
Shion tampak membara berhadapan dengan para ksatria yang berani membuat onar di depan mata Krystal. Amarah Shion tidak terkendali seketika semakin banyak ksatria yang mengelilingi mereka, Krystal hanya berdiam diri saja sebab Shion menawarkan diri untuk membereskan mereka secepat mungkin.
“Tolong menjauh dari saya, Yang Mulia. Saya tidak ingin Anda terluka karena serangan saya,” ujar Shion.
Krystal pun langsung beringsut mundur, Duke Salvatore berdiri di samping Krystal dan dilarang ikut campur di dalam pertarungan Shion. Satu persatu ksatria mengerahkan serangan beruntun kepada Shion, namun Shion dengan mudah menanganinya hanya menggunakan sebuah pisau kecil. Shion menerjang gesit membawa para ksatria itu agak menjauh dari para pedagang, dia tidak ingin merusak dan melukai orang-orang tak bersalah.
Sekejap lokasi pertarungan dipenuhi oleh orang-orang yang ramai ingin tahu apa yang terjadi di sana. Shion melesat menggoreskan pisau tajamnya ke dada para ksatria, tidak sedikit di antara mereka yang mendapat luka tebasan di leher. Krystal tersenyum bangga menyaksikan pertarungan Shion, tidak sia-sia dia memang menjadikan Shion sebagai selirnya.
‘Sial! Ternyata pria ini sangat kuat, kalau begitu aku ancam saja dia menggunakan wanita itu.’
Ksatria yang tadi mencari gara-gara dengan Krystal kabur dari pertarungan, dia menuju ke tempat Krystal berdiri. Kemudian ksatria itu secara gegabah berdiri di belakang Krystal lalu mengarahkan pedang ke lehernya. Orang-orang berhamburan lari karena takut melihat ksatria yang mulai menggila itu.
“Turunkan senjatamu! Atau kau mau gadis ini mati di tanganku?” ancam ksatria tersebut.
“Sepertinya kau salah menyandera orang, nyawamu yang akan melayang di tangan Yang Mulia,” jawab Shion santai dan kini dia berhasil membunuh seluruh rekan ksatria itu.
“Yang Mulia?”
Krystal tersenyum miring, jari telunjuknya menyentuh pergelangan tangan ksatria itu.
“Putus.”
__ADS_1
Tangan kanan ksatria itu langsung putus, raungan kesakitan membahana di alun-alun kota. Krystal menyeringai sembari menyingkapkan tudung jubahnya, rambut laksana sakura berkibar ditiup oleh angin. Seluruh orang terkejut melihat Krystal, berdasarkan apa yang mereka ketahui, satu-satunya orang yang memiliki warna rambut seperti bunga sakura hanyalah Krystal. Ksatria itu pun ikut terkejut melihat siapa gadis yang berada di balik jubah berwarna hitam tersebut.
“Kau ksatria rendahan! Beraninya membuat kerusuhan di tengah masyarakat, kau menyalahgunakan kewenanganmu sebagai ksatria demi mengusik rakyat biasa. Memeras, merampas, mencelakai, hingga membunuh orang tidak bersalah hanya karena mereka tidak mampu untuk membayar pajak. Kalian juga membiarkan para preman menguasai jalan pasar, sampah seperti kalian kenapa bisa menjadi ksatria kekaisara?”
Krystal mengintimidasi ksatria itu hingga membuatnya setengah mati ketakutan. Merasa nyawanya berada di ujung tanduk, ksatria itu merangkak menjauhi Krystal. Namun, semakin dijauhi, Krystal akan semakin mendekatinya, seolah tidak ada celah untuk ksatria itu kabur dari terkaman Krystal.
“A-ampun, ampuni nyawa saya, Yang Mulia. Saya mohon, tolong jangan bunuh saya, sebenarnya saya hanya mengikuti perintah dari Count Egmont saja. Jadi, saya mohon ampuni nyawa saya, Yang Mulia.”
Ksatria itu memohon sambil bersujud di sela rasa sakit yang menjalar ke sekujur badan, darah dari tangannya tidak berhenti mengucuri tanah tempatnya berpijak. Mimik wajah Krystal bertambah dingin seusai mendengar dalang dari penderitaan rakyat ini adalah salah satu bangsawan tersohor di Albertine.
