Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Pengungkapan Identitas


__ADS_3

Krystal melenggang keluar dari kamar bersama Cherry, di depan pintu kamar keempat selirnya menunggu, mereka menuntut penjelasan Krystal mengenai identitas dirinya. Kemudian, Krystal menyuruh mereka untuk mengikutinya ke kamar, dia ingin menjelaskan masalah ini di dalam kamar. Saat ini hanya ada Krystal, Olin, kedua spirit, serta keempat selir di sana, tidak lupa pula Krystal memasang sihir kedap suara supaya suaranya tidak terdengar keluar kamar.


“Bisakah Anda menjelaskannya sekarang?” desak Austin.


Krystal menarik kedua sudut bibir untuk tersenyum, dia hanya merasa para selirnya terlalu penasaran. Lalu ia mendudukkan diri di atas kursi, bersantai sejenak sebelum masuk ke penjelasan dan menanggapi respon yang akan datang.


“Yang Mulia, apa tidak masalah memberitahu mereka?” bisik Bleas diangguki Cherry.


“Tidak apa-apa, mungkin ini memang sudah saatnya mereka tahu, kalau mereka membocorkannya aku tinggal menghapus ingatan mereka saja,” jawab Krystal.


Austin, Lucio, Julian, dan Ash masih menunggu penjelasan Krystal, raut muka mereka tidak bisa diajak bercanda untuk saat ini.


“Aku bukan Krystal karena Krystal yang sebenarnya sudah mati.” Krystal mengungkapkannya secara terang-terangan, hal itu mengakibatkan serangan kejut terhadap para selir, “Aku adalah seorang dewi, aku turun ke dunia ini untuk membantu Krystal membalaskan dendamnya. Krystal mati di kala ia berumur 26 tahun,” lanjut Krystal.


“26 tahun? Bukankah umur Anda masih 17 tahun? Jika mati di umur 26 tahun, itu artinya Anda—”


“Ya, aku memutar waktu ke 9 tahun sebelum hari kematiannya.” Krystal memotong kalimat pembicaraan Ash.


“Apa yang terjadi? Mengapa Yang Mulia Putri bisa mati?” tanya Julian.


“Krystal mati karena dibunuh.”


Deg!


Empat pasang pupil mata itu membulat sempurna, seakan kala itu mereka mendengar sebuah bualan dari sang pemimpi. Namun, hal tersebut bukan sebuah gurauan semata yang bersifat menipu pendengar, semua yang dilontarkan oleh mulut Krystal merupakan sebuah fakta kehidupan. Jalannya dunia memang diatur oleh para dewa dan dewi, tapi mereka tidak pernah membayangkan akan bertemu dengan eksistensi suci itu secara langsung.

__ADS_1


“Dibunuh?”


“Ya, Krystal dituding atas pembunuhan anak Emilia, tapi rupanya hal itu sudah direncanakan oleh Emilia sendiri. Dia mengorbankan anaknya hanya untuk menjebloskan Krystal ke penjara, padahal kala itu Krystal sendiri juga punya anak berusia 5 tahun. Alih-alih mengharapkan hidup sang anak tenang di luar penjara, tapi ternyata anaknya dibunuh dengan tragis oleh Ayah kandungnya sendiri,” jelas Krystal.


Suasana ruang bertambah mencekam, ekspresi wajah Krystal tampak sendu sebab dia juga merasakan seberapa besar rasa sakit yang ditahan oleh si pemilik asli tubuhnya. Rasa sakit itu menembus relung sanubari nan suci, menghitamkan hati yang sedari awal sudah tersayat habis oleh bilah luka.


“Siapa Ayah kandungnya?” tanya Lucio.


“Leonard.” Krystal menjawabnya dengan tegas seraya mengangkat dagu, “Dia adalah Ayah kandung sekaligus suami Krystal, tapi dia tidak mau mengakui anaknya sendiri. Dia mengatakan bahwa Krystal juga digilir oleh selir lain pada malam pernikahan mereka, pada nyatanya anak itu terlihat sama persis dengannya. Semua orang pasti tahu bahwa yang dia bunuh adalah anaknya sendiri, namun si baj*ngan itu malah memenggal kepala darah dagingnya.” Krystal mengepalkan tangan karena geram, tidak sanggup membayangkan seberapa besar derita yang tertoreh pada hidup si pemilik tubuh.


“Apa? Memenggal? Dia sungguh melakukannya?”


Krystal menganggukkan kepala sembari mengubah tempat duduk, dia kini duduk di tepi ranjang tempat tidurnya demi mengganti suasana mood yang nyaris berantakan.


