
Mata Fred dan Marquess Sulivan serentak membelalak kaget karena tatapan Krystal yang menekan mereka. Keduanya tak berdaya melawan Krystal, tapi sepertinya hal itu tidak membuat mereka diam begitu saja.
“Lancang! Apa kau baru saja mengancamku? Seharusnya kau sadar dengan posisimu di istana ini!” bentak Fred.
“Ini istanaku, aku berhak melakukan apa saja di sini. Sebaiknya kali pergi sebelum aku patahkan leher kalian!” usir Krystal disertai gertakan.
Akhirnya, mereka berdua tidak sanggup untuk melawan Krystal lebih jauh lagi, mereka pun memilih untuk segera pergi dari istana milik Krystal. Sementara itu, Shuria dan Adrian terlihat gemetar takut, mereka baru bisa bernapas lega seusai Fred dan Marquess Sulivan beranjak pergi dari sana.
“Kakak, apa laki-laki yang barusan adalah Ayah saya?” tanya Adrian ragu-ragu.
Krystal tersenyum tipis, ia pun berjongkok di depan Adrian seraya mengusap puncak kepalanya dengan lembut.
“Dia memang Ayah Adrian, tapi seorang Ayah tidak akan melakukan hal yang kasar seperti tadi kepada anaknya. Jadi, apapun yang terjadi Adrian harus terus bersama Ibu ya, tidak semua Ayah itu berprilaku baik kepada anaknya. Adrian harus melindungi Ibu supaya tidak dikasari oleh Ayah yang tidak bertanggung jawab itu,” jelas Krystal sekaligus memberi sediki nasihat.
Adrian tampak sedih, ia menekuk ekspresi wajahnya, Krystal paham bahwa anak seusia Adrian butuh sosok seorang Ayah di sampingnya. Hanya saja Fred bukanlah Ayah yang baik, dia tak akan mampu melindungi Shuria dan Adrian dari serangan Isabelle. Oleh karena itu, Krystal berkata demikian kepada Adrian agar mereka tidak disakiti lagi oleh Isabelle. Krystal merasa khawatir, selama tujuh tahun mereka hidup di dalam kesengsaraan akibat teror dari Isabelle, kini Krystal ingin melindungi mereka untuk tetap aman tinggal di sini.
“Saya pikir semua Ayah itu baik,” tutur Adrian sedih.
“Walaupun tidak ada Ayah, Adrian kan masih bisa bahagia, apa Adrian tidak melihat kami di sini? Banyak orang yang menyayangi Adrian, tidak hanya satu atau dua orang, jadi Adrian tidak perlu bersedih lagi. Tidak semua orang yang dapat menikmati kebahagiaan seperti yang Adrian punya. Apa Adrian paham?”
__ADS_1
Adrian mengangkat wajahnya, ia mengedarkan pandangan ke masing-masing selir Krystal, raut wajah yang sedih pun berubah bahagia. Dia mengangguk lalu memeluk Krystal, perasaan hangat mengalir di hati Adrian. Walau tidak punya Ayah di sisinya, setidaknya Adrian tidak akan kesepian di istana ini.
“Baiklah, kalau begitu sekarang kalian istirahat saja dulu, pasti kedatang pria baj*ngan itu membuat Anda syok. Kabari saya kalau ada masalah lain atau Kaisar datang mengganggu Anda lagi,” ucap Krystal.
“Baik, terima kasih, Yang Mulia telah membantu kami berdua.”
Shuria segera membawa Adrian kembali masuk ke dalam kamar, Krystal pun menghela napas seusai meladeni dua orang yang paling dibenci olehnya.
“Yang Mulia, tidakkah menurut Anda orang-orang itu dihancurkan sekarang juga? Saya sangat geram melihat mereka yang selalu seenaknya kepada Anda,” tutur Austin diangguki oleh yang lain.
“Tidak, aku sudah menyiapkan kejutan untuk mereka, tunggu saja karena pembalasan dendamnya akan segera berakhir,” ujar Krystal seraya tersenyum jahat.