“Aku tidak peduli, yang jelas pada saat ini kau tidak layak diberikan kesempatan untuk hidup. Manusia jahanam yang hanya tahu cara memuaskan diri sendiri dengan keserakahan, tidak pantas dibiarkan bernapas lebih lama lagi di dunia ini. Aku hanya membalaskan nyawa manusia yang telah kau ambil menggunakan tanganmu itu.”
“Sudah beres, kalian tidak perlu takut mereka akan memeras kalian lagi,” ucap Krystal kepada seluruh rakyat biasa yang berkumpul di sana. Kemudian Krystal mengalihkan tatapannya ke arah beberapa orang preman yang berniat melarikan diri. Namun, Shion berhasil menahan pergerakan mereka dan dibawa ke hadapan Krystal.
“Maafkan kami, Yang Mulia. Tolong jangan bunuh kami,” mohon para preman itu sembari bersujud di bawah kaki Krystal.
“Kalian juga tidak ada bedanya dengan mereka, merusuh dan mengacau di alun-alun kota. Aku akan mengampuni kalian, tapi dengan satu syarat,” kata Krystal seraya tersenyum jahil.
Para preman itu sumringah ketika Krystal mengatakan akan mengampuni mereka.
“Apa yang harus kami lakukan, Yang Mulia?”
__ADS_1
“Kalian harus membersihkan semua sampah yang berserakan di alun-alun kota ini dalam waktu 30 menit. Apabila kalian berhasil melakukannya, maka aku akan melepaskan kalian dan mengampuni nyawa kalian,” jawab Krystal.
“T-tapi, alun-alun kota sangat luas, tidak mungkin kami—”
“Apa kalian mau protes?” Krystal memelototkan matanya, para preman itu gemetar takut dan langsung beranjak pergi melaksanakan syarat pengampunan dari Krystal. Mereka bergegas memungut satu persatu sampah yang berserakan di alun-alun.
Lalu Duke Salvatore membisikkan, “Apa Anda akan melepaskan preman itu begitu saja? Bagaimana kalau mereka membuat ulah lagi?”
“Mereka bukan orang jahat, mereka hanya pandai menggertak tapi takut dengan darah. Aku berencana menjadikan mereka sebagai petugas pengamanan di alun-alun kota,” jelas Krystal.
Selepas itu, orang-orang mulai mengerumuni Krystal, terlihat dari mata mereka menggenang air mata haru. Satu persatu orang itu berlutut di hadapan Krystal, mereka bermaksud mengucapkan terima kasih dari lubuk hati terdalam.
“Yang Mulia, terima kasih karena Anda telah menyelamatkan kami dari kekejaman para ksatria itu. Namun, untuk ke depannya kami masih takut kalau Count Egmont akan mengacau di sini lagi, tidak sedikit dari anak gadis kami dibawa pergi olehnya. Tolong lindungi kami, Yang Mulia karena Kaisar tidak pernah mau mendengar suara kami.”
Krystal merasa sedih melihat penderitaan dari orang-orang itu, hatinya perih seketika mendengar permohonan untuk dilindungi. Krystal geram sekaligus marah kepada Kaisar yang mengabaikan penderitaan rakyat kecil seperti mereka. Hati Krystal panas akibat emosi yang meledak-ledak dalam diri.
“Tenang saja, kalian aman berada di bawah perlindunganku, tidak akan aku biarkan bangsawan mana pun menyakiti kalian. Cepat tegakkan kepala kalian! Tanpa kalian memohon pun padaku, sudah pasti aku akan tetap melindungi kalian,” tutur Krystal.
Semua orang mengangkat wajah, menatap keseriusan di mata Krystal, akhirnya pada hari ini mereka memperoleh hal yang sepatutnya mereka dapatkan.
“Mulai hari ini seluruh alun-alun kota akan menjadi wilayah perlindunganku! Jadi, kalian harus laporkan padaku bila ada masalah yang terjadi di sini. Tidak peduli masalah kecil atau besar, kalau masalahnya mengganggu hidup kalian maka segera katakan padaku. Aku tidak butuh izin Kaisar untuk menguasai wilayan ini, sebab aku akan menghancurkan siapa saja yang berani mengusik kedamaian rakyat.”
__ADS_1