Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Menyerap Kekuatan Emilia


__ADS_3

Krystal menyusuri lorong istana utama, berbagai jenis tatapan mengarah kepada dirinya, namun Krystal tidak mempedulikan hal itu. Krystal membelokkan langkah tepat ke ruang kerja Fred, ia langsung masuk tanpa mengetuk pintu.


“Ada apa memanggilku?” tanya Krystal sinis tanpa basa-basi. Duke Nadean dan Marquess Sulivan yang kebetulan berada di sana melayangkan sorot tidak suka, muka mereka masam sesaat Krystal tiba mengganggu suasana hati mereka.


“Anda ini tidak tahu sopan santun sama sekali ya, bagaimana bangsawan tak beradab itu bisa memilih Anda masuk sebagai kandidat Putri Mahkota,” sindir Duke Nadean.


Krystal melipat tangan di dada, dia tampak menantang Duke Nadean untuk bertengkar dengannya.


“Itu karena dirasa aku mampu, aku mampu untuk memimpin negeri ini dan menyapu bersih seluruh perbuatan kotor yang kalian perbuat. Kenapa? Kau tidak suka? Justru aku merasa heran, kenapa ada bangsawan busuk seperti kalian berdiri di belakang takhta Kaisar? Sungguh miris,” balas Krystal sambil menatap rendah Duke Nadean.


Duke Nadean dan Marquess Sulivan merasa tertohok oleh balasan Krystal, mereka tidak mampu lagi berkata-kata.


“Saya rasa ucapan Anda sedikit kurang ajar, Yang Mulia. Berkat kami justru negeri ini menjadi damai, jadi tolong jaga ucapan dan perkataan Anda,” tekan Marquess Sulivan.


“Tidak peduli, aku tidak mau menjaga ucapanku untuk melawan manusia seperti kalian. Sudahlah! Cepat katakan padaku, ada apa kau memanggilku kemari? Tolong berterus terang sebelum aku hancurkan tempat ini,” gertak Krystal mendesak Fred.


Fred berdehem, dia menenangkan Marquess Sulivan dan Duke Nadean untuk diam sejenak.


“Krystal, kau tahu bukan tentang kontes berburu yang diadakan oleh Kekaisaran Archer? Aku ingin kau menjadi perwakilan Albertine,” ucap Fred.


“Baiklah, tidak masalah. Hanya itu? Kalau begitu, sekarang aku keluar dulu,” kata Krystal langsung menyetujui keputusan Fred.


“Tunggu!” tahan Fred, Krystal pun kembali memutar badan, “Kau hanya boleh membawa satu selir saja, jangan kau bawa seluruh selirmu ke Archer, sebab masing-masing kekaisaran hanya diberikan dua tiket pendaftaran perburuan,” lanjut Fred.


Krystal menaikkan sebelah alisnya, “Oke, aku akan membawa satu selir saja.”


Kemudian Krystal segera keluar dari ruang kerja Fred, dia bergegas untuk pergi dari sana karena jujur saja dia tidak nyaman melihat orang-orang itu terlalu lama. Krystal melangkah cepat, dia butuh kesegaran otak dengan melihat para selirnya nan tampan rupawan. Akan tetapi, di tengah perjalanan, Krystal tanpa sengaja bertemu dengan Emilia yang sedang mengadakan pesta minum teh bersama gadis bangsawan lain.

__ADS_1


“Ck, kenapa aku harus melihat mereka?” Krystal berdecak kesal.


Saat ini Emilia mengadakan pesta minum teh di halaman taman istana utama yang luas, raut kesedihan karena kehilangan saudara laki-lakinya sepenuhnya sudah menghilang. Krystal memutuskan untuk tidak mempedulikannya, namun Emilia sengaja menyuruh para ksatria menghadang langkah Krystal.


“Maaf, Yang Mulia, Anda dipanggil oleh Tuan Putri Emilia,” ujar salah seorang ksatria.


Mimik wajah Krystal langsung berbeda, kedua ksatria yang menghadang jalan Krystal gemetar takut menatap mata Krystal yang tajam memandang mereka. Tetapi, di sisi lain mereka juga harus melaksanakan perintah dari Emilia. Seluruh gadis bangsawan yang bersama Emilia menertawakan Krystal, mereka meremehkan Krystal dengan bisikan-bisikan menjelekkan. Krystal pun tidak dapat menekan kesabaran lebih lama, ia berjalan menuju tempat Emilia memberi pelajaran kepada mereka.


“Astaga Tuan Putri Krystal, Anda ini masih punya muka untuk bertemu kami rupanya,” sindir Ivy – putri Count Egmont.


“Apa Anda tidak ingat kejadian memalukan waktu itu? Saya rasa Anda tidak mungkin melupakannya,” kata Harika – putri Marquess Matheus.


