? Hukuman melukai keluarga kekaisaran akan mendapat hukuman mati? Aku harap kau tidak menyesal karena sudah berani menantangku.”


“Iya, aku tahu itu, tapi kau tidak akan pernah mendapatkan bukti apa pun.”


Krystal mengangkat tangannya tinggi-tinggi, lalu mengayunkannya ke arah pipi Emilia, melihat Krystal akan menamparnya, Emilia pun memejamkan mata. Akan tetapi, ternyata Krystal tidak jadi mendaratkan tamparan ke pipi mulus Emilia, ia mengelus pipi Emilia sembari tersenyum jahat.


“Tenang saja, aku tidak menampar wajah mulusmu ini. Kasihan sekali bila wajahmu hancur oleh tanganku, aku takut jika nanti tidak ada pria yang sudi menemanimu tidur,” sarkas Krystal.


“A-apa? Lancang! Berani sekali kau—”


“Jangan terlalu emosi, Emilia. Permainan baru saja dimulai,” ucap Krystal menepuk pundak Emilia.


“Permainan? Apa yang kau rencanakan sebenarnya? Apa jangan-jangan kau sudah tahu—” Emilia langsung membekap mulutnya, dia nyaris mengungkap hal paling dirahasiakan.


“Apa yang kau maksudkan? Tahu? Tahu masalah apa? Apa kalian menyimpan sesuatu di belakangku?” Krystal menatap Emilia penuh curiga, ekspresi Krystal berubah serius.


“Tidak ada, lupakan soal itu. Aku akan buktikan bahwa kau memang benar terbukti mencelakai kakakku.”


Seringai licik terbit di bibir tipis Krystal, kemudian dia melangkah dan mendekatkan kepalanya ke samping telinga Emilia.


“Kau tidak akan pernah bisa mendapatkan buktinya, sebentar lagi kakakmu akan mati dan posisi takhta Putra Mahkota akan kosong. Sebaiknya, kau bersiap-siap untuk itu, karena aku akan merebut posisi Kaisar. Lalu aku akan menciptakan hidupmu seperti neraka, bahkan mati pun kau akan tetap masuk neraka.”

__ADS_1


__ADS_2