Kemudian Krystal pun meminta izin untuk kembali ke kamar, pikirannya masih belum lapang, ia berencana untuk merebahkan sejenak tubuhnya supaya rasa lelah yang dia terima hari ini menghilang sesaat setelah terbangun nanti. Krystal langsung merebahkan badannya ke permukaan kasur, otaknya benar-benar tidak bisa diajak untuk berkompromi. Segala macam masalah menerjang dirinya dari segala arah.
“Aku berkelana selama seribu tahun ke berbagai tempat, aku kira setelah aku masuk ke Kekaisaran Langit aku akan menemukan kebahagiaan, tapi nyatanya aku salah. Tidak ada kebahagiaan yang aku peroleh,” gumam Krystal.
Lalu Krystal mulai mengingat-ingat saat pertama kali ia bertemu dengan Killian yaitu di enam ribu tahun yang lalu. Krystal kala itu berkelana selama selama seribu tahun ke berbagai tempat, ia tumbuh seorang diri tanpa ada siapa pun di sisinya. Pada saat ia tanpa sengaja tersesat ke depan gerbang istana Kekaisaran Langit, dia bertemu dengan Killian. Ketika itu Killian sedang pergi keluar memeriksa keamanan istana, ia langsung terpesona saat dia melihat sosok Krystal yang cantik rupawan.
“Siapa namamu?” tanya Killian, dia menghampiri Krystal karena penasaran.
__ADS_1
“Krystalia,” jawab Krystal singkar, datar, dan tak berekspresi.
Pertemuan mereka terbilang tidak ada konflik, karena Killian jatuh cinta kepada Krystal saat pertama kali bertemu, akhirnya dia memutuskan untuk membawa Krystal masuk ke Kekaisaran Langit. Kesan pertama Killian tentang sifat Krystal yaitu menurutnya Krystal sangatlah dingin, dia tidak banyak berbicara, dan dia harus selalu mengajak Krystal berbicara duluan. Killian juga kerap kali membawa Krystal untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan di istana.
“Woahh Krystal, sudah aku duga kemampuanmu luar biasa. Bagaimana kau bisa mengerjakan dokumen ini dalam sekejap?” Killian berdecak kagum akan kemampuan Krystal mengerjakan seluruh tumpukan dokumen di atas meja Killian.
“Bukankah ini sangat mudah?”
Killian menatap lekat wajah Krystal, dia merasakan ada sesuatu dengan diri Krystal sebab semua dewa juga merasakan bahwa Krystal memiliki aura dewa di dirinya. Krystal saat itu masih belum terlalu mengerti tentang aura dewa atau hal lain, dia hanya berkelana ke seluruh tempat tanpa mencari tahu siapa dirinya yang sebenarnya.
“Krystalia, maukah kau tinggal di sini selamanya denganku? Kau tidak perlu lagi berkeliling atau berkelana, kau hanya perlu tinggal di sini bersamaku,” tutur Killian seraya menggenggam tangan Krystal.
“Selamanya?” Krystal memiringkan kepalanya.
“Iya, selamanya. Bila perlu nanti aku ingin menjadikanmu sebagai istriku.” Killian mencoba untuk merayu Krystal, tapi bukannya terhanyut dalam rayuan, Krystal malah semakin bingung.
“Istri itu apa?” tanya Krystal.
Killian hampir lupa, banyak hal yang tidak diketahui oleh Krystal perihal perasaan cinta, dia tidak pernah merasakan seperti ap aitu cinta sehingga Killian terpaksa harus menjelaskan padanya dari awal.
__ADS_1
“Istri itu berperan sebagai pasangan hidup, jadi kau akan hidup bersamaku berlandaskan perasaan cinta. Nanti kau perlahan akan mengerti juga maksudku,” terang Killian.
Krystal menganggukkan kepalanya, walau ia tidak mengerti sepenuhnya, tapi karena Killian sudah baik dengannya maka dia menyetujui kesepakatan untuk menjadi istri Killian suatu hari nanti. Krystal yang masih buta akan makna cinta, perlahan ia tumbuh lalu mulai mengerti apa itu cinta yang dimaksud Killian. Perubahan Krystal tidak sampai di sana saja, sekarang juga dia sudah bisa mengekspresikan dirinya. Setelah hampir seratus tahun semenjak pertemuan pertamanya dengan Killian, kini Krystal mulai menempatkan rasa nyaman tinggal di istana Kekaisaran Langit.