Masih berbekas di ingatan Krystal tentang para gadis yang mencoba mempermalukan pemilik tubuh asli dulunya. Beberapa bulan lalu, Krystal diundang ke pesta minum teh oleh Emilia yang diadakan di tempat yang sama, namun Emilia sengaja mempermalukan Krystal dengan memberinya gaun yang berwarna norak. Dia diperlakukan seperti babu oleh gadis-gadis biad*b itu, Krystal bisa mendengar suara tangisan dari pemilik tubuh sepulang dari pesta minum teh.


Krystal melirik ke seberang meja, di sana ternyata ada Joanna yang menunduk takut dengan kedatangan Krystal. Joanna tidak berhenti gemetar dan menggigit bibirnya, dia berharap agar Krystal tidak menyapanya.


Joanna tersentak, degup jantungnya seolah akan berhenti di waktu yang sama, padahal dia sudah mewaspadai keberadaan Krystal sejak masuk ke istana bersama Ayahnya, tapi ujung-ujungnya malah tetap bertemu.


“Y-ya, s-saya sudah j-jauh lebih baik,” jawab Joanna menggunakan intonasi pelan, mental Joanna benar-benar dibuat berantakan oleh Krystal.


“Kau tidak perlu takut padaku, aku hanya datang memenuhi panggilan dari para wanita murahan ini,” sarkas Krystal menuai tatapan tajam dari para gadis di sana.


Joanna tetap tertunduk, dia berdo’a di dalam hati supaya selamat hingga pesta minum teh ini berakhir.


Byuurrr!


Ivy menyiramkan secangkir teh ke gaun Krystal, Emilia terkekeh kecil melihat gaun Krystal basah kuyup oleh ulah Ivy.

__ADS_1


“JAGA UCAPAN ANDA YA!” bentak Ivy marah.


Krystal menyeringai, dia menepuk-nepuk gaun merah mudanya yang terkena noda teh, emosi Krystal telah sampai pada puncaknya.


Plakkk


Krystal menampar kuat pipi Ivy hingga membuatnya terpental ke atas tanah, lalu tangan Krystal bergerak menggenggam alas meja.


“Apa yang mau kau lakukan?!” tanya Emilia panik.


Praaangggg


Krystal menarik alas meja tersebut, semua makanan, piring, dan cangkir berderai pecah. Beling-beling kaca berhamburan ke setiap sudut. Emilia tidak terima dengan perbuatan Krystal, akhirnya dia mencoba menyerang Krystal menggunakan sebuah pisau yang sedari tadi dia simpan di balik gaun. Namun, Krystal menahan serangan pisau dari Emilia, tangan Emilia berakhir dipelintir oleh Krystal. Kemudian badan Emilia dipojokkan ke sudut meja, raungan kesakitan menggema ke penjuru istana.


“Kau memanggilku kemari ingin mempermalukan aku lagi seperti sebelumnya? Aku tidak akan membiarkanmu mempermalukanku untuk yang kedua kalinya,” ujar Krystal murka.


“Sialan! Lepaskan tanganku!” ronta Emilia meringis sakit.


Ivy, Harika, dan Joanna tidak berani melawan Krystal, mereka terduduk di atas tanah dan hanya menyaksikan Emilia disakiti oleh Krystal. Suara mereka bertiga tertahan sebab aura Krystal mengintimidasi mereka, sungguh kala itu mereka pikir hanya kematian yang bisa menyudahi efek intimidasi dari Krystal.


‘Awalnya aku masih akan membiarkan jal*ng ini sedikit lebih lama, tapi aku tidak bisa bermain-main lagi. Detik ini, aku akan merebut setengah kekuatan saintess miliknya karena saat ini aku tidak bisa mengambil seluruhnya. Setengah lagi akan aku buat kacau di tubuhnya sehingga dia tidak akan dapat menggunakan kekuatan itu dengan baik. Kematianmu semakin dekat, Emilia!’ batin Krystal.


Tiba-tiba saja muncul cahaya yang menyilaukan mata, Krystal menyerap sebagian kekuatan saintess milik Emilia. Sedangkan sebagian lagi, dia biarkan di tubuh Emilia dan memberikan sedikit efek pengacau sehingga Emilia dibuat tidak dapat mengontrrol dengan baik kekuatan tersebut.


“AARRRRGHHHHH!!” raung Emilia kesakitan.


“APA YANG KAU LAKUKAN PADA PUTRIKU?!” Isabelle baru saja datang seusai mendapat laporan dari Krystal, dia mendorong Krystal untuk menjauh dari tubuh Emilia.

__ADS_1


“Cih kau mengganggu saja, untungnya sudah selesai,” decih Krystal berlalu pergi meninggalkan Isabelle dan Emilia yang tidak sadarkan diri lagi.


__ADS_2