“Lalu Emilia mengatakan kalau Leonard sesungguhnya adalah selirnya yang disuruh untuk membuat Krystal jatuh ke dalam perangkapnya. Krystal merasa senang begitu tahu ada pria yang mencintainya tulus, tapi yang dia dapatkan lagi-lagi kebohongan. Krystal akhirnya mati ditikam dan dibakar hidup-hidup di dalam penjara atas perintah Kaisar serta Permaisuri.”


“Bagaimana bisa mereka sekejam itu?”


Krystal menggeleng, dia masih tidak paham mengapa mereka memperlakukan Krystal seolah dia adalah ancaman yang harus mereka singkirkan dan hancurkan.


“Aku sedang mencari tahu alasan mereka bersikap kejam, itulah mengapa aku ada di sini. Krystal mendatangiku dan meminta untuk membalaskan dendamnya, aku berada di dunia ini murni atas permintaan dari Krystal langsung.”


Selepas menjelaskan, Krystal membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur, beberapa saat berselang keluarlah Krystalia dari dalam tubuh tersebut. Rambut putih tergerai panjang, kulit yang mulus seputih susu, kaki jenjang nan indah, serta mata merah ruby yang menyala. Keempat selirnya melongo menyaksikan kecantikan tiada tara dari sang dewi, dia jauh lebih cantik dari Krystal.


“Inilah aku yang sebenarnya, namaku Krystalia seorang dewi pembalasan.”

__ADS_1


“Dewi pembalasan? Jadi, Anda bukan dewi kematian?” heran Austin.


“Dewi kematian ya? Itu adalah kisah lama, aku sekarang menjadi dewi pembalasan.” Sang dewi masuk kembali ke tubuh Krystal. “Bagaimana? Kalian sudah mengerti sekarang kenapa aku mempunyai akses ke alam akhirat, surga, atau pun neraka?”


Mereka mengangguk serentak, terlihat mereka masih membutuhkan waktu untuk meyakinkan semua ini.


“Karena kalian sudah tahu, aku akan memberi pilihan untuk kalian, apa kalian ingin bertahan atau pergi? Aku juga tahu kalau aku menipu kalian sedari awal, namun aku tidak memiliki maksud tertentu. Aku tidak akan mengekang kalian untuk terus berada di sisiku,” ucap Krystal.


Krystal tidak mengharapkan keempat selir yang sudah ia kumpulkan dengan susah payah untuk membantunya di dalam masalah yang cukup rumit ini. Krystal telah memperhitungkan sejak awal ketika dia mengungkapkan identitas aslinya, maka kecil kemungkinan mereka akan tetap berada di sampingnya.


Keempat selir saling bertukar pandang, sedangkan Krystal menunggu dengan tenang sambil duduk santai di tepi ranjang.


“Yang Mulia, kami tidak akan pergi.”


Kepala Krystal yang tertunduk, spontan mendongak ke arah mereka, bukan protes yang dia dapatkan, tapi sebuah senyum tulus terpancar dari wajah para selirnya.


“Apa maksudnya?”


Lalu mereka berempat mendekat, bertekuk lutut di bawah kaki Krystal.


“Kami bukan ingin bersama Krystal, tapi bersama Anda, Yang Mulia Krystalia. Tidak peduli identitas Anda seorang manusia atau bukan, yang jelas kesetiaan kami hanya untuk Anda seorang,” tutur Ash.


“Sejak awal pertemuan kita, saya berjanji untuk terus bersama Anda dalam keadaan apa pun itu. Meski badai besar menghadang lalu menerpa diri, atau saat dunia berada di ambang batas, saya akan selalu bersama Anda,” sambung Austin.


“Saya mengagumi diri Anda yang memperlakukan saya secara baik tanpa membeda-bedakan saya dengan selir lain, saya menyukai sisi diri Anda yang tegar menghadapi masalah. Walaupun segala hujatan dihadapkan, Anda tetap berjalan tanpa mempedulikan orang lain,” kata Julian.

__ADS_1


“Anda sempurna, Yang Mulia. Saya tidak akan berpaling walau Anda bukan Tuan Putri yang sebenarnya, saya akan mengikuti Anda ke mana pun, mengikuti segala perintah dan larangan, hingga membantu menggulingkan kekaisaran ini. Saya ingin terus setia kepada Anda,” ucap Lucio.


“Karena kami mencintai Anda, jadi tolong jangan paksa kami untuk pergi. Kami mencintai sisi Anda sebagai dewi, bukan sebagai Tuan Putri Kekaisaran Albertine.”


__ADS_2